Hati-Hati, Diet Malah Bisa Bikin Gemuk

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Diet merupakan salah satu upaya seseorang untuk menurunkan berat badannya. Banyak orang, terutama perempuan, melakukan diet dengan beragam cara. Ada yang membatasi asupan lemaknya, membatasi asupan karbohidrat, bahkan sampai tidak makan nasi. Memang ada banyak cara diet yang dapat dilakukan seseorang, tetapi belum tentu semuanya membuat berat badan Anda turun dan yang paling penting adalah belum tentu semuanya sehat untuk Anda.

Diet hanya bekerja dalam jangka pendek

Banyak orang merasa bahwa ia berhasil menurunkan beberapa kilogram berat badannya setelah diet dan juga merasa puas. Kepuasan itu membuatnya berpikir ia bisa bebas makan apa saja dan melupakan dietnya setelah berhasil menurunkan berat badan. Inilah yang membuat berat badan Anda naik lagi setelah berhasil menjalani diet. Orang banyak lupa bahwa dampak diet tidaklah lama.

Penurunan berat badan yang tidak dipelihara membuat berat badan seseorang naik lagi setelah diet. Anda cenderung mendapatkan berat badan kembali setelah diet, ini dinamakan dengan diet-induced weight-gain dan dapat berkontribusi terhadap obesitas.

Orang yang diet bisa mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak diet dengan gen dan tubuh yang sama. Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian Pietilaine, et al (2011) pada pasangan kembar berusia 16-25 tahun di Finlandia. Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang melakukan diet penurunan berat badan memiliki kemungkinan 2-3 kali untuk mengalami kelebihan berat badan dibandingkan dengan rekannya yang tidak menjalankan diet. Juga, risiko kelebihan berat badan meningkat tergantung dari perilaku di setiap episode dietnya.

Diet bisa meningkatkan kenaikan berat badan Anda

Penelitian oleh Traci Mann tahun 2007 menyimpulkan bahwa diet merupakan prediktor yang konsisten terhadap kenaikan berat badan. Orang yang melakukan diet biasanya kehilangan 5-10% dari berat badan awalnya selama 6 bulan. Namun, kemudian sebesar dua per tiga individu mengalami kenaikan berat badan kembali lebih dari berat badannya yang hilang saat diet selama empat atau lima tahun setelah diet.

Sama seperti penelitian Mann, penelitian oleh Neumark-Sztainer (2006), yang dilakukan selama lima tahun, juga membuktikan bahwa remaja yang diet mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menjadi gemuk dibandingkan dengan remaja yang tidak diet.

Menurut Mann, olahraga mungkin menjadi faktor kunci untuk keberhasilan mempertahankan berat badan yang sudah hilang agar tidak kembali lagi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak individu melakukan olahraga semakin banyak pula berat badan yang hilang.

Selain meningkatkan kenaikan berat badan, diet juga dikaitkan dengan obsesi terhadap makanan, binge-eating, dan makan tanpa rasa lapar. Diet juga dihubungkan dengan obesitas dan gangguan perilaku makan, menurut penelitian Haines dan Neumark-Sztainer (2006).

Kehilangan berat badan kemudian mendapatkannya lagi secara berulang juga dapat membawa dampak buruk pada kesehatan. Hal ini berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, diabetes, dan mengganggu fungsi kekebalan tubuh.

Apa yang menyebabkan diet bikin gemuk?

Pada saat diet, sebenarnya tubuh Anda tidak tahu bahwa Anda sedang diet. Tubuh Anda mengartikan diet sebagai bentuk kelaparan. Sel-sel dalam tubuh Anda tidak mengerti bahwa Anda sedang membatasi asupan makan Anda. Pada saat diet, di mana asupan Anda sedikit, tubuh akan meresponnya dengan melambatkan proses metabolisme dan membuat keinginan Anda terhadap makanan meningkat.

Hormon pada usus, pankreas, dan jaringan lemak sangat mempengaruhi berat badan, juga proses kelaparan dan pembakaran kalori. Saat Anda diet dan terjadi penurunan berat badan dan lemak tubuh, maka juga akan menyebabkan penurunan kadar hormon tertentu, seperti hormon leptin (pemberi sinyal kenyang), dan peningkatan hormon ghrelin (pemberi sinyal lapar).

Seperti yang dibuktikan pada penelitian Joseph Proietto, seorang profesor kedokteran di University of Melbourne, kadar hormon leptin, ghrelin, dan insulin berubah karena penurunan berat badan saat diet. Akibatnya, partisipan pada penelitian tersebut merasa selalu lapar, baik sebelum maupun sesudah makan.

Diet membuat Anda tidak mengetahui isyarat lapar dan kenyang dari tubuh Anda, sehingga Anda lebih mudah untuk makan lebih banyak walaupun Anda sedang tidak lapar dan Anda menjadi tidak percaya terhadap isyarat makan biologis Anda.

Penelitian Proietto juga menjelaskan bahwa orang yang diet akan merasa lebih lapar dan keinginan untuk makannya meningkat dibandingkan sebelum mereka melakukan diet. Menurut penelitian tersebut, hal ini terjadi karena otak orang yang diet akan lebih banyak melepaskan hormon yang membuat mereka merasa lapar. Metabolisme mereka juga melambat dan makanan yang mereka makan lebih banyak disimpan dalam bentuk lemak.

Walaupun Anda sudah tidak diet lagi dan mungkin kadar hormon mendekati stabil, namun tingkat rasa lapar Anda akan tetap meningkat. Hal inilah yang bisa membuat Anda makan lebih banyak dan akhirnya berat badan Anda bisa meningkat melebihi berat badan Anda sebelum diet. Untuk itu, pemeliharaan pola makan selepas diet juga masih diperlukan untuk tetap menjaga berat badan Anda. Kepribadian dan faktor psikologis mungkin berperan dalam kemampuan individu untuk mengelola rasa lapar, jelas Proietto.

 

BACA JUGA

 

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    11 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Penderita Sakit Maag

    Beberapa jenis makanan dan minuman ternyata bermanfaat untuk meringankan keluhan pada penderita sakit maag. Apa saja daftarnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Kesehatan Pencernaan, Gastritis & Maag 11 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

    Olahraga Kardio vs Angkat Beban: Mana yang Lebih Cepat Turunkan Berat Badan?

    Olahraga adalah cara mendapatkan berat badan ideal yang paling efektif. Namun dari semua jenis, mana yang lebih manjur: olahraga kardio atau angkat beban?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Olahraga Kardio, Kebugaran 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Perlukah Melakukan Medical Check Up secara Rutin?

    Medical check up dapat membantu Anda mengetahui kondisi kesehatan yang dimiliki. Tes pemeriksaan apa saja yang biasa dilakukan dalam medical check up?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    4 Alternatif Sehat Pengganti Kopi di Pagi Hari

    Tahukah Anda bahwa minum kopi sebaiknya tidak dilakukan di pagi hari? Lalu apa yang bisa jadi alternatifnya?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Tips Makan Sehat, Nutrisi 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    diet alpukat

    Mengenal Diet Alpukat, Betulkah Bermanfaat untuk Turun Berat Badan?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    pilihan beras untuk menurunkan berat badan

    Beras Merah vs Beras Shirataki, Mana yang Efektif untuk Diet?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

    Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

    Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit