Ini 4 Dampaknya Jika Si Kecil Kurang Mengonsumsi Makanan Berprotein

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Protein termasuk dalam makronutrien, yaitu nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar. Semua kalangan membutuhkan nutrisi ini, terutama anak-anak untuk mendukung tumbuh kembangnya. Jika anak kekurangan protein, tentu akan ada dampak buruk yang terjadi. Apa saja? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Peran protein untuk tumbuh kembang anak

Anak-anak membutuhkan protein lebih banyak dari orang dewasa. Nutrisi ini berperan sebagai zat pembangun, pemelihara, dan pengganti jaringan dalam tubuh yang rusak.

Mulai dari otot, organ, dan sistem kekebalan tubuh terdiri atas protein. Tak hanya itu, protein juga menyumbangkan energi sehingga anak tetap aktif bergerak. Protein sekaligus meningkatkan sistem imun sehingga anak tidak mudah sakit.

Dalam masa pertumbuhannya, anak-anak memerlukan sekitar 1 gram protein per 0,5 kg berat badannya.

Protein bisa didapatkan dari makanan, seperti daging ayam, susu, ikan, daging merah, kacang-kacangan, hingga sayur dan buah. Supaya tidak kekurangan protein, orangtua perlu menaruh perhatian khusus pada asupan makanan berprotein anak.

Dampak negatif akibat anak kekurangan protein

anak kekurangan dopamin

Manfaat protein pada anak sangat berlimpah. Jika ia kekurangan nutrisi yang satu ini, berbagai masalah kesehatan bisa terjadi.

Beberapa kondisi yang disebabkan akibat kurangnya protein pada anak, antara lain:

1. Marasmus

Kurangnya protein pada anak juga bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti marasmus. Anak dengan penyakit ini akan kehilangan lemak dan otot tubuhnya sehingga mereka tidak mungkin tumbuh seperti anak normal lainnya.

Pada negara berkembang, penyakit ini terjadi akibat kekurangan pangan. Sementara di negara maju, marasmus dapat terjadi akibat eating disorder alias gangguan makan, seperti anorexia nervosa.

Gejala utama dari marasmus adalah hilangnya lemak di jaringan tubuh dan wajah sehingga tulang menjadi lebih terlihat di permukaan kulit.

Kulit mereka akan terlihat mengendur dan mata menjadi cekung. Gejala marasmus akibat kekurangan protein pada anak yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Pusing terus-menerus
  • Tubuh lemah dan lemas
  • Kulit kering dan rapuh
  • Berat badan menurun dan gampang sakit

Dalam jangka panjang, pertumbuhan anak jadi sangat lambat dan bisa mengalami komplikasi serius yang berakibat fatal. Komplikasinya antara lain bradikardia (denyut jantung sangat lambat) dan hipotensi (tekanan darah rendah).

2. Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah kondisi parah akibat tubuh kekurangan protein atau kalori dalam tubuh. Biasanya penyakit ini menyerang negara-negara dengan persediaan makanan terbatas.

Penyakit ini terjadi akibat sel tubuh tertentu tidak mendapatkan protein. Akibatnya, fungsi normal sel mati dan tidak dapat berkembang dengan normal.

Berikut berbagai kondisi yang bisa terjadi jika anak mengalami kwashiorkor.

Stunting

Protein sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan anak. Jika anak kekurangan asupan ini, masalah pertumbuhan dapat terjadi, contohnya stunting.

Stunting adalah dampak yang paling umum terjadi pada anak yang kekurangan protein. Anak dengan kondisi ini biasanya memiliki tubuh pendek.

Ini terjadi karena kolagen (jenis protein fibrosa) yang bertugas membantu menjaga massa otot dan pertumbuhan tulang tidak cukup untuk menjalankan tugasnya.

Masalah pada kulit, kuku, dan rambut

Jenis protein seperti kolagen dan keratin adalah penyusun kulit, rambut, dan kuku. Anak yang kekurangan nutrisi ini biasanya akan mengalami perubahan pada kulit, kuku, dan rambut.

Kukunya mungkin akan cenderung lebih kering sehingga rentan mengelupas dan berubah warnanya jadi lebih terang atau lebih gelap. Kukunya juga akan menjadi sangat rapuh ketika kondisinya sudah dalam taraf parah.

Warna rambut juga biasanya dapat berubah kemerahan, oranye, atau kuning terang. Tak hanya itu, biasanya volume batang rambutnya akan jadi lebih tipis sehingga lebih mudah patah dan rontok.

Terjadi pembengkakan pada tubuh

Protein albumin ada pada cairan yang ada dalam darah atau disebut dengan plasma darah. Fungsinya, untuk mempertahankan tekanan onkotik (kemampuan untuk menarik cairan ke dalam sirkulasi darah).

Bila anak kekurangan protein, tekanan onkotik akan jadi berkurang. Akibatnya, cairan bisa menumpuk di jaringan dan menyebabkan pembengkakan (edema).

Biasanya, edema terjadi rongga perut. Inilah sebabnya anak dengan kwashiorkor memiliki perut yang buncit dengan tubuh yang sangat kurus.

3. Marasmus kwashiorkor

Ini merupakan komplikasi dan bentuk gabungan antara marasmus dengan kwashiorkor. Anak dengan kondisi ini memiliki berat badan kurang dari 60% berat badan anak normal seusianya.

Selain tubuhnya sangat kurus, anak dengan kondisi ini juga mengalami pembengkakan, tubuh lemah, masalah pada kulit, rambut, dan kuku.

4. Hipoproteinemia

Hipoproteinemia menandakan tingkat protein yang sangat rendah dalam darah. Kondisi ini bisa terjadi pada anak yang kurang mengonsumsi makanan berprotein atau memiliki masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, celiac, dan radang usus.

Gejala hipoproteinemia pada anak yang kekurangan protein dapat berat dan ringan, di antaranya:

  • Tubuh kelelahan ekstrem
  • Gampang sakit dan infeksi
  • Rambut tipis, kering, dan rontok
  • Kulit kering dan mudah mengelupas

Karena gejala masalah medis akibat kekurangan protein pada anak hampir serupa, lakukan konsultasi dokter segera untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Jenis Susu Anak dan Tips Memilihnya Sesuai Kebutuhan

Ada banyak jenis susu yang dijual di pasaran, mulai dari susu bubuk sampai susu UHT yang bisa langsung minum. Namun, apa susu yang tepat untuk anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 6-9 tahun, Gizi Anak, Parenting 13 November 2020 . Waktu baca 12 menit

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Tips Makan Sehat, Nutrisi 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Panduan Merancang Menu MPASI Bayi 6 Sampai 11 Bulan

Buat Anda yang sedang kebingungan mau masak apa untuk menu MPASI 6 bulan, intip resepnya di sini. Dijamin sehat dan mengenyangkan!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Panduan Lengkap Memenuhi Kebutuhan Gizi Bayi (Usia 0-11 Bulan)

Pemberian nutrisi di awal masa kehidupan penting bagi pertumbuhan si kecil. Bagaimana aturan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi setiap harinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 3 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makan telur mentah

Makan Telur Mentah, Sehat atau Malah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
manfaat tempe

5 Manfaat Makan Tempe Bagi Kesehatan

Ditulis oleh: Gadis Rima Astari
Dipublikasikan tanggal: 29 November 2020 . Waktu baca 3 menit
kms

Kartu Menuju Sehat (KMS), Manfaat dan Cara Membacanya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 18 November 2020 . Waktu baca 7 menit
vitamin untuk anak

Agar Tidak Keliru, Ketahui Aturan Pemberian Vitamin untuk Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 November 2020 . Waktu baca 10 menit