Tidak Selalu Mudah, Ini 11 Tantangan Menyusui yang Kerap Dialami Para Ibu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/07/2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Setiap ibu menyusui umumnya berharap dapat memberikan ASI bayi, termasuk ASI eksklusif dengan lancar. Sayangnya, munculnya satu dan lain hal dapat menjadi tantangan tersendiri selama ibu menyusui si kecil. Memangnya, apa saja tantangan menyusui yang kerap hadir dan adakah cara agar tetap bisa memberikan ASI?

Berbagai macam tantangan menyusui bagi ibu dan bayi

Pemberian ASI pertama kali bisa dimulai sejak Anda melahirkan atau disebut juga dengan istilah inisiasi menyusui dini (IMD)

Ada banyak manfaat ASI, maka semakin cepat dan semakin sering ASI diberikan kepada bayi akan semakin baik untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Namun, tak menutup kemungkinan ibu mengalami tantangan dalam memberikan ASI di masa menyusui ini.

Pahami beragam tantangan menyusui yang bisa dialami ibu dan bayi berikut ini:

1. Tantangan menyusui saat hamil

menu sahur untuk ibu menyusui

Sejatinya, tubuh membutuhkan proses pemulihan setelah Anda selesai melahirkan. Itu sebabnya, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan untuk memberikan jarak sekitar 2-3 tahun, bagi Anda yang berencana untuk hamil lagi setelah melahirkan.

Hal ini bukan hanya memastikan orangtua fokus untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bayi yang baru lahir sampai usianya balita.

Pemberian jarak antar kehamilan juga ditujukan untuk mengurangi risiko buruk yang mungkin terjadi pada kehamilan jika jaraknya terlalu dekat.

Ketika Anda dinyatakan positif hamil lagi saat masih menyusui si kecil yang baru lahir, produksi ASI tetap akan berjalan seperti seharusnya.

Ini karena produksi ASI adalah salah satu perubahan fungsi tubuh yang tidak berpengaruh pada kehamilan. Jadi, tantangan menyusui saat hamil ini bisa tetap Anda jalani.

Meski begitu, ketika Anda memasuki usia kehamilan 4 atau 5 bulan, produksi ASI yang Anda hasilkan bisa mengalami perubahan.

Produksi ASI mungkin akan menjadi lebih encer dan hambar ketimbang sebelumnya yang juga termasuk salah satu masalah ibu menyusui.

Pada akhirnya, mungkin Anda terpaksa untuk menerapkan cara menyapih anak lebih cepat.

Jika si kecil memiliki masalah yang membuatnya menjadi susah dan enggan untuk menyusu sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Selain itu, puting biasanya menjadi lebih sensitif saat Anda hamil dan menyusui karena adanya peningkatan pada produksi hormon.

Terlebih lagi jika waktu ibu menyusui berbarengan dengan kehamilan, tentu tantangan ini tidak mudah.

Rasa nyeri pada puting ini bisa diredakan dengan mencari posisi menyusui yang nyaman atau menggunakan bantuan bantal menyusui.

American Pregnancy Association menjelaskan pada dasarnya menyusui saat hamil tidak berisiko menyebabkan keguguran.

Keguguran biasanya dikarenakan adanya masalah atau komplikasi pada janin yang sedang berkembang di dalam kandungan.

Akan tetapi, jika Anda memiliki faktor risiko yang cukup tinggi untuk mengalami masalah selama kehamilan seperti kelahiran prematur, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

2. Tantangan menyusui sesuai kondisi puting ibu

manfaat menyusui

Berikut berbagai tantangan menyusui sesuai kondisi puting yang mungkin dimiliki ibu:

Memiliki puting susu datar

Kondisi puting susu datar kadang menjadi tantangan menyusui bagi para ibu, terutama ibu yang baru pertama kali melakukannya.

Namun, jangan khawatir, Anda tetap bisa memberikan ASI meski memiliki tantangan menyusui yang satu ini.

Coba rutin memijat payudara guna membantu melancarkan proses menyusui sekaligus meningkatkan produksi ASI.

Tahapan pijat payudara untuk mengatasi tantangan menyusui karena punya puting susu datar, yakni:

  1. Pegang payudara Anda dengan satu tangan sambil membuat huruf C di dekat areola (area gelap di payudara) dengan ibu jari dan telunjuk.
  2. Pijat lembut payudara dengan gerakan memutar sambil memberikan sedikit tekanan pada puting.
  3. Ulangi cara ini tanpa menggeser posisi jari.
  4. Keluarkan sedikit air susu sambil menampungnya agar payudara melembut dan tak terlalu keras.

Selain itu, Anda juga bisa memegangi payudara saat menyusui agar bayi lebih mudah melekatkan mulutnya pada puting yang datar dengan cara:

C-hold

Berikut urutan memegang payudara pada posisi c-hold sebagai cara menyusui dengan puting datar:

  1. Posisikan jempol dan keempat jari Anda seperti membentuk huruf C.
  2. Taruh di sekitar payudara dengan puting menjadi pusatnya sehingga posisi ibu jari di atas payudara dan jari lainnya di bawahnya.
  3. Pastikan jari-jari ini berada di belakang areola.
  4. Tekan payudara sambil arahkan ke mulut bayi Anda.

V-hold

Berikut urutan memegang payudara pada posisi v-hold sebagai cara menyusui dengan puting datar:

  1. Letakkan jari telunjuk dan tengah di antara puting susu dan areola.
  2. Posisi jempol dan jari telunjuk harus berada di atas payudara sementara sisanya di bawah payudara.
  3. Tekan jari Anda ke bawah dengan lembut untuk membantu memeras puting dan areola.

Cara lain untuk mengatasi puting susu datar

Anda juga bisa melakukan cara lain untuk mengatasi puting susu datar dengan rajin menyusui dan memompa ASI.

Menyusui bisa membuat payudara menjadi lebih lembut. Sebaliknya, membiarkannya penuh dengan air susu justru membuat puting susu semakin sulit untuk diisap.

Untuk membantu mengatasi tantangan menyusui berupa puting yang datar jadi menonjol, Anda juga bisa menggunakan bantuan breast shells atau nipple shield.

Breast shells merupakan alat seperti cangkang yang ditempelkan pada payudara dengan lubang di sekitar areola untuk membantu membentuk puting.

Sementara nipple shield adalah alat menyerupai puting untuk membantu si kecil mengisap puting payudara ibu saat menyusui.

Kedua alat ini akan membantu memudahkan proses menyusui pada ibu dengan puting datar.

Memiliki puting susu masuk ke dalam

Seperti namanya, puting susu masuk ke dalam (inverted nipple) adalah tantangan menyusui saat puting seperti ditarik masuk ke dalam.

Anda tidak perlu khawatir tentang proses menyusui dengan puting rata. Meskipun puting susu masuk ke dalam, Anda masih bisa menyusui secara normal karena ditentukan kembali oleh kuat dan lemahnya isapan bayi. 

Jika isapan bayi lemah, kemungkinan puting akan susah keluar. Sementara bila bayi memiliki isapan puting yang kuat, lama-lama puting susu ibu pun bisa keluar dengan sendirinya. 

Ada cara yang bisa membantu Anda untuk menghadapi tantangan menyusui meski pusting susu masuk ke dalam.

Coba pijat puting dan areola (lingkaran hitam di sekitar puting) secara rutin.

Selain itu, biasakan juga untuk memompa ASI guna merangsang puting keluar secara alami sekaligus mengatasi tantangan menyusui ini.

3. Penyebab tidak boleh menyusui karena ibu mengidap HIV

Human Immunodeficiency Virus atau disingkat dengan HIV merupakan penyakit yang tergolong berbahaya bahkan bisa berakibat fatal.

Hal ini dikarenakan HIV dapat menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan imunitas tubuh lemah.

Proses penularan virus HIV bisa dengan berbagai cara, salah satunya melalui pemberian ASI.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penularan HIV dari ibu ke anak bisa terjadi sebelum, selama, dan setelah kelahiran.

Penularan setelah melahirkan yang paling memungkinkan yakni dengan pemberian ASI, baik itu dengan menyusui secara langsung maupun melalui botol dot.

Inilah tantangan mengapa ibu dengan HIV tidak boleh menyusui bayinya. Pasalnya, ada virus bebas yang bisa hadir di dalam ASI, seperti sel limfosit CD4 yang telah terinfeksi virus HIV.

Cara termudah untuk mencegah bayi tertular HIV dari ibu yang positif mengalaminya yakni dengan tidak menyusui.

Ya, HIV yang dialami ibu memang menjadi satu dari beberapa tantangan sulitnya pemberian ASI dengan menyusui langsung kepada bayi.

Bukan hanya menyusui secara langsung, ibu juga tidak disarankan untuk menggunakan pompa ASI.

Meski ASI perah yang dipompa bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu untuk diberikan kepada bayi dengan cara lain, virus HIV tetap masih berada di dalam ASI.

Jadi, bayi masih berisiko tertular virus HIV bila menyusu ASI perah dari botol yang telah disimpan sebelumnya.

Ini karena ASI termasuk cairan tubuh ibu yang mengandung virus HIV sehingga ASI ibu benar-benar tidak diperbolehkan diberikan pada bayi.

4. Tantangan ibu menyusui dengan tuberkulosis

susu soya untuk bayi alergi

Tuberkulosis alias TBC merupakan penyakit pernapasan akibat adanya infeksi bakteri pada paru-paru. Penularan TBC memang melalui udara yang membawa bakteri hingga masuk ke pernapasan.

Akan tetapi, tantangan ibu yang sedang menyusui dengan TBC ni ternyata bisa menularkan virus kepada bayinya melalui batuk dan bersin.

Hal ini sangat berisiko jika ibu menyusui bayinya secara langsung.

Singkatnya begini, ibu yang memiliki TBC aktif tetapi bayinya tidak, sangat disarankan untuk tidak berada terlalu dekat.

Namun, bukan berarti bayi tidak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Ada cara lain untuk mengatasi tantangan menyusui ini dengan tetap memberikan ASI kepada bayi.

Ibu hanya perlu memompa ASI kemudian langsung memberikan kepada bayi atau menyimpan terlebih dahulu.

Pastikan ibu menjaga agar ASI tersebut dalam kondisi steril dan tidak mengandung droplet atau percikan air liur dari batuk dan bersin ibu.

5. Ibu mengalami herpes di payudara

alergi susu pada bayi

Jika Anda mengalami herpes tetapi tidak di area payudara, sebenarnya sah-sah saja untuk menyusui bayi.

Dengan catatan, lesi herpes di bagian tubuh lainnya tertutup dan Anda selalu mencuci tangan sebelum dan setelah menyusui maupun memegang bayi.

Akan tetapi, jika lesi herpes ada di payudara, ini merupakan tantangan sehingga sangat tidak dianjurkan bagi ibu untuk menyusui bayinya secara langsung.

Penyebab ibu yang mengalami herpes tidak boleh menyusui yakni karena berisiko sangat menular kepada bayi.

Ibu masih boleh memberikan ASI tetapi dengan cara dipompa. ASI perah tersebut kemudian dapat diberikan kepada bayi melalui botol susu.

Namun, pastikan lesi herpes tidak memiliki kontak langsung dengan ASI maupun alat pompa.

Selama dilakukan dengan cara yang aman, memompa ASI dan memberikan kepada bayi melalui botol susu masih terbilang aman.

Hal ini karena virus herpes tidak menular lewat ASI. Jangan lupa, pastikan Anda menerapkan cara menyimpan ASI yang tepat agar tetap awet.

Selanjutnya, Anda tinggal memberikan ASI kepada bayi sesuai jadwal menyusui hariannya.

6. Ibu mengalami kanker payudara

kebutuhan pasien kanker payudara

Boleh atau tidaknya pasien kanker payudara menyusui buah hatinya bergantung pada perawatan yang dijalani.

Hal ini lantaran obat kanker payudara, seperti yang digunakan saat kemoterapi, dapat mengalir dalam ASI dan terminum bayi dan berpotensi menyebabkan anak keracunan.

Selain itu, perawatan untuk kanker juga bisa memengaruhi produksi ASI. Itu sebabnya, biasanya dokter akan menganjurkan sang ibu untuk tidak menyusui selama menjalani perawatan.

Sementara ibu yang menjalani terapi radiasi akan dievaluasi terlebih dahulu berdasarkan jenis radiasi dan lamanya pengobatan.

Dokter akan menjelaskan efek samping radiasi yang mungkin mengganggu proses menyusui, seperti elastisitas puting yang menurun atau produksi ASI yang berkurang.

Bagi ibu menyusui yang perlu menjalani pembedahan untuk mengangkat sel kanker di payudara, konsultasi lebih lanjut dibutuhkan.

Ahli bedah akan mengevaluasi apakah perawatan tersebut dapat merusak saluran ASI atau tidak.

7. Ibu sedang menjalani kemoterapi

tips pompa asi di tempat umum

Mengutip dari UT Southwestern Medical Center, selain mengalami penyakit infeksi yang dapat menular lewat ASI, ibu yang menderita penyakit kanker juga tidak boleh menyusui.

Tantangan mengenai larangan menyusui ini juga berlaku bagi ibu yang sedang rutin menjalani kemoterapi. 

Bahkan, ibu juga tidak dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi meski melalui botol sekali pun.

Tantangan ibu yang menjalani kemoterapi tidak boleh menyusui adalah karena ada obat yang masuk ke dalam aliran darah ibu. 

Obat kemoterapi tersebut berisiko memberikan efek buruk pada bayi sehingga menjadi penyebab ibu tidak boleh menyusui maupun memerah ASI-nya.

Tantangan menyusui bagi ibu yang menjalani kemoterapi dapat diatasi dengan memompa ASI dan membuangnya agar produksi ASI tetap terjaga.

Anda dapat memberikan ASI setelah proses kemoterapi selesai dan dokter spesialis onkologi mengizinkan Anda untuk menyusui langsung ataupun memompa ASI. 

8. Menyusui saat sakit tipes

penyakit tipes demam tifoid

Sakit tipes (demam tifoid) bukan menjadi penghalang bagi ibu untuk tetap menyusui bayinya.

Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa sakit tipes bisa ditularkan kepada bayi saat menyusui.

Jadi, tidak masalah bila ibu menyusui saat sedang sakit tipes.

Hanya saja, gejala tipes seperti demam, sakit kepala, diare, dan lainnya dapat membuat ibu lemas sehingga menghambat pemberian ASI.

Ibu juga berisiko kekurangan cairan (dehidrasi) bila mengalami diare yang terus menerus. Pastikan ibu minum banyak cairan, makan makanan ibu menyusui, dan periksakan diri ke dokter agar dapat ditangani segera.

Dokter akan memberikan obat yang aman untuk ibu menyusui sesuai dengan kondisi dan keluhan.

9. Tantangan anemia pada ibu menyusui

menyusui saat puasa

Anemia pada ibu tidak menghalangi proses menyusui bayinya. Agar lebih aman sekaligus sebagai cara mengatasi anemia, ibu bisa rutin minum suplemen zat besi pada masa menyusui.

Jadi, Anda tetap disarankan untuk menyusui ASI eksklusif meskipun memiliki kondisi anemia atau kekurangan zat besi.

Namun, alangkah lebih baiknya untuk tetap berkonsultasi dengan dokter mengenai penanganan tantangan menyusui berupa anemia yang tepat pada ibu.

10. Ibu menyusui punya diabetes

penderita diabetes meninggal covid-19

Tantangan menyusui lain yang mungkin dialami ibu yakni mengidap diabetes. Jika ini yang terjadi, ibu tidak perlu khawatir karena memiliki diabetes bukanlah halangan untuk tetap bisa menyusui si kecil.

Bahkan, menyusui dapat membantu mengendalikan penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut dari diabetes.

Sebab, Anda mungkin akan mengurangi penggunaan obat insulin selama menyusui. Ya, penggunaan insulin saat menyusui ternyata aman.

Namun, diabetes memang dapat memengaruhi proses produksi ASI. Ketika dibarengi dengan penggunaan suntik insulin, kondisi ini akan membuat ASI lebih sulit turun dan dikeluarkan lewat puting.

Itulah sebabnya tidak sedikit ibu yang mengeluh produksi ASI-nya jadi lebih sedikit setelah menggunakan insulin saat menyusui.

Eits, tenang dulu. Meskipun penggunaan insulin saat menyusui bisa menurunkan produksi ASI, bukan berarti Anda boleh langsung beralih ke susu formula, ya.

Berbagai pengobatan diabetes seperti insulin, metformin, dan sulfonilurea diyakini tidak akan mengganggu kesehatan bayi.

Molekul insulin itu sendiri terlalu besar untuk masuk ke dalam ASI. Jadi, molekul tersebut tidak mungkin bisa tercampur dengan ASI dan masuk ke dalam tubuh bayi.

Selama Anda mampu mengendalikan kadar gula darah tetap normal, penggunaan insulin saat menyusui tidak akan menjadi masalah, baik untuk Anda maupun si kecil.

11. Tantangan ibu menyusui dengan penyakit lupus

ibu dengan penyakit lupus menyusui

Penyakit lupus adalah gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun) yang membuat tubuh Anda menganggap sel normal tubuh sebagai musuh.

Hal ini bisa menjadi tantangan bagi ibu menyusui yang berencana untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Ini karena tubuh ibu rentan mengalami berbagai peradangan akibat terserang sistem imun sendiri.

Namun, tak perlu khawatir bila Anda memiliki penyakit lupus sebagai salah satu tantangan ibu menyusui. 

Sama seperti ibu lainnya, tentu Anda dapat memproduksi ASI dengan normal.

Bahkan, kuantitas dan kualitas ASI Anda tak ada bedanya dengan ibu yang sehat tergantung dari pola makan masing-masing ibu. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Obat untuk Memulihkan Puting Susu Lecet Saat Menyusui

Perlekatan mulut bayi yang salah pada puting dapat membuatnya lecet. Agar bisa menyusui dengan lancar, ada beberapa obat untuk memulihkan puting susu lecet.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 06/09/2019 . Waktu baca 7 menit

Perlukah Ibu Minum Suplemen Penambah ASI?

Penggunakan suplemen penambah atau pelancar ASI kerap dijadikan jalan pintas guna mengoptimalkan pemberian ASI. Sebenarnya, efektif atau tidak, ya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 03/09/2019 . Waktu baca 6 menit

Berapa Lama Waktu Ideal untuk Menyimpan ASI?

Lama waktu penyimpanan ASI tidak selalu sama, karena tergantung dari tempat yang digunakan. Lantas, berapa lama masa ketahanan ASI berdasarkan tempatnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 02/09/2019 . Waktu baca 7 menit

Aturan Menyimpan ASI di Dalam Freezer yang Harus Dipahami Para Ibu

Salah satu tempat yang bisa dipakai untuk menyimpan dan menjaga kualitas ASI yaitu freezer. Memangnya, seberapa tahan lama freezer dapat menyimpan ASI? 

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 27/08/2019 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

puasa dan perubahan yang terjadi bagi ibu yang baru setelah melahirkan

4 Kiat Jitu Agar Produksi ASI Tetap Lancar Meski Sedang Berpuasa

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
1000 hpk

Manfaat Menyusui bagi Ibu dan Si Kecil di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020 . Waktu baca 4 menit
ibu dengan diabetes

Bolehkah Ibu Dengan Diabetes Menyusui Bayinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 12/11/2019 . Waktu baca 4 menit
asi terlalu banyak

Produksi ASI Terlalu Banyak Juga Tidak Baik, Ini Masalah yang Bisa Muncul

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/10/2019 . Waktu baca 7 menit