backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

4 Dampak Jika Si Kecil Kurang Mengonsumsi Sumber Protein

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 08/02/2022

4 Dampak Jika Si Kecil Kurang Mengonsumsi Sumber Protein

Protein termasuk dalam makronutrien, yaitu nutrisi utama yang dibutuhkan tubuh. Semua kalangan membutuhkan nutrisi ini, terutama anak-anak untuk mendukung tumbuh kembangnya. Jika anak kekurangan protein, tentu akan ada dampak buruk yang terjadi. Apa saja efeknya, ya?

Peran protein untuk tumbuh kembang anak

Anak-anak membutuhkan protein untuk mendukung proses tumbuh kembang serta menjaga kesehatan tubuh anak.

Nutrisi ini berperan sebagai zat pembangun, pemelihara, dan pengganti jaringan dalam tubuh yang rusak.

Mulai dari otot, organ, hingga sistem kekebalan tubuh, ketiganya sebagian besar terdiri dari protein.

Oleh karena itu, protein dapat membantu anak tetap aktif bergerak serta menjaga sistem kekebalan tubuhnya sehingga anak tidak mudah sakit.

Untuk mendukung proses tersebut, sangat wajar jika kebutuhan protein anak-anak lebih tinggi daripada orang dewasa.

Dr. Sears Wellness Institute menyebut, anak-anak yang sedang tumbuh memerlukan sekitar 1 gram protein per 0,5 kg berat badannya.

Sementara orang dewasa hanya membutuhkan sekitar 1 gram protein per kg berat badannya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Anda bisa memberikan daging ayam, susu dan produk susu, ikan, daging merah, kacang-kacangan, hingga sayuran tertentu pada menu makanan anak Anda.

Dengan memberikan makanan tersebut, Anda membantu anak agar tidak kekurangan protein guna mendukung proses tumbuh kembang anak serta kesehatannya kini hingga nanti.

Dampak negatif akibat anak kekurangan protein

anak kekurangan dopamin

Manfaat protein pada anak sangat berlimpah. Sebaliknya, jika ia kekurangan nutrisi yang satu ini, berbagai masalah kesehatan bisa terjadi.

Berikut beberapa kondisi yang terjadi akibat kekurangan protein pada anak.

1. Marasmus

Marasmus adalah bentuk malnutrisi parah yang terjadi ketika anak tidak mendapat cukup kalori, termasuk lemak, karbohidrat, dan protein.

Anak dengan penyakit ini akan kehilangan lemak dan otot tubuhnya sehingga mereka tidak mungkin tumbuh seperti anak normal lainnya.

Di negara miskin dan berkembang, penyakit ini sering terjadi akibat kekurangan pangan.

Sementara di negara maju, marasmus dapat terjadi akibat eating disorder alias gangguan makan, seperti anorexia nervosa.

Gejala utama dari marasmus adalah hilangnya lemak di jaringan tubuh dan wajah sehingga tulang menjadi lebih terlihat di permukaan kulit.

Pada kondisi yang parah, kulit anak bisa mengendur serta wajah dan tubuhnya bisa terlihat seperti lansia.

Selain tanda tersebut, gejala berikut juga bisa terjadi pada anak yang menderita marasmus akibat kekurangan protein.

  • Tubuh lemah, lemas, dan aktivitas fisik anak menurun.
  • Anak mudah marah dan rewel.
  • Berat badan anak menurun.

Dalam jangka panjang, pertumbuhan anak jadi sangat lambat dan bisa mengalami komplikasi serius yang berakibat fatal.

Komplikasinya antara lain bradikardia (denyut jantung sangat lambat) dan hipotensi (tekanan darah rendah).

2. Kwashiorkor

perbedaan marasmus dan kwashiorkor

Kwashiorkor adalah kondisi malnutrisi parah akibat kekurangan protein dalam tubuh.

Sama seperti marasmus, penyakit ini rentan terjadi akibat kekurangan suplai makanan, terutama di negara-negara yang sangat miskin atau yang dilanda bencana.

Sementara di negara maju, kwashiorkor biasanya terjadi akibat kasus pelecehan anak,  penelantaran anak yang parah, atau anak menderita penyakit yang bisa menyebabkan malnutrisi.

Pada penderita kwashiorkor, gejala utama yang muncul umumnya berupa pembengkakan di bawah kulit (edema) di bagian tubuh tertentu, terutama kaki dan wajah.

Meski begitu pembengkakan juga bisa terjadi pada bagian tubuh lainnya.

Bukan cuma itu, perut anak pun menjadi buncit, yang sering terjadi bersamaan dengan beberapa gejala kekurangan protein pada anak berikut.

  • Massa otot berkurang.
  • Kulit yang merah dan meradang serta tampak mengelupas atau terbelah.
  • Rambut kering, rapuh, mudah rontok, dan mengalami perubahan warna.
  • Kelelahan atau lesu.
  • Kuku anak bergerigi atau retak.
  • Anak mudah marah.
  • Anak gagal tumbuh atau berat dan tinggi badan anak tidak bertambah.
  • Bersifat apatis atau tidak peduli pada sekitar.

Akibat kondisi tersebut, anak pun menjadi lebih rentan terkena penyakit infeksi, seperti diare pada anak.

Pada kondisi yang parah, anak juga berisiko mengalami cacat mental dan fisik permanen bahkan kematian.

3. Marasmic kwashiorkor

Kekurangan protein pada anak juga bisa menyebabkan marasmic kwashiorkor.

Marasmic kwashiorkor sindrom gabungan antara marasmus dan kwashiorkor. Artinya, kwashiorkor dan marasmus pada anak terjadi secara bersamaan.

Anak-anak dengan sindrom gabungan ini umumnya mengalami gangguan pertumbuhan atau stunting serta memiliki gejala-gejala lainnya terkait marasmus dan kwashiorkor.

Ini termasuk pembengkakan pada bagian tubuh tertentu serta wasting pada anak.

Perut anak pun menjadi buncit bersamaan dengan area tubuh yang membengkak tersebut.

Meski begitu, masalah pada rambut dan kulit anak dengan marasmic kwashiorkor biasanya tidak separah pada penderita kwashiorkor umumnya.

4. Hipoproteinemia

dampak psikologis anak yang dibesarkan tanpa figur ibu

Hipoproteinemia adalah kondisi ketika kadar protein dalam darah sangat rendah.

Kondisi ini bisa terjadi pada anak yang kurang gizi, termasuk kekurangan protein.

Meski begitu, kadar protein yang rendah dalam darah juga bisa terjadi karena masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit celiac, dan penyakit Crohn.

Adapun gejala kekurangan protein atau hipoproteinemia pada anak bisa bervariasi, dari ringan hingga berat.

Berikut adalah gejala-gejala hipoproteinemia yang dimaksud.

  • Kelelahan.
  • Gampang sakit dan infeksi.
  • Pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki.
  • Berat badan anak menurun.
  • Nafsu makan menurun.

Perlu Anda pahami, gejala-gejala yang di atas memang mirip dengan kondisi medis lainnya.

Jadi, selalu konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 08/02/2022

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan