Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Manfaat Ikan Baik untuk Kurangi Risiko Berbagai Penyakit

    Manfaat Ikan Baik untuk Kurangi Risiko Berbagai Penyakit

    Ikan dikenal sebagai sumber protein yang baik bagi tubuh, selain daging dan ayam. Sayangnya, konsumsi ikan di Indonesia masih sedikit. Padahal, ada beragam manfaat ikan, baik untuk anak-anak, hingga orang dewasa.

    Apa saja manfaat makan ikan?

    manfaat makan ikan

    Konsumsi ikan di Indonesia masih tergolong rendah, terutama untuk penduduk di Pulau Jawa.

    Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, penduduk di Pulau Jawa mengonsumsi ikan rata-rata sebanyak 40,123 kg per orang selama setahun.

    Sementara itu, konsumsi ikan per orang pada Pulau Sumatera dan Kalimantan sebesar 54,648 kg per tahun.

    Di Indonesia bagian timur, konsumsinya ikan per orang sebanyak 62,92 kg per tahun.

    Banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih makan daging sapi dan ayam sebagai sumber protein dibandingkan ikan. Padahal, zat gizi dalam ikan tak kalah tinggi.

    Ditambah lagi, harga ikan mungkin lebih terjangkau dibandingkan daging dan ayam. Oleh karena itu, Anda perlu tahu berbagai manfaat makan ikan di bawah ini.

    1. Membantu pertumbuhan otak anak

    Selain protein yang tinggi, ikan juga mengandung asam lemak omega-3.

    Omega-3 adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai makanan untuk pertumbuhan otak bayi dan menjaga kesehatan otak pada orang tua.

    Studi terbitan Nutrients (2014) menemukan bahwa asam lemak omega pada ikan baik meningkatkan fungsi otak, terutama untuk kemampuan belajar, ingatan, dan perkembangan otak.

    2. Menurunkan risiko penyakit Alzheimer

    Masih berkaitan dengan otak, manfaat ikan ini baik untuk orang dewasa.

    Sebuah penelitian terbitan American Journal of Preventive Medicine (2014) menemukan bahwa orang yang makan ikan dengan cara dipanggang memiliki volume otak lebih besar dengan sel otak lebih besar.

    Para ahli percaya volume otak yang lebih besar bisa meningkatkan fungsi ingatan dan pembelajaran.

    Orang yang memiliki volume otak lebih besar juga diyakini memiliki risiko penurunan fungsi kognitif otak dan penyakit Alzheimer yang lebih rendah.

    Ini ada kaitannya dengan substansi abu-abu di otak atau bagian otak yang mengandung neuron yang memproses informasi dan menyimpan ingatan.

    Penelitian menunjukkan konsumsi ikan setiap minggu berefek pada pertambahan jumlah substansi abu-abu tersebut.

    3. Baik untuk kesehatan tulang dan gigi

    Manfaat makan ikan tentu baik untuk tulang dan gigi. Pasalnya, ikan merupakan sumber mineral yang penting untuk kepadatan tulang, seperti kalsium dan fosfor.

    Selain itu, ikan juga kaya akan vitamin D yang membantu penyerapan kedua mineral tersebut.

    Ketiga kandungan ini tentu dibutuhkan untuk kesehatan sistem gerak, seperti pertumbuhan tulang dan gigi anak, hingga mengurangi risiko osteoporosis pada orang dewasa dan lansia.

    4. Turunkan risiko penyakit jantung

    manfaat ikan kurangi risiko penyakit jantung

    The American Heart Association dan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan konsumsi ikan setidaknya 2 kali per minggu untuk mengurangi risiko penyakit jantung.

    Manfaat ikan yang satu ini berasal dari kandungan mineral yang dapat membantu menurunkan tekanan darah, seperti kalsium, kalium, dan dan magnesium.

    Kalium dan magnesium membantu melemaskan dinding jantung. Kalium juga menjaga detak jantung agar tetap normal.

    Selain itu, kalsium membantu mengatur kontraksi dan pelemasan pembuluh darah jika diperlukan.

    Asam omega-3 pada ikan bisa mengurangi kolesterol dan lemak pada darah atau trigliserida.

    Hal ini membantu mengurangi penyumbatan pembuluh darah yang bisa meningkatkan berbagai risiko penyakit jantung, seperti serangan jantung dan stroke.

    5. Mengurangi risiko depresi

    Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa manfaat ikan dapat membantu mengurangi risiko kondisi depresi. Hal ini mungkin karena kandungan omega-3 dalam ikan.

    Penelitian terbitan Oxidative Medicine and Cellular Longevity (2014) menjelaskan bahwa orang dengan depresi dan stres kronis biasanya memiliki peradangan pada sistem sarafnya.

    Nah, kandungan omega-3 pada ikan ini bekerja mengurangi peradangan pada tubuh.

    Selain itu, omega-3 membantu mempertahankan dan meningkatkan kualitas struktur otak sehingga fungsinya tetap terjaga. Hal inilah yang turut membantu mengurangi gejala depresi.

    Omega-3 dalam ikan juga dapat membantu mengatasi gangguan mental lainnya, seperti gangguan bipolar.

    6. Menurunkan risiko asma pada anak

    Siapa sangka bila manfaat ikan bisa mengurangi risiko gangguan pernapasan yang satu ini?

    Penelitian PLos ONE (2013) menemukan bahwa mengonsumsi ikan menurunkan risiko asma pada anak hingga 24 persen. Lagi-lagi, manfaat ini didapat karena kandungan asam lemak omega-3.

    Dalam hal ini, omega-3 menekan respons sel terhadap pemicu asma.

    Selain itu, anak dengan asma memiliki peradangan kronis yang mengganggu sistem imunnya.

    Nah, omega-3 pada ikan membantu mengurangi peradangan tersebut.

    7. Menjaga kesehatan mata

    Manfaat ikan berpotensi melindungi mata dari penurunan fungsi karena penuaan.

    Penelitian menunjukkan rutin konsumsi ikan berhubungan dengan penurunan degenerasi makula pada wanita hingga 42 persen.

    Kandungan omega-3 dalam ikan mampu mengurangi senyawa peradangan yang memicu degenerasi makula.

    Selain itu, omega-3 pada ikan meningkatkan produksi molekul resolvin dan neuroprotectin yang juga bisa meredam dan mengatasi respons peradangan.

    Karena baik untuk kesehatan jantung, omega-3 membantu melancarkan aliran darah menuju mata.

    8. Menurunkan risiko penyakit autoimun

    Penyakit autoimun adalah penyakit yang muncul akibat sistem imun yang menyerang bagian tubuh yang sehat.

    Penelitian terbitan BMJ (2022) mengatakan bahwa manfaat ikan mampu mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit imun, seperti:

    Vitamin D dan omega-3 membantu meningkatkan kualitas kekebalan tubuh. Jadi, sistem imun tidak menyerang tubuh yang sehat.

    Selain itu, omega-3 mengatur peradangan di dalam tubuh yang berperan penting pada munculnya penyakit autoimun.

    9. Meningkatkan kualitas tidur

    Tidak hanya menurunkan risiko berbagai penyakit, makan ikan ternyata baik untuk menjaga tidur Anda.

    Orang yang mengalami masalah tidur biasanya mengalami kekurangan vitamin D. Mengonsumsi ikan mampu mencukupi kebutuhan vitamin D Anda.

    Selain itu, beberapa ikan seperti cakalang dan salmon kaya akan vitamin B6. Vitamin ini meningkatkan kadar melatonin dan serotonin di dalam tubuh.

    Keduanya merupakan senyawa yang bisa memicu rasa kantuk pada malam hari.

    Manfaat ikan baik untuk memenuhi kebutuhan gizi harian, meningkatkan kondisi kesehatan, hingga menurunkan risiko penyakit berbahaya.

    Manfaat ini akan didapat secara maksimal bila Anda mengetahui cara memasak yang tepat.

    Rangkuman

    • Mengonsumsi ikan baik untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh, mulai dari fisik dan mental.
    • Sebagian besar manfaat berasal dari omega-3 dan vitamin D.
    • Ikan kaya akan mineral yang baik untuk kesehatan tulang hingga jantung.
    • Konsumsilah ikan sebanyak 2 kali per minggu untuk memperoleh manfaatnya dengan maksimal.

    health-tool-icon

    Kalkulator Kebutuhan Kalori

    Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    AKI – Angka Konsunsi Ikan. (2022). Retrieved 18 July 2022, from https://statistik.kkp.go.id/home.php?m=aki&i=209#panel-footer

    Stonehouse, W. (2014). Does Consumption of LC Omega-3 PUFA Enhance Cognitive Performance in Healthy School-Aged Children and throughout Adulthood? Evidence from Clinical Trials. Nutrients, 6(7), 2730-2758. doi: 10.3390/nu6072730

    Raji, C., Erickson, K., Lopez, O., Kuller, L., Gach, H., & Thompson, P. et al. (2014). Regular Fish Consumption and Age-Related Brain Gray Matter Loss. American Journal Of Preventive Medicine, 47(4), 444-451. doi: 10.1016/j.amepre.2014.05.037

    Fish and Omega-3 Fatty Acids. (2022). Retrieved 18 July 2022, from https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/fats/fish-and-omega-3-fatty-acids

    Makan Ikan Dua Kali Seminggu – Direktorat P2PTM. (2018). Retrieved 18 July 2022, from http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/makan-ikan-dua-kali-seminggu

    Key minerals to help control blood pressure – Harvard Health. (2014). Retrieved 18 July 2022, from https://www.health.harvard.edu/heart-health/key-minerals-to-help-control-blood-pressure

    Omega-3 fats – Good for your heart: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 18 July 2022, from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000767.htm

    Grosso, G., Galvano, F., Marventano, S., Malaguarnera, M., Bucolo, C., Drago, F., & Caraci, F. (2014). Omega-3 Fatty Acids and Depression: Scientific Evidence and Biological Mechanisms. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2014, 1-16. doi: 10.1155/2014/313570

    Yang, H., Xun, P., & He, K. (2013). Fish and Fish Oil Intake in Relation to Risk of Asthma: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLos ONE, 8(11), e80048. doi: 10.1371/journal.pone.0080048

    Christen, W. (2011). Dietary ω-3 Fatty Acid and Fish Intake and Incident Age-Related Macular Degeneration in Women. Archives of Ophthalmology, 129(7), 921. doi: 10.1001/archophthalmol.2011.34

    Hahn, J., Cook, N., Alexander, E., Friedman, S., Walter, J., & Bubes, V. et al. (2022). Vitamin D and marine omega 3 fatty acid supplementation and incident autoimmune disease: VITAL randomized controlled trial. BMJ, e066452. doi: 10.1136/bmj-2021-066452

    Peuhkuri, K., Sihvola, N., & Korpela, R. (2012). Dietary factors and fluctuating levels of melatonin. Food & Nutrition Research, 56(1), 17252. doi: 10.3402/fnr.v56i0.17252

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui 2 weeks ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan