BAB keras tentunya membuat Anda merasa tidak nyaman. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan cairan dan serat. Selain itu, ada berbagai kondisi lain yang menyebabkan kondisi ini. Ketahui berbagai penyebab BAB keras serta cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini.
BAB keras seperti batu membuat penderitanya harus mengejan dengan keras supaya feses dapat keluar. Kondisi ini disebut juga dengan konstipasi atau sembelit.
Sebelum mengetahui cara mengatasi BAB keras, Anda terlebih dahulu perlu mengetahui penyebabnya agar kondisi ini dapat dicegah dan tidak kembali muncul.
1. Kurangnya asupan cairan

Salah satu penyebab BAB keras adalah akibat kurangnya asupan cairan. Pada kondisi normal, usus besar akan menyerap air dari makanan untuk membentuk feses.
Namun, ketika tubuh kekurangan cairan, usus besar akan lebih banyak menyerap air dari sisa makanan yang akan menjadi feses. Akibatnya, konsistensi feses akan berubah menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Kurangnya konsumsi serat bisa menyebabkan feses keras seperti batu sehingga BAB tidak lancar. Serat dibutuhkan oleh tubuh untuk melembutkan dan membantu pergerakan feses sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan orang dewasa untuk meningkatkan konsumsi serat sebanyak 32 – 37 gram per hari. Pilihan menu makanan tinggi serat yang bisa Anda konsumsi contohnya buah pir, pisang, kacang lentil, biji chia, dan brokoli,
3. Sering menunda BAB
Sering menunda keinginan untuk buang air besar dapat menyebabkan tubuh tidak peka terhadap sinyal keinginan buang air besar, sehingga feses akan terus tertahan di usus besar.
Semakin lama feses tertahan, maka semakin banyak air yang diserap dari sisa makanan tersebut. Akibatnya, konsistensi feses menjadi lebih keras dan BAB tidak lancar.
4. Jarang melakukan aktivitas fisik
Kurang olahraga atau kurang aktivitas fisik juga dapat menyebabkan BAB menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan.
Kurang olahraga dapat melemahkan gerak otot diafragma. Padahal, otot diafragma memainkan peran penting dalam proses pembuangan sisa makanan dari tubuh.
Ketika bernapas, otot diafragma akan berkontraksi dan merangsang kontraksi otot-otot dinding perut untuk mengeluarkan feses dari usus.
Jika gerakan otot diafragma melemah, BAB akan tertahan di dalam usus. Lama-kelamaan akan mengakibatkan tekstur feses yang mengeras.
Susah BAB atau sembelit saat hamil merupakan salah satu kondisi yang umum dialami. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon.
Tubuh Anda memproduksi lebih banyak hormon progesteron ketika hamil. Hormon ini dapat melemahkan kemampuan usus untuk mengeluarkan feses dari dalam tubuh.
Akibatnya, feses akan tertahan di usus, menjadi keras, dan sulit dikeluarkan.
6. Mengonsumsi obat-obatan tertentu
Konstipasi atau sembelit juga dapat terjadi sebagai efek samping dari mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Salah satu contohnya adalah obat opioid yang dapat menyebabkan saraf di dalam usus tertidur sehingga menghambat pergerakan usus.
Selain itu, beberapa jenis obat lainnya yang dapat menyebabkan konstipasi antara lain antidepresan, diuretik, suplemen zat besi, anticonvulsant, dan antispasmodik.
7. Memiliki kondisi medis tertentu
Beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan buang air besar, di antaranya sebagai berikut.
- Sindrom iritasi usus besar (IBS). Sindrom iritasi usus besar dapat menyebabkan gangguan pada kontraksi usus besar yang mengakibatkan sembelit.
- Penyakit parkinson. Penyakit parkinson menimbulkan kelainan pada sistem saraf yang memengaruhi pergerakan otot perut yang mengeluarkan feses dari tubuh.
- Cedera tulang belakang. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf yang membantu mengendalikan otot perut.
- Multiple sclerosis. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada sistem saraf pusat dan mengakibatkan gangguan pada pergerakan usus.
- Hipotiroidisme. Kadar hormon tiroid yang menurun dapat menganggu kinerja otot usus dalam mencerna makanan, sehingga makanan lebih lama dicerna oleh tubuh dan menyebabkan sembelit.
- Penyakit ginjal kronis. Seseorang dengan penyakit ginjal kronis biasanya kurang mendapatkan asupan cairan yang cukup, sehingga feses lebih mudah mengeras.
- Kanker usus. Sembelit merupakan salah satu gejala yang dialami oleh penderita kanker usus.
Berikut ini beberapa cara mengatasi BAB keras.
Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk meredakan konstipasi adalah dengan meningkatkan konsumsi serat.
Anda bisa mengonsumsi makanan tinggi serat larut seperti gandum, apel, jeruk, alpukat, brokoli, serta kacang-kacangan.
Hal ini karena jenis serat ini dapat membantu menyerap air dan membentuk gel di dalam usus. Gel ini dapat membantu melunakkan feses.
Bagi sebagian orang dengan sembelit parah, mengonsumsi serat secara berlebihan mungkin dapat memperparah sembelit dan menyebabkan rasa tidak nyaman di perut. Jika hal ini terjadi, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat untuk Anda.