home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali Sindrom Diogenes, Penyakit Kejiwaan Ekstrem pada Lansia

Kenali Sindrom Diogenes, Penyakit Kejiwaan Ekstrem pada Lansia

Pertambahan usia menyebabkan banyaknya perubahan pada fisik dan mental. Tak heran jika orang lanjut usia mengalami banyak masalah kesehatan, termasuk gangguan kesehatan mental. Dalam kondisi yang paling ekstrem, gangguan kesehatan menta pada lansia disebut sebagai sindrom Diogenes. Bagaimana penjelasan mengenai sindrom ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu sindrom Diogenes?

Sindrom Diogenes adalah gangguan perilaku atau personality disorder pada lansia, yang ditandai dengan mengabaikan perawatan diri sendiri hingga pada tingkatan parah atau ekstrem. Selain gangguan kesehatan fisik, lansia juga bisa mengalami masalah sosial dan psikologis yang menyangkut kejiwaan.

Lansia yang mengalami kondisi ini cenderung tidak peduli pada diri sendiri dan menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, lansia juga mungkin saja tidak merasa malu dan memiliki kebiasaan menumpuk barang-barang tanpa merapikan hingga berantakan.

Hal ini menyebabkan rumah atau tempat tinggalnya menjadi sangat kotor, bercak dan bau urine maupun feses tercium pada setiap sudut ruangan, hingga barang-barang yang tercecer berantakan. Padahal, menjaga kebersihan merupakan salah satu faktor yang penting untuk membantu menjaga kesehatan lansia secara menyeluruh.

Alasan Lansia yang Rajin Beres-Beres Rumah Bisa Lebih Sehat

Kondisi ini yang membuat lansia hidup dalam kondisi yang tidak sehat, sehingga menimbulkan masalah baru pada kesehatannya. Sebagai contoh mengalami pneumonia, sering terjatuh, hingga potensi kebakaran dalam rumah yang tentu saja bisa mengancam keselamatan lansia.

Oleh sebab itu, sindrom ini memiliki banyak nama lain, seperti gangguan pikun yang parah, sindrom pengunduran diri, sindrom squalor pikun, dan sindrom rumah berantakan.

Kenali tanda dan gejala yang muncul pada lansia

Tanda dan gejala dari sindrom ini muncul seiring dengan berjalannya waktu. Namun, kondisi ini lebih banyak terlihat pada seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun dan memiliki kecerdasan melebihi rata-rata orang seusianya.

Namun, biasanya, banyak orang yang tidak menyadari kondisi ini pada lansia. Padahal, menurut studi pada tahun 2014, orang yang mengalami sindrom ini bisanya menunjukkan karakteristik yang misterius, tidak ramah, dan lebih suka menyendiri.

Ya, hal tersebut menjadi gejala yang paling khas dari orang yang mengalami sindrom ini. Lansia yang mengalaminya lebih suka menyendiri tanpa banyak berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Mereka juga kerap menunjukkan perilaku yang aneh dan berubah menjadi sangat tidak peduli dengan orang sekitar.

Selain itu, ada gejala-gejala lain yang bisa Anda amati pada lansia yang mengalami sindrom ini, seperti berikut:

  • Timbul ruam kulit yang terjadi karena kurangnya menjaga kebersihan.
  • Rambut kusut dan acak-acakan.
  • Kuku jari tangan dan kaki yang cenderung panjang dan kotor.
  • Bau badan tak sedap.
  • Penampilan tidak terawat.
  • Terdapat luka yang pada bagian tubuh tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya.
  • Kurang gizi atau gizi buruk.
  • Dehidrasi.
  • Kondisi tempat tinggal berantakan, kotor, dan banyak tumpukan barang atau sampah.
  • Kerap menolak bantuan atau pertolongan dari orang lain.

Faktor risiko sindrom Diogenes

Meski gejalanya muncul secara bertahap dan bermunculan dalam jangka waktu yang cukup lama, Anda perlu waspada terhadap berbagai faktor risiko yang ada pada lansia dan dapat memicu sindrom kejiwaan ini.

Faktor risiko pada lansia umumnya lebih mengarah pada rasa traumatik akibat suatu kejadian pada masa lalu, seperti kepergian pasangan atau keluarga terdekat yang meninggal dunia, memasuki masa pensiun, perceraian, kehilangan teman terpercaya, hingga riwayat penyalahgunaan zat terlarang.

Tak hanya itu, beberapa kondisi medis berikut ini juga bisa menjadi faktor risiko dari sindrom ini:

penyebab susah tidur

Mendiagnosis sindrom Diogenes pada lansia

Saat mengalami kondisi ini, umumnya lansia akan sangat jarang mencari bantuan atau pertolongan dari orang lain untuk mengatasi penyakit yang menyerang lansia. Pasalnya, penderita tidak peduli terhadap kondisi kesehatan fisik dan mentalnya sendiri.

Tak hanya itu, lansia yang mengalami kondisi ini akan terbiasa tak terurus dan terabaikan oleh orang-orang sekitar. Meski begitu, mereka tak akan menolak jika ada anggota keluarga atau tetangga yang mencoba membawanya ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sindrom ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Diogenes primer, kondisi saat gejala yang muncul bukan karena kondisi medis atau penyakit mental lainnya.
  2. Diogenes sekunder, kondisi saat gejala muncul sebagai hasil dari penyakit mental lainnya.

Untuk melakukan diagnosis terhadap jenis sindrom, dokter akan mengulik riwayat perilaku dan sosial lansia terlebih dahulu. Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut, pemeriksaan darah, dan tes pencitraan otak, seperti MRI atau PET.

Tujuannya, untuk mengidentifikasi penyebab dari sindrom yang mungkin masih bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut sehingga kondisi bisa teratasi.

Ketahui cara mengatasi yang tepat

Pada dasarnya, tidak ada pengobatan atau perawatan khusus untuk mengatasi sindrom ini. Ya, bahkan, mengatasi kondisi ini bisa cukup sulit bagi beberapa lansia dalam kondisi tertentu. Namun, bukan berarti tidak ada perawatan lain untuk mengatasinya.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasi kondisi ini:

  • Memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala, terutama jika terjadi karena masalah kesehatan mental lainnya, seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, dan gangguan kecemasan.
  • Menempatkan lansia pada pusat perawatan atau rumah sakit, khususnya lansia yang memerlukan rawat inap dan kehadiran perawat.
  • Memberikan dukungan kepada lansia yang mengalaminya, demi membantu mengatasi kondisi kejiwaan yang mungkin menjadi penyebab timbulnya sindrom ini.

Tak lupa, Anda juga perlu memeriksakan kondisi kesehatan lansia yang mengalami sindrom ini ke dokter demi mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Irvine, J. D., & Nwachukwu, K. (2014). Recognizing Diogenes syndrome: a case report. BMC research notes7, 276. https://doi.org/10.1186/1756-0500-7-276

Biswas, P., Ganguly, A., Bala, S., Nag, F., Choudhary, N., & Sen, S. (2013). Diogenes Syndrome: A Case ReportCase Reports In Dermatological Medicine2013, 1-3. doi: 10.1155/2013/595192

Batool, S., & Hussain, I. (2016). Diogenes syndrome in a patient suffering from neurodegenerative disease. Journal Of Pakistan Association Of Dermatologists25(3). Retrieved from http://www.jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/114

Fodor, L., Kovács, M. Á., & Tényi, T. (2020). Psychiatria Hungarica : A Magyar Pszichiatriai Tarsasag tudomanyos folyoirata35(4), 525–528.

Gopinath, H., Kini, H., Kumar, P., & Nayak, K. (2015). Unmasking diogenes syndromeIndian Journal Of Dermatology60(3), 287. doi: 10.4103/0019-5154.156385

Zuliani, G., Soavi, C., Dainese, A., Milani, P., & Gatti, M. (2013). Diogenes syndrome or isolated syllogomania? Four heterogeneous clinical cases. Aging clinical and experimental research25(4), 473–478. https://doi.org/10.1007/s40520-013-0067-0

Khan, S. (2017). Diogenes Syndrome: A Special Manifestation of Hoarding DisorderAmerican Journal Of Psychiatry Residents’ Journal12(8), 9-11. doi: 10.1176/appi.ajp-rj.2017.120804

Lavigne, B., Hamdan, M., Faure, B., Merveille, H., Pareaud, M., Tallon, E., Bouthier, A., Clément, J. P., & Calvet, B. (2016). Syndrome de Diogène et Hoarding disorder : une même entité ? [Diogenes syndrome and Hoarding disorder: Same or different?]. L’Encephale42(5), 421–425. https://doi.org/10.1016/j.encep.2016.02.010
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 23/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x