Mastitis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu mastitis?

Mastitis adalah infeksi pada satu atau lebih saluran payudara. Kondisi biasanya berhubungan dengan menyusui dan dapat menyebabkan sakit parah jika tidak terdeteksi dan terobati secepatnya.

Infeksi yang muncul karena menyusui ini juga dikenal dengan istilah mastitis laktasi. Mastitis termasuk satu dari berbagai masalah ibu menyusui dan tantangan menyusui.

Meski kasus mastitis seringnya terjadi pada ibu menyusui, wanita yang belum pernah melahirkan dan menyusui serta wanita yang memasuki masa menopause bisa mengalaminya juga.

Seberapa umum kondisi ini?

Mastitis adalah kondisi yang dapat memengaruhi wanita menyusui. Sebanyak 2-3 persen wanita menyusui terkena mastitis dalam waktu 6-12 bulan pertama setelah melahirkan atau selama menyusui.

Mastitis adalah kondisi yang dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala mastitis laktasi?

Gejala atau ciri-ciri mastitis yang muncul bisa berkembang dengan sangat pesat. Di awal kemunculannya, gejala yang Anda alami adalah kondisi yang mungkin sekilas mirip seperti gejala serangan flu.

Tubuh biasanya terasa kedinginan, menggigil, hingga membuat suhu tubuh naik alias demam.

Namun, ada pula ibu menyusui maupun wanita yang tidak sedang menyusui tidak merasakan gejala menyerupai flu tersebut.

Dengan kata lain, ketidak munculan gejala mastitis tersebut bisa membuat Anda mengalami mastitis secara tiba-tiba.

Serangkaian gejala mastitis yang perlu Anda waspadai adalah sebagai berikut:

1. Payudara membengkak

Pembengkakan pada payudara adalah salah satu gejala mastitis yang mudah terlihat. Anda tentu mengenali dengan baik bentuk dan ukuran payudara Anda.

Memang, ukuran payudara biasanya cenderung akan membesar saat masa menyusui. Namun, perubahan ukuran payudara yang membesar ini berbeda dengan bengkak karena mastitis.

2. Muncul benjolan pada payudara

Menyusui tidak membuat puting dan payudara sakit, itu hanyalah mitos ibu menyusui belaka.

Namun, munculnya benjolan pada payudara yang menyebabkan sakit bisa menjadi gejala mastitis.

Ya, terkadang, pembengkakan pada payudara juga bisa disertai dengan munculnya benjolan.

Benjolan payudara sebagai gejala mastitis adalah kondisi yang dikarenakan adanya penebalan pada jaringan payudara.

3. Payudara terasa nyeri

Nyeri dan panas adalah gejala utama pada payudara yang mengalami infeksi pada saluran susu. Rasa tidak nyaman ini bisa terjadi kapan saja.

Namun, saat Anda sedang menyusui bayi biasanya rasa nyeri dan sakit akan semakin parah termasuk saat disentuh.

4. Payudara memerah

Munculnya benjol dan pembengkakan pada payudara juga diperjelas dengan warna kulit payudara yang kemerahan seperti ruam iritasi.

Bahkan, ketika payudara disentuh ada beberapa area yang terasa panas.

5. Payudara gatal

Selain terasa nyeri saat disentuh maupun tidak, gejala mastitis lainnya juga menimbulkan rasa gatal pada area payudara.

6. Ada luka pada puting susu atau kulit payudara

Mastitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri biasanya terjadi karena adanya luka atau celah kecil tepat pada puting payudara maupun di area payudara sekitar puting.

Luka atau celah tersebut yang kemudian memudahkan bakteri untuk berpindah dan masuk ke dalam payudara sehingga menimbulkan kondisi ini.

7. Ada garis-garis merah pada payudara

Seiring dengan membengkaknya payudara, Anda mungkin melihat munculnya beberapa garis merah pada kulit payudara.

Kondisi ini bisa terjadi karena adanya peradangan pada jaringan di dalam payudara.

Gejala lainnya yang mungkin muncul

Di samping gejala tersebut, masih ada gejala lain yang bisa terjadi bersama gejala utama.

Berbagai gejala pendukung mastitis adalah sebagai berikut:

  • Demam atau peningkatan suhu tubuh mencapai 38 derajat Celcius atau lebih
  • Tubuh terasa dingin dan menggigil
  • Kelelahan parah
  • Stres dan kecemasan
  • Rasa kurang nyaman pada tubuh

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika mengalami salah satu tanda atau gejala di atas atau ingin bertanya, segera konsultasi ke dokter. Kondisi tubuh masing-masing orang tidak selalu sama.

Diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik untuk kondisi yang Anda alami.

Penyebab

Apa penyebab mastitis laktasi ?

Penyebab mastitis bisa dikarenakan adanya infeksi yang menyerang saluran payudara maupun tanpa infeksi.

Oleh karena itu, payudara yang mengalami infeksi biasanya tampak membengkak, berwarna kemerahan, dan terasa nyeri. Hal ini juga dapat membuat Anda demam dan menggigil.

Secara garis besarnya, berikut beberapa hal penyebab mastitis yang rentan dialami oleh ibu menyusui:

1. Saluran susu tersumbat

Sebelum air susu ibu (ASI) dikeluarkan oleh puting, ASI melalui proses panjang terlebih dahulu sampai akhirnya bisa memberikan bayi dan ibu manfaat ASI.

ASI yang dihasilkan oleh kelenjar payudara, termasuk ASI eksklusif, kemudian dialirkan oleh saluran ASI sampai bermuara di tempat terakhir yakni puting susu.

Sayangnya, saluran ASI tidak selalu lancar. Dalam kondisi tertentu, saluran tersebut bisa tersumbat sehingga menyebabkan ASI menumpuk di dalam payudara.

Semakin banyak jumlah ASI yang menumpuk, tentu semakin berisiko menimbulkan peradangan.

Ini kemungkinan dikarenakan penumpukan ASI memicu timbulnya tekanan yang secara tidak langsung.

Tekanan tersebut seperti memaksa atau mendorong ASI untuk masuk ke saluran yang tersumbat.

Adanya sumbatan pada saluran susu sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Faktor isapan bayi yang tidak menempel (latch on) dengan tepat pada puting payudara selama menyusu bisa membuat saluran susu tersumbat sehingga menjadi penyebab mastitis.

Faktor isapan ini bisa dipengaruhi oleh masalah bayi saat menyusui seperti tongue-tie atau kelainan pada lidah.

Terbiasa menyusu di salah satu payudara saja juga bisa mengakibatkan saluran susu tersumbat.

Pasalnya, produksi ASI yang terus dilakukan oleh kelenjar susu tidak keluar dari dalam payudara karena tidak diisap bayi.

Alhasil, ASI justru akan menumpuk salah satu payudara dan kemudian menyumbat alirannya. Selain itu, sumbatan ini juga dapat disebabkan oleh payudara yang tidak sepenuhnya kosong saat menyusui.

2. Infeksi bakteri

Jika saluran susu tersumbat tidak melibatkan bakteri, penyebab mastitis karena infeksi tentu dipicu oleh hadirnya bakteri.

Bakteri memang umum ada di kulit setiap orang, tapi sebenarnya tidak berbahaya.

Akan tetapi, ketika bakteri tersebut berhasil masuk menembus kulit, kemungkinan bisa menyebabkan timbulnya infeksi.

Infeksi bakteri yang menjadi penyebab mastitis bisa masuk ke jaringan payudara karena kulit pada areola atau area sekitar puting mengalami kerusakan.

Di sisi lain, ASI yang tersumbat di dalam saluran susu juga dapat mengakibatkan infeksi.

Padahal sebenarnya, lingkungan ASI yang baik dan segar tidak mendukung perkembangbiakan bakteri.

Kerusakan puting maupun areola yang mengelilingi puting sehingga menjadi penyebab mastitis bisa dikarenakan isapan bayi yang tidak tepat selama menyusu.

Penggunaan pompa payudara dengan posisi yang salah pada puting juga berisiko yang sama.

Bukan itu saja, bakteri yang menjadi penyebab mastitis juga bisa berpindah dari mulut bayi yang nantinya mengisap puting payudara Anda, terlebih jika ada luka dan celah pada puting.

Akibatnya, bakteri bisa dengan mudah masuk dan memicu infeksi di saluran susu.

3. Penyebab lainnya

Selain karena adanya sumbatan pada saluran susu dan infeksi bakteri, ada hal lain yang bisa menjadi penyebab mastitis.

Seperti yang sempat dijelaskan di awal, ada kemungkinan mastitis bisa dialami oleh wanita yang sedang tidak menyusui.

Bagi wanita yang belum melahirkan dan menyusui, kondisi ini disebut sebagai mastitis periductal.

Penyebab mastitis periductal bisa karena adanya infeksi pada payudara. Infeksi ini diawali oleh munculnya peradangan kronis pada bagian bawah puting.

Akibatnya, puting bisa terluka, sakit, atau menimbulkan celah, yang memudahkan bakteri untuk masuk ke dalamnya.

Biasanya, mastitis periductal ini terjadi pada wanita usia 20-30 tahun. Sementara mastitis yang dialami oleh wanita yang memasuki atau sudah menopause dikenal dengan nama mastitis ektasia duktus.

Ini dikarenakan saluran yang terletak di dalam puting menjadi lebih lebar dan lebih pendek seiring bertambahnya usia.

Meski sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, mastitis ekstasia duktus adalah kondisi yang berisiko menimbulkan iritasi dan melukai lapisan pada saluran payudara.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena infeksi ini?

Mastitis adalah kondisi yang dapat dipengaruhi beberapa faktor risiko, yakni:

  • Pernah mengalami mastitis sebelumnya
  • Sedang dalam masa menyusui selama beberapa minggu pertama pasca melahirkan
  • Puting payudara sakit dan terluka seperti pecah-pecah
  • Sering menggunakan bra yang terlalu ketat
  • Memberikan tekanan berlebih pada payudara, seperti menggunakan sabuk pengaman terlalu kencang atau membawa tas berat sehingga menghambat aliran ASI
  • Stres dan kelelahan parah
  • Asupan zat gizi harian yang kurang memadai
  • Merokok
  • Selalu menggunakan satu posisi menyusui bayi

Umumnya, mastitis adalah kondisi yang biasa dialami oleh para ibu menyusui terlebih saat ASI tidak keluar sepenuhnya dari payudara dan justru menumpuk di dalam.

Namun, infeksi saluran susu ini juga dapat dialami oleh wanita yang mengalami diabetes, AIDS, penyakit kronis, maupun gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis mastitis?

Dokter mendiagnosis mastitis melalui gejala dan pemeriksaan. Tes darah, analisis ASI, atau sampel bakteri dari mulut bayi mungkin juga dilakukan tergantung kebutuhan. 

Bentuk kanker payudara yang langka seperti kanker payudara yang meradang juga bisa menyebabkan merah dan pembengkakan yang seringkali disalahartikan sebagai mastitis.

Dokter mungkin menyarankan tes mamografi payudara. Jika tanda dan gejala membandel bahkan setelah melewati semua tahap antibiotik, Anda perlu biopsi untuk memastikan Anda tidak mengidap kanker payudara.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk mastitis?

Penyebab utama mastitis adalah adanya bakteri Staphylococcus aureus atau S. aureus. Keluhan karena mastitis tentu akan menyulitkan proses menyusui.

Dokter dapat memberikan Anda obat-obatan guna mengatasi bakteri S. aureus sekaligus mengurangi keparahan gejala.

Tenang saja, dokter tentu memberikan obat yang aman untuk ibu menyusui. Namun, wanita dengan mastitis ringan tidak perlu berhenti menyusui.

Mengosongkan payudara dengan benar akan menghentikan bakteri berkumpul di dalam payudara dan membantu memperpendek masa infeksi.

Nah, berbagai pilihan obat antibiotik dan antiinflamasi untuk mengatasi mastitis selama menyusui adalah sebagai berikut:

1. Dicloxacillin

Dicloxacillin merupakan salah satu jenis antibiotik minum. Dicloxacillin adalah obat mastitis yang tidak bisa Anda beli sembarangan di apotek karena tergolong sebagai antibiotik, yang mana membutuhkan resep dokter.

Antibiotik akan membantu memerangi infeksi bakteri yang menjadi penyebab mastitis.

Pemilihan jenis antibiotik untuk Anda selama masa menyusui biasanya tergantung dari kondisi kesehatan, serta ada tidaknya alergi obat.

Itu sebabnya, penting untuk menyampaikan kepada dokter mengenai kondisi kesehatan saat ini, riwayat kesehatan, serta alergi obat yang mungkin Anda miliki.

Dicloxacillin aman diminum sebagai obat mastitis selama masa menyusui.

Kadar obat ini terbilang sangat rendah di dalam ASI dan diperkirakan juga tidak akan menyebabkan efek samping yang buruk pada bayi.

Mengutip dari Breastfeeding Medicine, aturan minum dicloxacillin biasanya 4 kali sehari untuk ukuran 500 miligram (mg), atau sesuai dengan petunjuk dari dokter.

2. Flucloxacillin

Sama seperti dicloxacillin, flucloxacillin adalah obat antibiotik yang bisa membantu mengatasi gejala mastitis karena bakteri S. aureus.

Baik dicloxacillin maupun flucloxacillin merupakan jenis antiobiotik dalam kelompok penisilin. Aturan minum flucloxacillin juga sama seperti dicloxacllin yakni sebanyak 4 kali sehari dalam ukuran 500 mg.

Aturan minum obat mastitis flucloxacillin adalah saat perut sedang kosong atau tepatnya sekitar 30-60 menit sebelum makan.

3. Cefalexin

Jika ibu menyusui mengalami mastitis tapi alergi terhadap penisilin, tentu obat antibiotik dicloxacillin dan flucloxacillin tidak bisa diberikan.

Dalam kondisi tersebut, solusi obat mastitis yang dianjurkan yakni cefalexin.

Singkatnya, pemberian obat antibiotik untuk mengatasi mastitis harus disesuaikan kembali dengan kondisi Anda.

Cefalexin dapat membantu mengobati infeksi bakteri S. aureus sebagai penyebab mastitis.

Cephalexin biasanya diresepkan dokter untuk kasus infeksi saluran susu yang tidak terlalu parah tanpa adanya luka (abses).

Anda tak perlu khawatir karena cefalexin (Keflex) terbilang aman untuk digunakan selama masa menyusui.

Dengan catatan, Anda minum obat ini sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter.

Minum obat cefalexin yang berlebihan selama menyusui dapat memengaruhi kandungan ASI untuk bayi.

4. Acetaminophen (Tylenol)

Acetaminophen (Tylenol) adalah satu dari beberapa jenis obat pereda nyeri (antiinflamasi) yang bisa digunakan selama menyusui untuk mengobati mastitis.

Di sisi lain, obat ini juga dapat membantu meredakan demam yang kerap menjadi salah satu ciri-ciri mastitis.

Acetaminophen (Tylenol) adalah salah satu obat mastitis yang bisa Anda dapatkan di apotek karena tergolong obat over the counter (OTC).

Beberapa jenis obat-obatan memang ditakutkan dapat berpengaruh pada cita rasa alami ASI yang diminum bayi.

Namun melansir dari laman Mayo Clinic, acetaminophen (Tylenol) terbilang aman untuk diminum saat Anda sedang dalam masa menyusui.

Aturan minum acetaminophen (Tylenol) yakni sekitar 1-2 tablet dalam kurun waktu 8 jam.

Hindari minum obat ini lebih dari 6 tablet dalam waktu 24 jam. Meski acetaminophen (Tylenol) merupakan obat OTC, sebaiknya patuhi aturan dan dosis minum sesuai sesuai dengan anjuran dokter atau apoteker Anda.

5. Ibuprofen (Advil)

Obat pereda nyeri lainnya yang bisa dibeli dengan bebas di apotek (OTC) yaitu ibuprofen (Advil).

Obat ini aman untuk diminum selama masa menyusui karena kadarnya rendah di dalam ASI.

Akan tetapi, agar lebih aman, sebaiknya bicarakan terlebih dahulu dengan dokter sebelum minum obat-obatan selama menyusui.

Meski obat ini terbilang aman untuk diminum saat menyusui, tapi tetap perhatikan aturan minumnya.

Hindari minum ibuprofen (Advil) lebih dari dosis yang dianjurkan. Selain itu, obat ini juga tidak dianjurkan diminum jika Anda memiliki tukak lambung dan asma.

Ini karena ibuprofen (Advil) bisa mengakibatkan perdarahan lambung dan bronkospasme.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi mastitis laktasi?

Selain dengan obat medis, pengobatan untuk mastitis juga bisa diberikan dengan obat alami.

Menurut International Journal of Phytomedicine, ada beberapa tanaman yang dinilai dapat menjadi obat alami mastitis.

Salah satu tanaman tersebut yakni Momordica charantia yang di Indonesia dikenal sebagai tanaman pare.

Namun, alangkah baiknya untuk tidak menggunakan perawatan ini tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Gaya hidup dan pengobatan rumahan lain yang mungkin dapat membantu mengatasi mastitis adalah sebagai berikut:

  • Jaga kebersihan selama menyusui. Hindari menggunakan pengering, selalu cuci tangan, dan jaga kebersihan puting dan bayi.
  • Hindari dehidrasi. Minum lebih banyak cairan.
  • Istirahat cukup dan makan makanan ibu menyusui.
  • Menyusui dari payudara yang tidak terinfeksi dan kosongkan kedua payudara dengan alat pompa ASI pada payudara yang terinfeksi.
  • Periksa ke dokter dalam 1-2 minggu untuk memastikan apakah infeksi telah sembuh.

Selalu terapkan cara menyimpan ASI yang tepat setelah memompa ASI dan berikan sesuai jadwal menyusui bayi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

Saat memilih bra, Anda mungkin bimbang antara bra kawat atau bra biasa tanpa kawat. Yuk, simak pertimbangan dari para ahli berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak adalah iritasi kulit yang tidak berbahaya bagi kesehatan tetapi dapat mengganggu. Dermatitis kontak adalah penyakit yang disebabkan oleh paparan kulit terhadap penyebab iritasi (iritan), seperti bahan kimia pada kosmetik atau tanaman beracun. Simak lebih lanjut tentang penyebab, gejala, dan obat dermatitis kontak berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Kulit, Dermatitis 10 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Mencegah Eksim dengan Menghindari Pantangan, Apa Saja?

Tak mudah memilih makanan untuk penderita eksim. Selain makanan, Anda pun perlu tahu pantangan eksim lainnya. Cek panduannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Dermatitis 9 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat metode kangguru untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
darah tinggi setelah melahirkan

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit