home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

3 Komplikasi Diare Parah yang Membahayakan Kesehatan

3 Komplikasi Diare Parah yang Membahayakan Kesehatan

Diare adalah gangguan pencernaan yang umum di dunia, termasuk di Indonesia yang orang-orangnya notabene “hobi” jajan sembarangan di pinggir jalan. Gejala diare rata-rata dapat sembuh sendiri dalam 2-3 hari dengan pengobatan sederhana di rumah. Meski demikian, Anda tidak boleh mengganggap sepele masalah pencernaan ini. Sama seperti penyakit pada umumnya, diare juga bisa meningkatkan risiko komplikasi bahaya bagi kesehatan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa komplikasi diare yang berakibat fatal paling berisiko terjadi pada bayi, anak yang kekurangan gizi, orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh buruk, dan pengidap HIV.

Memang, apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat diare parah? Baca ulasannya berikut ini.

Risiko komplikasi kesehatan akibat diare

Menurut laporan Kemenkes RI yang dirilis dalam buletin Situasi Diare di Indonesia, diare menempati peringkat ke-3 sebagai penyakit infeksi menular penyebab kematian terbanyak setelah TB (tuberkulosis) dan pneumonia pada semua umur. Namun pada bayi dan balita, diare masih menduduki peringkat pertama sebagai penyakit infeksi penyebab kematian terbanyak dibanding penyakit menular lainnya.

Laporan di atas mencatat bahwa pada tahun 2008 ada 238 kasus kematian akibat komplikasi diare dari total 8.133 orang yang terkena gangguan pencernaan ini. Kemudian, tercatat 73 kasus kematian pada tahun 2010. Masih berdasarkan data di atas, tren jumlah kematian akibat diare tetap mengalami peningkatan pada tahun 2015 meski total penderitanya justru berkurang.

Lantas, apa penyebabnya? Penyebab diare itu sendiri sebetulnya sangat beragam. Namun di Indonesia, penyebab paling umumnya adalah infeksi kuman (virus, bakteri jamur, parasit) yang menyerang pencernaan. Infeksi yang menyebabkan diare di Indonesia sangat berkaitan erat dengan kualitas sanitasi, akses terhadap air bersih, dan perilaku hidup sehat di masyarakat.

1. Dehidrasi

Gejala diare seperti buang air terus-menerus, kadang disertai mual dan muntah membuat cairan di dalam tubuh berkurang. Jika jumlahnya tidak memenuhi kebutuhan tubuh, dehidrasi dapat terjadi.

Cairan tubuh tidak hanya air saja, tapi juga elektrolit. Cairan tersebut mendukung sel dan organ tubuh untuk bekerja secara optimal. Bila cairan tubuh tidak mencukupi, sistem kinerja tubuh akan terganggu. Pada kasus parah, dehidrasi akibat diare parah yang telat ditangani atau tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan bahaya kematian.

Bahaya dari dehidrasi akibat diare parah yang berujung kematian, kemungkinan menimbulkan kondisi berikut:

  • Gangguan fungsi ginjal dan penyakit ginjal
  • Kerusakan otot dan kejang
  • Pembengkakan otak (cerebral edema)
  • Syok karena tekanan darah rendah

Agar tidak diare tidak menyebabkan bahaya komplikasi seperti ini, sesegera mungkin pasien harus mengganti cairan tubuh yang hilang.

Selain itu, kenali tanda komplikasi diare parah ini agar Anda tidak lagi menunda perawatan dokter, seperti dilansir dari laman Mayo Clinic.

Tanda dehidrasi akibat diare parah pada orang dewasa

  • Rasa haus yang terus muncul, padahal sudah minum
  • Mulut dan kulit kering
  • Urine sedikit berwarna kuning kecokelatan (oliguria) atau bahkan tidak buang air kecil sama sekali (anuria)
  • Pusing dan lemah

Tanda dehidrasi akibat diare parah pada bayi dan anak-anak

  • Bayi tidak buang air kecil dalam 3 jam atau lebih
  • Mulut dan lidah mengering
  • Demam di atas 39° Celcius
  • Bayi menjadi rewel, namun menangis tanpa air mata
  • Anak menjadi tidak responsif dan terlihat lemah’
  • Penampilan mata menjadi cekung

2. Septikemia

Infeksi bakteri Clostridium difficile adalah salah satu penyebab diare parah yang pada kasus tertentu dapat menyebabkan septikemia.

Septikemia adalah kondisi seseorang yang mengalami keracunan darah akibat masuknya banyak bakteri ke dalam aliran darah. Sebenarnya, bakteri C. difficile tidak secara langsung menyebabkan diare. Bakteri ini lebih dahulu menyebabkan radang usus besar, yang bisa menimbulkan diare parah.

Bahaya komplikasi diare ini terjadi akibat tubuh yang mencoba untuk melawan infeksi bakteri. Risikonya besar terjadi pada lansia atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Komplikasi diare ini disebut sangat bahaya ketika berlanjut menjadi sepsis, yakni bakteri sudah menyerang seluruh organ tubuh. Bakteri akan menyebabkan peradangan, membuat darah menggumpal, dan menghambat oksigen untuk mencapai organ tertentu. Akibatnya, organ mengalami kegagalan fungsi dan bisa menyebabkan kematian.

Diare yang menyebabkan komplikasi bahaya ini biasanya menunjukkan tanda, seperti:

  • Lemah dan tidak nafsu makan
  • Terus buang air berair disertai mual dan muntah
  • Demam dan sangat peka terhadap cahaya
  • Detak jantung berdetak lebih cepat
  • Koma

3. Malnutrisi

Diare juga dapat menyebabkan komplikasi berupa malnutrisi (kekurangan gizi) terutama pada bayi dan anak-anak. Risikonya besar terjadi jika diare yang terjadi sudah kronis alias terjadi terus-menerus. Malnutrisi menandakan tubuh seseorang yang tidak menerima asupan gizi yang cukup.

Komplikasi diare ini terjadi akibat orang yang diare terus muntah dan buang air terus-menerus, tetapi tidak cukup makan karena tidak nafsu makan atau mual.

Komplikasi diare ini memang jarang menyebabkan kematian, namun bisa menimbulkan dampak terganggunya pertumbuhan anak dan kesulitan untuk melakukan aktivitas seperti orang normal.

Tanda kekurangan gizi akibat diare parah ini meliputi:

  • Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun
  • Lemah dan lelah sepanjang waktu
  • Sering sakit dan luka susah sembuh serta sulit untuk memusatkan perhatian

Tips mencegah komplikasi diare

Meskipun berbahaya, untungnya komplikasi diare dapat dicegah. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan perawatan di rumah sekaligus dengan pengobatan dokter. Supaya lebih jelas, ikuti langkah-langkah mencegah terjadinya komplikasi diare, seperti:

Mencukupi cairan tubuh yang hilang

Cairan tubuh yang hilang bisa diganti dengan meningkatkan asupan cairan. Anda bisa memperbanyak minum air putih, makan makanan berkuah, atau minum larutan oralit untuk mencegah komplikasi diare.

Jika diare terjadi pada bayi, jangan hentikan pemberian ASI atau susu formula —bila penyebab diare bukan intoleransi laktosa. Ini adalah tindakan pertolongan pertama bila seseorang terkena diare.

Konsumsi makanan bernutrisi yang tepat

Sajikan makanan bertekstur lembut, matang sempurna, dan tentunya tidak ditambahkan banyak bumbu, contohnya lada, garam, cabai, atau santan.

Pilihan makanan yang baik untuk diare adalah bubur tim, bubur nasi, sup ayam bening dengan campuran kentang dan wortel, atau roti. Mengonsumsi makanan yang tepat mempermudah usus dalam mencerna makanan sehingga tubuh jadi lebih cepat pulih dan terhindar dari komplikasi diare.

Periksa ke dokter

Komplikasi diare dapat dihindari dengan perawatan dokter. Ini erat kaitannya dengan kesigapan Anda untuk segera konsultasi ke dokter jika muncul gejala mengkhawatirkan yang berisiko menjadi komplikasi diare.

Sebelum menjadi komplikasi, kenali tanda dan gejala diare yang sebaiknya ditangani oleh dokter, seperti:

  • Diare menimbulkan gejala yang sangat mengganggu
  • Diare terjadi lebih dari 2 hari dan tidak membaik walaupun sudah diobati dengan perawatan di rumah
  • Feses mengeluarkan darah dan mengalami demam

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Retrieved from https://www.kemkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-buletin.html. Accessed on January 27th, 2020.

WHO. Diarrhoeal disease. (2017, May 2). Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease. Accessed on January 27th, 2020.

Mayo Clinic. Diarrhea – Symptoms and causes. (2019, May 16). Retrieved from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241. Accessed on January 27th, 2020.

Sepsis. C. Difficile (C. diff). (2019, May 14). Retrieved from https://www.sepsis.org/sepsisand/c-difficile/. Accessed on January 27th, 2020.

Krista O’Connell and Jacquelyn Cafasso. (n.d.). Septicemia. Retrieved from https://www.healthline.com/health/septicemia#symptoms. Accessed on January 27th, 2020.

John Hopkins Medicine. (n.d.). Septicemia. Retrieved from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/septicemia. Accessed on January 27th, 2020.

National health Service. (n.d.). Septicemia. Retrieved from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/septicemia. Accessed on January 27th, 2020.

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 13/09/2017
x