×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:

4 Hal yang Membuat Anda Sebaiknya Tidak Menyusui Bayi Anda

Oleh Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Kita semua setuju bahwa ASI merupakan nutrisi yang sangat penting bagi bayi, dan sudah semestinya ASI diberikan. Namun, pada kondisi tertentu, ASI tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dengan alasan medis di mana keuntungan pemberian ASI tidak sebanding dengan risikonya. Kondisi apa saja yang menyebabkan ibu tak boleh menyusui bayinya?

Ibu tak boleh menyusui bayi jika…

1. Bayi mengidap galaktosemia

Galaktosemia adalah sebuah penyakit genetik yang sangat langka, di mana bayi yang menderita galaktosemia tidak dapat memproses galaktosa menjadi glukosa karena defisiensi enzim yang disebut sebagai GALT.

Bayi yang menderita galaktosemia terlahir normal, namun seiring dengan meningkatnya konsumsi ASI maka bayi akan mulai menimbulkan gejala. Bayi penderita galaktosemia harus diberikan makanan khusus yang tidak mengandung galaktosa.

Karbohidrat pada ASI sebagian besar mengandung laktosa yang nanti dipecah menjadi galaktosa di saluran pencernaan, dan diserap ke dalam darah. Dalam kondisi normal, galaktosa akan diubah menjadi glukosa oleh GALT di dalam darah agar dapat digunakan oleh tubuh. Namun, pada bayi penderita galaktosemia, hal tersebut tidak terjadi sehingga terjadi penumpukan galaktosa di dalam darah. Oleh karena itu, bayi yang menderita galaktosemia tidak diperbolehkan diberikan ASI.

2. Ibu mengidap HIV

Ibu yang mengidap HIV sebetulnya tak boleh menyusi bayi karena dapat menularkan virus HIV pada bayinya lewat ASI. Namun, khusus untuk negara-negara berkembang yang miskin, seorang ibu penderita HIV diperbolehkan untuk memberikan ASI karena susu formula tidak tersedia akibat alasan ekonomi. Tapi tentunya dengan catatan, obat anti-retro virus (ARV) diberikan secara teratur. Untuk itu ibu dengan HIV wajib mengikuti program pengobatan dengan ketat. 

Selain itu, ASI sebaiknya dipanaskan terlebih dahulu untuk membunuh virus HIV yang terdapat dalam ASI. Metode yang mudah dan murah adalah dengan menempatkan ASI ke dalam wadah, kemudian letakkan dalam panci berisi air untuk dipanaskan. Ketika sudah mendidih, ASI diangkat dan didinginkan sesuai suhu badan manusia. Metode ini disebut flash-heating.

Dari penelitian didapatkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 3 bulan, memiliki risiko lebih rendah untuk terinfeksi oleh HIV dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI dan susu formula. Selain itu, bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan dikombinasikan dengan obat antiretroviral selama 6 bulan, risiko terinfeksinya semakin kecil.

3. Tuberkulosis dan herpes

Ibu yang menderita tuberkulosis (TBC) dan herpes simplex pada daerah payudara tidak boleh menyusui anaknya karena sangat menular. Meskipun begitu, apabila ASI diperas dari payudara dan diberikan dengan botol susu, ASI masih boleh diberikan karena tidak menular lewat ASI.

Ibu penderita TBC diperbolehkan menyusui apabila telah menjalani terapi TB selama minimal 2 minggu dan terbukti lewat pemeriksaan sudah tidak menularkan bakteri TBC.

Ibu penderita herpes tidak boleh menyusui secara langsung. Herpes simplex sangat berbahaya jika menyerang bayi karena sistem imunnya belum terbentuk dengan baik. Bayi yang terinfeksi herpes memiliki gejala yang berat dan sering kali menyebabkan kematian. Dianjurkan untuk memeras ASI dan diberikan lewat botol susu.

4. Ibu sedang kemoterapi

Selain penyakit infeksi, ibu yang menderita penyakit seperti kanker dan sedang menjalani kemoterapi bukan hanya tidak boleh menyusui, tapi juga tidak dianjurkan untuk memberikan ASI. Ini karena obat yang ada di dalam darah ibu dapat masuk ke dalam ASI dan memberikan efek buruk terhadap bayi.

Ibu yang menjalani kemoterapi disarankan untuk memompa ASI dan membuangnya agar produksi ASI tetap terjaga. Anda dapat memberikan ASI setelah proses kemoterapi selesai dan dokter spesialis onkologi mengizinkan Anda untuk memberikan ASI.

Baca Juga:

Sumber
×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We’re excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca