Bila mengikuti standar WHO, indikator tumbuh kembang anak Indonesia diyakini masih belum memenuhi standar global. Indikator tersebut mencakup perbandingan antara tinggi badan, berat badan dan umur anak yang menjadi tolok ukur status gizi dan kesehatan populasi di suatu negara.
Berdasarkan penelitian Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2018, terdapat tiga indikator tumbuh kembang anak Indonesia yang terbilang cukup tinggi, yaitu stunting (bertubuh pendek) sebesar 30,8%, underweight (berat badan kurang) sebesar 17,7% dan wasting (bertubuh kurus) sebesar 10,2%. Tingginya prevalensi ketiga kasus ini menandakan bahwa masih banyak anak Indonesia yang berada dalam kelompok status gizi kurang nutrisi atau malnutrisi.
Malnutrisi dapat menyebabkan terhambatnya tumbuh kembang anak. Misalnya, mengurangi kemampuan daya tahan tubuh anak untuk melawan penyakit dan infeksi, serta berpengaruh pada perkembangan mental, fisik dan kemampuan belajar anak di masa mendatang. Lantas, apa yang perlu dilakukan orangtua untuk mendukung anak mencapai indikator tumbuh kembang sesuai standar global?
Gangguan pertumbuhan dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain faktor genetik, gangguan hormonal, penyakit sistemik, dan penyerapan nutrisi yang buruk. Berikut adalah beberapa gangguan pertumbuhan yang umum terjadi pada anak:
- Perawakan pendek (stunting), cenderung dialami anak yang memiliki keturunan keluarga bertubuh pendek
- Penyakit sistemik atau kronis, biasanya mempengaruhi saluran pencernaan, ginjal, jantung, atau paru-paru
- Malnutrisi, penyebab paling umum dari gangguan pertumbuhan di dunia
- Stres pada anak
- Kelainan genetik, seperti sindrom Cushing, sindrom Turner, dan sindrom Down
- Defisiensi hormon pertumbuhan
- Intrauterine Growth Restriction (IUGR)
- Kelainan tulang, yang paling umum adalah achondroplasia (sejenis dwarfisme)
Di Indonesia, salah satu gangguan pertumbuhan yang marak terjadi pada anak adalah stunting. Penyebabnya karena Ibu hamil tidak mendapatkan cukup nutrisi yang baik selama hamil, tinggal di lingkungan yang tidak sehat, memiliki pengetahuan tentang kesehatan yang rendah dan faktor sosial ekonomi.
Orangtua dapat menurunkan risiko gangguan pertumbuhan pada anak dengan mengoptimalkan pertumbuhan anak sejak masa kehamilan hingga sepanjang masa pertumbuhan anak.
Misalnya, Ibu hamil dapat melakukan upaya antisipasi stunting pada anak dengan:
- Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur
- Menghindari asap rokok
- Memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan, antara lain dengan mengonsumsi menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, dan yodium yang cukup
Setelah anak lahir, orangtua disarankan untuk melakukan kunjungan secara teratur ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan lainnya guna memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut adalah rekomendasi waktu kunjungannya:
- Setiap bulan ketika anak Anda berusia 0 – 12 bulan
- Setiap 3 bulan ketika anak Anda berusia 1 – 3 tahun
- Setiap 6 bulan ketika anak Anda berusia 3 – 6 tahun
- Setiap tahun ketika anak Anda berusia 6 – 18 tahun
Jangan lupa untuk memberikan ASI eksklusif sampai anak berusia 6 bulan. Setelahnya, Ibu direkomendasikan untuk memberikan tambahan nutrisi berupa MPASI yang memadai. Tak lupa, sebaiknya orangtua juga membawa anak untuk mengikuti program imunisasi, terutama imunisasi dasar.

Nutrisi merupakan pendorong utama untuk tumbuh kembang anak. Bila orangtua gagal memenuhi kebutuhan nutrisi yang baik, risiko malnutrisi pada anak pun akan tinggi. Untuk itu, pemberian nutrisi yang sehat dan seimbang penting dilakukan demi tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal.

Aktivitas fisik berupa olahraga dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan lean body mass (massa tubuh tanpa lemak), kekuatan otot dan tulang. Olahraga juga dapat meningkatkan kesehatan jantung, peredaran darah, dan mengontrol berat badan.
Terlebih lagi, olahraga memiliki manfaat nonfisik, antara lain meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan belajar dan berlatih, dan meningkatkan kesehatan mental psikologis, serta membantu mengurangi stres pada anak.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), seorang anak membutuhkan sekitar 60 menit untuk berolahraga fisik setiap harinya. Total 60 menit ini tidak harus didapatkan dalam satu waktu yang sama, tetapi dapat dijumlahkan dalam sehari menjadi 60 menit.
Olahraga yang dianjurkan antara lain jogging, olahraga aerobik, berlari, naik sepeda cepat, berjalan menanjak, dan bela diri. Olahraga jenis ini termasuk dalam vigorous-intensity activity, yang menggunakan energi lebih dari 7 kcal per menit dan memiliki manfaat lebih baik dibandingkan dengan moderate-intensity activity. Contoh dari moderate-intensity activity seperti berjalan hingga berjalan cepat, senam, dan naik sepeda santai. yang menggunakan energi sekitar 3,5 – 7 kcal per menit.
Menghindari physical inactivity pada anak
Salah satu masalah yang harus kita perhatikan dalam keseharian dan kesehatan anak kita adalah physical inactivity, yaitu anak kurang melakukan kegiatan fisik.
Misalnya, anak cenderung memilih diantar ke sekolah menggunakan kendaraan dibandingkan bersepeda atau jalan kaki, anak memilih bermain video games atau menonton televisi dibanding bermain di luar rumah dan lainnya.
Terkadang, orangtua juga turut mendukung kondisi ini karena berbagai alasan seperti takut membiarkan anak bermain di luar rumah yang dapat membahayakan diri anak.
AAP merekomendasikan anak usia di bawah 2 tahun untuk tidak menonton televisi, sedangkan anak usia di atas 2 tahun hanya boleh menonton televisi paling lama 2 jam per hari.
Itulah beberapa upaya yang dapat orangtua terapkan untuk memenuhi indikator tumbuh kembang anak sesuai standar global. Mulai dari pemberian nutrisi yang baik hingga melakukan aktivitas fisik, semua dilakukan agar tumbuh kembang anak optimal. Bila tumbuh kembangnya optimal, anak akan menjadi tanggap dalam belajar, tangkas saat beraktivitas, tidak mudah sakit, percaya diri, dan memiliki tinggi badan di atas rata-rata.