4 Manfaat Bermain di Alam Bebas untuk Tumbuh Kembang Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, anak-anak semakin menjauh dari alam bebas. Meningkatnya ketakutan orang tua terhadap penyakit dan bahaya bermain di luar juga merupakan faktor besar lainnya. Padahal, sepanjang sejarah manusia, anak-anak tumbuh dalam lingkungan alam bebas.

Tubuh anak pun sebenarnya sudah dirancang untuk siap beradaptasi di alam bebas. Karena itulah saat ini banyak yang menawarkan terapi alam (ecotherapy) untuk anak-anak.

Mengenal terapi alam (ecotherapy)

Terapi alam juga dikenal dengan sebutan terapi lingkungan, terapi hijau, dan istilah lain yang serupa. Terapi ini telah terbukti mampu memperbaiki mood, mengurangi kecemasan, stres, dan depresi, serta meningkatkan kebugaran tubuh anak.

Dalam terapi alam, anak didorong untuk menghabiskan waktu di taman, kebun, ruang hijau terbuka, pantai, pegunungan, dan lingkungan alami lainnya. Saat berada di alam bebas, anak juga dianjurkan untuk beraktivitas fisik seperti bermain dan menjelajahi lingkungannya.

Anda tidak perlu minta bantuan terapis khusus atau mendaftarkan anak ikut program tertentu, kok. Terapi alam bisa dilakukan sendiri bersama keluarga. Misalnya dengan liburan ke gunung dan pantai atau dengan cara main di taman terbuka setiap sore.

Namun, benarkah hal ini bermanfaat? Rupanya, sejumlah penelitian telah membuktikan kalau bermain di alam bebas mendatangkan berbagai efek positif bagi kesehatan fisik dan mental anak. Apa saja manfaatnya?

1. Memperbaiki pola tidur anak

Pancaran sinar matahari alami membantu anak-anak tetap segar di siang hari dan membuatnya lebih mudah untuk tidur di malam hari. Pengobatan yang diketahui efektif untuk masalah tidur di malam hari adalah dengan terapi paparan sinar matahari pagi yang dapat mengatur ritme sirkadian.

Ritme sirkadian atau jam biologis yaitu jadwal kerja organ-organ tubuh secara alami. Ritme sirkadian inilah yang juga mengatur siklus bangun dan tidur manusia.

2. Meningkatkan energi

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Environmental Psychology tahun 2010 menemukan bahwa berada di alam meningkatkan semangat, kebahagiaan, dan energi.

Selain itu, bermain di luar dan melakukan aktivitas-aktivitas menantang seperti memanjat, melompat, atau berlari terbukti meningkatkan kebugaran, kekuatan tulang, dan fleksibilitas otot anak.

Anak yang sering menghabiskan waktu di alam juga tentu jadi lebih sering bergerak dan berolahraga daripada anak yang lebih sering diam di dalam rumah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan anak-anak berusia 5 sampai 17 tahun untuk melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat selama paling tidak satu jam setiap harinya.

3. Melatih konsentrasi

Menurut Attention Restoration Theory oleh Rachel Kaplan dan Stephen Kaplan, lingkungan perkotaan mengharuskan otak anak untuk benar-benar fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Akibatnya, attention span atau rentang konsentrasi anak akan cepat terkuras habis. Sebaliknya, di alam bebas anak akan dilatih untuk memfokuskan perhatian tanpa susah payah.

Selain itu, sebuah studi dalam American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa anak-anak yang bermain di luar rumah menunjukkan peningkatan dalam kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, kemampuan kerja sama, dan disiplin diri. Selain itu, anak dengan ADHD terbukti lebih fokus setelah bermain di luar rumah.

4. Membangun kepercayaan diri

Ketika bermain di alam bebas, anak akan dihadapkan dengan berbagai hal baru yang tidak diduga sebelumnya. Di sinilah kemampuan anak untuk mengambil keputusan dan mengukur risiko akan dilatih.

Misalnya ketika bermain di pantai anak melihat ada kepiting. Awalnya si kecil mungkin merasa takut. Namun, jika diajarkan bahwa kepiting tidak berbahaya selama tidak diganggu, lama-lama anak mampu membangun keberanian dan rasa percaya diri untuk menjelajahi lingkungannya meskipun ada risiko.

Di alam bebas, anak memang akan belajar mengenali berbagai macam risiko seperti jatuh atau digigit serangga dan berpikir bagaimana caranya menghindari risiko-risiko tersebut.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 27, 2017 | Terakhir Diedit: November 23, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca