Kapan Si Kecil Boleh Makan Sushi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Selain daging, ikan dan makanan laut lainnya bisa jadi sumber protein untuk anak. Anda bisa menyajikan berbagai ikan menjadi beragam menu, seperti ikan goreng, sup ikan, atau sushi. Namun, kapan anak dibolehkan makan sushi? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Kapan anak boleh makan sushi?

Anak-anak membutuhkan makanan bernutrisi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Selain itu, makanan juga menjadi sumber energi yang bagi anak untuk menjalani berbagai aktivitas.

Nah, ikan menjadi salah satu makanan yang tinggi nutrisi. Mulai dari protein, vitamin, hingga asam lemak omega 3 yang membantu menjaga kesehatan mata dan otak anak terdapat dalam ikan.

Ikan juga sering kali diolah menjadi sushi. Sushi merupakan makanan khas Jepang, tapi populer di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Lantas, bolehkan anak makan sushi?

Jawabannya, tentu saja boleh. Namun, makanan ini harus diberikan pada usia yang tepat. Pasalnya, ikan mentah memungkinkan bakteri masih hidup di dalamnya. Selain itu, beberapa ikan tertentu juga mengandung merkuri cukup tinggi.

Anak-anak umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dari orang dewasa. Hal ini tentu menyebabkan mereka lebih besar berisiko kena infeksi.

Menurut laman Healthy Children, banyak orangtua di Jepang mulai mengenalkan sushi pada anak saat mereka berusia 3 tahun. Namun, Janet Helm, MS RD, seorang ahli gizi berpendapat bahwa orangtua setidaknya perlu menunggu si kecil berusia 5 tahun atau lebih jika ingin anak makan sushi ikan mentah.

Tips aman dan sehat mengenalkan sushi pada anak

cara membuat sushi

Selain mempertimbangkan usia anak, orangtua juga perlu memperhatikan cara tepat untuk mengenalkan sushi pada si kecil. Supaya tidak salah langkah, perhatikan beberapa hal berikut ini.

1. Pastikan anak telah menerima vaksin hepatitis A dan typhoid

Makan sushi dari ikan mentah meningkatkan risiko anak terkena infeksi, seperti hepatitis A, typhoid, dan parasit. Meskipun kasus ini jarang terjadi, Anda tidak boleh menyepelekan hal ini.

Pastikan anak telah menerima vaksin hepatitis A dan typhoid sebelum Anda mengenalkan sushi pada anak. Kedua vaksin tersebut dapat diberikan mulai usia 2 tahun.

2. Pastikan anak bebas alergi seafood

Selain sudah mendapatkan vaksin, pastikan juga anak bebas dari alergi seafood. Anak dengan kondisi ini perlu menghindari sushi maupun makanan olahan dari seafood agar gejalanya tidak kambuh.

Meski umumnya diketahui saat masih kecil, anak-anak usia berapa pun bisa  memiliki alergi ini. Jika anak menunjukkan tanda-tanda alergi setelah makan sushi, segera periksa ke dokter.

3. Pilih ikan yang rendah merkuri

Walaupun bernutrisi tinggi, beberapa jenis ikan cenderung mengandung tinggi merkuri. Contohnya, ikan todak, marlin, king mackerel, tilefish, tuna. Sebagai gantinya, Anda bisa memilih ikan atau makanan laut yang rendah merkuri seperti cakalang, salmon, ikan patin, ikan nila, ikan cod, atau udang.

4. Sesuaikan porsinya

Sushi disajikan dengan tambahan telur, telur ikan, sayur, rumput laut kering, dan nasi. Inilah kenapa sushi menyajikan berbagai nutrisi bagi anak. Namun, jangan lupa adanya nasi menyumbangkan kalori cukup banyak, seperti halnya anak makan ikan dengan nasi.

Jadi, pastikan anak makan sushi sesuai dengan porsi makan biasanya. Jika anak terlalu banyak makan sushi, ia bisa saja terlalu banyak makan.

Sushi juga biasanya disantap bersamaan dengan soyu (kecap asin) yang tinggi garam. Terlalu banyak makan makanan tinggi garam tidak baik untuk kesehatan anak.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca