home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Alasan Lansia Sering Tidur Siang, dan Tips Mencegahnya Berlebihan

Alasan Lansia Sering Tidur Siang, dan Tips Mencegahnya Berlebihan

Seiring menuanya usia, tubuh mengalami penuaan hingga akan timbul banyak perubahan. Mulai dari warna rambut, kondisi kulit, hingga durasi tidur. Sadar atau tidak, kebiasaan tidur lansia mengalami perubahan. Coba Anda perhatikan orangtua, kakek, atau nenek yang ada di rumah, kebanyakan sering tertidur di siang hari. Lantas, apa alasan lansia kerap tidur di siang hari? Yuk, cari tahu penjelasan hal ini serta cara mencegahnya terlalu berlebihan.

Kebutuhan dan perubahan tidur pada lansia

Tidur merupakan kebutuhan bagi tubuh Anda. Saat tidur, tubuh yang aktif bekerja seharian mendapatkan waktu untuk memperbaiki dari berbagai kerusakan yang terjadi saat Anda beraktivitas. Hal ini memungkinkan tubuh untuk kembali bekerja dengan normal dan Anda dapat beraktivitas tanpa masalah. Di samping itu, tidur cukup juga memberi manfaat pada kesehatan otak dan menjaga sistem imun tetap kuat.

Namun, kebutuha tidur pada seseorang akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Melansir dari laman CDC, durasi tidur lansia yang berusia 61-64 tahun adalah 7-9 jam per hari. Setelah melewati usia tersebut, durasi tidur mereka akan berubah menjadi 7-8 jam per hari.

Mengapa lansia sering tidur siang hari?

penyebab susah tidur

Meskipun kebutuhan tidur lansia tidak berbeda jauh dengan kelompok usia dewasa lainnya, kebanyakan dari mereka tidak tidur sesuai dengan rekomendasi durasi tidur. Mungkin orangtua, kakek, atau nenek Anda, lebih sering Anda pergoki tertidur pada siang hari. Hal ini membuat Anda berasumsi bahwa lansia lebih banyak tidur.

Asumsi Anda ini ternyata belum sepenuhnya benar. Faktanya, gangguan tidur lansia sangat umum terjadi. Kondisi ini membuat mereka kesulitan untuk memejamkan mata di malam hari, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa kembali tidur. Akibatnya, insomnia pada lansia membuat mereka kurang tidur dan mengantuk di siang hari.

Aktivitas yang berkurang pada siang hari, membuat lansia memiliki banyak waktu luang sehingga memberi kesempatan bagi mereka untuk tidur siang. Bahkan, juga tidur sore hari karena kelelahan.

Penyebab lansia mengantuk di siang hari, bisa jadi karena melemahnya ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur jam tidur dan bangun. Ini terjadi karena kurangnya paparan sinar matahari dan faktor penuaan. Bisa juga terjadi karena adanya masalah kesehatan, seperti depresi, sleep apnea, sindrom kaki gelisah, atau efek samping dari obat-obatan yang lansia minum.

Tips mengatasi tidur siang lansia yang berlebihan

merawat lansia penyakit mata

Tidur siang memberi manfaat pada lansia, apalagi jika mereka punya gangguan tidur. Ini bisa menutupi waktu tidur pada malam hari yang kurang daripada seharusnya. Selain itu, tidur siang juga bisa menurunkan risiko cedera karena saat mata mengantuk, kondisi ini membuat lansia mudah terjatuh.

Namun, perlu Anda catat bahwa sekalipun tidur siang itu memberi manfaat bagi orang usia lanjut, durasi waktunya tidak boleh berlebihan.

Pasalnya, jika terlalu lama tidur siang, pada malam hari mereka akan kesulitan tidur. Jika hal ini dibiarkan, tentu kualitas tidur akan memburuk dan kesehatan akan terkena dampak negatifnya. Ingat, tubuh manusia sudah memiliki setting untuk tidur lebih lama pada malam hari, bukan sebaliknya.

Sebaiknya durasi tidur siang yang sekitar 10-20 menit, atau setidaknya 3o menit saja. Jika lebih dari satu jam, ini menandakan tidur siang sudah menjadi kebiasaan yang kurang sehat dan perlu perbaikan.

Jika Anda ingin membantu lansia memperbaiki kebiasaan tidur siang jadi lebih sehat dan bermanfaat, ikuti beberapa tips berikut ini.

1. Buat jadwal tidur siang

Membuat jadwal tidur siang adalah salah satu langkah jitu untuk mengatasi tidur siang yang tidak sehat untuk lansia. Anda hanya perlu mempertimbangkan berapa lama dan kapan sebaiknya tidur siang. Aturan pertama, tidak boleh tidur siang melebihi 1 jam. Kedua, tidur siang juga tidak boleh setelah jam 3 sore.

Kemudian, gunakan alarm pengingat untuk penanda waktu agar jam tidur siang tidak berlebihan. Ciptakan suasana tidur siang yang nyenyak, seperti menyiapkan bantal, mengatur cahaya ruangan jadi lebih redup, dan mematikan televisi agar tidak bising.

2. Perbaiki kualitas tidur malam

Cara selanjutnya untuk mengatasi tidur siang yang tidak sehat pada lansia adalah memperbaiki kualitas tidur pada malam hari. Jika kualitas tidur malam membaik, kelelahan dan mengantuk pada siang hari kemungkinan tidak terjadi. Langkah-langkah untuk memperbaiki kualitas tidur adalah:

  • Tidur dan bangun selalu pada jam yang sama. Cobalah untuk tidur lebih awal dan bangun pagi hari. Lakukan hal ini secara rutin agar jam biologis tubuh dalam mengatur waktu bangun dan tidur kembali membaik.
  • Meskipun lansia tidak ada kegiatan, mereka harus tetap bangun pada pagi hari. Waktu luang ini bisa lansia manfaatkan untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi. Paparan sinar matahari bisa merangsang produksi melatonin, yakni hormon yang mengatur jam biologis tubuh kembali bekerja secara normal. Waktu ini juga bisa lansia manfaatkan dengan melakukan olahraga yang aman untuk lansia, seperti jalan santai, senam yoga untuk lansia, atau berenang.
  • Lakukan meditasi atau latihan pernapasan sebelum tidur agar pikiran jadi lebih tenang dan lebih mudah terlelap tidur. Hindari kebiasaan yang mengganggu tidur malam, seperti menonton TV, bermain ponsel, atau minum kopi pada sore hari.

3. Konsultasi ke dokter jika perlu

Jika cara tersebut tidak cukup ampuh untuk mengatasi kebiasaan tidur siang yang buruk pada lansia, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter. Pasalnya, beberapa masalah kesehatan yang menyebabkan gangguan tidur pada lansia, kadang tidak hanya dengan perawatan rumahan. Penggunaan obat maupun terapi mungkin lansia perlukan.

https://wp.hellosehat.com/lansia/perawatan-lansia/tips-mengatasi-susah-tidur-nyenyak-lansia/

 

 

 

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How to get a great nap. (2020, November 13). Retrieved March 26, 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/napping/art-20048319.

Lopes, J. M., Dantas, F. G., & Medeiros, J. L. (2013). Excessive daytime sleepiness in the elderly: association with cardiovascular risk, obesity and depression. Revista brasileira de epidemiologia = Brazilian journal of epidemiology16(4), 872–879. https://doi.org/10.1590/s1415-790×2013000400007.

CDC – how much sleep Do I Need? – sleep and sleep disorders. (2017, March 02). Retrieved March 26, 2021, from https://www.cdc.gov/sleep/about_sleep/how_much_sleep.html.

Encyclopedia, M., & sleep, A. (2021). Aging changes in sleep: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 26 March 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/004018.htm.

Why do we sleep, anyway? (n.d.). Retrieved March 26, 2021, from http://healthysleep.med.harvard.edu/healthy/matters/benefits-of-sleep/why-do-we-sleep.

Melatonin: What you need to know. (n.d.). Retrieved March 26, 2021, from https://www.nccih.nih.gov/health/melatonin-what-you-need-to-know.

Neikrug, A. B., & Ancoli-Israel, S. (2010). Sleep disorders in the older adult – a mini-reviewGerontology56(2), 181–189. https://doi.org/10.1159/000236900.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 19/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x