Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang pasti pernah mengalami fase di mana mereka memiliki sifat pemalu atau canggung berhadapan dengan orang lain. Meskipun demikian, sebagian orang mengalami gangguan kepribadian yang menyebabkan mereka sengaja menghindari interaksi dengan orang lain atau dikenal dengan istilah avoidant personality disorder. Hal tersebut didasari dengan rasa malu dan terlalu takut akan apa yang orang pikirkan, sehingga mereka cenderung menghindar untuk berinteraksi dengan orang lain.

Apa itu avoidant personality disorder?

Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian di mana penderitanya menghindari interaksi sosial karena merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Ia juga memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap penolakan orang lain. Gangguan kepribadian ini bukan hanya terjadi sementara saja di satu fase kehidupan, tapi cenderung menetap.

Pengidap avoidant personality disorder cenderung khawatir mengecewakan orang lain dan takut terhadap kritik yang ditujukan kepada dirinya, sehingga ia cenderung menghindari berbagai aktivitas. Dalam hubungan sosial, mereka lebih memilih untuk menyendiri atau merasa kesepian dibandingkan mencoba menjalin hubungan dengan orang lain.

Bagaimana seseorang dapat mengalami avoidant personality disorder?

Meskipun termasuk salah satu penyakit kejiwaan, para ahli yakin bahwa avoidant personality disorder tidak muncul dengan sendirinya, dan tidak pula dipengaruhi oleh satu faktor dominan saja. Kelainan ini terbentuk akibat kombinasi dari faktor biologis (sifat yang diturunkan), sosial (cara individu berinteraksi di masa perkembangan) dan psikologis (emosi, kepribadian dan temperamen) yang terbentuk dalam suatu lingkungan.

Hal ini juga dapat dipicu oleh trauma masa kecil akibat penolakan atau dijauhi oleh keluarga dan teman sebaya. Sebagian besar avoidant personality disorder berkembang di masa perkembangan. Remaja dan dewasa pengidap avoidant personality disorder cenderung tetap bersifat pemalu atau bahkan bertambah parah dan menyebabkan mereka mengisolasi diri, menghindari orang dan menghindari bepergian ke tempat yang baru.

Ciri dan tanda-tanda avoidant personality disorder

Selain perilaku isolasi dan perasaan rendah diri, seseorang yang mengalami avoidant personality disorder kemungkinan memiliki ciri seperti berikut:

  • Menghindari aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain karena merasa takut akan kritik, celaan, atau penolakan orang lain.
  • Tidak mau berinteraksi dengan orang lain, kecuali mereka yakin akan disukai.
  • Terkesan kaku dalam hubungan pribadi karena takut merasa malu atau dipermalukan.
  • Selalu khawatir akan dikritisi atau ditolak pada situasi sosial.
  • Enggan terlibat dalam situasi interpersonal yang baru seperti dengan berkenalan, karena merasa minder akan dirinya.
  • Cenderung merasa tidak kompeten, tidak menarik, atau merasa lebih rendah dibandingkan orang lain.
  • Sangat ragu untuk mengambil risiko atau terlalu takut untuk memulai aktivitas yang baru karena takut merasa malu.

Jika gejala d iatas ditemukan pada anak-anak atau remaja, maka terdapat kemungkinan jika hal tersebut bukanlah avoidant personality disorder. Umumnya hal ini disebabkan kepribadian mereka masih berubah-ubah. Jika ditemukan gejala tersebut pada remaja, maka pola kepribadian tersebut harus bisa menetap minimal selama satu tahun sebelum dinyatakan sebagai avoidant personality disorder.

Meskipun demikian, diagnosis dan adanya gejala tersebut dikatakan sebagai avoidant personality disorder jika ditemukan pada orang dewasa. Namun seiring dengan pertambahan usia, gejala gangguan kepribadian pada orang dewasa dapat berubah atau intensitasnya berkurang sekitar usia 40 hingga 50 tahun.

Perbedaan avoidant personality disorder dengan kondisi lainnya yang serupa

Gangguan lainnya dapat terjadi bersamaan dengan avoidant personality disorder dan juga memiliki gejala yang serupa, seperti menarik diri. Namun, penyebabnya berbeda. Perilaku menarik diri yang dialami penderita fobia sosial terjadi karena penderita takut akan interaksi dengan orang lain, sedangkan pada pengidap borderline personality disorder hal tersebut disebabkan kesulitan untuk membentuk hubungan sosial akibat perilaku, mood dan self-image.

Penyebab utama menarik diri pada pengidap avoidant personality disorder adalah rasa malu atau minder akan dirinya sendiri, serta ketakutan berlebihan dari krtitik dan penolakan orang lain terhadap dirinya.

Apa yang dapat dilakukan?

Terapi kejiwaan dan terapi bicara diperlukan jika gejala yang ditimbulkan terlalu serius atau sudah mengganggu aktivitas pengidap. Terapi tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan adaptasi terhadap kondisinya dan meringankan gejala yang dialami. Hal ini juga perlu disertai dengan pengobatan. Terutama jika terdapat kondisi penyerta yang dapat membuat gejala bertambah serius seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Manfaat penanganan dalam jangka panjang dari avoidant personality disorder adalah meningkatkan kemampuan pengidap untuk berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, mencegah timbulnya gangguan kejiwaan sekunder dan isolasi total akibat perkembangan gangguan kepribadian ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

Toxic people merupakan salah satu jenis orang negatif yang harus Anda jauhi. Bagaimanakah ciri-cirinya? Simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hubungan Harmonis 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Gangguan Kesehatan Akibat Terlalu Sering Bermain Smartphone

Tak hanya membuat kita lupa waktu, bermain smartphone terlalu lama juga bisa memicu berbagai jenis gangguan kesehatan. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kecanduan 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ketika patah hati atau ditinggalkan pasangan, rasanya dunia tidak lagi berwarna bahkan tidak bermakna. Namun, benarkah patah hati bisa sebabkan kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Agar Hidup Lebih Bermakna, Asah Kecerdasan Spiritual Dalam Diri Anda

Selain kecerdasan otak (IQ) atau emosional (EQ), ada juga kecerdasan spiritual yang disebut penting dalam hidup Anda. Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
keuntungan jadi jomblo

7 Keuntungan Jadi Jomblo dari Sisi Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
langkah yang perlu dilakukan ketika ingin bunuh diri

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit