Psst, Ternyata Begini Selera Musik Seorang Psikopat. Apakah Sama Dengan Anda?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Ketika mendengar kata psikopat, Anda mungkin langsung membayangkan sosok kejam yang tidak punya rasa kasihan pada orang lain. Hal-hal ini memang masuk ke dalam kriteria seorang psikopat. Namun, mendeteksi sifat psikopati dalam diri seseorang tidak sesederhana itu.

Penelitian terbaru dari New York University di Amerika Serikat (AS) mencoba untuk mengamati lebih jauh apakah ada kriteria tambahan yang bisa mendeteksi adanya gangguan psikopati. Dalam penelitian ini, selera musik seseorang jadi standarnya. Apa bisa mendeteksi psikopat dari selera musiknya? Cari tahu jawabannya di bawah ini.      

Sebenarnya apa itu psikopat?

Psikopat adalah seseorang yang manipulatif dan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Psikopat belajar untuk meniru emosi, yang sebenarnya tidak mereka rasakan, dan akan tampak seperti orang yang normal.

Seorang psikopat sering kali berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang stabil. Bahkan beberapa ada yang sangat pandai memanipulasi dan menyembunyikan sifat psikopatinya sehingga mereka memiliki keluarga dan hubungan jangka panjang lainnya tanpa seorangpun tahu sifat sejati mereka.

Gangguan ini bisa disebabkan oleh kelainan genetik yang memang dibawa sejak lahir, tapi bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana seseorang dibesarkan. Misalnya jika seseorang mengalami trauma psikologis yang serius.

Mengintip selera musik psikopat

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di harian The Guardian, memang pemilik sifat psikopati menyukai genre musik tertentu. Walau sering digambarkan menyukai musik klasik, ternyata psikopat justru menyukai musik-musik populer.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari New York University, sekitar 200 orang diuji untuk menentukan skor psikopat mereka. Kemudian mereka diperdengarkan 260 lagu yang berbeda.

Para peserta kemudian diminta untuk menilai setiap lagu dan para peneliti menarik data tersebut lalu menghubungkannya dengan skor psikopat para responden. Genre yang paling disukai oleh psikopat adalah rap, R&B, diikuti oleh musik rock. Sebaliknya, peserta dengan skor psikopat rendah cenderung menyukai lagu-lagu pop.

Peneliti menemukan bahwa orang-orang yang mendapat nilai tinggi dalam tes psikopati cenderung memberi angka tinggi pada lagu seperti No Diggity oleh Blackstreet (genre R&B) dan Lose Yourself dari Eminem (genre rap).

Sementara itu, mereka yang berada di pinggir spektrum psikopati cenderung menjadi penggemar lagu My Sharona dari The Knacks dan Titanium oleh Sia. Keduanya masuk ke dalam genre pop-rock dan dance.

earworm musik terngiang-ngiang

Apakah bisa mendeteksi sifat psikopati dari selera musik seseorang?

Jawaban sederhananya, tidak bisa. Tidak mungkin mendeteksi gangguan psikologis apa pun hanya dari selera musik seseorang. Gangguan psikologis, termasuk psikopati, sejauh ini hanya bisa dideteksi melalui serangkaian tes oleh spesialis kesehatan jiwa serta psikolog.

Para ahli di balik penelitian ini menekankan bahwa ini merupakan hasil awal dan tidak diterbitkan. Namun, para peneliti cukup tertarik untuk meluncurkan sebuah penelitian besar di mana ribuan orang di seluruh spektrum psikopati akan ditanyai mengenai selera musik mereka.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan cara mendeteksi seorang psikopat secara cepat. Para peneliti percaya bahwa lagu bisa membantu memprediksi siapa yang memiliki gangguan, yang mempengaruhi sekitar satu persen orang. Namun, penelitian ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Jika Anda sering panik mendadak tanpa sebab, mungkin Anda mengalami panic attack. Apa itu panic attack dan apa bedanya dengan anxiety?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

5 Penyebab Bercak Putih di Puting Susu dan Cara Mengatasinya

Pernahkah Anda memiliki bintik atau bercak putih di puting susu atau sekitarnya? Tak usah khawatir, kenali penyebab dan cara mengatasinya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
telat datang bulan

Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mengatasi kesepian

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit