home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mencegah dan Menurunkan Risiko Hipertensi pada Ibu Menyusui

Mencegah dan Menurunkan Risiko Hipertensi pada Ibu Menyusui

Seorang wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi berisiko mengalami hipertensi saat hamil dan setelah melahirkan. Pada hipertensi setelah melahirkan, kondisi ini bisa mengganggu proses menyusui atau pemberian ASI dari ibu kepada bayi. Padahal, menyusui memberi manfaat yang baik bagi kesehatan ibu dan bayinya. Lantas, bagaimana mencegah hipertensi setelah melahirkan atau saat menyusui? Apakah menyusui memberi dampak pada tekanan darah ibu?

Sekilas tentang manfaat menyusui bagi ibu

Sudah terbukti secara jelas bahwa menyusui membawa manfaat bagi seorang ibu dan bayi. American Pregnancy Association menyebut, menyusui bisa mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan, mengembalikan berat badan lebih cepat ke kondisi sebelum melahirkan, serta mengurangi risiko kanker payudara dan kanker rahim.

Menyusui juga disebut dapat mengurangi stres serta menurunkan risiko berbagai penyakit kronis lainnya pada ibu, seperti diabetes dan penyakit jantung pada kemudian hari.

Selain itu, ASI dari ibu menyusui juga mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan bayi pada enam bulan pertama usianya. Oleh karena itu, pakar kesehatan di seluruh dunia menganjurkan, setiap ibu untuk menyusui bayinya setidaknya selama enam bulan pertama setelah kelahiran, atau yang biasa disebut dengan ASI eksklusif.

Fakta seputar menyusui yang bisa menurunkan risiko hipertensi

ibu dengan penyakit lupus menyusui

Mengingat pentingnya menyusui bagi ibu dan bayi, ada baiknya seorang wanita mencegah dan menurunkan risiko terjadinya hipertensi pada saat menyusui. Namun nyatanya, proses menyusui itu sendiri memberi dampak yang baik bagi tekanan darah seorang ibu. Berikut beberapa fakta mengenai menyusui dan hipertensi yang perlu Anda tahu.

Pemberian ASI Eksklusif

Menyusui memang bermanfaat untuk menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology melaporkan bahwa risiko hipertensi pada ibu menyusui menurun secara drastis apabila mereka menjalani program ASI eksklusif selama setidaknya enam bulan. Tidak hanya itu, semakin lama Anda menyusui juga dapat mengurangi risiko obesitas dan resistensi insulin.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa wanita yang menyusui ASI eksklusif setidaknya selama enam bulan berpeluang lebih kecil untuk mengalami tekanan darah tinggi dalam 14 tahun setelahnya dibandingkan ibu yang hanya memberikan susu botol. Penelitian tersebut dilakukan terhadap lebih dari 50 ribu ibu menyusui (yang ASI ekslusif dan yang memberikan susu formula) di Amerika Serikat.

Penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa menyusui dapat membuat tekanan darah menjadi lebih sehat. Namun, peneliti menduga bahwa pelepasan hormon oksitosin ketika menyusui dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan pembuluh darah dan kestabilan tekanan darah, yang kemudian dikaitkan pada penurunan risiko hipertensi pada ibu menyusui. Adapun Oksitosin adalah hormon pemicu rileksasi, yang efeknya mungkin juga tercermin pada fungsi pembuluh darah.

Menurunkan risiko aterosklerosis

Sanne Peters, seorang peneliti di Oxford University mengatakan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko wanita mengalami pengerasan pembuluh darah alias aterosklerosis. Adapun aterosklerosis menjadi faktor risiko stroke dan penyakit jantung.

Mengapa bisa begitu? Menyusui ternyata mengubah metabolisme tubuh ibu segera setelah melahirkan. Selama hamil tubuh wanita “diprogram” untuk mengumpulkan lemak demi memastikan bayi dalam kandungan mendapatkan cukup nutrisi dan juga untuk persiapan menyusui ketika nanti bayi telah lahir.

Nah, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa menyusui bisa menggelontorkan cadangan lemak tersebut dengan lebih cepat. Apabila ibu tidak menyusui, maka cadangan lemak yang kini tak lagi dibutuhkan itu akan tetap bersemayam dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan faktor risiko untuk hipertensi dan penyakit jantung setelah melahirkan.

Itu sebabnya para ahli merekomendasikan bahwa bayi disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, kemudian terus dilanjutkan sambil diselingi dengan pemberian makanan padat sampai mereka berumur satu tahun.

Cara mencegah hipertensi saat menyusui

mencegah hipertensi maligna

Menyusui memang memberi dampak yang baik bagi tekanan darah seorang ibu dan bisa menurunkan risiko berbagai penyakit. Namun, seorang wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi masih mungkin mengalami hipertensi setelah melahirkan dan saat menyusui bayinya.

Bila ini terjadi pada Anda, Anda perlu mengontrol tekanan darah sedini mungkin, dari sebelum memulai program hamil dan saat hamil. Hal ini pun berlaku bagi yang tidak memiliki riwayat hipertensi karena kondisi ini bisa terjadi pada wanita manapun. Berikut beberapa cara mencegah hipertensi yang bisa Anda lakukan:

1. Periksa tekanan darah secara rutin

Tekanan darah tinggi memang kerap tidak menimbulkan gejala hipertensi pada penderitanya. Oleh karena itu, banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki hipertensi, termasuk pada seorang wanita.

Untuk mencegah hipertensi saat menyusui, Anda perlu rutin melakukan cek tekanan darah, dari sebelum memulai program hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Hipertensi yang cepat terdeteksi akan mendapat penanganan yang tepat serta menurunkan risiko dari komplikasi hipertensi yang mengancam nyawa.

2. Menjaga berat badan sebelum dan selama kehamilan

Salah satu faktor risiko hipertensi adalah kegemukan atau obesitas. Jika Anda memiliki kelebihan berat badan sebelum hamil, ada baiknya Anda menurunkan berat badan agar kondisi kehamilan Anda lebih sehat dan Anda bisa mencegah hipertensi saat hamil yang juga bisa berujung pada hipertensi setelah melahirkan atau menyusui.

Menjaga kenaikan berat badan juga perlu dilakukan saat hamil. Faktanya, dilansir dari MedlinePlus, beberapa wanita sudah mengalami kelebihan berat badan saat hamil dan beberapa wanita lainnya menambah berat badan terlalu cepat. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan Anda dan bayi yang Anda kandung bila tidak dikontrol.

Sebagai gambaran, kenaikan berat badan seorang wanita hamil setidaknya dijaga di kisaran 11,5-16 kg. Namun, hal ini tentunya tergantung pada kondisi setiap wanita dan berat badan sebelum kehamilannya.

3. Menerapkan gaya hidup sehat

Hal penting yang perlu Anda lakukan untuk mencegah hipertensi saat menyusui, yaitu menerapkan gaya hidup yang sehat. Perhatikan asupan makanan Anda dengan menerapkan pola makan sehat dan dengan gizi seimbang, sehingga semua kebutuhan vitamin dan mineral Anda selama kehamilan terpenuhi. Kurangi asupan garam dan hindari makanan yang mengandung natrium karena dapat meningkatkan tekanan darah Anda.

Bila perlu, Anda bisa melakukan olahraga untuk ibu hamil. Namun, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter apakah hal ini dimungkinkan pada kondisi kehamilan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Time.com. 2020. How Breastfeeding Lowers a Mom’s Risk of Heart Disease. [online] Available at: <http://time.com/4825665/breastfeeding-heart-benefits/>. [Accessed 8 May 2020].

Ncbi.mlm.nih.gov. 2020. Influence of breastfeeding on maternal blood pressure at one month postpartum. [online] Available at: <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3410704/.> [Accessed 8 May 2020].

Hellomotherhood. 2020. Correlation of High Blood Pressure After Delivery and Breastfeeding. [online] Available at: <https://www.hellomotherhood.com/correlation-of-high-blood-pressure-after-delivery-and-breast-feeding-8433475.html> [Accessed 8 May 2020].

International Lactation Consultant Association. 2020. Brestfeeding and Hypertension. [online] Available at: <https://lactationmatters.org/2012/01/17/breastfeeding-and-hypertension/> [Accessed 8 May 2020].

Mayo Clinic. 2020. Postpartum preeclampsia. [online] Available at: <https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-preeclampsia/symptoms-causes/syc-20376646> [Accessed 8 May 2020].

Healthline. 2020. What You Should Know About Preeclampsia After Birth. [online]Available at: <https://www.healthline.com/health/pregnancy/preeclampsia-after-birth> [Accessed 8 May 2020].

American Pregnancy Association. 2020. Benefits of Breastfeeding. [online] Available at: <https://americanpregnancy.org/breastfeeding/benefits-of-breastfeeding/> [Accessed 8 May 2020].

MedlinePlus. 2020. Managing your weight gain during pregnancy. [online] Available at: <https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000603.htm> [Accessed 8 May 2020].


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal diperbarui 06/11/2017
x