home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

3 Jenis Vaksin untuk Lansia yang Disarankan, Plus Syarat Pemberian Vaksinasi

3 Jenis Vaksin untuk Lansia yang Disarankan, Plus Syarat Pemberian Vaksinasi

Tidak hanya anak-anak yang butuh imunisasi, demikian juga lanjut usia atau lansia. Pasalnya, sistem imun tubuh akan semakin melemah. Inilah yang menyebabkan orang tua lebih rentan sakit dan terinfeksi. Vaksin untuk lanjut usia bisa menjadi cara yang tepat untuk mencegah terjangkitnya penyakit pada lansia dan membantu lansia menjalani aktivitas sehari-hari di masa senjanya. Apa saja vaksin untuk lansia yang dokter rekomendasikan?

Rekomendasi jenis vaksin untuk lansia

Alergi vaksin covid-19

Vaksin terbuat dari mikroba penyebab penyakit (termasuk virus, jamur, racun, atau bakteri; tergantung dari jenis penyakit) yang lemah atau mati sehingga tidak akan menyebabkan penyakit.

Setelah tim medis menyuntikkan vaksin ke dalam tubuh, vaksin akan bekerja meniru terjadinya infeksi penyakit itu untuk memicu sistem imun tubuh membangun perlawanan terhadapnya. Hal ini kemudian membuat tubuh selalu bersiap atas serangan penyakit yang sebenarnya karena sudah “ingat” organisme mana yang berbahaya dan perlu diberantas.

Beberapa vaksin yang dokter rekomendasikan untuk lansia menurut The National Council on Aging, meliputi:

1. Vaksin flu

Meski umum dan sering kali banyak orang remehkan, flu bisa mematikan jika gejalanya dibiarkan. Apalagi pada lansia yang sistem imunnya sudah lebih lemah, sehingga flu akan lebih sulit dan lama sembuhnya.

Beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes dan penyakit jantung juga makin melemahkan daya tahan tubuhnya sehingga bisa memperburuk flu bahkan menyebabkan komplikasi, seperti pneumonia.

Vaksin flu bisa mencegah flu dengan pemberian vaksin satu kali setiap tahun. Tubuh lansia butuh waktu sekitar dua minggu untuk merespons vaksin dan membangun kekebalan tubuhnya.

2. Vaksin herpes zoster

Vaksin herpes zoster perlu orang tua Anda dapatkan, terlebih apabila ia sudah pernah terkena cacar air di masa mudanya.

Virus cacar air bisa terus berdiam dalam tubuh selama bertahun-tahun, bahkan setelah Anda sembuh, dan “kambuh” di kemudian hari dalam versi cacar ular alias herpes zoster. Ya, baik cacar air dan cacar ular (herpes zoster) sama-sama terjadi akibat satu virus yang menginfeksi, yaitu Varicella virus.

Virus ini bisa bertambah kuat seiring dengan kekebalan tubuh lansia yang melemah. Komplikasi yang paling umum terhadap penyakit ini adalah neuralgia postherpetik, yang menyebabkan nyeri kronis selama berbulan-bulan setelah herpes zoster akut.

Oleh karena itu, lansia juga perlu mendapatkan vaksin herpes zoster apabila belum pernah mendapatkannya. Vaksin ini dokter kepada orang berusia 50 sampai 60 tahun, baik dalam keadaan sehat maupun sedang menderita herpes sekalipun. Kemanjuran vaksin ini bertahan selama lima tahun.

Bagaimana Cara Menjadi Lansia Sehat dan Terhindar dari Penyakit Kronis?

3. Vaksin pneumococcal

Vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptocossus pneumoniae atau lebih Anda kenal dengan sebutan kuman pneumokokus. Dengan vaksin ini, Anda bisa mencegah pneumonia (infeksi paru-paru), meningitis (infeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang), dan sepsis (infeksi darah).

Penyakit akibat bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan ketulian, kerusakan otak, kehilangan anggota tubuh, dan bahkan kematian.

Biasanya, vaksin untuk lansia ini dokter berikan dalam dua tahapan, yaitu vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan vaksin pneumokokus jenis polisakarida.

Hal yang perlu diketahui saat memberikan vaksin untuk lansia

ditanggung bpjs kesehatan asuransi lansia

Sebelum menjalani vaksin, lansia serta keluarga perlu mengetahui dua hal penting berikut ini.

Ketahui syarat menjalani vaksinasi

Pada dasarnya, tidak ada syarat spesifik bagi lansia untuk memperoleh vaksin influenza. Orang tua yang hendak memperoleh vaksin hanya harus menjaga kesehatannya dan selalu menjalankan gaya hidup sehat.

Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, menyatakan bahwa status gizi lansia terbukti memegang peran penting dalam menunjang efektivitas vaksin influenza.

“Kalau status gizinya baik dan pola hidupnya sehat, kekebalan tubuh lansia akan semakin kuat sehingga vaksin influenza untuk lansia menjadi lebih efektif,” jelasnya dalam wawancara bersama tim Hello Sehat.

Syarat vaksin untuk influenza ini juga sama berlaku untuk vaksin jenis lain. Selain orang tua yang dalam keadaan sakit, mereka yang tidak memenuhi syarat vaksin biasanya adalah orang-orang dengan kondisi berikut:

  • Alergi parah terhadap protein telur dalam vaksin.
  • Alergi terhadap komponen vaksin, seperti antibiotik, gelatin, dan sebagainya.
  • Pernah mengalami reaksi parah pada vaksinasi sebelumnya.
  • Pernah mengalami penyakit Guillain-Barre syndrome (GBS) sebelum vaksinasi. GBS adalah penyakit yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

Kenali efek samping vaksin untuk lansia

Selama syarat status gizi baik dan gaya hidup sehat terpenuhi, pemberian vaksin influenza tidak akan menimbulkan risiko bagi kesehatan lansia. Tubuh lansia mungkin akan bereaksi terhadap komponen vaksin, tapi reaksi tersebut sangatlah wajar.

Reaksi yang paling sering muncul setelah vaksinasi adalah nyeri dan bengkak pada area suntikan. Beberapa orang juga bisa mengalami demam, pusing, dan nyeri otot. Namun, sekali lagi, ini adalah respons normal yang akan menghilang dalam beberapa hari.

Kasus reaksi parah terhadap vaksinasi influenza sangat jarang terjadi, begitu juga dengan jenis vaksin hepatitis B, vaksin pneumococcal, dan vaksin herpes zoster.

Biasanya, reaksi akan terjadi karena penerima vaksin tidak mengetahui bahwa sistem kekebalan tubuhnya rentan terhadap komponen vaksin. Sebelum lansia menjalani vaksin, mereka wajib melakukan konsultasi pada dokter lebih dahulu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

The national council on aging. The National Council on Aging. https://www.ncoa.org/article/4-important-vaccines-for-seniors-covered-by-medicare [Accessed on March 18th, 2021]

Sekilas Vaksin Pneumokokus. IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus [Accessed on March 18th, 2021]

Weinberger, B., & Grubeck-Loebenstein, B. (2012). Vaccines for the elderlyClinical Microbiology And Infection18, 100-108. doi: 10.1111/j.1469-0691.2012.03944.x [Accessed on March 18th, 2021]

Interview bersama Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger di Hotel Mercure Jakarta Gatot Subroto, Kuningan, Jumat 5 Juli 2019.

Seasonal flu shot. (2020, September 2). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/flu/prevent/flushot.htm [Accessed on March 18th, 2021]

Pneumococcal vaccination | What you should know | CDC. (2019, November 14). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/public/index.html [Accessed on March 18th, 2021]

 

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 16/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x