Tak Hanya Cedera, Ini Berbagai Penyebab Patah Tulang yang Mungkin Terjadi

    Tak Hanya Cedera, Ini Berbagai Penyebab Patah Tulang yang Mungkin Terjadi

    Tulang yang patah atau fraktur tidak hanya menimbulkan gejala yang menyakitkan, tetapi juga bisa memicu komplikasi penyakit lain. Bahkan, pada kasus yang parah, patah tulang bisa menimbulkan kecacatan hingga kematian pada penderitanya. Namun, tahukah Anda apa saja penyebab fraktur atau patah tulang? Adakah faktor tertentu yang meningkatkan risiko seseorang terkena patah tulang? Berikut ulasannya untuk Anda.

    Penyebab fraktur atau patah tulang yang perlu Anda tahu

    Pada dasarnya, tulang bersifat kaku, kuat, dan kokoh, yang dapat menopang tubuh dan membantu manusia untuk bergerak. Meski demikian, jaringan yang kaku dan kuat ini dapat patah pada sewaktu-waktu hingga menimbulkan berbagai gejala patah tulang.

    Umumnya, penyebab dari patah tulang adalah tekanan pada tulang yang sangat kuat, yang melebihi kekuatan tulang itu sendiri. Pada kondisi ini, tulang tidak dapat menahan kuatnya tekanan tersebut, sehingga menimbulkan keretakan, pecah, atau patah, hingga bergeser atau terlepas dari titiknya.

    Namun tak hanya itu, penyebab fraktur juga bisa berupa kondisi tertentu yang melemahkan tulang. Pada kondisi ini, tulang menjadi rentan patah dan bisa menjadi serius meski hanya mendapat tekanan yang ringan. Berikut beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab patah tulang pada seseorang:

    Cedera atau trauma

    Cedera atau trauma adalah penyebab fraktur yang paling sering terjadi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh jatuh, kecelakaan motor atau mobil, cedera saat berolahraga, atau pukulan dan benturan langsung ke arah tubuh. Penyebab ini dapat terjadi pada siapapun, baik patah tulang pada anak maupun orang dewasa, termasuk bagi yang merasa sehat sekalipun.

    Gerakan berulang

    Gerakan berulang atau terlalu sering menggunakan bagian tubuh yang sama, seperti berlari atau melompat, dapat menekan tulang di area tubuh tersebut hingga menyebabkan patah atau retak. Kondisi ini umumnya menimbulkan patah tulang kaki (termasuk pergelangan kaki dan tungkai) atau patah tulang pinggul, serta jenis fraktur tertentu, yaitu fraktur stres atau hairline.

    Patah tulang akibat gerakan yang berulang ini biasanya dialami oleh atlet atau anggota militer. Namun, siapapun juga bisa mengalaminya.

    Osteoporosis

    Osteoporosis adalah kondisi ketika tulang menjadi lebih rapuh akibat kerusakan tulang atau kepadatan tulang yang rendah. Pada kondisi ini, tulang menjadi rentan patah meski hanya mendapat tekanan kecil, seperti jatuh yang tidak parah, benturan ringan, atau hanya melakukan gerakan sehari-hari, seperti memutar atau membungkukkan badan.

    Penyebab fraktura ini umumnya terjadi pada lansia, dan biasanya mengalami patah tulang belakang.

    Kanker tulang

    Kanker tulang juga disebut bisa menjadi salah satu penyebab patah tulang. Sama seperti osteoporosis, kanker tulang juga berisiko menyebabkan tulang seseorang menjadi lemah, hingga rentan patah meski hanya mendapat tekanan ringan.

    Faktor risiko yang mungkin bisa menjadi penyebab fraktur

    Selain penyebab-penyebab di atas, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami patah tulang. Namun, memiliki satu atau lebih faktor risiko di bawah ini bukan berarti Anda akan pasti terkena fraktur.

    Meski demikian, menghindari beberapa faktor ini mungkin dapat membantu menurunkan risiko terjadinya patah tulang pada masa mendatang. Berikut faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami fraktur atau patah tulang:

    Usia dan jenis kelamin

    American Bone Health menyebut, sebagai faktor risiko, usia dan jenis kelamin merupakan pendorong terbesar terjadinya patah tulang. Wanita disebut lebih berisiko mengalami patah tulang pada usia lanjut dibandingkan pria.

    Faktanya, satu dari dua wanita di atas usia 50 tahun mengalami patah tulang pada sisa hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena tulang wanita memiliki ukuran yang lebih kecil dan kepadatan tulangnya pun lebih rendah dibandingkan pria, termasuk saat masih pada usia muda.

    Selain itu, penurunan estrogen yang dialami wanita pada saat menopause juga bisa menjadi penyebab terjadinya patah tulang. Di sisi lain, dalam beberapa penelitian menyebutkan, hanya 25 persen pria di atas usia 50 tahun yang berisiko mengalami fraktur pada sisa hidupnya.

    Merokok

    Kandungan zat di dalam rokok dapat memengaruhi kepadatan tulang, mengurangi penyerapan kalsium dan menurunkan kadar vitamin D, mengubah kadar hormon, dan mengurangi massa tubuh. Dengan demikian, seseorang yang merokok memiliki tulang yang lebih lemah, sehingga lebih berisiko patah.

    Selain itu, merokok juga memperlambat proses pemulihan patah tulang, sehingga lebih berisiko mengalami komplikasi. Khusus bagi wanita, merokok dapat mempercepat terjadinya menopause, sehingga lebih cepat pula kemungkinan terjadinya patah tulang.

    Konsumsi alkohol

    Mengonsumsi alkohol secara berlebihan merupakan salah satu faktor risiko patah tulang. Pasalnya, alkohol yang berlebih dapat menurunkan kualitas tulang dan meningkatkan risiko terjadinya pengeroposan tulang atau osteoporosis, yang merupakan salah satu penyebab dari fraktur.

    Obat kortikosteroid

    Penggunaan obat kortikosteroid (steorid) pada jangka panjang dan dengan dosis yang meningkat dapat menyebabkan seseorang mengalami pengeroposan tulang. Pasalnya, obat steroid dengan dosis tertentu dapat menghambat pembentukan tulang, membatasi penyerapan kalsium, dan meningkatkan pembuangan kalsium melalui urine.

    Rheumatoid arthritis

    Penyakit rematik atau rheumatoid arthritis dapat menyerang sel dan jaringan sehat yang ada di sekitar sendi. Adapun kondisi ini dapat mengakibatkan pengeroposan tulang dan sendi yang parah, yang merupakan salah satu penyebab fraktur atau patah tulang. Seseorang dengan rematik pun umumnya mengonsumsi obat steroid untuk mengatasi penyakitnya, yang merupakan faktor risiko patah tulang lainnya.

    Kelainan kronis lain, seperti penyakit Celiac, Crohn, dan kolitis ulseratif

    Sama seperti rematik, ketiga penyakit ini pun umumnya meningkatkan risiko pengeroposan tulang karena obat steroid yang digunakan. Selain itu, ketiga kondisi ini juga menyebabkan berkurangnya kemampuan saluran gastrointestinal untuk menyerap cukup kalsium guna membuat dan mempertahankan tulang yang kuat.

    Pernah mengalami fraktur

    Bila Anda pernah mengalami patah tulang atau fraktur, Anda pun berisiko lebih tinggi untuk mengalami hal yang sama pada masa mendatang. Umumnya, patah tulang belakang adalah kondisi yang dapat Anda rasakan pada masa berikutnya. Konsultasikan dengan dokter mengenai adanya kemungkinan tersebut.

    Riwayat keluarga

    Tidak semua jenis patah tulang disebabkan oleh faktor riwayat keluarga. Umumnya, hal ini terjadi pada jenis patah tulang pinggul. Bila Anda memiliki orangtua yang memiliki patah tulang pinggul, Anda berisiko mengalami hal yang sama pada masa mendatang.

    Kekurangan nutrisi

    Kekurangan kalsium dan vitamin D dalam tubuh saat masih muda dapat menurunkan kepadatan tulang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya patah tulang pada kemudian hari. Sebaliknya, kalsium dan vitamin D juga merupakan dua nutrisi penting yang perlu ada dalam makanan untuk penderita patah tulang, guna membantu mempercepat proses penyembuhan.

    Kurang aktif

    Tak hanya nutrisi dari makanan, kurang aktif bergerak atau berolahraga juga bisa menjadi faktor penyebab fraktur pada masa mendatang. Pasalnya, olahraga secara teratur dapat memperkuat tulang dan otot, sehingga kemungkinan terjadinya cedera akibat jatuh lebih rendah.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Tania Savitri

    General Practitioner · Integrated Therapeutic


    Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 09/11/2020

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan