backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

OCD vs OCPD, Apa Perbedaan antara Keduanya?

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

OCD vs OCPD, Apa Perbedaan antara Keduanya?

Anda mungkin sudah tidak asing dengan istilah obsessive-compulsive disorder atau OCD, tetapi pernahkah Anda mendengar tentang OCPD? Meski sama-sama berpengaruh pada cara seseorang berperilaku, OCD dan OCPD adalah dua hal yang berbeda. Lantas, apa yang membuat OCD vs OCPD? Berikut penjelasannya.

OCD vs OCPD, apa bedanya?

Obsessive-compulsive disorder atau OCD membuat seseorang memiliki pikiran yang tidak diinginkan (obsesi). Jika tidak dilakukan, obsesi ini akan menimbulkan kecemasan.

Untuk mengurangi kecemasan tersebut, ia akan terdorong untuk melakukan sesuatu secara berulang. Ini disebut perilaku kompulsif.

Seseorang dengan OCD biasanya menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah dan membutuhkan bantuan profesional.

Pasalnya, gangguan ini sering kali membuat mereka menghabiskan banyak waktu untuk melakukan satu hal secara berulang.

Sementara itu, obsessive-compulsive personality disorder (OCPD) adalah gangguan yang membuat seseorang sangat terobsesi pada kesempurnaan.

Seseorang dengan kondisi ini cenderung merasa paling benar dan sangat sulit berkompromi dengan orang lain.

Meski sama-sama termasuk sebagai gangguan kepribadian, laman Cleveland Clinic menyebutkan bahwa seseorang dengan OCPD biasanya tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan profesional.

Apa saja perbedaan OCD dan OCPD?

perfeksionis gejala ocd

Selain dari segi definisi seperti yang disebutkan di atas, berikut adalah perbedaan lain dari OCD dan OCPD.

Dengan memahami perbedaan keduanya, Anda bisa mengetahui cara tepat dalam menghadapi atau mengatasinya.

1. Gejala OCD vs OCPD

Sesuai penjelasan di atas, gejala utama dari OCD adalah melakukan perilaku berulang yang sebenarnya tidak diinginkan. Pasalnya, Anda sadar bahwa perilaku tersebut seharusnya tidak perlu dilakukan.

Contohnya, memeriksa kunci pintu berulang sampai Anda terlambat dalam sebuah janji temu. Jika tidak melakukannya, Anda akan merasakan kegelisahan berlebih dan pikiran tersebut tidak akan menghilang.

Sementara itu, gejala utama OCPD adalah terobsesi pada keteraturan, kesempurnaan, dan kesulitan untuk menunjukkan fleksibilitas.

Pada beberapa aspek, menjadi perfeksionis memang tidak merugikan. Namun, OCPD justru lebih banyak memberikan kerugian. Berikut ini adalah beberapa contoh perilaku OCPD.

  • Tidak mau memercayakan pekerjaan ke orang lain, kecuali mereka mau mengikuti standar kerjanya dengan sama persis.
  • Punya dedikasi berlebihan pada pekerjaan tanpa alasan tertentu sehingga hubungannya dengan orang di sekitar terabaikan.
  • Terlalu terpaku pada hal-hal detail yang kecil sehingga tujuan utama sering kali terabaikan.

Seseorang dengan OCD terbilang cukup mudah dikenal karena mereka memiliki gejala yang khas.

Sementara itu, pengidap OCPD cenderung lebih sulit disadari karena gejala mereka tampak menyatu dengan kepribadian atau personality. Inilah salah satu alasan mengapa keduanya dibedakan dengan kata personality.

2. Penyebab OCD vs OCPD

Sampai saat ini, penyebab OCD maupun OCPD tidak diketahui secara pasti. Namun, keduanya sama-sama dikaitkan dengan genetika dan trauma di masa kecil.

Satu hal yang mungkin membedakan penyebab OCD dan OCPD adalah masalah medis yang medasarinya.

Menurut Medline Plus, cedera kepala, infeksi, atau gangguan struktur otak bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami OCD. Namun, kondisi ini tidak bisa menyebabkan OCPD.

3. Pengobatan OCD vs OCPD

Seseorang dengan OCD dan OCPD sama-sama harus mendapatkan pertolongan dari psikolog.

Bedanya, seseorang dengan OCD biasanya datang ke psikolog karena merasa ada yang salah dengan perilakunya.

Sementara itu, seseorang dengan OCPD umumnya menemui psikolog karena perilakunya telah menyebabkan kerugian tertentu, seperti dipecat dari pekerjaan atau dijauhi orang-orang di sekitar.

Itulah salah satu alasan mengapa pasien OCPD cenderung membutuhkan waktu lebih banyak saat berobat. Pasalnya, mereka sering kali harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa mereka membutuhkan perawatan.

Mengingat OCPD merupakan bagian dari gangguan kepribadian, gangguan mental ini bisa diatasi dengan terapi perilaku kognitif (CBT).

Psikoterapi ini bertujuan untuk membantu Anda memahami pikiran dan emosi diri sehingga Anda bisa mengubah perilaku dalam menghadapinya.

Pasien OCD dan OCPD juga bisa menerima terapi exposure and response prevention (ERP). Dengan metode ini, Anda akan dihadapkan pada situasi yang dapat memancing perilaku kompulsif.

Pada pasien OCD, terapis mungkin menyuruh Anda menyentuh benda kotor, tetapi melarang Anda mencuci tangan lebih dari satu kali.

Sementara itu, pasien OCPD mungkin diminta untuk melihat orang lain mengerjakan pekerjaan dengan caranya sendiri, tidak mengikutinya.

Dengan begitu, pasien OCD bisa menyadari bahwa kecemasan mereka selama ini tidak akan terwujud meski tidak melakukan tindakan kompulsif.

Sementara itu, pasien OCPD bisa menyadari bahwa fleksibilitas bukanlah hal yang merugikan.

OCD vs OCPD

  • OCD dan OCPD adalah jenis gangguan kepribadian yang berbeda. OCD ditandai dengan perilaku yang sama secara terus menerus. Sementara itu, OCPD membuat seseorang menjadi perfeksionis yang tidak bisa bersikap fleksibel.
  • Penyebab OCD dan OCPD sama-sama belum diketahui secara pasti. Namun, cedera kepala dan gangguan struktur pada otak dinilai bisa menjadi faktor risiko OCD.
  • Meski berbeda, OCD dan OCPD sama-sama bisa dikendalikan dengan terapi perilaku kognitif serta ERP.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan