Kenali Ciri-ciri Orang yang Ingin Bunuh Diri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin tahu kalau setahun-dua tahun lalu, ada beberapa aktor internasional yang meninggal dunia karena mengakhiri hidupnya sendiri alias bunuh diri. Sebut saja Robin Williams contohnya, yang kita kenal sebagai aktor yang selalu menebar senyum dan menyenangkan, ternyata mengalami depresi parah sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri pada Agustus 2014.

Ya, depresi memang menjadi salah satu faktor risiko tertinggi yang menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya. World Health Organization (WHO) bahkan pada tahun 2015 lalu mengatakan bahwa di seluruh dunia ada 40 orang bunuh diri setiap detik! Depresi menjadi salah satu penyebabnya, mulai dari karena tekanan pekerjaan, tekanan pendidikan, bahkan sampai masalah ekonomi dan kemiskinan di negara-negara berkembang.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data WHO tahun 2012 seperti dikutip Kompas,angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100.000 populasi. Berdasarkan laporan kepolisian di tahun yang sama, terdapat 981 kasus kematian akibat bunuh diri yang dilaporkan. Angka ini tidak termasuk kasus-kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan ke polisi karena banyak keluarga di Indonesia menganggap peristiwa bunuh diri sebagai aib yang harus ditutup-tutupi.

Apa saja tanda-tanda seseorang berpotensi bunuh diri?

Apabila Anda memiliki teman, saudara, kerabat, atau mungkin pasangan (dan mungkin juga mantan) yang depresi dan gelagatnya terlihat seperti ingin bunuh diri, jangan dibiarkan. Anda mungkin bisa menghiburnya atau membuatnya lepas dari rasa depresi. Ada beberapa tanda orang ingin bunuh diri atau merencanakan untuk mengakhiri hidupnya, yaitu:

  • Selalu berbicara atau berpikir tentang kematian.
  • Depresi klinis (kesedihan mendalam, kehilangan minat, sulit tidur dan makan) yang semakin lama semakin memburuk.
  • Memiliki “harapan untuk mati”, sering nekat dan melakukan hal-hal yang berisiko menyebabkan kematian, seperti ngebut di jalan atau menerobos lampu merah.
  • Kehilangan minat terhadap sesuatu yang sebelumnya sangat ia sukai.
  • Sering bilang bahwa hidupnya hancur, tidak ada harapan, bahwa ia tidak bisa membantu apapun, dan tidak berguna.
  • Mudah menyerah, keinginan berubah-ubah.
  • Sering mengatakan kalimat seperti “Akan lebih baik kalau aku tidak ada,” atau “Aku ingin mati saja”.
  • Tiba-tiba, secara tidak terduga berubah dari sangat sedih menjadi sangat tenang dan bahagia.
  • Membicarakan tentang bunuh diri atau membunuh seseorang.
  • Bertemu atau menghubungi teman dan keluarga untuk mengatakan selamat tinggal.

Ada baiknya Anda memfokuskan perhatian Anda terhadap orang-orang yang gerak-geriknya memperlihatkan tanda-tanda peringatan di atas, terutama jika orang tersebut pernah mencoba bunuh diri sebelumnya. Berdasarkan American Foundation for Suicide Prevention, seperti dikutip WebMD, antara 20%-50% orang yang memutuskan untuk bunuh diri, sebelumnya pernah berencana bunuh diri.

Cegah dengan pendekatan personal

Jika Anda memiliki rekan, teman, saudara, kekasih, atau keluarga yang menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri, Anda bisa melakukan beberapa pendekatan personal. Tapi Anda harus serius dan benar-benar merawat orang tersebut. Dengarkan apa yang ia katakan. Bernisiatiflah untuk menanyakan rencananya, tapi jangan coba untuk berdebat dengannya tentang keputusannya untuk bunuh diri. Biarkan orang tersebut tahu bahwa Anda peduli dan mengerti, dan tahu bahwa Anda mendengarkan keluh kesahnya. Hindari pernyataan seperti, “Kamu punya banyak alasan untuk tetap hidup”.

Jika Anda bertemu dengan orang yang depresi dan berbicara tentang bunuh diri, membuat gerakan seperti ingin bunuh diri, atau berencana bunuh diri, perlakukanlah sebagai keadaan darurat. Dengarkan orang tersebut, tapi jangan coba untuk berdebat dengannya. Segera cari bantuan dari petugas profesional seperti polisi, psikiater, atau dokter.

Orang yang depresi lebih sering bunuh diri. Depresi adalah penyakit yang serius. Beberapa studi menunjukkan bahwa neurotransmitter serotonin memainkan peran penting dalam neurobiologi bunuh diri. Para peneliti menemukan tingkat serotonin yang rendah dalam jaringan otak dan asam cerebrospinal orang-orang yang ingin bunuh diri.

Sebagai tambahan, kecenderungan bunuh diri juga mengalir di dalam keluarga. Ingat, setiap pembicaraan tentang bunuh diri harus dijadikan sebagai sebuah tanda peringatan. Segera ajak orang yang ingin bunuh diri tersebut ke ahli profesional yang bisa membantu.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

    Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah kondisi kejiwaan yang membuat seseorang mengalami perubahan mood ekstrem. Gejala lain apa yang mungkin muncul?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kesehatan Mental, Gangguan Mood 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

    Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

    Cari tahu apa itu introvert, apa tanda-tandanya jika si kecil memiliki kepribadian introvert, dan apa yang perlu Anda lakukan sebagai orangtua.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Menjadi Seorang Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

    Berusaha menjadi lebih baik tidak sama dengan menjadi seorang perfeksionis. Namun, berusaha menjadi sempurna itu baik atau buruk, sih?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

    Serangan Panik

    Panik adalah insting alamiah manusia yang mendeteksi datangnya bahaya. Namun, serangan panik adalah kondisi lain yang disebabkan oleh gangguan klinis.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 18 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    terapi cahaya cara mengatasi depresi menghilangkan depresi

    Memanfaatkan Cahaya, Terapi yang Dapat Membantu Mengatasi Depresi

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
    apatis

    Mengenali Ciri-ciri Sikap Apatis dan Cara Mengatasi yang Tepat

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
    self esteem adalah

    Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
    menghadapi orangtua

    Kesal Menghadapai Orangtua yang Memojokkan Anda? Hadapi dengan 3 Langkah Bijak Ini

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit