4 Jenis Kurang Gizi yang Paling Umum Pada Anak Usia Sekolah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23/03/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anak usia sekolah (6-12) sangat membutuhkan makanan penuh zat gizi untuk menunjang kebutuhan dan perkembangannya. Namun ternyata, masih ada beberapa anak-anak yang justru mengalami kekurangan zat gizi, khususnya kekurangan zat gizi mikro. Apa saja kasus kekurangan gizi yang paling sering terjadi?

Zat gizi mikro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah kecil dalam tubuh namun memiliki dampak yang sangat besar dalam menjalankan metabolisme. Dalam berita yang dimuat dalam laman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, anak-anak memiliki tiga masalah utama kurang gizi yakni kekurangan zat besi, vitamin A, dan yodium. Meskipun sekarang 3 masalah ini sudah mulai membaik, para orang tua harus tetap waspada. Serta, ada satu lagi yang sekarang ini juga harus dipantau yakni kekurangan vitamin D. 

Untuk mengenali apa saja jenis kekurangan gizi yang perlu orangtua waspadai, simak penjelasannya di bawah ini.

1. Kurang zat besi

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan bahwa sekitar 53 persen anak usia sekolah mengalami anemia defisiensi besi secara global. Khususnya pada negara berkembang. Besi berfungsi untuk membawa oksigen ke semua sel-sel tubuh agar dapat bekerja dengan baik.

Anemia defisiensi besi merupakan kondisi di mana tubuh kekurangan zat besi sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah. Anemia defisiensi besi memberikan dampak yang parah terhadap perkembangan kognitif dan fisik anak.  

Studi menunjukan, dengan jumlah besi yang cukup di dalam tubuh anak, makan anak akan mengalmi peningkatan konsentrasi, kinerja di sekolah dan prestasi belajarnya. 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, penyebab anemia defisiensi besi pada anak berusia diatas 5 tahun hingga remaja adalah karena perdarahan berlebih, dan menstruasi berlebihan khusus pada anak perempuan. Kondisi perdarahan dapat disebabkan karena adanya infeksi cacing, contohnya cacing tambang.

Gejala yang paling sering ditemukan adalah

  • Kulit selalu pucat
  • Lemas
  • Mudah lelah
  • Mudah mengalami infeksi sebab menurunnya daya tahan tubuh
  • Menurunnya prestasi belajar
  • Nafsu makan berkurang

Menurut healthline, sumber makanan yang kaya akan zat besi antara lain:

  • Daging sapi
  • Ikan
  • Daging ayam
  • Bayam
  • Brokoli
  • Hati
  • Kacang-kacangan seperti almond dan mete
  • Tahu

Untuk membantu mengoptimalkan penyerapan zat besi dari sumber makanan nabati seperti bayam, brokoli dan lain-lain, diperlukan juga konsumsi vitamin C yang cukup untuk membantu penyerapannya optimal di dalam tubuh.

2. Kurang yodium

Kekurangan yodium (iodium) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di beberapa negara berkembang. Tubuh tidak bisa memproduksi yodium sendiri, sehingga yodium sangat penting didapatkan dari makanan sehari-hari. Yodium bisa ditemukan di berbagai macam makanan, antara lain:

  • Ikan
  • Rumput laut
  • Susu dan produk susu lainnya
  • Telur
  • Udang

Secara alamiah, makanan sehari-hari memang tidak begitu banyak mengandung yodium. Di beberapa negara, yodium dimasukan ke dalam bahan tambahan pangan, salah satunya garam dapur. Di Indonesia sendiri yodium ditambahkan dalam garam dapur untuk menaggulangi permasalahan kurang yodium yang biasa disebut dengan GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium).

Yodium adalah salah satu zat gizi penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk produksi hormon tiroid. Ketika tubuh mengalami kekurangan yodium, maka kelenjar tiroid mengalami pembesaran untuk menangkap yodium sebanyak-banyaknya dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Pembesaran kelenjar tiroid juga dikenal dengan istilah gondok.

Kondisi kekurangan yodium yang semakin parah bisa menyebabkan keterbelakangan mental dan kelainan perkembangan pada anak-anak yang disebut dengan kreatinisme. Anak mungkin memiliki perawakan pendek dan mengalami gangguan kemampuan mendengar dan berbicara.

3. Kurang vitamin A

Menurut WHO, kekurangan vitamin A memengaruhi sekitar 85 juta anak usia sekolah di dunia dan merupakan masalah yang sering dihadapi oleh negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara.

Kekurangan vitamin A merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat dicegah pada anak-anak. Jenis kekurangan gizi ini juga menyebabkan gangguan fungsi kekebalan tubuh, metabolisme zat besi yang buruk, dan infeksi saluran pernapasan akut.

Mengatasi kekurangan vitamin A sangat penting untuk kelangsungan hidup anak. Pentingnya vitamin A bahkan di beberapa negara termasuk Indonesia memberikan suplementasi vitamin A, bahkan sejak anak berusia 6 bulan. Vitamin A juga bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan.

Sumber vitamin A dapat diperoleh antara lain dari:

  • Hati
  • Ikan
  • Minyak ikan
  • Susu yang diperkaya vitamin A
  • Telur
  • Margarin yang diperkaya vitamin A
  • Sayuran

4. Kurang vitamin D

Kurang vitamin D adalah salah satu jenis kekurangan gizi yang harus diperhatikan pada anak dalam masa pertumbuhan. Sebab, kekurangan vitamin D pada masa ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan.

Vitamin D sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang. Bukan hanya itu, vitamin ini juga yang membantu menyerap dan memertahankan kalsium dan fosfor di dalam tubuh agar dapat membangun tulang yang kuat.

Jika anak kekurangan vitamin D, maka anak berisiko mengalami perkembangan motorik yang tertunda atau terhambat, terjadi kelemahan otot, dan patah tulang.

Anak-anak yang memiliki risiko kekurangan vitamin D antara lain adalah anak yang biasanya kulitnya selalu tertutup, memiliki kelainan organ tertentu seperti penyakit hati atau ginjal, dan anak yang lebih menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam rumah serta sehingga tidak mendapatkan banyak paparan sinaar matahari.

Sumber vitamin D dapat didapatkan dari:

  • Keju
  • Hati sapi
  • Keju
  • Kuning telur

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penilaian Status Gizi Anak, Cara Mengukur Hingga Membaca Hasilnya

Metode penilaian status gizi anak dan dewasa tidaklah sama, karena adanya perbedaan usia dan ukuran tubuh. Lantas, bagaimana cara menilai status gizi anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 15/05/2019 . Waktu baca 16 menit

Katanya, Kurang Vitamin D Bisa Menyebabkan Skizofrenia. Apa Benar?

Temuan baru menyatakan bahwa kurang vitamin D bisa menyebabkan skizofrenia. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Harus apa untuk mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Jessica Yulianti
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/04/2019 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Malnutrisi (Kurang Gizi) Pada Lansia Sekaligus Cara Mencegahnya

Lansia rentan mengalami malnutrisi. Kondisi ini harus dicegah agar lansia tak rentan terserang penyakit. Berikut cara mencegah malnutrisi pada lansia.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Nutrisi, Hidup Sehat 24/02/2019 . Waktu baca 4 menit

3 Cara Menanggulangi Kurang Gizi Pada Anak Remaja

Tidak boleh dianggap enteng, gizi kurang pada remaja bisa membawa dampak buruk pada tumbuh kembangnya kelak. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak 21/01/2019 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin D kematian covid-19

Kekurangan Vitamin D Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020 . Waktu baca 6 menit
tanda kekurangan gizi dan anak kurang gizi

Mengenal Marasmus, Masalah Gizi Penyebab Kematian Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020 . Waktu baca 14 menit
ciri bayi kekurangan zat besi

Mengenal Gejala Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 04/11/2019 . Waktu baca 5 menit
refeeding syndrome

Mengenal Refeeding Syndrome, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien Kurang Gizi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/10/2019 . Waktu baca 4 menit