Bibir Sumbing Pada Bayi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Setiap orangtua tentu mendambakan buah hati lahir dengan kondisi sehat dan sempurna. Namun, terkadang ada bayi yang mengalami cacat bawaan lahir seperti bibir sumbing. Apalagi, masalah celah bibir di Indonesia masih terus terjadi. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan yang bisa dilakukan untuk kondisi bibir sumbing pada bayi.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apa itu bibir sumbing?

Bibir sumbing atau celah pada bibir adalah kelainan bentuk yang bisa terjadi pada satu atau kedua sisi mulut.

Kondisi ini berawal dari sebelum kelahiran atau sejak perkembangan bayi masih berada di dalam kandungan.

Bibir sumbing terjadi ketika jaringan pembentuk bibir dan langit-langit mulut gagal menyatu sempurna.

Hal ini mengakibatkan terbentuknya celah atau terbelah pada bibir bagian atas alias langit-langit mulut.

Cacat dapat disebabkan oleh genetik atau akibat paparan dari lingkungan selama kehamilan.

Ciri bibir sumbing yang paling umum adalah celah yang membelah kedua sisi bibir atas dan bisa sampai ke hidung.

Akibatnya, bayi dengan kondisi celah pada bibir akan sulit menelan dan bicara layaknya bayi normal lainnya.

Apakah kondisi ini umum terjadi?

Bibir sumbing adalah salah satu bentuk cacat lahir yang paling sering terjadi.

Diperkirakan di antara 700 kelahiran, satu di antaranya memiliki kondisi celah pada bibir dan langit mulut.

Menurut Pusat Data Kemenkes RI, persentase anak dengan celah bibir dan langit-langit mencapai 20,4% dari tahun 2014-2018.

Angka kejadiannya paling banyak ditemukan pada bayi berjenis kelamin laki-laki dibanding dengan perempuan.

Risiko orang tua dengan anak celah pada bibir untuk kembali memiliki anak dengan kondisi yang sama adalah sebesar 4%.

Apa saja tanda dan gejala bibir sumbing?

Umumnya, kondisi ini langsung terlihat saat kelahiran dan mempunyai jenisnya masing-masing, seperti:

  • Celah bibir yang dapat memengaruhi salah satu atau kedua sisi wajah.
  • Celah bibir yang dapat terlihat sebagai torehan pada bibir.
  • Celah juga berkisar dari bibir melalui gusi atas dan langit-langit hingga bagian bawah hidung.
  • Celah pada langit-langit mulut yang tidak memengaruhi tampilan pada wajah.

Terkadang, celah hanya terjadi pada otot dari langit-langit lunak (celah pada langit submukosa).

Celah ini terletak di bagian belakang mulut dan tertutup oleh lapisan mulut.

Namun, perlu diketahui apabila jenis celah pada langit mulut sering kali tidak terdeteksi saat kelahiran.

Kemungkinan sulit untuk terdiagnosis hingga muncul gejalanya, seperti:

Apa penyebab bibir sumbing?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bibir sumbing terjadi akibat wajah dan mulut bayi tidak terbentuk dengan sempurna sejak saat masih di dalam kandungan.

Idealnya, jaringan pembentuk bibir serta langit-langit mulut akan menyatu pada bulan kedua dan ketiga kehamilan.

Berikut berbagai penyebab bibir sumbing pada bayi, seperti:

1. Faktor genetik

Melansir dari laman Mayo Clinic, pada kebanyakan kasus, faktor genetik dipercaya memainkan peran besar sebagai penyebab bibir sumbing.

Ya, orangtua atau saudara kandung bisa saja mewariskan gen pemicu timbulnya bibir sumbing.

Semakin banyak anggota keluarga yang mengalaminya, akan semakin besar pula kemungkinan Anda untuk melahirkan bayi dengan cacat bawaan tersebut.

2. Faktor lingkungan dan gaya hidup

Selain dari faktor keturunan, hal lainnya yang turut menjadi penyebab bibir sumbing pada bayi yakni faktor lingkungan.

Sebagai contoh, ibu hamil yang terpapar bahan kimia dan virus memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan celah pada bibir.

Hal ini karena paparannya berpengaruh pada tumbuh kembang si kecil selama berada di dalam kandungan.

Bukan itu saja, kekurangan nutrisi selama kehamilan juga turut berpengaruh pada kondisi bayi nantinya.

Di sisi lain, kebiasaan minum alkohol dan konsumsi obat-obatan terlarang juga berpotensi menjadi penyebab bibir sumbing pada bayi.

Faktor-faktor lainnya yang meningkatkan risiko

Bibir sumbing adalah kondisi yang dapat diderita oleh siapa saja. Selain penyebab di atas, ada pula faktor yang meningkatkan risiko, seperti:

1. Minum obat selama kehamilan

Konsumsi obat selama masa kehamilan juga turut berpengaruh pada kondisi bayi saat lahir.

Ada beberapa obat yang disinyalir dapat berisiko menimbulkan celah di bagian bibir, yaitu:

  • Obat jerawat seperti accutane.
  • Obat anti kejang atau epilepsi

Penggunaan obat-obatan tersebut berisiko menjadi penyebab langit-langit mulut bibir bayi bercelah.

Sementara pada ibu hamil yang tidak minum obat-obatan tersebut, risikonya tentu jauh lebih kecil.

2. Merokok saat hamil

Nyatanya, merokok saat hamil punya peluang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan kondisi cacat lahir bawaan, seperti bibir sumbing.

Hal ini karena asap rokok merupakan paparan zat berbahaya termasuk saat hamil.

3. Mengalami diabetes saat hamil

Peluang untuk melahirkan bayi dengan kondisi ini pada ibu hamil yang memiliki Riwayat diabetes juga lebih tinggi.

Beberapa ahli percaya bahwa wanita yang terdiagnosis diabetes sebelum hamil mungkin dapat meningkatkan risiko terkena bibir sumbing.

4. Kelebihan berat badan saat hamil

Para wanita yang sedang merencanakan kehamilan dianjurkan untuk lebih memerhatikan berat badan ideal sebelum hamil.

Ini karena berat badan berlebih saat hamil dapat menjadi salah satu risiko penyebab bayi lahir dengan bibir maupun langit-langit mulut sumbing.

Apa saja komplikasi dari bibir sumbing?

Anak yang memiliki celah pada bibir akan menghadapi beberapa tantangan dalam hidup.

Namun, hal ini tergantung pada jenis dan keparahan kondisi. Berikut beberapa komplikasi dari kondisi celah pada bibir:

1. Kesulitan makan

Salah satu masalah yang dikhawatirkan setelah lahir dengan kondisi ini adalah cara makan.

Kebanyakan bayi dengan bibir sumbing masih bisa menyusui, tetapi lebih susah dilakukan pada bayi dengan celah langit.

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor bayi susah makan.

2. Infeksi telinga

Bayi yang terlahir dengan kondisi ini memiliki risiko adanya cairan telinga lebih banyak dari batas wajar.

Dengan begitu, kemungkinan besar mengalami infeksi sehingga pendengaran pun terganggu.

3. Masalah pada gigi

Apabila celah atau sumbing melebar hingga ke gusi bagian atas, pertumbuhan gigi bayi mungkin akan mengalami beberapa gangguan.

4. Kesulitan berbicara

Perlu diketahui apabila bayi dengan kondisi bibir sumbing, bentuknya berbeda dengan ang seharusnya.

Maka dari itu, perbedaan ini tidak menutup kemungkinan anak akan mengalami kesulitan dalam berbicara yang normal.

5. Rentan mengalami stres

Anak yang memiliki kondisi ini mungkin akan mengalami masalah sosial, emosional, dan perilaku.

Hal ini bisa terjadi karena sering menjalani perawatan intensif yang berbeda-beda.

Selain itu, anak juga bisa mengalami minder karena merasa berbeda dengan anak normal lainnya.

Penanganan yang bisa dilakukan

Ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk menangani bibir sumbing pada anak.

Hal ini tergantung dengan tingkat keparahan dari celah, usia, serta apakah ada sindrom cacat lahir lainnya.

Maka dari itu, penanganan yang umumnya dilakukan oleh dokter adalah operasi bibir sumbing.

Pembedahan ini direkomendasikan agar dilakukan pada 12 bulan pertama usia bayi.

Berikut adalah urutan prosedur bedah bibir sumbing yang dilakukan:

1. Penjelasan kepada orangtua

2. Umur 3 bulan : Operasi bibir dan analasi, evaluasi telinga (dengan syarat berat mencapai 5 kilogram)

3. Umur 10-12 bulan: Operasi palato atau celah langit-langit mulut dan evaluasi pendengaran dan telinga

4. Umur 1-4 tahun: Evaluasi bicara dan terapi bicara setelah tiga bulan pasca operasi

5. Umur 4 tahun: Dipertimbangkan repalatoraphy atau pharyngoplasty

6. Umur 6 tahun: Evaluasi gigi dan rahang serta evaluasi pendengaran

7. Umur 9-10 tahun: Alveolar bone graft atau cangkok tulang alveolar. Operasi untuk menambah tulang pada gusi pada anak.

8. Umur 12-13 tahun: Perbaikan lainnya bila diperlukan

9. Umur 17 tahun: Evaluasi tulang-tulang muka

Melakukan terapi wicara

Selain prosedur pembedahan, terapi wicara juga dibutuhkan anak yang mengalami bibir sumbing.

Pasalnya, pasien celah bibir tidak hanya kesulitan untuk makan. Mereka juga mengalami kesulitan untuk berbicara dengan baik.

Kondisi tersebut menyebabkan pasien celah bibir kesulitan mengucapkan huruf mati (konsonan), seperti huruf B, D, G, dan K.

Terapi ini bisa dilakukan pada anak mulai dari usia 18 bulan hingga 5 tahun. Hal ini karena kemampuan bicara anak sedang berkembang.

Tidak hanya dengan terapis, orangtua juga diharapkan dapat membantu anak untuk berlatih dan membiasakan diri.

Latihan yang diterima selama terapi wicara juga akan disesuaikan dengan usia pasien.

Berbagai hal yang dipelajari pasien celah bibir yang mengikuti terapi wicara, seperti:

  • Mengembangkan keterampilan artikulasi
  • Mempelajari keterampilan bahasa ekspresif
  • Meningkatkan pengucapan variasi konsonan
  • Meningkatkan perbendaharaan kata

Apakah bibir sumbing bisa dicegah?

Walaupun bibir sumbing tidak dapat dicegah, Anda bisa pertimbangkan langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko:

1. Pertimbangkan konseling genetik

Apabila Anda memiliki sejarah keluarga terhadap bibir sumbing, beri tahu dokter sebelum kehamilan.

Dokter dapat merujuk Anda ke konselor genetik yang dapat membantu menunjukkan risiko memiliki anak dengan kondisi ini.

2. Mendeteksi janin

Pemeriksaan rutin dapat membantu ibu hamil mengetahui masalah yang mungkin menimpa sang bayi di kandungan, salah satunya bibir sumbing.

Tes kesehatan yang bisa membantu melakukan deteksi celah bibir saat hamil adalah tes pencitraan berupa USG (ultrasonography) 3 atau 4 dimensi.

Tes pencitraan ini bisa dilakukan saat masa kehamilan memasuki  usia di atas 6 bulan.

Sayangnya, tes ini hanya bisa mengetahui bayi dengan kondisi celah bibir, tidak dengan celah langit.

3. Konsumsi vitamin prenatal

Mengonsumsi multivitamin sebelum dan selama hamil dapat membantu mengurangi risiko cacat lahir, seperti bibir sumbing.

Apabila Anda berencana untuk hamil dalam waktu dekat, mulailah untuk mengonsumsi vitamin prenatal sekarang.

4. Hindari alkohol dan rokok

Minum alkohol saat hamil atau pun merokok sangat tidak disarankan. Pasalnya, kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko bayi dengan bibir sumbing.

Apa yang harus dilakukan ketika anak menderita bibir sumbing?

Saat mengetahui kondisi bayi dengan celah bibir, mungkin Anda memang tak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan.

Orangtua juga sebaiknya mulai mempersiapkan segala perawatan yang dibutuhkan oleh si kecil sejak bayi.

Ini adalah beberapa hal yang perlu Anda ingat:

  • Jangan salahkan diri Anda. Fokus untuk menjaga kesehatan anak sejak bayi.
  • Kenali emosi Anda. Sangat wajar untuk merasa sedih dan kecewa tetapi coba untuk mengontrol emosi.
  • Cari dukungan dari keluarga, sahabat, serta komunitas khusus.

Anda dapat mendukung si kecil yang mengalami bibir sumbing dengan berbagai cara:

  • Fokus kepada anak Anda sebagai seseorang, bukan pada kondisinya.
  • Tunjukkan atribut positif pada orang lain yang tidak melibatkan tampilan fisik.
  • Bantu anak meningkatkan rasa percaya diri dengan membiarkannya mengambil keputusan.
  • Berikan perhatian dan rasa aman sejak ia bayi hingga kapan pun.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Distrofi Otot

Distrofi otot (muscular dystrophy) adalah sekelompok penyakit yang melemahkan otot. Cari tahu informasi lengkap seputar kondisi ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Hemokromatosis

Hemokromatosis adalah penyakit keturunan yang menyebabkan tubuh menyerap zat besi terlalu banyak. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berakibat fatal.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Cacat Lahir pada Bayi: Ketahui Penyebab dan Cara Mencegahnya

Tidak ada orangtua yang ingin anaknya terlahir dengan kelainan fisik apa pun. Lantas, sebenarnya apa penyebab bayi mengalami cacat lahir?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit difteri pada anak

Difteri

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
katarak sejak lahir katarak pada bayi

Katarak Kongenital

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
achondroplasia akondroplasia adalah

Achondroplasia (Akondroplasia)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
hemofilia hemophilia

Hemofilia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit