Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

Setiap orang pasti pernah mengalami fase ketika mereka memiliki sifat pemalu atau canggung berhadapan dengan orang lain. Meskipun demikian, sebagian orang mengalami gangguan kepribadian yang menyebabkan mereka sengaja menghindari interaksi dengan orang lain. Kondisi ini dikenal dengan istilah avoidant personality disorder.

Apa itu avoidant personality disorder?

psikologi sifat pemalu

Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian yang membuat pengidapnya menghindari interaksi sosial karena merasa lebih rendah dari orang lain.

Ini tentunya berbeda dari sekadar rasa malu. Biasanya, orang-orang yang pemalu hanya sulit berkenalan dengan orang baru. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa nyaman akan tumbuh secara bertahap.

Sementara itu, pengidap gangguan kepribadian menghindar lebih memilih untuk menyendiri atau merasa kesepian dibandingkan mencoba menjalin hubungan dengan orang lain. Perasaan ini pun tak cuma terjadi pada satu fase kehidupan, tetapi cenderung menetap.

Pengidap avoidant personality disorder juga kerap khawatir mengecewakan orang lain dan takut terhadap kritik yang ditujukan kepada dirinya sehingga ia cenderung menghindari berbagai aktivitas. Mereka memiliki ketakutan terhadap penolakan yang amat besar.

Mengapa seseorang bisa mengalami avoidant personality disorder?

Sebenarnya, penyebab pasti dari gangguan kepribadian menghindar tidak diketahui secara jelas.

Namun, kemungkinan ada faktor genetik, temperamen bawaan, karakter tiap individu, attachment (sentuhan kasih sayang orang terdekat dari kecil) dan lingkungan yang berperan dalam pembentukannya.

Avoidant personality disorder dapat dipicu oleh trauma di masa kecil. Bisa jadi, mereka yang mengalaminya dulu sering menerima penolakan dari teman sebaya atau orang tua sehingga rasa berharga mereka jadi rendah.

Alhasil, perilaku menghindar ini menjadi mekanisme pertahanan yang membantu para pengidapnya mencegah stres dan melindungi diri dari perasaan sakit hati.

Ciri dan tanda-tanda avoidant personality disorder

perbedaan introvert dan pemalu

Selain perilaku isolasi dan perasaan rendah diri, seseorang yang mengalami gangguan kepribadian menghindar kemungkinan memiliki ciri seperti berikut berdasarkan kriteria DSM-V.

  • Menghindari aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain karena merasa takut akan kritik, celaan, atau penolakan orang lain.
  • Tidak mau berinteraksi dengan orang lain, kecuali mereka yakin akan disukai.
  • Terkesan kaku dalam hubungan pribadi karena takut merasa malu atau dipermalukan.
  • Selalu khawatir akan dikritisi atau ditolak pada situasi sosial.
  • Enggan terlibat dalam situasi interpersonal yang baru, seperti berkenalan, karena merasa minder akan dirinya.
  • Cenderung merasa tidak kompeten, tidak menarik, atau merasa lebih rendah dibandingkan orang lain.
  • Sangat ragu untuk mengambil risiko atau terlalu takut untuk memulai aktivitas yang baru karena takut merasa malu.

Jika gejala di atas ditemukan pada anak-anak, terdapat kemungkinan jika hal tersebut bukanlah gangguan kepribadian menghindar. Berbagai perilaku yang disebutkan bisa terjadi karena kepribadian anak-anak belum terbentuk seutuhnya.

Lain lagi ketika gejalanya terjadi pada seorang remaja. Pola kepribadian ini harus diamati terlebih dahulu selama satu tahun sebelum bisa dinyatakan sebagai avoidant personality disorder.


Stres dan butuh teman berbagi cerita?

Ayo tanya psikolog kami atau berbagi cerita bersama di Komunitas Kesehatan Mental!


Apa yang dapat dilakukan?

Begitu Anda menyadari adanya kemungkinan kondisi ini, pertimbangkan untuk pergi ke psikolog. Dalam sesi konsultasi, psikolog akan mengajukan pertanyaan mengenai tanda-tanda dan gejala yang Anda rasakan.

Pertanyaannya dapat meliputi berapa lama Anda telah mengalami gejala, kapan perasaan ingin menghindar muncul, dan apakah gejala telah memengaruhi hidup Anda.

Kemudian, psikolog akan memberikan pertanyaan-pertanyaan lain yang dibuat khusus sebagai alat evaluasi untuk menilai kondisi Anda. Psikolog juga dapat mengamati respons Anda ketika diajak berbicara secara langsung.

Bila dari sesi konsultasi ditemukan bahwa Anda benar-benar mengidap avoidant personality disorder, maka psikolog atau psikiater akan menyusun rencana penanganan yang sesuai untuk Anda.

Penanganan dapat meliputi psikoterapi seperti CBT (cognitive behavioral therapy) yang berfokus pada perubahan pola pikir serta perilaku.

Dalam kasus avoidant personality disorder, Anda dilatih untuk mengatasi ketakutan akan penolakan dan penilaian dari orang lain yang menghalangi Anda dari interaksi sosial.

Terkadang, penggunaan obat seperti antidepresan atau anticemas juga bisa dilakukan untuk mengendalikan kecemasan yang rentan dirasakan orang-orang dengan gangguan ini.

Bagaimanapun, terapi obat tetap harus dijalani bersama psikoterapi demi mencapai hasil yang terbaik.

Ingat, perawatan juga akan lebih efektif jika anggota keluarga terlibat dan menjadi support system. Oleh karena itu, jangan ragu memberi pengertian kepada keluarga mengenai kondisi yang sedang Anda alami.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Avoidant Personality Disorder: Symptoms, Causes & Treatments. (2021). Cleveland Clinic. Retrieved March 30, 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9761-avoidant-personality-disorder

Avoidant Personality Disorder. (2021). Psych Central. Retrieved March 30, 2022, from https://psychcentral.com/disorders/avoidant-personality-disorder

Avoidant Personality Disorder. (2021). Paychology Today. Retrieved March 30, 2022, from https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/avoidant-personality-disorder

Fariba, K., & Sapra, A. (2021). Avoidant Personality Disorder. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559325/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Apr 22
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa