Hati-Hati! Ini Dampak untuk Kesehatan Bila Si Kecil Sering Minum Soda

    Hati-Hati! Ini Dampak untuk Kesehatan Bila Si Kecil Sering Minum Soda

    Minum soda memang menyegarkan, tetapi bolehkah anak mengonsumsinya? Minuman bersoda memiliki tampak menarik karena terlihat segar, punya rasa manis, dan warna mencolok. Itu sebabnya, anak tertarik untuk mencobanya. Namun, orangtua perlu hati-hati dalam memberikan soda pada anak. Mengapa demikian?

    Adakah dampak bila anak sering minum soda?

    anak gemuk

    Minuman bersoda atau air karbonasi adalah air yang berisi tambahan gas karbon dioksida. Gas ini membuat adanya gelembung kecil dalam air dan sangat khas dari minuman bersoda.

    Pada anak-anak, minuman ini bisa memicu masalah kesehatan, seperti kenaikan pada berat badan anak, masalah pada gigi anak, sampai gangguan tidur.

    Berikut penjelasan lengkap seputar dampak bila anak terlalu sering minum minuman bersoda.

    1. Kerusakan gigi

    Gigi termasuk bagian tubuh yang terdampak dari konsumsi soda karena kandungan gula di dalamnya.

    Mengutip dari Massachusetts Dental Society (MDS), 354 ml soda mengandung sekitar 10 sendok teh gula.

    Padahal, rekomendasi konsumsi gula untuk anak usia 2-18 tahun kurang dari 6 sendok teh per hari. Artinya, 354 ml soda tersebut berisi gula yang melebihi batas asupan harian.

    Anak yang sering minum soda meningkatkan risiko kerusakan gigi akibat kandungan gula yang sangat tinggi.

    Walau anak rajin sikat gigi, soda biasa atau soda diet tetap bisa merusak email gigi.

    Bakteri kecil bisa hidup di sekitar gigi. Saat terkena gula dalam soda, bakteri tersebut menghasilkan asam yang menyebabkan kerusakan.

    Akhirnya, gigi anak menjadi busuk dan berlubang. Proses terbentuknya asam ini dapat berlangsung hanya dalam waktu 20 menit setelah minum soda.

    2. Obesitas

    Tingginya kandungan gula dalam minuman bersoda bisa membuat anak berisiko mengalami obesitas.

    Mengutip dari Kids Health, anak yang sering minum minuman manis, kemungkinan mengalami obesitas sekitar 60 persen.

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak masuk kategori obesitas bila berat badannya lebih dari +3 SD pada grafik pertumbuhan.

    Bila melihat kandungan gula dalam 354 ml minuman bersoda yang sampai 10 sendok teh, risiko anak mengalami obesitas sangat besar.

    3. Masalah perilaku anak

    Penelitian terbitan The Journal of Pediatrics menemukan bahwa anak yang sering minum soda kemungkinan besar memiliki perilaku agresif.

    Dalam penelitian tersebut, peneliti melibatkan 2929 anak berusia 5 tahun, dari 20 kota di Amerika Serikat.

    Anak-anak yang minum minuman ringan 4 kali per hari, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar menghancurkan barang milik orang lain.

    Selain menghancurkan barang, anak-anak ini juga cenderung senang berkelahi dan menyerang orang secara fisik.

    Namun, studi ini masih belum lengkap dengan porsi, jenis soda, dan minuman apa yang khusus peneliti sebut sebagai minuman ringan.

    4. Kepadatan tulang rendah

    Mengutip dari Harvard Health Publishing, peringatan bahaya minuman berkarbonasi timbul karena fosfat untuk meningkatkan rasa pada soda bisa mengganggu penyerapan kalsium.

    Namun, tidak ada bukti bahwa asupan fosfat tinggi berpengaruh pada kepadatan tulang. Jadi, bolehkah anak minum soda?

    Masih mengutip dari Harvard Health Publishing, minuman berkarbonasi non-soda tidak berhubungan dengan kepadatan mineral tulang.

    Maksud minuman berkarbonasi non-soda adalah tidak mengandung kafein dan sodium, seperti tablet evervecent yang dilarutkan ke air.

    Dengan kata lain, asupan minuman bersoda berhubungan dengan kepadatan mineral tulang yang rendah pada remaja perempuan.

    Wanita dewasa yang minum lebih banyak soda dan sedikit susu, memiliki asupan kalsium yang lebih rendah.

    5. Masalah kesehatan lain

    Mengutip dari Kids Health, minuman bersoda mengandung kafein yang cukup tinggi. Setidaknya 354 ml soda mengandung 34-45 mg kafein.

    Konsumsi kafein pada anak bisa memicu masalah kesehatan seperti:

    • sakit kepala,
    • nyeri perut,
    • gangguan tidur,
    • merasa gelisah,
    • masalah perilaku, dan
    • gangguan sistem saraf.

    American Academy of Pediatrics melarang konsumsi kafein untuk anak-anak dari semua kelompok usia.

    Mengingat dampak minuman bersoda pada anak cukup besar, hindari memberikannya pada si kecil.

    Sebaiknya orangtua juga memberi contoh dengan tidak minum soda di depan anak, mengingat mereka sangat mudah meniru kebiasaan yang ia lihat.

    Bila ingin memberikan minuman segar, buatlah jus buah tanpa gula tambahan agar konsumsi gula anak tidak berlebih.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    By the way, doctor: Does carbonated water harm bones? – Harvard Health. (2010). Retrieved 15 December 2021, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/does-carbonated-water-harm-bones

    Soda vs Fruit Juice: Are They Bad For Kids’ Teeth? | All Pro Dental. (2021). Retrieved 15 December 2021, from https://allprodentalcare.org/soda-vs-fruit-juice-are-they-bad-for-kids-teeth/

    Caffeine (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 15 December 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/child-caffeine.html

    Soft Drinks and Tooth Decay | Massachusetts Dental Society. (2021). Retrieved 15 December 2021, from https://www.massdental.org/Public/Oral-Health-Topics/Soft-Drinks-and-Tooth-Decay

    Suglia, S., Solnick, S., & Hemenway, D. (2013). Soft Drinks Consumption Is Associated with Behavior Problems in 5-Year-Olds. The Journal Of Pediatrics, 163(5), 1323-1328. doi: 10.1016/j.jpeds.2013.06.023

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui Dec 23, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita