Anda sedang hamil? Ayo ikut komunitas Ibu Hamil kami sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Memahami Amniosentesis, Pemeriksaan untuk Cek Risiko Bayi Lahir Cacat

Memahami Amniosentesis, Pemeriksaan untuk Cek Risiko Bayi Lahir Cacat

Pernahkah Anda mendengar atau menjalani prosedur amniosentesis (amniocentesis)? Selama kehamilan, tumbuh kembang janin tentu harus dipantau. Selain dari pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter bisa menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan amniosentesis.

Kapan ibu hamil diminta menjalani prosedur ini dan apa saja yang perlu diperhatikan? Semua pertanyaan Anda akan dijawab lebih lengkap dalam ulasan berikut.

Apa itu amniosentesis (amniocentesis)?

Amniosentesis adalah prosedur prenatal yang mungkin akan disarankan oleh dokter untuk Anda lakukan selama kehamilan.

Tes ini bertujuan untuk memeriksa apakah ada kelainan janin atau cacat lahir seperti sindrom Down, fibrosis kistik, spina bifida, dan sindrom fragile X pada janin Anda.

Tindakan ini umumnya hanya disarankan pada wanita yang dianggap lebih berisiko melahirkan anak dengan cacat lahir.

Biasanya, amniosentesis dilakukan antara minggu ke‐16 dan ke-20 kehamilan atau sekitar trimester kedua.

Pada waktu ini, bayi berada dalam cairan ketuban sebanyak kurang lebih 130 mililiter (ml).

Cairan ketuban ini kemudian diperiksa melalui laboratorium untuk mendapatkan informasi tentang kromosom dan DNA bayi.

Selain mendeteksi adanya kemungkinan cacat genetis, tes ini juga dapat mendeteksi jenis kelamin bayi sejak dalam kandungan.

Kapan ibu hamil perlu menjalani amniosentesis?

sauna saat hamil

Seiring wanita bertambah usia, risiko memiliki anak dengan sindrom Down mulai meningkat secara signifikan.

Peningkatan ini berkisar satu banding 2.000 (pada usia 20 tahun) menjadi satu banding 100 (di usia ibu 40 tahun).

Ibu hamil yang mungkin sebaiknya menjalani tes amniosentesis antara lain sebagai berikut.

  • Wanita hamil di atas usia 40 tahun (wanita berusia 37 tahun ke atas biasanya sudah ditawarkan tes ini) .
  • Wanita dengan riwayat kelainan kromosom di keluarganya, misalnya sindrom Down.
  • Wanita yang pernah melahirkan anak dengan kelainan kromosom di kehamilan sebelumnya. Ia diketahui sebagai carrier atau pembawa kelainan genetik.
  • Wanita yang pasangannya memiliki riwayat keluarga dengan kelainan genetik atau kromosom.
  • Jika hasil tes darah serum screen-nya menunjukkan tanda tidak normal.
  • Jika pemeriksaan USG‐nya menunjukkan hasil yang abnormal.

Apabila dokter Anda merekomendasikan prosedur amniosentesis, tindakannya biasanya dijadwalkan antara minggu ke‐15 dan ke‐18 masa kehamilan.

Apa saja yang perlu diketahui sebelum menjalani amniocentesis?

Melansir situs Better Health Channel, ada beberapa risiko yang mungkin terjadi saat menjalani prosedur ini, antara lain:

  • cedera pada bayi atau ibu,
  • infeksi pada rahim,
  • janin terinfeksi virus,
  • ketuban pecah dini,
  • bercak vagina atau perdarahan,
  • ketidaknyamanan atau kram,
  • darah janin masuk ke peredaran darah ibu,
  • persalinan prematur, serta
  • keguguran.

Meski berisiko komplikasi, angka kejadiannya terbilang sangat jarang terjadi. Bahkan, untuk risiko keguguran, kemungkinannya sangat kecil yaitu kurang dari 1%.

Oleh karena itu, prosedur ini cukup aman untuk dijalankan.

Namun sayangnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat menghambat kelancaran proses amniocentesis, antara lain:

  • gagal mendapatkan cairan pada upaya pertama,
  • cairan gagal diperiksa,
  • cairan yang diambil bernoda darah, serta
  • hasil yang tidak pasti.

Bagaimana prosedur amniosentesis?

cara mengetahui jenis kelamin bayi

Sebelum menjalani prosedur amniocentesis, Anda perlu melakukan pemeriksaan genetik terlebih dahulu.

Selanjutnya, setelah risiko dan manfaat dari amniosentesis telah dijelaskan hingga tuntas, Anda dapat memilih apakah ingin menjalani prosedur tersebut atau tidak.

Jika Anda setuju untuk menjalani prosedur tersebut, dokter akan menentukan jadwal pada usia kehamilan antara minggu ke‐15 hingga ke‐18.

Pada jadwal yang sudah ditentukan, dokter akan melakukan proses pengambilan sampel seperti langkah‐langkah berikut.

  1. Anda berada dalam posisi berbaring.
  2. Dokter mengamati posisi janin dan plasenta melalui pemeriksaan ultrasound (USG).
  3. Ketika sudah ditemukan lokasi yang aman untuk penyuntikan, dokter akan membersihkan perut pasien dengan cairan antiseptik.
  4. Selanjutnya, dokter menyuntikkan anestesi lokal ke dalam kulit menggunakan jarum panjang dan tipis
  5. Dokter lalu mengambil sekitar 15 ml sampai 20 ml yaitu sekitar tiga sendok teh cairan ketuban.
  6. Proses pengambilan sampel ini berlangsung singkat hanya sekitar 30 detik.
  7. Setelah itu, janin dan ibu diperiksa untuk memastikan semuanya baik‐baik saja.
  8. Dokter akan memeriksa detak jantung bayi melalui monitor USG.

Anda mungkin akan merasakan sedikit keram atau rasa tidak nyaman pada area panggul saat menjalani tes ini.

Setelah semua proses di atas selesai, dokter akan menyampaikan apakah proses pengambilan sampel berjalan lancar atau perlu diulang.

Kemudian, Anda tinggal menunggu hasil yang mungkin memakan waktu yang bervariasi, yaitu antara beberapa hari hingga beberapa minggu.

Usai menjalani prosedur amniosentesis, Anda dianjurkan untuk menunggu sekitar 20 menit sebelum pulang ke rumah. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah kondisi Anda stabil.

Kebanyakan wanita menyebutkan bahwa amniocentesis tidak menyakitkan, tetapi dianjurkan untuk terus beristirahat selama satu jam atau lebih setelah menjalani tes tersebut.

Apabila Anda memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan proses tes amniosentesis, konsultasikanlah kepada dokter untuk pemahaman yang lebih baik.

Adakah yang perlu diwaspadai selesai menjalani tes ini?

Umumnya, amniosentesis tidak menimbulkan masalah setelahnya. Meski begitu, Anda tetap perlu mewaspadai gejala-gejala seperti:

  • keluar darah dari vagina,
  • keluar air ketuban dari vagina,
  • rasa keram yang hebat selama beberapa jam setelah menjalani tes,
  • mengalami demam,
  • terdapat bercak kemerahan atau luka pada bekas tusukan jarum, serta
  • pergerakan janin menurun atau bergerak tidak seperti biasanya.

Jika mengalami kondisi-kondisi tersebut, segeralah periksakan diri Anda ke dokter ya, Bu!

Punya cerita soal kehamilan?

Ayo gabung dengan komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan temukan berbagai cerita menarik seputar kehamilan.


health-tool-icon

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir-Hello Sehat

Gunakan kalkulator ini untuk menghitung hari perkiraan lahir (HPL) Anda. Ini hanyalah prediksi, bukan sebuah jaminan pasti. Pada umumnya, hari melahirkan sebenarnya akan maju atau mundur seminggu dari HPL.

Durasi siklus haid

28 days

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Prenatal Genetic Diagnostic Tests. Retrieved 23 July 2021, from https://www.acog.org/womens-health/faqs/prenatal-genetic-diagnostic-tests?utm_source=redirect&utm_medium=web&utm_campaign=otn

Pregnancy tests amniocentesis – Better Health Channel. Retrieved 23 July 2021, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/pregnancy-tests-amniocentesis

Amniocentesis – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 23 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/amniocentesis/about/pac-20392914

Amniocentesis. (2019). Retrieved 23 July 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/amniocentesis/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 30/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x