5 Kondisi Medis Penyebab Tidak Boleh Menyusui Bagi Ibu dan Bayi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

ASI mengandung zat gizi yang sangat penting bagi tumbuh kembang bayi. Itu sebabnya, ibu dianjurkan langsung memberikan ASI sejak bayi baru lahirSayangnya, pada kondisi tertentu ibu tidak disarankan untuk memberikan ASI-nya kepada bayi. Memangnya, apa penyebab ibu tidak boleh menyusui buah hatinya?

Berbagai penyebab ibu tidak boleh menyusui bayinya

Ada banyak manfaat yang akan didapatkan ibu dan bayi melalui pemberian ASI. Itulah salah satu alasan mengapa ibu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI setidaknya selama enam bulan penuh alias ASI eksklusif.

Meski menyusui lumrah dilakukan sejak awal bayi dilahirkan, ada pula beberapa ibu yang tidak boleh memberikan ASI karena beragam penyebab.

Penyebab ibu tidak boleh menyusui bisa karena sedang mengalami kondisi tertentu, rutin minum obat, atau menjalani perawatan medis.

Dalam beberapa kasus, penyebab ibu tidak boleh menyusui bisa diatasi dengan memompakan ASI kemudian memberikannya kepada bayi dengan cara lain.

ASI perah tersebut bisa disimpan maupun langsung diberikan kepada bayi. Kondisi ini bisa berlangsung sementara waktu sampai nantinya Anda siap untuk kembali menyusui secara langsung.

Hanya saja, ada kondisi lain yang benar-benar tidak memperbolehkan bayi untuk mendapatkan ASI sama sekali. Baik itu mendapatkan ASI secara langsung melalui menyusui payudara maupun botol dot.

Berikut beberapa penyebab ibu tidak bisa menyusui bayinya entah secara langsung maupun melalui botol dot:

1. Bayi mengalami galaktosemia

bayi minum susu sapi

Galaktosemia adalah sebuah penyakit genetik yang sangat langka. Kondisi ini terjadi saat bayi tidak dapat memproses galaktosa menjadi glukosa karena defisiensi enzim yang disebut sebagai GALT.

Bayi yang menderita galaktosemia terlahir normal, tetapi seiring dengan meningkatnya asupan ASI maka gejala yang dialami bayi bisa semakin terlihat.

Karbohidrat pada ASI sebagian besar mengandung laktosa yang nanti dipecah menjadi galaktosa di saluran pencernaan, dan diserap ke dalam darah.

Dalam kondisi normal, galaktosa akan diubah menjadi glukosa oleh GALT di dalam darah agar dapat digunakan oleh tubuh.

Namun, pada bayi penderita galaktosemia, hal tersebut tidak terjadi sehingga galaktosa menumpuk di dalam darah. Itulah alasan di balik penyebab mengapa ibu tidak boleh menyusui bayi yang mengalami galaktosemia. 

Bayi yang mengalami galaktosemia tidak bisa makan sembarang makanan. Kondisi galaktosemia yang dialaminya mengharuskan bayi diberikan makanan khusus tanpa kandungan galaktosa.

Hal ini bertujuan untuk mencegah munculnya komplikasi parah pada bayi seperti penyakit kuning, diare, muntah, masalah pada perkembangan, hingga kematian.

2. Penyebab tidak boleh menyusui karena ibu mengidap HIV

Human Immunodeficiency Virus atau disingkat dengan HIV merupakan penyakit yang tergolong berbahaya bahkan bisa berakibat fatal.

Hal ini dikarenakan HIV dapat menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan imunitas tubuh lemah. Itu sebabnya, seseorang yang menderita HIV mudah sekali terserang berbagai jenis penyakit.

Proses penularan virus HIV bisa dengan berbagai cara, salah satunya melalui pemberian ASI. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penularan HIV dari ibu ke anak bisa terjadi sebelum, selama, dan setelah kelahiran.

Penularan setelah melahirkan yang paling memungkinkan yakni dengan pemberian ASI, baik itu dengan menyusui secara langsung maupun melalui botol dot.

Inilah penyebab mengapa ibu dengan HIV tidak boleh menyusui bayinya. Pasalnya, ada virus bebas yang bisa hadir di dalam ASI, seperti sel limfosit CD4 yang telah terinfeksi virus HIV.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), cara termudah untuk mencegah bayi tertular HIV dari ibu yang positif mengalaminya yakni dengan tidak menyusui.

Ya, HIV yang dialami ibu memang menjadi satu dari beberapa penyebab mengapa bayi tidak boleh menyusui. Bukan hanya menyusui secara langsung, ibu juga tidak disarankan untuk memompa ASI dengan pompa elektrik maupun manual.

Meski ASI perah yang dipompa bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu untuk diberikan kepada bayi dengan cara lain, virus HIV tetap masih berada di dalam ASI.

Jadi, bayi masih berisiko tertular virus HIV bila menyusu ASI perah dari botol yang telah disimpan sebelumnya. Ini karena ASI termasuk cairan tubuh ibu yang mengandung virus HIV sehingga menjadi penyebab tidak boleh menyusui bayi.

3. Ibu mengalami tuberkulosis

susu soya untuk bayi alergi

Tuberkulosis alias TBC merupakan penyakit pernapasan akibat adanya infeksi bakteri pada paru-paru. Penularan TBC memang melalui udara yang membawa bakteri hingga masuk ke pernapasan.

Akan tetapi, ibu yang sedang menyusui bisa menularkan virus TBC kepada bayinya melalui batuk dan bersin. Hal ini sangat berisiko jika ibu menyusui bayinya secara langsung.

Singkatnya begini, ibu yang memiliki TBC aktif tetapi bayinya tidak, sangat disarankan untuk tidak berada terlalu dekat. Inilah penyebab mengapa ibu yang mengalami TBC tidak boleh menyusui bayinya secara langsung.

Namun, bukan berarti bayi tidak bisa mendapatkan ASI sama sekali karena masih ada cara lain untuk tetap bisa memberikannya kepada bayi.

Ibu hanya perlu memompa ASI kemudian langsung memberikan kepada bayi atau menyimpan terlebih dahulu.

Pastikan ibu menjaga agar ASI tersebut dalam kondisi steril dan tidak mengandung droplet atau percikan air liur dari batuk dan bersin ibu.

4. Ibu mengalami herpes di payudara

alergi susu pada bayi

Jika Anda mengalami herpes tetapi tidak di area payudara, sebenarnya sah-sah saja untuk menyusui bayi. Dengan catatan, lesi herpes di bagian tubuh lainnya tertutup dan Anda selalu mencuci tangan sebelum dan setelah menyusui maupun memegang bayi.

Akan tetapi, jika lesi herpes ada di payudara, sangat tidak dianjurkan bagi ibu untuk menyusui bayinya secara langsung.

Penyebab ibu yang mengalami herpes tidak boleh menyusui yakni karena berisiko sangat menular kepada bayi. Ibu masih boleh memberikan ASI tetapi dengan cara dipompa.

ASI perah tersebut kemudian dapat diberikan kepada bayi melalui botol susu. Namun, pastikan lesi herpes tidak memiliki kontak langsung dengan ASI maupun alat pompa.

Selama dilakukan dengan cara yang aman, memompa ASI dan memberikan kepada bayi melalui botol susu masih terbilang aman. Hal ini karena virus herpes tidak menular lewat ASI.

Jadi, penyebab ibu dengan herpes tidak boleh menyusui bayinya hanya saat ada lesi di area payudara.

5. Ibu sedang menjalani kemoterapi

tips pompa asi di tempat umum

Mengutip dari UT Southwestern Medical Center, selain penyakit infeksi, ibu yang menderita penyakit kanker dan sedang menjalani kemoterapi tidak boleh menyusui.

Bukan hanya itu, ibu juga tidak dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi meski melalui botol sekali pun. Penyebab ibu yang menjalani kemoterapi tidak boleh menyusui adalah karena ada obat yang masuk ke dalam aliran darah ibu. 

Obat kemoterapi tersebut berisiko memberikan efek buruk pada bayi sehingga menjadi penyebab ibu tidak boleh menyusui maupun memerah ASI-nya.

Ibu yang menjalani kemoterapi disarankan untuk memompa ASI dan membuangnya agar produksi ASI tetap terjaga.

Anda dapat memberikan ASI setelah proses kemoterapi selesai dan dokter spesialis onkologi mengizinkan Anda untuk menyusui langsung ataupun memompa ASI. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Macam Pengobatan Alami untuk Mengatasi Gejala TBC

Beberapa bahan alami dapat digunakan sebagai obat herbal yang membantu mengatasi gejala TBC atau bahkan melengkapi pengobatan tuberkulosis.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Pernapasan, TBC 10/06/2020 . 8 mins read

Cara Protein Whey Membantu Tubuh Anak Tetap Fit saat Puasa

Protein penting untuk dikonsumsi anak, karena mampu meningkatkan kesehatan saat puasa. SImak jenis protein yang efektif memberi manfaat untuk si kecil.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Parenting, Nutrisi Anak 05/06/2020 . 5 mins read

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Banyak ibu yang khawatir karena setelah sang buah hati lahir ke dunia, ASI tidak kunjung keluar dari payudara. Sebenarnya, apa penyebab kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Menyusui 05/06/2020 . 10 mins read

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Saat bakteri tuberkulosis menyerang organ di luar paru, kondisi ini dinamakan dengan TB ekstra paru. Samakah pengobatannya dengan TBC biasa?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Pernapasan, TBC 28/05/2020 . 8 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

protein susu soya

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 6 mins read
nutrisi untuk anak aktif

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . 6 mins read
gejala kanker paru dan tbc

Mengenali Perbedaan Antara Gejala Kanker Paru dan TBC (Tuberculosis)

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29/06/2020 . 4 mins read
makanan untuk herpes oral

Makanan yang Baik Dikonsumsi untuk Pasien Herpes Oral

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 26/06/2020 . 5 mins read