10 Pilihan Obat untuk Mengatasi Diare

    10 Pilihan Obat untuk Mengatasi Diare

    Diare adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan seseorang lebih sering buang air besar dengan feses yang cair atau lembek. Bagi kebanyakan orang dewasa, keluhan menceret dapat ditangani dengan obat diare yang dibeli di apotek. Namun, ada juga yang membutuhkan antibiotik. Nah, obat seperti apa yang paling ampuh?

    Pilihan obat untuk mengatasi diare

    Sebenarnya, diare bisa sembuh sendiri dengan perawatan rumahan, seperti minum air putih yang banyak atau minum cairan elektrolit untuk mengganti cairan yang hilang.

    Namun, gejala diare yang membuat Anda jadi sering bolak-balik ke toilet tentunya terasa sangat mengganggu.

    Untuk itu, Anda bisa minum obat-obatan yang berfungsi untuk mengurangi frekuensi buang air besar. Berikut adalah pilihannya.

    1. Oralit

    oralit

    Oralit adalah obat yang mengandung senyawa elektrolit dan mineral seperti natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat, natrium bikarbonat, dan trisodium citrate dihydrate.

    Senyawa-senyawa tersebut berfungsi untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang akibat diare.

    Orang dewasa bisa minum oralit 12 gelas pada 3 jam pertama buang air besar (BAB) terus-menerus, kemudian 2 gelas tiap kali menceret atau BAB lagi.

    Oralit tersedia dalam bentuk serbuk atau bubuk sehingga harus dilarutkan dulu dengan air. Gunakan air matang untuk melarutkan oralit.

    2. Loperamide

    Loperamide adalah obat yang bekerja untuk memperlambat gerak usus agar menghasilkan feses dalam bentuk lebih padat.

    Anda bisa memperoleh obat ini dengan resep dokter atau membelinya langsung di apotek.

    Dosis loperamid untuk orang dewasa adalah 4 mg setelah buang air besar (BAB). Obat diare ini maksimal dikonsumsi 8 mg per hari.

    Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, atau tablet yang meleleh. Ada juga loperamide dalam bentuk cair, tetapi obat ini hanya bisa didapatkan melalui resep dokter.

    3. Bismuth subsalicylate

    Selain sering digunakan untuk mengatasi nyeri perut dan gejala maag, obat ini juga memiliki sifat antidiare dan antiradang.

    Obat ini bekerja memperkuat dinding lambung dan usus kecil untuk melindungi organ pencernaan Anda dari infeksi bakteri.

    Dosis obat untuk dewasa yang mengalami diare adalah 524 mg tiap 30 – 60 menit. Jangan lebih dari 8 kali minum dalam 24 jam.

    Hindari menggunakan bismuth subsalicylate jika feses Anda berdarah atau mengandung lendir. Anda membutuhkan resep dari dokter untuk mendapatkan obat ini.

    4. Attapulgite

    Attapulgite adalah zat yang memperlambat kerja usus besar agar dapat menyerap lebih banyak air sehingga tekstur feses jadi lebih padat.

    Sakit perut akibat menceret akan berangsur-angsur pulih setelah minum obat ini.

    Orang dewasa yang mengalami diare bisa mengonsumsi 2 tablet attapulgite setiap selesai buang air besar. Dosis maksimal adalah 12 tablet dalam sehari.

    Obat bisa diminum sebelum atau sesudah makan. Jangan lupa juga untuk tetap minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi selama diare.

    5. Suplemen probiotik

    Suplemen probiotik sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi menceret pada orang dewasa yang disebabkan bakteri penyebab diare E. coli dan Salmonella.

    Selama diare, probiotik Lactobacillus dianjurkan dikonsumsi dalam dosis 1 – 10 miliar colony forming units (CFU) per hari. Untuk probiotik Saccharomyces boulardii, dosis untuk orang dewasa adalah 250 – 500 mg per hari.

    Suplemenprobiotik untuk diare tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk dan ekstrak cairan.

    Probiotik bisa dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Probiotik dapat dicampur bersama makanan, air, atau susu agar terserap lebih baik dan mengurangi gejala diare.

    Tips merawat diri selama diare

    1. Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi.
    2. Makan makanan sehat yang rendah serat dan mudah dicerna.
    3. Mengonsumsi makanan yang tinggi probiotik seperti yoghurt dan tempe.
    4. Menghindari makanan yang membuat diare semakin parah, misalnya makanan pedas, gorengan, dan makanan manis.
    5. Makan dalam porsi kecil, hal ini dilakukan agar beban kerja usus tidak terlalu berat.

    Obat antibiotik untuk diare

    Bila diare disebabkan oleh infeksi yang parah, Anda mungkin akan membutuhkan obat antibiotik untuk menyembuhkannya. Meski begitu, konsumsi obat antibiotik diare tidak boleh sembarangan.

    Berikut pilihan antibiotik yang diresepkan dokter untuk mengatasi diare.

    1. Cotrimoxazole

    Cotrimoxazole adalah antibiotik yang mengandung dua jenis zat obat, yaitu sulfametoksazol dan trimetoprim. Obat ini diberikan untuk pasien yang mengalami menceret parah karena infeksi bakteri E. coli.

    Dosis untuk dewasa adalah 960 mg dan diminum 2 kali dalam sehari. Untuk infeksi berat, dosisnya yaitu 2.880 mg per hari, tapi perlu dibagi menjadi 2 jadwal konsumsi.

    Kotrimoksazol sebaiknya dikonsumsi bersama makanan atau air putih. Selama menjalani pengobatan, Anda disarankan memperbanyak minum air putih untuk mencegah risiko terjadinya efek samping obat.

    2. Ciprofloxacin

    Obat ini berfungsi untuk membasmi bakteri Campylobacter jejuni dan Salmonella enteritidis. Ciprofloxacin baru akan diresepkan oleh dokter bila antibiotik lini pertama seperti cotrimoxazole dan cefixime tidak menunjukkan efek pada pasien.

    Orang dewasa bisa minum obat ini sebanyak 2 kali sehari selama diare dengan dosis 500 mg per sekali minum. Dokter biasanya menyarankan untuk mengonsumsi obat 1 – 5 hari, tergantung tingkat keparahan infeksi.

    Telan kapsul dan tablet ciprofloxacin secara utuh dengan segelas air putih. Konsumsi obat ini setelah makan untuk mencegah sakit maag.

    3. Levofloxacin

    obat levofloxacin antibiotik

    Antibiotik golongan fluoroquinolone ini sering digunakan untuk mengobati diare karena kemampuannya dalam mempercepat durasi penyakit dan bisa ditoleransi lebih baik oleh tubuh.

    Namun, pemakaian obat antibiotik ini harus dalam pengawasan dokter. Anda harus memeriksakan diri terlebih dahulu ke klinik untuk memperoleh obat ini.

    Orang dewasa yang mengalami diare bisa minum obat ini sekali sehari 500 mg. Dokter bisa menaikkan dosis hingga 750 mg jika memang diperlukan.

    Efek dari obat ini akan terasa sekitar 6 – 9 jam setelah minum dosis pertama.

    4. Cefixime

    Cefixime digunakan untuk diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Diare yang disebabkan oleh bakteri ini juga biasanya memunculkan gejala muntaber.

    Saat mengalami diare, Anda bisa mengonsumsi obat ini sekali sehari dengan dosis 400 mg atau 200 mg setiap 12 jam.

    Meski demikian, cefixime bisa berpotensi menyebabkan mual dan rasa tidak nyaman pada perut. Oleh karena itu, konsumsi makanan yang tidak terlalu berat untuk dicerna saat meminum obat ini.

    5. Metronidazole

    Antibiotik yang satu ini bekerja untuk mengobati infeksi bakteri pada lambung atau usus. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet atau obat cair.

    Obat ini perlu didapatkan lewat resep dokter. Dosis yang diberikan akan bergantung pada kondisi Anda. Orang dewasa umumnya perlu minum obat ini 3 kali sehari dengan dosis 250 – 750 mg saat diare.

    Metronidazole tidak disarankan untuk ibu hamil, terutama bila kandungan masih berada pada trimester pertama. Efeknya dapat membahayakan bayi dalam kandungan.

    Bila masih memilih pertanyaan seputar obat diare, konsultasikan kepada dokter Anda. Mendapatkan pengobatan dokter lebih awal bisa mencegah terjadinya komplikasi diare yang berbahaya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Antidiarrheal Medicines: OTC Relief for Diarrhea. (n.d.). Family Doctor. Retrieved 4 December 2020, from  https://familydoctor.org/antidiarrheal-medicines-otc-relief-for-diarrhea/

    Co-trimoxazole. (2017). Medline Plus. Retrieved 4 December 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a684026.html

    Metronidazole (Oral Route) Print. (2022). Mayo Clinic. Retrieved June 3, 2022 from, https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/metronidazole-oral-route/proper-use/drg-20064745 

    Probiotics. (2020). Cleveland Clinic. Retrieved 4 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/14598-probiotics

    Treatment for Diarrhea. (2016). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 4 December 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diarrhea/treatment

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui a week ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan