Skoliosis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 September 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit skoliosis?

Pengertian skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang ditandai dengan melengkungnya tulang belakang ke arah samping. Normalnya, tulang belakang akan melengkung di bagian atas bahu dan di bagian bawah punggung.

Namun pada penderita skoliosis, tulang belakang melengkung ke samping. Jika diperhatikan tulang belakang akan membentuk huruf “S” atau “C”.

Kebanyakan kasus kondisi ini bersifat ringan. Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya usia, lengkungan tulang punggung berpotensi memburuk. Tulang punggung dengan lengkungan yang cukup parah dapat memengaruhi kinerja organ vital di sekitarnya.

Penyakit skoliosis dapat dibagi menjadi beberapa jenis, dan lebih jelasnya adalah:

1. Skoliosis kongenital

Kelainan tulang belakang ini terjadi karena janin tidak sepenuhnya mengembangkan vertebra secara sempurna di dalam kandungan. Tipe penyakit skoliosis ini umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir.

2. Skoliosis idiopatik

Jenis skoliosis ini umumnya terjadi pada anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada anak berusia 10-18 tahun.

3. Skoliosis degeneratif

Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa yang pernah mengidap skoliosis sebelumnya. Tulang belakang penderita akan mengalami aus seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi ini menyebabkan tulang belakang pun bengkok.

4. Skoliosis neuromuskular

Jenis kelainan tulang belakang ini disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf atau otot. Biasanya, berkaitan dengan penyakit cerebral palsy dan spina bifida.

5. Kifosis Scheuermann

Jenis ini terjadi ketika bagian depan tulang belakang tumbuh lebih lambat dibanding dengan bagian belakang pada masa anak-anak. Hal ini menyebabkan tulang belakang bagian depan menjadi lebih kecil, sehingga tulang belakang pu melengkung.

6. Skoliosis sindromik

Kelainan tulang belakang tipe ini terjadi akibat adanya sindrom yang dimiliki seseorang, seperti gangguan jaringan ikat (sindrom Marfan dan Ehlers-Danlos), trisomi 21, Prada-Willi, sindrom Retts, dan sindrom Beale.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Penyakit skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang cukup umum terjadi. Gangguan tulang belakang ini dapat menyerang bayi yang baru lahir, anak dalam masa pertumbuhan, orang dewasa, hingga lansia.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala skoliosis?

Pada kasus ringan, skoliosis kadang tidak menimbulkan gejala dan tanda. Namun, gejala bisa diamati oleh orang lain lewat tampilan fisik Anda yang berubah. Beberapa gejala atau ciri-ciri skoliosis tersebut adalah:

  • Bahu miring
  • Pinggang kiri dan kanan tidak sejajar
  • Satu pinggul lebih tinggi dari pinggul lain
  • Adanya tonjolan tulang belikat pada satu sisi tubuh
  • Satu kaki memiliki panjang yang berbeda
  • Posisi kepala tidak berada tepat di tengah pundak
  • Hampir 23% orang yang menderita kelainan tulang belakang jenis idiopatik mengalami nyeri punggung, kesemutan, dan mati rasa.

Pada kasus yang parah, skoliosis bisa menimbulkan gejala berupa tulang belakan yang seakan terlihat melintir, yakni melengkung ke sisi tubuh. Kadang membentuk huruf S atau C.

Ciri-ciri skoliosis lainnya adalah penampilan kulit pada tulang belakang yang berubah, seperti adanya area kulit yang masuk ke dalam atau bercak berbulu.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala kelainan tulang belakang berbentuk S atau C, seperti yang disebutkan di atas, segera periksa ke dokter. Pada kasus ringan, Anda mungkin tidak menyadari gejala. Akan tetapi, orang lain bisa melihat gejalanya dari tampilan fisik Anda.

Jadi, apabila keluarga atau teman memberi tahu Anda posisi pundak yang tidak sejajar atau tulang belakang yang tidak lurus, pertimbangkan untuk konsultasi ke dokter.

Penyebab

Apa penyebab skoliosis?

Penyebab penyakit skoliosis secara umum tidak diketahui. Namun, ilmuwan berpendapat jika penyakit ini kemungkinan besar diturunkan dalam keluarga. Sementara itu, penyebab skoliosis yang kurang umum adalah:

  • Kondisi neuromuskuler. Kondisi yang menandakan adanya gangguan fungsi saraf dan otot, seperti distrofi otot atau cerebral palsy.
  • Cacat bawaan lahir. Kondisi ini menandakan perkembangan tulang belakang yang tidak sempurna saat janin berada di dalam kandungan.
  • Cedera atau infeksi pada tulang belakang. Terjatuh dari tempat tinggi, kecelakan, tertimpa benda berat di punggung, atau infeksi pada tulang belakang bisa menimbulkan cedera dan jadi penyebab tulang belakang melengkung ke samping.
  • Osteoporosis. Kondisi tulang yang mengeropos sehingga mudah patah dan membuatnya melengkung berlebihan.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya untuk terkena penyakit ini?

Selain penyebab, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kelainan tulang belakang. Faktor risiko dari penyakit skoliosis adalah:

  • Usia

Meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun, kelainan tulang belakang ini umumnya muncul di usia anak mendekati masa pubertas.

  • Jenis kelamin

Anak laki-laki atau perempuan memiliki risiko kelainan tulang belakang yang tidak berbeda jauh. Akan tetapi, anak perempuan memiliki risikonya jauh lebih tinggi pada tingkat keparahan sehingga membutuhkan perawatan lebih dini.

  • Riwayat kesehatan keluarga

Sebagian kecil kasus anak dengan kelainan tulang belakang ini memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang serupa.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh skoliosis?

Kelainan tulang belakang yang tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi. Bahaya komplikasi akibat skoliosis yang umumnya terjadi adalah:

  • Kerusakan jantung dan paru-paru

Pada kasus yang cukup parah, tulang belakang yang melengkung dapat menekan tulang rusuk, sehingga ruang yang dibutuhkan bagi jantung dan paru-paru akan menyempit. Hal ini berisiko mengakibatkan gangguan pernapasan dan masalah pada peredaran darah.

  • Masalah punggung

Hampir seluruh penderita kondisi ini menderita sakit punggung yang bersifat menahun atau kronis. Hal ini bisa mengganggu berbagai aktivitas, bahkan tidur.

  • Penampilan buruk

Apabila kondisi penderita semakin memburuk, akan terjadi perubahan-perubahan fisik yang cukup jelas, seperti bahu atau pinggang yang tidak rata, tulang rusuk menonjol, atau pinggang miring ke salah satu sisi.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis skoliosis?

Dalam mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk melihat apakah tulang belakang Anda mengalami kelainan. Namun, sebelum itu, Anda harus menjalani pemeriksaan fisik terlebih dahulu.

Pemeriksaan fisik

Dokter akan mengecek punggung Anda ketika Anda sedang dalam posisi berdiri tegak. Dari posisi berdiri tersebut, dokter dapat mengetahui apakah ada lengkungan pada tulang belakang, serta apakah bahu dan pinggang Anda berada dalam posisi yang simetris atau tidak.

Setelah itu, dokter mungkin akan meminta Anda untuk membungkuk, sehingga dokter dapat mengecek adanya lengkungan di punggung bagian atas dan bawah.

Tes pencitraan

Tes pencitraan atau pengambilan gambar akan membantu dokter melihat struktur tulang belakang Anda dengan jelas. Berikut adalah jenis-jenis tes pencitraan yang direkomendasikan:

  • X-ray. Selama tes ini, Anda akan terpapar oleh sedikit sinar radiasi yang dapat menghasilkan gambar tulang belakang Anda.
  • MRI scan. Tes ini menggunakan gelombang radio dan magnet untuk menghasilkan gambar detail mengenai tulang belakang Anda, serta jaringan-jaringan yang berada di sekelilingnya.
  • CT scan. Selama tes ini berlangsung, gambar tulang belakang Anda akan diambil dari berbagai sudut dengan menggunakan teknik X-ray. Dengan CT scan, gambar yang dihasilkan adalah berupa foto 3 dimensi.
  • Scan tulang. Tes scan tulang menggunakan cairan radioaktif yang disuntikkan ke dalam tubuh Anda. Cairan ini kemudian akan dideteksi dengan alat tertentu untuk melihat adanya peningkatan sirkulasi darah, yang menunjukkan kelainan pada tulang belakang.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk skoliosis?

Hingga kini, belum ditemukan pengobatan yang bisa membuat skoliosis sembuh. Meski begitu, tersedia berbagai pengobatan yang bisa membantu meredakan gejalanya, mengurangi kelengkungan tulang belakang yang berlebihan, dan mencegah dampak negatif dari komplikasi skoliosis.

Cara mengobati penyakit skoliosis yang umumnya dilakukan adalah:

Minum obat pereda nyeri

Bagi Anda yang mengalami gejala nyeri pada punggung, dokter akan meresepkan obat acetaminophen atau ibuprofen untuk meredakan gejala skoliosis ini. Jika tidak juga membaik, dokter mungkin akan menaikkan dosis atau meresepkan obat lain yang lebih kuat efeknya.

Terapi bracing

Terapi bracing adalah salah satu cara untuk mengobati skoliosis. Bracing sendiri adalah alat penjepit yang digunakan di punggung. Penggunaan alat ini memang tidak bisa menyembuhkan tapi bisa mencegah kelengkungan tulang punggung agar tidak bertambah parah.

Jenis brace yang paling umum digunakan terbuat dari plastik dan diberi kontur agar sesuai dengan tubuh penggunanya. Penjepit ini hampir tidak terlihat di bawah pakaian, karena pas di bawah lengan dan di sekitar tulang rusuk, punggung bawah, dan pinggul.

Sebagian besar bracing dipakai siang dan malam. Efektivitas penjepit meningkat seiring dengan jumlah jam pemakaiannya. Anak-anak yang memakai alat ini biasanya dapat mengikutidalam sebagian besar aktivitas dan memiliki sedikit keterbatasan.

Penggunaan bracing pada anak biasanya dihentikan setelah tulang berhenti tumbuh atau ketika 2 tahun setelah anak perempuan mengalami menstruasi pertama.

Operasi

Cara mengobati dan penyembuhan skoliosis ringan kerap kali dilakukan tanpa operasi. Tindakan operasi hanya dilakukan jika kasusnya cukup parah dan tidak efektif diobati dengan pengobatan sebelumnya.

Jenis operasi yang dilakukan untuk mengatasi kelainan tulang belakang ini adalah fusi tulang belakang. Ahli bedah akan menghubungkan dua atau lebih tulang di tulang belakang (vertebra) secara bersamaan, sehingga mereka tidak dapat bergerak.

Potongan tulang atau bahan menyerupai tulang akan ditempatkan di antara tulang belakang. Batang logam, kait, atau sekrup biasanya menahan bagian tulang belakang itu agar tetap lurus dan tidak bergeser, sementara bahan tulang lama dan baru akan menyatu seiring wakgtu.

Komplikasi dari pengobatan kelainan tulang belakang berbentuk S ini antara lain perdarahan, infeksi, nyeri atau kerusakan saraf. Setelah operasi skoliosis dilakukan, Anda diharuskan untuk istirahat untuk memulihkan diri.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit ini?

Selain pengobatan dokter, cara mengatasi penyakit skoliosis juga perlu dilakukan lewat pengobatan rumahan, di antaranya:

Ikuti latihan fisik

Terapi dengan olahraga seperti yoga atau senam bisa menjadi cara untuk mengobati penyakit skoliosis. Meski begitu, tidak semua olahraga aman dilakukan.

Contoh olahraga yang dilarang untuk penderita skoliosis adalah olahraga yang memberi tekanan besar pada tulang belakang yang bisa menyebabkan kelengkungan tulang menjadi abnormal.

Menurut situs CHOC’s Children, contoh gerakan senam untuk skoliosis adalah pelvic tilt. Anda berbaring telentang dengan lutut ditekut dan telapak kaki menyentuh lantai. Kemudian, pastikan punggung menyentuh lantai dan kencangkan otot-otot di sekitar perut dan bokong.

Tahan selama 5 detik, bernapas dengan normal dan rilekskan otot-otot Anda. Ulangi latihan ini sebanyak sepuluh kali (1 sesi). Selama satu hari, Anda bisa melakukan latihan ini secara berulang sebanyak 2 set.

Jauhi pantangan

Anda akan disarankan untuk mengonsumsi makanan yang menyehatkan tulang, seperti sayur, buah-buahan, kacang-kacangan, ikan, dan biji-bijian.

Selain itu, Anda juga harus menghindari makanan pantangan untuk penderita skoliosis seperti makanan tinggi gula dan lemak atau minuman bersoda dan berakohol.

Tidur dengan posisi yang sesuai

Posisi tidur yang baik untuk penderita skoliosis adalah yang paling menurut Anda nyaman. Namun, Anda harus menghindari posisi tidur tengkurap. Sebaliknya memilih tidur dengan posisi telentang atau menyamping.

Perawatan lainnya

Jika penggunaan obat pereda nyeri menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan, Anda bisa mengurangi rasa nyeri dengan menempelkan kompres air hangat pada area punggung yang terkena.

Tempelkan kompres tersebut setiap kali punggung terasa sakit. Setiap menempelkan kompres, tidak boleh lebih dari 15 menit. Jadi setelah 15 menit, angkat kompres dan biarkan kulit Anda bernapas lega. Tujuannya, untuk menghindari masalah pada permukaan kulit terluar karena paparan panas.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit skoliosis?

Kebanyakan kasus penyakit skoliosis tidak dapat dicegah karena ini berhubungan dengan cacat bawaan lahir dan masalah genetik. Kecuali, jika penyebab yang mendasarinya adalah penyakit osteoporosis.

Cara pencegahan penyakit skoliosis terkait osteoporosis yang bisa Anda lakukan adalah meningkatkan asupan kalsium dan vitamin D pada makanan, seperti sayuran hijau, ikan, telur, daging merah serta susu dan yogurt yang difortifikasi dengan vitamin D.

Kemudian, sempurnakan dengan melakukan olahraga secara rutin, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi alkohol. Pada orang yang berisiko dengan pengeroposan tulang, konsumsi obat pembangun tulang bisa jadi pertimbangan. Konsultasikan hal ini lebih lanjut pada dokter Anda.

Sejauh ini, memperbaiki postur tubuh belum terbukti ampuh sebagai cara mencegah penyakit skoliosis. Namun, Anda tetap harus membiasakan diri untuk duduk dengan posisi yang benar untuk mencegah masalah tulang belakang lainnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenali Berbagai Penyebab dan Berbagai Faktor Risiko dari Osteoporosis

Pengeroposan tulang bukanlah penyakit orang tua. Bahkan orang muda bisa mengalaminya. Apa sebenarnya penyebab osteoporosis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Osteoporosis, Kesehatan Muskuloskeletal 23 September 2020 . Waktu baca 6 menit

6 Gejala Umum Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

Osteoporosis awalnya sulit dikenali karena tulang keropos biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu. Kenali gejala-gejalanya lebih lanjut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Osteoporosis, Kesehatan Muskuloskeletal 23 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Osteoporosis

Osteoporosis adala kondisi tulang mengalami pengeroposan secara berkelanjutan. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, dan pencegahannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Osteoporosis, Kesehatan Muskuloskeletal 23 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Kebanyakan kasus kepala bayi terbentur tidak bersifat fatal. Untuk membantu pemulihan dan menangani luka yang muncul di rumah, perhatikan panduan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

komplikasi osteoporosis

Berbagai Komplikasi Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 6 menit
makanan penguat tulang

5 Jenis Makanan Penguat Tulang untuk Penderita Osteoporosis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 7 menit
olahraga untuk osteoporosis

Senam Osteoporosis dan Jenis Olahraga Lain yang Dianjurkan Ahli

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 7 menit
obat tulang keropos pengobatan osteoporosis

6 Pilihan Obat Osteoporosis untuk Mencegah Tulang Makin Keropos

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 7 menit