Kalau vagina terasa nyeri, melakukan segala macam aktivitas pun jadi tak nyaman. Mulai dari duduk, berkendara, sampai berhubungan seksual. Sayangnya, nyeri vagina bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Namun apa sebenarnya yang jadi penyebab nyeri vagina dan bagaimana cara mengatasinya? Simak jawaban berikut ini.

Gejala nyeri vagina

Nyeri pada organ kelamin wanita dikenal dengan istilah vulvodynia. Anda yang punya kondisi ini mungkin merasakan gejala seperti rasa nyeri, perih, panas, atau ngilu di area kelamin. Sebagian orang juga melaporkan rasa gatal yang kadang menyerang.

Namun, tak semua orang mengalami gejala yang sama. Pasalnya, ada dua jenis vulvodynia yang mungkin menyerang perempuan. Perhatikan jenis dan gejalanya di bawah ini, yuk.

Nyeri vagina di segala tempat

Rasa sakit mungkin terasa di seluruh bagian kelamin, tanpa terkecuali. Atau rasa sakitnya berpindah-pindah, di saat yang berbeda. Bahkan tanpa disentuh atau ditekan, vagina bisa terasa nyeri begitu saja.

Nyeri vagina di tempat tertentu

Nyeri vagina hanya muncul di satu area yang sama, misalnya bukaan vagina atau labia (bibir vagina). Biasanya nyeri diikuti dengan sensasi perih seperti terbakar. Jenis vulvodynia yang satu ini umumnya muncul hanya kalau ada pemicunya, seperti berhubungan seks atau duduk kelamaan.

Penyebab nyeri vagina

Hingga saat ini, belum ada jawaban pasti soal penyebab vulvodynia atau nyeri vagina. Menurut para pakar kesehatan reproduksi, nyeri yang muncul tidak menandakan adanya infeksi penyakit menular seksual. Selain itu, para ahli juga tidak melihat tanda-tanda penyakit kulit atau kanker pada wanita yang mengidap vulvodynia. Maka, penyebab kondisi ini masih terus dipelajari.

Namun, dari berbagai contoh kasus yang telah tercatat secara medis, berikut adalah ragam kemungkinan yang bisa menimbulkan rasa nyeri pada area kelamin wanita.

  • Gangguan atau cedera saraf
  • Kejang otot
  • Alergi atau iritasi terhadap bahan kimia tertentu
  • Perubahan hormon
  • Riwayat kekerasan seksual
  • Peradangan di area vagina
  • Pernah operasi peremajaan vagina
  • Pernah kena penyakit menular seksual
  • Sering kena infeksi ragi vagina
  • Aktivitas fisik seperti bersepeda atau naik kuda
  • Sering minum obat antibiotik
  • Duduk terlalu lama
  • Mengenakan pakaian atau celana ketat

Apakah vulvodynia bisa diobati?

Karena penyebab vulvodynia belum ditemukan secara pasti, maka pengobatannya hanya ditujukan untuk meredakan dan mencegah munculnya gejala. Selain itu, pengobatan yang ditawarkan pada setiap wanita mungkin berbeda-beda. Ini tergantung pada gejala yang Anda alami.

Maka, sebaiknya langsung temui dokter untuk mendiskusikan pengobatan yang terbaik buat Anda. Dokter mungkin meresepkan obat-obatan pereda nyeri dan salep khusus untuk arena vagina. Bila dirasa perlu, Anda juga mungkin diberikan obat pengatur hormon.

Perawatan di rumah untuk vulvodynia

Selain pengobatan dari dokter, Anda juga akan dianjurkan untuk melakukan beberapa perubahan dan perawatan untuk mencegah nyeri kambuh. Anda sebaiknya tidak menggunakan sabun pembersih kewanitaan serta pembalut yang mengandung parfum atau bahan kimia keras. Untuk bercinta, selalu pakai pelumas seks supaya penetrasi tidak terasa menyakitkan.

Supaya otot-otot dan saraf di sekitar organ kelamin tidak tegang dan kaku, lemaskan dengan senam Kegel. Anda bisa menyimak panduan melakukan senam Kegel dalam tautan ini.

Kalau nyeri kambuh lagi, kompres dengan gel atau salep khusus pereda nyeri. Membasuh vagina dengan air hangat juga bisa membuat Anda merasa lebih baik. Hindari juga pakai celana yang ketat atau tak ada sirkulasi udaranya.  

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca