home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Manfaat Hebat Ini Bikin Anda Tak Ragu Lagi Makan Sayur Buncis

7 Manfaat Hebat Ini Bikin Anda Tak Ragu Lagi Makan Sayur Buncis

Buncis adalah sayuran berwarna hijau cerah yang mirip dengan kacang panjang. Bedanya, sayuran ini berukuran lebih pendek dan bentuknya agak melebar. Buncis bisa dikonsumsi secara mentah sebagai lalapan atau diolah menjadi sajian sayur pelengkap saat makan nasi. Nah, ternyata buncis memiliki segudang kandungan nutrisi yang dapat memberikan manfaat untuk kesehatan. Yuk, cari tahu selengkapnya dalam artikel ini.

Kandungan nutrisi pada buncis

Sayuran yang memiliki nama latin Phaseolus vulgaris ini memiliki kandungan gizi yang memberikan segudang manfaat kesehatan untuk Anda. Di dalam 100 gram buncis terdapat berbagai nutrisi berikut:

  • Air: 89.6 gram
  • Protein: 24 gram
  • Lemak: 0.3 gram
  • Karbohidrat: 7.2 gram
  • Serat: 1.9 gram
  • Kalsium: 101 miligram (mg)
  • Fosfor: 42 mg
  • Zat besi: 0.7 mg
  • Natrium: 8 mg
  • Kalium: 250 mg
  • Tembaga: 0.07 mg
  • Seng: 0.3 mg
  • Beta-karoten: 772 mcg
  • Karoten total: 550 mcg
  • Thiamin (Vitamin B1): 0.05 mg
  • Riboflavin (Vitamin B2): 0.40 mg
  • Niasin (Vitamin B3): 2.8 mg
  • Vitamin C: 11 mg
Tak hanya itu, buncis juga mengandung banyak nutrisi dan mineral lain yang baik untuk tubuh, seperti vitamin A, vitamin K, dan folat.

Manfaat buncis untuk kesehatan

Berbagai nutrisi dan mineral yang terkandung dalam sayuran ini ternyata dapat membantu mengurangi dan mencegah berbagai kondisi kesehatan. Berdasarkan berbagai penelitian yang sudah dilakukan, berikut manfaat buncis yang perlu Anda ketahui:

1. Meningkatkan kesuburan wanita

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari Harvard Medical School menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang kaya zat besi dapat membantu meningkatkan kesuburan wanita di usia produktif.

Kabar baiknya, buncis adalah salah satu sayuran yang kaya akan zat besi. Jadi, bagi Anda yang ingin cepat hamil, tambahkan buncis ke dalam menu makanan harian Anda untuk mendapatkan manfaat kesehatannya.

Nah, agar tubuh dapat menyerap zat besi secara efektif, imbangi dengan berbagai asupan makanan yang mengandung vitamin C, seperti tomat, buah beri-berian, jeruk, mangga, dan lain sebagainya.

2. Menjaga kesehatan jantung

Meski tubuh Anda membutuhkan kolesterol untuk membantu pertumbuhan sel, asupan kolesterol yang terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh. Kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan penumpukan lemak di arteri.

Jika dibiarkan terus-menerus, penumpukan lemak ini akan mengurangi suplai darah ke jantung dan otak. Akibatnya, Anda lebih mungkin untuk terkena serangan jantung atau penyakit stroke.

Untungnya, sayuran ini tidak mengandung kolesterol sehingga aman dikonsumsi bagi Anda yang sudah terlanjur memiliki kolesterol tinggi. Kandungan serat di dalam buncis juga bermanfaat dalam membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan kadar kolesterol total. Hal ini tentu baik untuk menjaga kesehatan jantung Anda.

3. Memperkuat tulang

Manfaat buncis lainnya adalah membantu memperkuat tulang. Hal ini karena dalam satu cangkir sayuran ini mengandung 14 mikrogram vitamin K, atau memenuhi sekitar 20% kebutuhan harian Anda akan vitamin tersebut.

Vitamin K sendiri berperan untuk mengubah protein dalam tulang, mengoptimalkan penyerapan kalsium, serta mengurangi ekskresi kalsium dari urin. Tak heran jika kekurangan vitamin K sering dihubungkan dengan risiko patah tulang yang lebih tinggi.

Namun ingat, untuk mendapatkan manfaat secara optimal dari vitamin, mineral, dan antioksidan seperti yang ditemukan pada buncis ini, Anda disarankan untuk mengonsumsinya langsung dari sayuran dan buah. Mengonsumsi suplemen tidak akan memberikan manfaat yang sama besarnya dengan mengonsumsi langsung.

4. Menjaga kesehatan janin

Buncis juga memiliki manfaat dalam menjaga kesehatan bayi di dalam kandungan, karena sayuran ini memiliki kandungan asam folat. Nutrisi dalam buncis ini berperan untuk menjaga kesehatan janin di awal pertumbuhannya.

Lebih lanjut, asupan folat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang pada janin. Jika Anda kekurangan asupan asam folat saat sedang hamil, risiko bayi mengalami kelainan saat lahir pun meningkat.

Selain itu, folat juga dibutuhkan untuk mencegah anemia pada ibu hamil. Oleh sebab itu, tak heran jika para ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi sayuran hijau yang satu ini. Anda dapat memenuhi kebutuhan asam folat harian hingga 10% jika mengonsumsi 100 gram buncis.

5. Meredakan depresi

Konsumsi asam folat yang cukup juga dapat mencegah kelebihan homosisteine dalam tubuh. Homosistein sendiri merupakan molekul yang dibutuhkan tubuh untuk mensintesis semua protein tubuh dalam tubuh.

Nah, kelebihan homosistein justru dapat menghentikan suplai darah dan nutrisi lain ke otak. Suplai darah yang menurun ke otak dapat mengganggu produksi hormon serotonin, dopamin, dan norepinefrin, yang semuanya berperan untuk mengatur suasana hati, keinginan untuk tidur, hingga nafsu makan.

Jadi, bisa dibayangkan, kan, kalau tubuh Anda kekurangan folat? Oleh sebab itu, mengonsumsi buncis juga membantu Anda untuk memenuhi kebutuhan folat yang memiliki manfaat untuk meredakan sekaligus mencegah depresi.

6. Menurunkan berat badan

Bagi Anda yang sedang menjaga pola makan demi menurunkan berat badan, mengonsumsi buncis bisa jadi pilihan yang terbaik. Mengapa? Ternyata, buncis memiliki kandungan kalori yang rendah. Namun, sayuran ini memiliki kandungan nutrisi lain yang dapat membantu Anda menjaga berat badan, salah satunya serat.

Oleh sebab itu, mengonsumsi buncis memberikan manfaat dalam membantu menurunkan berat badan. Tak hanya itu, buncis bisa diolah ke dalam berbagai bentuk makanan, sehingga Anda tidak perlu takut merasa bosan jika ingin mengonsumsinya setiap hari.

7. Menjaga kesehatan pencernaan

Sayuran hijau ini termasuk dalam golongan makanan yang memiliki kandungan FODMAP rendah, sehingga dapat dinikmati oleh semua orang. Bahkan, buncis juga bisa dikonsumsi oleh Anda yang memiliki riwayat pencernaan kronis.

FODMAP sendiri merupakan singkatan dari Fermentable Oligo, Disakarida, Monosakarida, serta Poliol. Berbagai senyawa tersebut merupakan karbohidrat yang tidak mudah dicerna atau dimetabolisme tubuh. Alhasil, bisa menyebabkan berbagai gangguan pencernaan seperti kembung, sakit perut, diare, dan sembelit.

Tak hanya itu, mengonsumsi makanan yang tinggi FODMAP juga dapat memperburuk kondisi pencernaan seperti sindrom iritasi usus (IBS) dan refluks asam lambung. Oleh sebab itu, dengan mengonsumsi buncis, Anda bisa mendapatkan manfaat dalam menjaga kesehatan pencernaan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Follow the Fertility Diet? Retrieved 19 February 2021, from https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/follow-fertility-diet

McRae M. P. (2017). Dietary Fiber Is Beneficial for the Prevention of Cardiovascular Disease: An Umbrella Review of Meta-analyses. Journal of chiropractic medicine16(4), 289–299. https://doi.org/10.1016/j.jcm.2017.05.005

Soliman G. A. (2019). Dietary Fiber, Atherosclerosis, and Cardiovascular Disease. Nutrients11(5), 1155. https://doi.org/10.3390/nu11051155

Greenberg, J. A., Bell, S. J., Guan, Y., & Yu, Y. H. (2011). Folic Acid supplementation and pregnancy: more than just neural tube defect preventionReviews in obstetrics & gynecology4(2), 52–59.

Richmond, R. C., Sharp, G. C., Herbert, G., Atkinson, C., Taylor, C., Bhattacharya, S., Campbell, D., Hall, M., Kazmi, N., Gaunt, T., McArdle, W., Ring, S., Davey Smith, G., Ness, A., & Relton, C. L. (2018). The long-term impact of folic acid in pregnancy on offspring DNA methylation: follow-up of the Aberdeen Folic Acid Supplementation Trial (AFAST). International journal of epidemiology47(3), 928–937. https://doi.org/10.1093/ije/dyy032

Magge, S., & Lembo, A. (2012). Low-FODMAP Diet for Treatment of Irritable Bowel SyndromeGastroenterology & hepatology8(11), 739–745.

Bellini, M., Tonarelli, S., Nagy, A. G., Pancetti, A., Costa, F., Ricchiuti, A., de Bortoli, N., Mosca, M., Marchi, S., & Rossi, A. (2020). Low FODMAP Diet: Evidence, Doubts, and Hopes. Nutrients12(1), 148. https://doi.org/10.3390/nu12010148
Bender, A., Hagan, K. E., & Kingston, N. (2017). The association of folate and depression: A meta-analysis. Journal of psychiatric research95, 9–18. https://doi.org/10.1016/j.jpsychires.2017.07.019
Evans C. (2020). Dietary fibre and cardiovascular health: a review of current evidence and policy. The Proceedings of the Nutrition Society79(1), 61–67. https://doi.org/10.1017/S0029665119000673

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal diperbarui 17/03/2021
x