Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

8 Mitos dan Fakta Tentang Anak Autis

8 Mitos dan Fakta Tentang Anak Autis

Sindrom autisme adalah sindrom gangguan mental yang terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh berbagai hal. Terdapat sejumlah mitos anak dengan autisme yang beredar di masyarakat. Manakah yang mitos dan manakah yang fakta? Temukan jawabannya di sini!

Beberapa mitos anak dengan autisme yang beredar di masyarakat

cara memilih susu formula anak 1-3 tahun

Menurut data Control of Disease Center terdapat 1 persen anak yang mengalami autisme di dunia pada tahun 2014. Sementara kejadian autisme semakin tahun, semakin meningkat. Namun, peningkatan kejadian ini tidak diiringi dengan pemahaman yang baik tentang sindrom autisme.

Selain itu ada berbagai mitos anak autis yang beredar di masyarakat yang belum tentu benar. Yuk, ketahui faktanya berikut ini!

1. Imunisasi yang diberikan pada anak bisa menyebabkan anak tersebut mengalami autisme

Salah satu mitos autisme pada anak yang paling banyak beredar adalah bahwa vaksin dapat menyebabkan anak menjadi autis. Padahal, hal ini hanyalah dugaan yang tidak berdasar ilmiah.

Faktanya, telah banyak penelitian yang mengkaji hal ini. Kesimpulannya, pada bulan Agustus tahun 2011 Institute of Medicine menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara imunisasi dengan autisme.

Oleh karena itu, sebaiknya ibu tidak ragu memberikan imunisasi pada anak untuk mencegah berbagai penyakit menular yang beredar di lingkungan.

2. Semua anak autis biasanya jenius

Mungkin Anda mengenal anak autis dari tayangan film. Kebanyakan film memang menggambarkan anak autis itu sangat pandai. Padahal, sebenarnya itu adalah mitos.

Faktanya, setiap anak memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan yang berbeda, begitu juga dengan anak yang memiliki autisme.

Pada dasarnya, nilai IQ dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Anak dengan sindrom autisme tidak semuanya memiliki IQ yang tinggi. Memiliki sindrom autisme tidak membuat seorang anak menjadi jenius.

3. Anak autisme tidak memiliki emosi dan tidak bisa merasakan kasih sayang

Anak yang mengalami sindrom autisme biasanya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain serta memiliki dunianya sendiri. Itulah sebabnya ia sering kali dianggap tidak memiliki emosi. Padahal itu hanyalah mitos autisme pada anak yang sebaiknya tidak Anda percaya.

Faktanya, anak dengan autisme sama seperti anak pada umumnya yang bisa merasakan kasih sayang yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, mereka juga bisa merasakan stress, bahkan marah sekalipun.

Anggapan ini mungkin muncul karena anak autis tidak bisa berekspresi seperti anak-anak normal. Mereka memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan perasaan.

4. Autisme tidak bisa disembuhkan

Cara untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak pada Usia 1 - 3 Tahun

Banyak orang tua yang sangat khawatir ketika anaknya didiagnosa autisme. Pasalnya, sindrom ini tidak bisa disembuhkan. Sayangnya, hal itu benar adanya.

Faktanya sampai saat ini belum ada obat yang digunakan untuk menyembuhkan autisme. Namun, bukan berarti tidak ada penanganan medis yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejalanya.

Anak autisme membutuhkan terapi serta penanganan yang tepat sejak dini, sehingga ia dapat segera beradaptasi dengan lingkungan, berkomunikasi lebih baik, serta bersosialisasi dengan teman-temannya.

Untuk menjalani ini, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu, orang tua perlu bersabar dalam menjalani prosesnya.

5. Anak autisme selamanya tidak bisa hidup mandiri

Meskipun membutuhkan waktu terapi yang lama, bukan berarti anak autisme tidak dapat berubah dan hidup mandiri pada akhirnya.

Faktanya, sindrom autisme bukan merupakan kondisi yang statis, namun gejalanya akan berubah dari waktu ke waktu. Melansir Massachusetts General for Children, semakin cepat anak autis menjalani terapi akan semakin baik hasilnya.

Namun, jika tidak menjalani terapi dengan baik maka dengan pertambahan umurnya mereka, gejala yang muncul bisa saja semakin buruk, seperti mengalami kejang-kejang atau epilepsi.

Sebenarnya anak yang mengalami sindrom autisme memerlukan dukungan serta perhatian lebih sepanjang hidupnya. Dengan begitu, mereka bisa berkembang, bekerja seperti orang normal, dan bahkan hidup mandiri.

6. Anak yang mengalami autisme tidak bisa berbicara

Mitos autisme pada anak yang sering kita temui berikutnya adalah bahwa semua anak autis tidak bisa berbicara. Memang banyak anak autis yang kesulitan berbicara, tetapi tidak semua anak autis menunjukkan gejala itu.

Faktanya, gejala autisme berbeda-beda pada setiap anak. Beberapa anak mungkin kesulitan untuk berkomunikasi secara verbal, tetapi sebagian lagi bisa berbicara dan berkomunikasi walaupun dengan kata-kata yang terbatas.

Namun, perlu Anda pahami bahwa sebenarnya semua anak yang mengalami autisme dapat belajar dan berlatih untuk berkomunikasi dan berbicara dengan baik dan benar. Oleh karena itu diperlukan penanganan serta terapi yang tepat.

7. Sindrom autisme adalah penyakit gangguan otak

Sindrom autisme sering dikira penyakit akibat gangguan pada otak. Padahal hal itu hanyalah mitos anak autis.

Faktanya, melansir Massachusetts General Hospital, hanya sekitar 10% anak autis yang mengalami gangguan pada otaknya.

Perlu Anda pahami bahwa gejala yang timbul dari sindrom ini tidak hanya terkait dengan masalah otak saja. Anak dengan autisme sering kali mengalami gangguan pencernaan serta pantangan terhadap sejumlah makanan.

8. Hanya anak laki-laki yang mengalami sindrom autisme

Anggapan bahwa anak dengan autisme hanya dialami oleh anak laki-laki saja sebenarnya adalah mitos dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Faktanya, menurut data dari CDC, 1 dari 144 anak perempuan didiagnosa autis.

Memang anak autis laki-laki empat kali lipat lebih banyak daripada anak autis perempuan. Namun, bukan berarti anak perempuan terbebas dari risiko sindrom ini.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Autism spectrum disorders. (2021). Retrieved 18 June 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/autism-spectrum-disorders

(2019). Retrieved 18 June 2021, from https://www.massgeneral.org/children/autism/lurie-center/30-facts-to-know-about-autism-spectrum-disorder

Autism and Vaccines | Vaccine Safety | CDC. (2014). Retrieved 18 June 2021, from https://www.cdc.gov/vaccinesafety/concerns/autism.html

Taylor, L., Swerdfeger, A., & Eslick, G. (2014). Vaccines are not associated with autism: An evidence-based meta-analysis of case-control and cohort studies. Vaccine, 32(29), 3623-3629. doi: 10.1016/j.vaccine.2014.04.085

Autism and Vaccines | Vaccine Safety | CDC. (2020). Retrieved 18 June 2021, from https://www.cdc.gov/vaccinesafety/concerns/autism.html

Autism Statistics and Facts | Autism Speaks. (2021). Retrieved 18 June 2021, from https://www.autismspeaks.org/autism-statistics-asd

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 10/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita