Jangan Dibiarkan Jika Anak Susah Makan! Simak 6 Tips Tepat untuk Menanganinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Anak susah atau tidak mau makan kerap menjadi tantangan yang harus dihadapi para orangtua, mungkin termasuk Anda. Padahal, di masa pertumbuhan seperti ini asupan nutrisi anak dari makanan harus dipenuhi dengan baik guna mendukung perkembangannya. Eits, sebelum tarik urat, cari tahu dulu sebenarnya apa penyebab anak susah makan beserta cara menghadapinya yang tepat.

Kenapa anak sering susah makan?

kebiasaan makan anak

Menolak makan sebenarnya merupakan fase normal yang akan dilalui setiap anak, sekaligus Anda sebagai orangtua. Alasan utama anak tidak mau makan biasanya karena memiliki “ketakutan” tersendiri mengenai makanan tersebut.

Entah itu dari segi aroma, bentuk, tampilan, tekstur, atau rasa makanan yang masih baru baginya. Kondisi ini biasanya dialami oleh anak yang baru saja hendak mencoba makan jenis makanan baru, atau pernah mencobanya tapi tidak suka.

Kekhawatiran akan hal tersebutlah, yang kemudian membuat anak menjadi lebih selektif ketika ditawarkan jenis makanan yang kurang disukainya. Tindakan susah makan tersebut seolah menjadi bentuk pertahanan bagi anak dalam memilah-memilah asupan makanan hariannya.

Namun sayangnya, hal tersebut secara tidak langsung justru membuat variasi makanan anak menjadi lebih terbatas. Alhasil, berpengaruh pada kecukupan nutrisi hariannya.

Berbagai hal lain yang membuat anak tidak mau makan

Selain sebagai tindakan alami, ternyata kondisi anak tidak mau makan juga bisa disebabkan oleh adanya masalah medis tertentu. Berikut beberapa hal yang membuat nafsu makan anak hilang sehingga susah makan:

1. Diare

Jika biasanya nafsu makan anak tergolong baik tapi tiba-tiba jadi susah makan, bisa jadi ia mengalami infeksi virus atau bakteri. Perhatikan apakah anak sering bolak-balik ke kamar mandi, dan mengeluhkan sakit perut berulang kali. Kemungkinan besar ia mengalami diare, terutama apabila anak hobi jajan sembarangan.

2. Sembelit

Sembelit atau konstipasi adalah kondisi ketika proses buang air besar (BAB) anak tidak lancar seperti biasanya. Sembelit berkebalikan dengan diare yang membuat pengidapnya bisa BAB dalam frekuensi yang sering.

Ketika anak mengalami sembelit, frekuensi buang air besarnya bisanya jarang bahkan bisa hanya sekitar 3 kali dalam seminggu. Dalam kondisi ini, tidak menutup kemungkinan anak jadi lebih susah makan, bahkan enggan mencoba jenis makanan baru.

3. Eosinophilic esophagitis

Eosinophilic esophagitis adalah kondisi ketika sel darah putih (eosinofil), yang seharusnya bertugas menangkal alergi, justru menumpuk di kerongkongan (esofagus). Hal ini bisa dipicu oleh respon terhadap agen peyebab alergi (alergen).

Kebanyakan anak yang memiliki esofagitis biasanya alergi terhadap beberapa jenis makanan dan hal lainnya. Misalnya susu, kacang-kacangan, telur, serbuk bunga, dan lain sebagainya. Esofagitis menimbulkan gejala berupa pembengkakan pada tenggorokan, sehingga terasa sakit saat menelan makanan.

4. Intoleransi makanan

Intoleransi makanan adalah kondisi ketika tubuh tidak memiliki kemampuan untuk mencerna zat tertentu yang terkandung di dalam makanan atau minuman. Penting untuk dipahami kalau kondisi ini berbeda dengan alergi makanan, yang disebabkan oleh reaksi sistem imun.

Ketidakmampuan tubuh dalam mencerna makanan inilah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala. Meliputi sakit perut, mual, dan lainnya. Inilah yang akhirnya membuat anak menolak dan tidak mau makan. Berbagai makanan yang bisa mengakibatkan intoleransi meliputi laktosa, gandum, serta gluten.

5. Kondisi medis lainnya

Beragam penyakit yang memengaruhi fungsi organ ginjal, hati, maupun organ lainya bisa mengakibatkan anak susah makan. Konsultasikan dengan dokter guna mencari tahu penyebab pasti yang dialami si kecil.

Apa akibat jangka panjang jika anak tidak mau makan?

anak underweigt berat badan anak kurang

Jika kondisi anak susah makan ini hanya berlangsung sekali atau dua kali saja alias jarang, mungkin tidak masalah. Namun jangan anggap remeh ketika anak tidak mau makan terus-menerus atau dalam waktu lama. Pasalnya, makanan harian berguna sebagai sumber energi sekalis penyuplai asupan zat gizi harian anak.

Secara otomatis, kondisi anak yang susah makan tentu akan memengaruhi kecukupan zat gizi harian yang diperolehnya. Mengutip dari laman IDAI, akibat dari kebiasaan anak tidak mau makan berpengaruh jangka panjang terhadap penurunan asupan kalorinya sehingga tidak mencukupi kebutuhan.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi bahkan menghambat proses tumbuh kembang anak. Ini karena kebutuhan zat gizi hariannya tidak terpenuhi secara optimal untuk mendukung pertumbuhannya.

Mula-mula, dampak anak susah makan mungkin hanya memengaruhi berat badannya saja. Entah itu tetap di angka yang sama tanpa kenaikan, atau bahkan bisa sampai menurun. Lambat laun, barulah kondisi tersebut berpengaruh pada pertumbuhan tinggi badan anak.

Sampai akhirnya, berujung pada status gizi anak secara keseluruhan. Tidak menutup kemungkinan, akan timbul masalah gizi hingga membuat anak berisiko kurang gizi.

Jangan tunda untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebab susah makan makan pada anak. Berbagai hal yang membuat proses makan harian anak terganggu harus dikenali sedini mungkin, sehingga bisa segera dicari tahu penyebab yang mendasarinya.

Bagaimana cara menangani anak yang susah makan?

anak susah makan kasih suplemen

Pendekatan yang harus dilakukan untuk membantu mengatasi masalah susah makan pada anak bisa berbeda-beda, tergantung dari karakteristik anak tersebut. Jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi, coba tanyakan apa masalah dan keluhan yang sedang mereka rasakan.

Di sisi lain, perhatikan juga apa jenis makanan favorit dan yang kurang disukai anak. Ada kemungkinan ia bosan dengan makanan harian, atau memang memiliki keluhan tersendiri yang membuatnya tidak mau makan.

Secara umum, berikut tips yang bisa Anda lakukan untuk menangani anak yang susah makan:

1. Berikan makanan dalam porsi kecil

Memberikan anak makanan dalam porsi besar saat dirinya sedang susah makan, tentu membuat ia hanya bisa makan dalam porsi sedikit. Atau bahkan, anak mungkin semakin enggan untuk menyentuh makanannya.

Ketimbang harus menyajikan makanan dalam porsi besar tapi tidak habis, cobalah berikan porsi yang lebih sedikit tapi sering. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan untuk memberi jarak minimal 3 jam sebelum masuk ke waktu makan selanjutnya.

Dengan begitu, anak akan lebih merasakan kapan lapar dan kapan kenyang, sehingga porsi makannya lebih “pas” saat waktu makan tiba. Jika diterapkan secara rutin, cara ini setidaknya dapat membantu membantu jadwal makannya.

2. Sajikan makanan dengan tampilan yang menarik

Jika selama ini Anda terbiasa dengan memberikan anak makan dengan tampilan biasanya, kini coba cara lainnya. Berikan anak sepiring makanan dengan tampilan yang menarik. Misalnya dengan membentuk nasi menjadi gambar sebuah orang, kemudian menggunakan sayur dan lauk sebagai pemanisnya.

Anda bisa membentuk sayur wortel menjadi sebuah mahota, atau timun sebagai rumputnya. Berkreasilah dengan cara Anda sendiri untuk menemukan variasi tampilan yang menarik di piring makan anak.

Alih-alih menyajikan makanan dalam bentuk ala kadarnya, menampilkan sisi menarik dari makanan biasanya membuat anak menjadi lebih tertarik untuk mencicipnya.

3. Berikan makanan utama terlebih dahulu, baru diakhiri dengan minum

Banyak anak sering minum di tengah-tengah proses makannya dengan alasan seret atau haus. Padahal, kebanyakan minum justru dapat membuat perut anak kembung sehingga hanya makan makan sedikit dan enggan menghabiskannya.

Mulai sekarang, sebaiknya batasi jumlah air yang boleh anak minum selama makan. Jika ingin minum, berikan anak minum sebelum makan, dan baru boleh minum kembali dalam jumlah banyak setelah makanannya habis.

4. Perkenalkan makanan baru secara perlahan

Kadang kala, kondisi anak susah makan dikarenakan ia belum terlalu terbiasa dengan makanan yang Anda sajikan. Entah karena belum pernah mencoba sama sekali, atau sudah pernah tapi kurang tertarik dengan makanan tersebut.

Jika ingin memperkenalkan makanan baru, coba lakukan secara bertahap. Misalnya dalam jumlah yang sedikit terlebih dahulu, beru kemudian dilanjutkan ke porsi yang agak banyak setelah anak mulai terbiasa.

Pasalnya, langsung memberikan makanan baru dalam porsi banyak bisa membuat anak enggan memakannya, terlebih jika tidak suka dengan tampilan, tekstur, atau aromanya.

5. Jadilah panutan yang baik untuk anak

Anak merupakan peniru yang andal terhadap tindakan orang-orang di sekelilingnya. Maka itu, sebelum meminta anak untuk mencoba makanan baru atau menghabiskan makanan yang Anda sajikan, berikan contoh yang sama terlebih dahulu.

Hal ini bertujuan agar tumbuh rasa ketertarikan setelah memerhatikan tindakan yang dilakukan oleh Anda maupun orang-orang di sekitarnya. Anda bisa mengajak si kecil duduk bersama di meja makan, kemudian berikan anak makanan yang sama dengan yang dimakan oleh anggota keluarga lainnya.

Jika di awal si kecil tampak ragu untuk mencicipi makanan tersebut, beri contoh dan katakan bahwa makanan tersebut tidak kalah lezat dengan makanan favoritnya. Bahkan, Anda bisa sekaligus mengajarkan anak dengan menceritakan kandungan nutrisi penting di dalam makanan tersebut.

Sebaliknya, Anda atau pasangan mungkin sama-sama punya kebiasaan suka memilah-milah makanan atau tidak menyukai jenis makanan tertentu. Dalam kondisi ini, tak heran jika nantinya anak juga akan meniru kebiasaan orangtuanya yang satu ini.

6. Libatkan anak dalam cara yang menarik

Berbagai kegiatan menarik yang berhubungan dengan makanan, seperti bermain masak-masakan, atau mengajak anak untuk menyiapkan makan bersama, bisa menjadi ide bagus untuk dicoba. Selain menyenangkan, cara-cara tersebut juga membantu Anda untuk memperkenalkan dunia makanan pada anak.

Selama Anda sedang memasak, berikan anak semangkuk makanan yang telah dipotong sampai berukuran kecil. Tujuannya agar si kecil dapat “bermain” dengan mencoba mengenali makanan tersebut. Mulai dari tampilan, tekstur, aroma, hingga rasanya.

Jangan takut anak akan mengacaukan makanannya, karena ini termasuk bagian dari proses pembelajaran agar ia tidak susah makan.

Adakah tindakan yang harus dihindari saat anak susah makan?

penyebab anak nakal

Memang, kadang rasanya gemas sekali melihat kebiasaan anak yang suka tidak mau makan ini. Namun, sebaiknya hindari melakukan tindakan yang bisa membuat anak semakin susah makan, seperti:

1. Terlalu memaksa anak untuk makan

Jangan memaksa anak untuk makan atau mencoba suatu makanan baru jika memang belum siap. Bukan tidak mungkin, paksaan yang Anda berikan malah akan semakin membuat anak enggan untuk makan makanan yang telah disediakan.

Sebagai gantinya, usahakan untuk tetap bersikap positif pada usaha anak. Misalnya memuji ketika anak sudah mulai mau makan dengan teratur dan tepat waktu, meski mungkin jumlah porsinya belum terlalu banyak.

2. Memaksanya untuk menghabiskan semua makanan di piring

Setelah anak merasa sudah kenyang, jangan paksa ia untuk terus menghabiskan sisa makanan di piringnya. Itulah mengapa ada baiknya untuk memberikan porsi makan sewajarnya saja pada anak, alias tidak terlalu banyak atau sedikit.

Sisi baiknya, cara ini dapat mengajarkan anak untuk lebih memahami kapan tubuhnya merasa lapar dan kapan sudah cukup makan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca