backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

BAB Keras dan Feses seperti Batu, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini · Tanggal diperbarui 08/01/2024

BAB Keras dan Feses seperti Batu, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

BAB keras tentunya membuat Anda merasa tidak nyaman. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan cairan dan serat. Selain itu, ada berbagai kondisi lain yang menyebabkan kondisi ini. Ketahui berbagai penyebab BAB keras serta cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini. 

Penyebab BAB keras

BAB keras seperti batu membuat penderitanya harus mengejan dengan keras supaya feses dapat keluar. Kondisi ini disebut juga dengan konstipasi atau sembelit. 

Sebelum mengetahui cara mengatasi BAB keras, Anda terlebih dahulu perlu mengetahui penyebabnya agar kondisi ini dapat dicegah dan tidak kembali muncul. 

1. Kurangnya asupan cairan

filter air minum rumah tangga terbaik

Salah satu penyebab BAB keras adalah akibat kurangnya asupan cairan. Pada kondisi normal, usus besar akan menyerap air dari makanan untuk membentuk feses. 

Namun, ketika tubuh kekurangan cairan, usus besar akan lebih banyak menyerap air dari sisa makanan yang akan menjadi feses. Akibatnya, konsistensi feses akan berubah menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. 

2. Kurang konsumsi serat

Kurangnya konsumsi serat bisa menyebabkan feses keras seperti batu sehingga BAB tidak lancar. Serat dibutuhkan oleh tubuh untuk melembutkan dan membantu pergerakan feses sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

Kementerian Kesehatan merekomendasikan orang dewasa untuk meningkatkan konsumsi serat sebanyak 32 – 37 gram per hari. Pilihan menu makanan tinggi serat yang bisa Anda konsumsi contohnya buah pir, pisang, kacang lentil, biji chia, dan brokoli, 

3. Sering menunda BAB

Sering menunda keinginan untuk buang air besar dapat menyebabkan tubuh tidak peka terhadap sinyal keinginan buang air besar, sehingga feses akan terus tertahan di usus besar.  

Semakin lama feses tertahan, maka semakin banyak air yang diserap dari sisa makanan tersebut. Akibatnya, konsistensi feses menjadi lebih keras dan BAB tidak lancar.

4. Jarang melakukan aktivitas fisik

Kurang olahraga atau kurang aktivitas fisik juga dapat menyebabkan BAB menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan. 

Kurang olahraga dapat melemahkan gerak otot diafragma. Padahal, otot diafragma memainkan peran penting dalam proses pembuangan sisa makanan dari tubuh. 

Ketika bernapas, otot diafragma akan berkontraksi dan merangsang kontraksi otot-otot dinding perut untuk mengeluarkan feses dari usus. 

Jika gerakan otot diafragma melemah, BAB akan tertahan di dalam usus. Lama-kelamaan akan mengakibatkan tekstur feses yang mengeras.

5. Sedang hamil

Susah BAB atau sembelit saat hamil merupakan salah satu kondisi yang umum dialami. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon. 

Tubuh Anda memproduksi lebih banyak hormon progesteron ketika hamil. Hormon ini dapat melemahkan kemampuan usus untuk mengeluarkan feses dari dalam tubuh.

Akibatnya, feses akan tertahan di usus, menjadi keras, dan sulit dikeluarkan.

6. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Konstipasi atau sembelit juga dapat terjadi sebagai efek samping dari mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Salah satu contohnya adalah obat opioid yang dapat menyebabkan saraf di dalam usus tertidur sehingga menghambat pergerakan usus.

Selain itu, beberapa jenis obat lainnya yang dapat menyebabkan konstipasi antara lain antidepresan, diuretik, suplemen zat besi, anticonvulsant, dan antispasmodik.

7. Memiliki kondisi medis tertentu

Beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan buang air besar, di antaranya sebagai berikut.

  • Sindrom iritasi usus besar (IBS). Sindrom iritasi usus besar dapat menyebabkan gangguan pada kontraksi usus besar yang mengakibatkan sembelit.
  • Penyakit parkinson. Penyakit parkinson menimbulkan kelainan pada sistem saraf yang memengaruhi pergerakan otot perut yang mengeluarkan feses dari tubuh. 
  • Cedera tulang belakang. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf yang membantu mengendalikan otot perut.
  • Multiple sclerosis. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada sistem saraf pusat dan mengakibatkan gangguan pada pergerakan usus.
  • Hipotiroidisme. Kadar hormon tiroid yang menurun dapat menganggu kinerja otot usus dalam mencerna makanan, sehingga makanan lebih lama dicerna oleh tubuh dan menyebabkan sembelit. 
  • Penyakit ginjal kronis. Seseorang dengan penyakit ginjal kronis biasanya kurang mendapatkan asupan cairan yang cukup, sehingga feses lebih mudah mengeras.
  • Kanker usus. Sembelit merupakan salah satu gejala yang dialami oleh penderita kanker usus.

Cara mengatasi BAB keras

Berikut ini beberapa cara mengatasi BAB keras. 

1. Penuhi asupan serat

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk meredakan konstipasi adalah dengan meningkatkan konsumsi serat. 

Anda bisa mengonsumsi makanan tinggi serat larut seperti gandum, apel, jeruk, alpukat, brokoli, serta kacang-kacangan.

Hal ini karena jenis serat ini dapat membantu menyerap air dan membentuk gel di dalam usus. Gel ini dapat membantu melunakkan feses.

Perlu Anda ketahui


Bagi sebagian orang dengan sembelit parah, mengonsumsi serat secara berlebihan mungkin dapat memperparah sembelit dan menyebabkan rasa tidak nyaman di perut. Jika hal ini terjadi, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat untuk Anda.

2.  Perbanyak minum air putih

Memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi BAB keras.

Penuhi asupan cairan tubuh dengan minum air sekitar 1500 – 2000 ml per hari atau setara dengan 8 – 9 gelas per hari.

3. Rajin berolahraga

Sering melakukan aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kinerja usus pencernaan.

Dengan begitu, makanan akan lebih cepat melewati usus besar sehingga sedikit air yang diserap tubuh dari feses. 

Namun, mengutip Harvard Health, meningkatkan aktivitas fisik untuk mengatasi konstipasi mungkin lebih efektif pada orang lebih tua yang cenderung tidak banyak bergerak dibandingkan dengan anak muda yang lebih aktif bergerak.

4. Hindari kebiasaan menunda BAB

bowel training atau latihan BAB untuk atasi sembelit

Kebiasaan menahan BAB dapat menyebabkan BAB menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan. Oleh sebab itu, sebaiknya hindari kebiasaan ini. 

Bila muncul keinginan untuk buang air besar, segera pergi ke toilet.

Anda juga bisa menerapkan jadwal rutin BAB sesuai dengan kenyamanan, misalnya di pagi hari sebelum beraktivitas. Dengan begitu, kebiasaan BAB jadi teratur.

5. Minum obat pencahar

Cara lainnya untuk mengatasi feses yang keras adalah dengan minum obat pencahar. Tujuan mengonsumsi obat ini adalah untuk merangsang pergerakan usus serta melembutkan feses, sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan. 

Ada beberapa jenis obat pencahar yang dapat membantu untuk melembutkan feses.

  • Obat pencahar stimulan: membantu meningkatkan kontraksi usus sehingga feses akan lebih mudah bergerak melalui usus besar, contohnya bisacodyl (Dulcolax, Stolax, Laxana, Bicolax) dan sennoside.
  • Obat pencahar lubrikan: membantu melunakkan feses sehingga feses lebih mudah keluar.
  • Obat pencahar osmotik: memperbanyak jumlah air di dalam usus guna melunakkan feses, seperti MiraLax.
  • Pelunak feses: direkomendasikan untuk pasien yang tidak diperbolehkan mengejan, misalnya orang dengan hemoroid.

6. Konsumsi makanan mengandung probiotik

Cara lainnya yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi BAB keras adalah dengan mengonsumsi makanan mengandung probiotik atau bakteri baik.

Studi dalam jurnal Frontiers Nutrition mengungkapkan bahwa makanan yang mengandung Lactobacillus casei strain Shirota (L.casei Shirota) dapat membantu mengurangi gejala sembelit dan mengubah konsistensi feses.

Beberapa jenis makanan probiotik yang bisa Anda konsumsi untuk mengatasi konstipasi adalah yoghurt, susu fermentasi, tempe, dan tahu.

7. Prosedur operasi

Kasus konstipasi ringan umumnya dapat sembuh dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. 

Namun, kasus konstipasi berat yang menyebabkan penyumbatan dan penyempitan pada usus besar atau robekan pada anus (fisura ani), prosedur operasi mungkin diperlukan. 

Berikut ini dua jenis prosedur operasi yang mungkin direkomendasikan dokter untuk mengatasi konstipasi.

  • Sacral nerve modulation (SNM). Stimulator saraf akan ditanamkan di dasar tulang belakang Anda untuk mendorong sinyal buang air besar.
  • Kolektomi. Dalam prosedur kolektomi, dokter bedah akan mengangkat sebagian atau seluruh usus besar Anda yang rusak.

Itulah beberapa penyebab serta cara mengatasi BAB keras. Jika kondisi ini tidak kunjung sembuh selama lebih dari tiga minggu disertai dengan sakit perut menerus, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut. 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini · Tanggal diperbarui 08/01/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan