Autism Spectrum Disorder pada Anak: Penyebab, Tanda dan Gejala, Hingga Penanganannya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Setiap orangtua di dunia ini tentu menginginkan anaknya tumbuh sehat, baik secara fisik, mental, maupun dari aspek lainnya. Namun, tidak sedikit orangtua yang harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa buah hatinya mengidap gangguan spektrum autisme (GSA) atau biasa disebut dengan autism spectrum disorder (ASD). Autism spectrum disorder adalah gangguan yang cukup umum terjadi pada anak-anak di berbagai belahan dunia. Yuk, cari tahu lebih jauh tentang kelainan ini pada ulasan berikut.

Apa itu autism spectrum disorder (ASD)?

anak dengan autisme

Autism spectrum disorder (ASD) adalah sebuah istilah untuk memayungi berbagai gangguan yang terkait perkembangan otak dan saraf anak.

Gangguan perkembangan pada otak dan saraf (neurologis) dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi, bersoliasisasi, berperilaku, dan berkomunikasi secara verbal maupun nonverbal, seiring ia bertumbuh besar.

Kondisi yang termasuk dalam spektrum ini antara lain autismesindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS). Disebut sebagai “spectrum” karena kelainan ini memiliki banyak variasi jenis penyakit, perwujudan gejala, dan tingkat keparahan kondisi yang berbeda pada setiap orang.

Artinya, satu anak yang mengalami satu jenis autism spectrum disorder mungkin memiliki gejala yang berbeda dengan anak lainnya; yang mungkin mengidap penyakit sama atau gangguan lainnya dalam  spektrum tersebut.

Sebagai contoh, ada beberapa anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah sehingga sulit untuk belajar dan memahami. Di sisi lain, beberapa anak pengidap ASD mungkin memiliki kecerdasan luar biasa dan cepat belajar. Namun, mereka kesulitan untuk berkomunikasi dan menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, serta sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Tanda dan gejala autism spectrum disorder (ASD)

mengajari anak dengan autisme

Setiap anak dengan autism spectrum disorder dapat menunjukkan perwujudan gejala yang bervariasi dengan tingkat keparahan dari ringan hingga berat.

Agar lebih jelas, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat (CDC) menjelaskan tanda dan gejala GSA yang meliputi:

Gangguan kemampuan sosial

Gangguan kemampuan sosial adalah gejala paling umum muncul pada semua jenis autism spectrum disorder. Contoh masalah sosial yang umumnya dihadapi anak dengan ASD, yaitu:

  • Saat usia menginjak satu tahun, anak tampak tidak mampu memberi respons ketika berinteraksi; misalnya segera menoleh ketika namanya dipanggil.
  • Anak kerap kali menghindari kontak mata dengan orang lain.
  • Si kecil lebih suka bermain sendiri dan tidak mau berbagi sesuatu dengan orang lain.
  • Anak mungkin berinteraksi, namun terbatas pada hal-hal tertentu yang ia inginkan.
  • Anak kesulitan mengekspresikan emosi dan memahami perasaan orang lain dengan baik.

Autism spectrum disorder juga membuat bayi sulit berinteraksi dengan orang lain, contohnya menyalin kata-kata yang diucapkan orang lain atau mengikuti gerakan orang lain, seperti tepuk tangan dan melambai.

Ketika ia bertambah besar, ia mungkin tidak mengerti bagaimana caranya menjalin pertemanan karena ia sendiri cenderung tidak ingin melakukan kontak fisik dengan orang lain, seperti dipeluk atau memeluk.

Gangguan keterampilan berkomunikasi

Anak dengan GSA juga cenderung memiliki keterampilan berkomunikasi yang terhambat ketimbang anak-anak lain sepantaran. Satu studi bahkan mengungkapkan sekitar 40% anak dengan kondisi ini tidak berbicara sama sekali (tapi tidak bisu).

Masalah berkomunikasi yang sering dihadapi anak dengan ASD, antara lain:

  • Sering mengulang kata atau frasa berulang-ulang saat berbicara (echolalia).
  • Kadang menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
  • Saat berbicara, gerak tubuh kadang tidak mengikuti, contohnya mengucapkan selamat tinggal tanpa melambaikan tangan.
  • Nada ketika berbicara datar atau terkesan seperti bernyanyi.
  • Tidak mengerti lelucon yang diutarakan orang lain, maupun melontarkannya sendiri.
  • Alih-alih menjawab pertanyaan, anak kerap kali mengulang pertanyaan yang diajukan orang lain.
  • Tidak bisa memahami gerakan, bahasa tubuh, dan nada suara.
  • Cenderung berbicara banyak mengenai sesuatu yang mereka sukai, ketimbang mengimbangi percakapan dengan orang lain.
  • Sering berdiri atau berhadapan terlalu dekat dengan seseorang yang mengajaknya bicara.

Minat dan perilaku yang tidak biasa

Anak yang terkena autism spectrum disorder kadang menunjukkan perilaku dan minat yang biasanya tidak dilakukan anak lain seusianya, seperti:

  • Menyukai bagian tertentu dari suatu objek, seperti roda pada mobil mainan.
  • Sering mengurutkan sesuatu benda, sangat rapi dan terorganisir
  • Sering melakukan gerakan berulang yang melibatkan satu atau seluruh bagian tubuh. Contohnya, mengepakkan tangan, berlari berputar-putar, mengayunkan tubuh ke sisi kanan dan kiri.
  • Melakukan suatu kegiatan berulang, seperti mematikan dan menyalakan lampu.
  • Merasa kegiatan yang dilakukan harus berjalan lancar dan rutin. Jika ada kegiatan lain yang tidak biasanya dilakukan ia akan marah, kesal, atau menangis.

Gejala lain yang mungkin terjadi

Selain kemampuan berkomunikasi dan sosial yang kurang baik, anak dengan autism spectrum disorder juga menunjukkan gejala lainnya, seperti:

  • Hiperaktif (sangat aktif) dan kadang bertindak tanpa berpikir panjang (impulsif)
  • Mudah marah dan kadang melakukan hal yang bisa melukai diri sendiri
  • Sangat sensitif dengan berbagai hal, seperti bau, suara, atau rasa yang dianggap normal oleh orang lain
  • Kadang memiliki kebiasaan makan yang tidak biasa, yakni makan tembok, rambut, atau tanah
  • Tidak takut pada hal-hal yang membahayakan atau sangat takut pada hal yang tidak berbahaya

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, segera konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Penyebab autism spectrum disorder pada anak

manfaat puasa untuk otak

Ilmuwan tidak mengetahui penyebab pasti dari autism spectrum disorder. Namun, mereka sepakat bahwa perkembangan kelainan ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan sejak dalam kandungan.

Rangkuman beberapa studi menyatakan bahwa autisme dapat menjadi hasil dari gangguan pertumbuhan otak di awal masa perkembangan janin. Gangguan ini dapat merupakan efek dari mutasi gen yang mengontrol perkembangan otak dan mengatur bagaimana sel otak berhubungan antar satu sama lain.

Dalam tes pencitraan pada penderita autisme juga sempat ditemukan perbedaan pola perkembangan beberapa area otak ketika dibandingkan dengan anak lain yang tidak memiliki gangguan tersebut.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko ASD

nutrisi anak cerebral palsy

Faktor lingkungan dicurigai berperan dalam fungsi dan perkembangan gen, tapi apa pastinya faktor eksternal tersebut belum diketahui pasti.

Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan faktor risiko seorang anak untuk mengalami ASD, seperti dilansir dari laman Mayo Clinic.

  • Jenis kelamin. Autisme terjadi 4 kali lebih sering pada anak laki-laki dibanding perempuan.
  • Riwayat keluarga. Keluarga yang memiliki anak dengan GSA, memiliki risiko tinggi melahirkan anak dengan kondisi serupa. Pada kasus jarang, kelainan ini diturunkan dari anggota keluarga jauh.
  • Penyakit lain. ASD cenderung terjadi lebih sering pada anak dengan genetik atau kondisi kromosom tertentu, seperti sindrom fragile X, sklerosis tuberous, atau sindrom Rett (lambatnya pertumbuhan kepala).
  • Bayi prematur. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 26 minggu, berisiko besar mengalami gangguan ini.
  • Usia orangtua. Peneliti menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara usia orangtua dengan anak autisme. Akan tetapi, dibutuhkan riset lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya lebih baik.

Satu yang pasti dan sudah terbukti adalah, beberapa studi menunjukkan bahwa vaksinasi tidak akan meningkatkan risiko autism spectrum disorder.

Cara mendiagnosis autism spectrum disorder (ASD)

Gejala umum dari ASD dapat mulai terlihat sejak sedini dua tahun pertama kehidupan anak. Itu kenapa gangguan tumbuh kembang ini dapat lebih cepat terdiagnosis oleh dokter.

Walaupun tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis ASD, tim dokter dan spesialis kesehatan anak akan melakukan pendekatan dengan cara berikut ini:

  • Mengamati kebiasaan anak dan caranya berinteraksi dan berkomunikasi selama perawatan.
  • Menguji kemampuan anak dalam mendengar, berbicara, dan mendengarkan.
  • Melakukan tes pencitraan untuk mengetahui adanya kelainan genetik yang menjadi faktor risiko dari autism spectrum disorder.

Gejala ASD memang dapat mulai muncul pertama kali pada usia yang sangat muda. Namun, tidak semua orang mendapat diagnosis yang tepat. Ini karena kemungkinan pada awalnya gejala ASD dapat mewakili tanda-tanda gangguan perkembangan lain.

Terapi dan pengobatan untuk autism spectrum disorder (ASD)

Satu hal yang perlu dipahami setiap orangtua adalah, autism spectrum disorder merupakan kondisi seumur hidup. Tanpa pengobatan yang tepat, kondisinya dapat berlanjut semakin parah dan menghambat kualitas hidup anak sampai ia dewasa nanti.

Oleh karena itu, Anda membutuhkan bantuan dokter, psikiater, dan ahli neurologi khusus anak untuk merencanakan terapi yang tepat. Jenis terapi yang dapat direkomendasikan oleh dokter untuk anak dengan GSA, meliputi:

1. Terapi perilaku dan wicara

Anak-anak yang mengalami masalah dengan keterampilan ini akan direkomendasikan mengikuti terapi perilaku dan komunikasi. Pada terapi ini, si kecil akan diajarkan keterampilan baru lewat permainan tertentu.

Dari permainan dan kegiatan tersebut, si kecil akan mempelajari cara bertindak dalam situasi-situasi sosial dan melancarkan kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain.

2. Terapi pendidikan

Anak-anak yang kesulitan menerima pelajaran di sekolah, bisa mengikuti terapi ini. Para pengajar yang terlatih akan memberikan program pendidikan yang terstruktur , sehingga lebih mudah diterima anak dengan autism spectrum disorder.

Tidak seperti kelas biasa, si kecil akan diberi satu pengajar khusus. Dengan begitu, pengajar dapat mengerahkan perhatian sepenuhnya pada anak. Begitu juga anak dapat memusatkan konsentrasi pada pengajar dengan lebih baik karena minimnya gangguan dari teman atau orang lain.

3. Terapi fisik dan indra

Pada beberapa kasus, anak dengan ASD membutuhkan terapi fisik. Biasanya ini direkomendasikan pada anak yang sering kali melakukan gerakan berulang, sehingga membuatnya mudah terjatuh.

Pada terapi ini, terapis akan membantu meningkatkan keseimbangan si kecil dan membantunya mengurangi gerakan berulang yang tidak perlu. Untuk mengasah keterampilan anak dalam memproses sensorik, di kecil akan diberi mainan yang bisa merangsang indera, seperti squishy atau trampolin.

Sementara untuk mengurangi sensitivitas anak dengan suara, ia akan diajarkan mengenal berbagai bunyi bahkan memainkan alat musik.

4. Obat-obatan

Selain terapi, pemberian obat juga bisa membantu mengendalikan gejala. Obat ini biasanya diberikan pada anak yang sangat hiperaktif dan mengalami cemas berlebihan. Dokter akan meresepkan obat antipsikotik dan antidepresan sesuai dengan kebutuhan anak.

Pengobatan yang dijalani dapat bersifat tunggal, maupun kombinasi, tergantung dengan berbagai gejala yang dialami anak. Perawatan yang dilakukan dapat berubah seiring waktu sesuai sejalan dengan peningkatan kesehatan anak. Selalu konsultasi kesehatan si kecil sebelum memilih pengobatan maupun selama menjalani perawatan.

Tips merawat anak dengan autism spectrum disorder (ASD)

orangtua bohong pada anak

Autism spectrum tidak bisa disembuhkan.

Meski demikian, merawat dan mengasuh anak dengan autism spectrum disorder memang perlu perhatian ekstra. Mereka sangat butuh dukungan dari orang-orang di sekitarnya agar dapat hidup dengan normal. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa Anda terapkan dalam merawat anak dengan ASD.

1. Cari dokter dan ahli kesehatan tepercaya

ASD memengaruhi kehidupan anak dalam berbagai hal, baik sosial, pendidikan, maupun kehidupan pribadinya. Anak dengan kondisi ini memerlukan guru, terapis, dan dokter yang memang ahli dalam menghadapi anak dengan autisme.

Dokter dan terapis dapat bekerja sama untuk mengendalikan gejala GSA yang dialami anak sehingga ia bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan lebih baik. Sementara, guru yang terlatih dapat membantunya mengikuti pelajaran dengan baik.

Anda bisa meminta rekomendasi dokter maupun terapis spesialis dari dokter yang sebelumnya menangani kondisi anak. Mencari informasi tambahan lewat internet juga bisa membantu Anda menemukan dokter, terapis, maupun guru yang Anda butuhkan.

2. Tingkatkan pengetahuan diri mengenai autisme

Orangtua adalah sosok yang paling dekat dan dipercaya oleh anak, apalagi jika ia memiliki autism spectrum disorder. Sosok Anda sangat membantu anak dengan ASD untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Agar Anda dapat mengasuhnya dengan tepat, pengetahuan seputar autisme harus Anda tingkatkan. Jangan sampai Anda termakan mitos autisme beredar yang bisa memperburuk kondisi anak.

Anda bisa mendapat informasi mengenai kelainan neurologis ini pada dokter, buku, atau membaca dari website yang tepercaya. Anda juga bisa mengikuti komunitas orangtua dan anak yang mengidap autisme. Lewat komunitas ini, Anda bisa saling berbagi pengalaman dalam merawat anak dengan kondisi tersebut.

3. Lakukan kunjungan ke dokter secara rutin

Anak dengan autism spectrum disorder bisa mendapatkan perawatan yang berbeda-beda. Ini bergantung dengan keparahan gejala. Jika pengobatan berjalan lancar dan kondisi anak semakin membaik, perawatan tertentu mungkin saja bisa dihentikan, misalnya penggunaan obat-obatan.

Nah, untuk tahu hal ini, Anda perlu membawa si kecil ke dokter secara rutin. Selalu buat catatan setiap Anda berkunjung ke dokter, dan laporkan bagaimana perkembangan anak dalam menjalani perawatan.

4. Perlu luangkan waktu untuk anak dan diri sendiri

Membantu anak mengurangi keparahan gejala tidak hanya tugas dari guru, dokter, maupun terapis saja. Anda sebagai sosok yang paling dekat dengan anak juga perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk dirinya. Ini dilakukan agar Anda dan si kecil dapat mengenal satu sama lain lebih dalam.

Namun, jangan lupa bahwa merawat anak dengan autism spectrum disorder pasti membuat Anda lelah. Luangkan juga waktu untuk melepaskan penat dan stres, seperti melakukan hal yang disukai. Bicarakan hal ini dengan pasangan, supaya Anda dapat bergantian menjaga si kecil.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 4, 2017 | Terakhir Diedit: Januari 27, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca