6 Jenis Batuk pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Ketika mulai memiliki bayi, Anda sebisa mungkin menjaganya agar tidak mudah terkena penyakit. Anda akan memberikan ASI ekslusif atau susu formula, jika Anda tidak bisa memberinya ASI. Ketika memasuki usia enam bulan, Anda mulai memikirkan asupan makanan yang baik dan sehat untuk bayi Anda agar imunitasnya terjaga.

Namun, sebaik apa pun Anda menjaga kesehatannya, ada suatu waktu bayi dapat terserang sakit, seperti demam, flu, termasuk batuk. Ketika orang dewasa terkena batuk, langkah pertama yang dilakukan adalah mencari toko obat terdekat untuk membeli obat batuk. Ketika batuk dialami oleh bayi Anda, mungkin Anda tidak bisa langsung memberinya obat. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Batuk apa saja yang sering menyerang bayi?

Batuk pada bayi memang sering terjadi. Sebagai respon tubuh alami batuk yang sesekali terjadi merupakan hal normal. Bayi di bawah umur empat bulan umumnya tidak akan mengalami batuk secara menerus. Maka dari itu, apabila batuk pada bayi berlangsung terus-menerus maka dapat mengindikasikan adanya gangguan kesehatan terterntu.

Sebagai orang tua, penting untuk mengatahui jenis batuk yang umum dialami oleh bayi. Pasalnya, setiap jenis batuk memiliki faktor penyebab yang berbeda-beda sehingga metode penanganan maupun jenis obat batuknya pun berbeda. Selain itu, batuk pada bayi juga dapat menjadi gejala dari penyakit tertentu yang bisa membahayakan kesehatan bayi.

Berikut ini adalah penjelasan jenis-jenis batuk pada bayi beserta gejala dan penyebabnya, sebagaimana yang dilansir dari Parents.

1. Batuk gejala pilek atau flu

Hidung beringus dan sakit tenggorokan dapat menjadi indikasi bahwa si kecil akan terserang pilek atau flu. Selain itu, bayi bisa saja mengalami batuk. Dua jenis batuk yang umum dialami oleh bayi ketika terserang flu di antaranya:

Batuk Berdahak

Batuk berdahak merupakan jenis batuk pada anak yang disertai oleh keluarnya dahak. Pada bayi, batuk ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang terjadi di saluran pernapasan.

Infeksi tersebut menyebabkan saluran nafas memproduksi lendir berlebih sehingga menghambat udara untuk mengalir di saluran pernapasan. Kelebihan dahak pun merangsang terjadinya batuk. Saat bayi mengalami pilek atau flu, mereka lebih berisiko mengalami batuk berdahak.

Batuk Kering

Berbeda dengan batuk berdahak, batuk kering tidak disertai dengan keluarnya dahak. Jenis batuk pada bayi ini biasanya dipicu oleh alergi dan virus pilek atau flu. Kondisi tersebut menyebabkan peristiwa post-nasal drip yang mana membuat hidung menghasilkan lendir berlebih sehingga jatuh ke bagian belakang tenggorokan dan merangsang terjadinya batuk.

2. Batuk Croup

Batuk croup adalah infeksi pernapasan yang terjadi ketika laring atau kotak suara, batang tenggorokan (trakea), dan bronkus, yaitu saluran udara ke paru-paru mengalami iritasi dan membengkak. Pembengkakan pada sejumlah saluran pernapasan ini dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan sehingga bayi sulit untuk bernapas dan bayi akan mengeluarkan batuk seperti gonggongan.

Gejalanya akan berupa panas, demam, adanya ingus di dalam hidung. Pada kondisi tertentu, saat batuk pada bayi semakin parah bisa menyebabkan si kecil sesak napas sehingga kulitnya lama kelamaan memucat atau membiru karena kekurangan oksigen.

Selain disebabkan oleh infeksi influenza, parainfluenza RSV, campak, dan adenovirus, batuk pada bayi ini juga bisa diakibatkan oleh alergi dan asam lambung yang naik. Batuk ini bisa menyerang bayi berumur 3 bulan, tapi juga rata-rata dapat menyerang anak usia 5 sampai di atas 15 tahun.

3. Batuk Rejan

Bayi merupakan golongan usia yang paling rentan terkena batuk rejan (pertusis) atau yang lebih populer dikenal dengan batuk seratus hari. Selain batuk berkepanjangan, batuk rejan juga ditandai dengan tarikan napas yang mengeluarkan suara bernada tinggi “whoop” atau mengi (berbunyi ngik ngik). Batuk pada bayi ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang menginfeksi saluran pernapasan.

Gejalanya yang muncul dapat berupa panas, demam, adanya ingus di dalam hidung. Bakteri ini biasa menjangkiti bayi berusia enam bulan hingga tiga tahun. Saat mengalami batuk ini, bayi juga berpotensi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti paru-paru basah pneumonia, epilesi, dan pendarahan pada otak.

Karena disebabkan oleh bakteri, maka batuk rejan dapat diatasi dengan mengonsumsi antibiotik, yakni erythromycin, tentunya melalui resep khusus dari dokter. Tindakan pencegahan dari dini seperti memberikan vaksin DTap juga bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan batuk rejan.

4. Batuk gejala bronkiolitis

Banyak hal yang dapat menjadi faktor pemicu terjadinya penyempitan di saluran pernapasan, termasuk polusi dan iritan yang berasal dari lingkungan sekitar. Kondisi ini dapat mengarah pada infeksi saluran pernapasan yang dinakaman bronkiolitis yang biasanya dialami bayi berusia sekitar satu tahun. Jika infeksi semakin parah, bronkiolitis dapat mengancam keselamatan jiwa si kecil.

Selain itu, batuk pada bayi ini juga bisa disebabkan oleh cuaca yang dingin. Hal ini terjadi karena saluran udara kecil ke paru-paru terinfeksi dan berlendir. Bayi menjadi kesulitan bernapas. Gejala yang muncul berupa adanya ingus di dalam hidung, batuk kering, kehilangan selera makan. Lama-lama akan mengakibatkan pilek, infeksi telinga, batuk croup, dan pneumonia.

5. Batuk gejala pneumonia

Pneumonia meruapakan peradangan paru-paru yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun juga bisa disebabkan oleh virus. Kondisi ini menyebabkan paru-paru memproduksi dahak berlebih sehingga terjadi penumpukan dahak di area paru-paru. Oleh sebab itu pneumonia juga dikenal dengan paru-paru basah.

Penyakit ini bisa memicu gejala batuk pada bayi. Selain itu, bayi yang batuk akibat penyakit pneumonia juga biasanya disertai oleh dahak yang cukup pekat dan memperlihatkan warna hijau kekuningan. Dalam kondisi parah, batuk pada bayi juga bisa disertai darah sehingga memerlukan penanganan medis sesegera mungkin. Pengobatan penyakit ini bergantung dari penyebabnya. Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi bakteri bisa disembuhkan dengan antibiotik.

6. Batuk akibat asma

Batuk ini biasanya dialami oleh bayi yang mengidap penyakit asma. Asma sendiri terjadi ketika terdapat penyempitan saluran udara akibat peradangan. Faktor pemicu terjadinya batuk pada bayi ini bisa disebabkan oleh fakto-faktor yang juga mengakibatkan kambuhnya asma.

Gejala yang muncul umumnya bayi terlihat kesulitan untuk bernapas dengan retraksi atau tarikan pada dada, dan diikuti dengan gejala-gejala yang biasa terjadi ketika mengalami flu, yaitu hidung gatal dan tersumbat, keluhan ini dapat disertai dengan mata berair. Batuk pada bayi ini dapat berlangsung di siang hari, namun biasanya akan memburuk di malam hari atau pada saat suhu di sekitar berubah dingin.

Bagaimana cara mengatasi batuk pada bayi?

Mengatasi batuk pada bayi tidak bisa dilakukan sembarangan. Pemberian obat over-the-counter (OTC) atau obat apotek juga tidak dianjurkan karena memiliki efek samping yang membahayakan bagi bayi. Sebaiknya Anda tidak panik ketika bayi Anda terserang batuk, selalu perhatikan gejalanya dan coba beberapa cara berikut ini:

1. Meningkatkan cairan tubuh

Cairan tambahan dapat memudahkannya untuk batuk dan bisa mengurangi lendir di hidung sehingga ia juga bisa mudah bernapas. Anda bisa memberinya air putih, susu, jus. Anda juga bisa memberinya sup ayam hangat, atau cokelat panas, yang dapat meringankan sakit tenggorokannya. Pastikan memberikannya dengan suhu hangat, bukan panas. Namun, hal ini hanya bisa dilakukan untuk bayi di atas usia enam bulan. Sebaiknya untuk bayi di bawah enam bulan, pemberian ASI ekstra sangat dianjurkan, karena ASI dipercaya dapat meningkatkan imunitas bayi. Selain itu, Anda juga bisa memberinya susu formula.

2. Berikan sedikit madu

Madu mengandung antioksidan, antibakteri yang baik untuk kesehatan. Selain itu madu juga mengandung vitamin C yang baik untuk sistem imun tubuh. Memberikan sedikit madu dapat meringankan batuk pada bayi. Berikan bayi Anda ½ sendok teh madu sebelum ia tidur. Namun, pengobatan madu ini hanya bisa dilakukan untuk bayi di atas satu tahun, Anda belum bisa memberikannya pada usia di bawahnya karena malah akan membuatnya sakit.

3. Menaikkan kepala bayi

Ketika Anda merasa sulit bernapas atau mengalami hidung tersumbat, Anda akan mencoba tidur dengan kepala sedikit dinaikkan. Hal ini juga bisa dicoba pada bayi Anda, taruh bantal yang tidak terlalu tebal atau handuk yang sudah dilipat, di atas matras di mana kepala bayi Anda akan dibaringkan. Ini akan membantunya memudahkan bernapas.

4. Pilih makanan yang meringankan batuk

Untuk bayi berusia enam bulan atau di bawahnya sebaiknya cukup fokuskan pada pemberian ASI dan susu formula. Jika bayi Anda berusia mendekati setahun ke atas, Anda bisa memilih makanan yang lembut untuk bayi Anda, seperti pudding, yogurt, dan bubur apel. Jika mereka suka makanan yang hangat, Anda bisa memberikannya kaldu ayam atau pudding yang baru saja dibuat.

5. Waktu istirahat yang cukup

Pastikan bayi Anda mendapat istirahat yang cukup. Batuk membuatnya menjadi kehilangan nafsu makan, bisa menyebabkannya gelisah dan sulit beristirahat. Coba menidurkannya ketika waktunya beristirahat; jika ia mudah tertidur di gendongan Anda, sebaiknya Anda tidak membaringkannya hingga ia tertidur. Jika ia mudah tidur di ranjangnya, Anda bisa baringkan di ranjangnya.

6. Berikan obat penurun demam

Anda juga bisa memberikan paracetamol untuk bayi, jika bayi Anda berusia 37 pekan dan beratnya lebih dari 4 kg. Anda juga bisa memberikan ibuprofen untuk bayi, jika usianya lebih dari tiga bulan dan beratnya paling tidak mencapai 5 kg.

7. Memberikan uap panas

Uap panas dapat meringankan hidung tersumbat dan batuknya. Anda bisa memasak air panas, lalu taruh di ember kecil atau baskom, dekatkan dengan bayi Anda, tapi pastikan bayi Anda tidak terkena air panas tersebut. Anda juga bisa duduk di kamar mandi dengan bayi Anda, dan biarkan pancuran air hangat mengalir. Uap panas akan melancarkan saluran udara pernapasannya.

Haruskah saya membawanya ke dokter?

Anda sebaiknya pergi ke dokter jika bayi Anda berusia di bawah tiga bulan, apa pun sakitnya. Selain itu Anda juga harus mengunjungi dokter, jika:

  • Batuknya tak kunjung reda setelah lima hari
  • Batuk bayi Anda semakin memburuk, Anda bisa perhatikan dari suaranya
  • Jika bayi Anda di bawah tiga bulan, temperaturnya mencapai 38 derajat C. Jika usianya di bawah enam bulan, temperaturnya mencapai 39 derajat C. Saat itu, Anda harus membawanya ke dokter
  • Terlihat sesak disertai adanya retraksi pada dada
  • Dahak yang keluar berwarna hijau, cokelat dan kuning

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca