Difteri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17 Juni 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria, yang menyerang tenggorokan dan sistem pernapasan atas. Bakteri tersebut juga menghasilkan racun yang dapat memengaruhi organ-organ lain. 

Akibatnya, penyakit ini menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel, membuat Anda sulit bernapas dan menelan. Sistem jantung dan saraf juga bisa ikut terganggu akibat kondisi ini.  

Penyakit ini menular melalui kontak fisik secara langsung dari napas, batuk, atau bersin orang yang terinfeksi. 

Seberapa umum penyakit ini?

Difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang di mana angka vaksinasi masih rendah. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun.

Secara umum, 5 sampai 10 persen orang yang terinfeksi penyakit difteri berakhir meninggal dunia. Beberapa orang lebih rentan daripada yang lain, dengan tingkat kematian 20 persen pada orang yang terinfeksi di bawah 5 tahun atau lebih dari 40 tahun. 

Difteri dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala difteri?

Pada tahap awal, penyakit difteri kerap dikira sebagai radang tenggorokan parah. Gejala lain yang muncul termasuk demam dan pembengkakan kelenjar yang terletak pada leher. 

Penyakit ini juga bisa menyebabkan kulit terasa sakit, merah, dan bengkak. Gejala biasanya muncul dua hingga empat hari setelah terinfeksi dalam jangka waktu enam hari. 

Walau bakteri difteri dapat menyerang jaringan apa saja pada tubuh, tanda-tanda yang paling menonjol adalah masalah pada tenggorokan dan mulut.

Berikut adalah tanda gejala umum dari difteri:

  • Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu
  • Radang tenggorokan dan serak
  • Pembengkakan kelenjar pada leher
  • Masalah pernapasan dan susah menelan
  • Cairan pada hidung, ngiler
  • Demam dan menggigil
  • Batuk yang keras
  • Perasaan tidak nyaman
  • Perubahan pada penglihatan
  • Bicara yang melantur
  • Tanda-tanda shock, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat

Orang yang membawa kuman difteri dapat menularkan hingga empat minggu jika tidak diobati dengan antibiotik. Hal tersebut dapat terjadi meski mereka tidak merasakan gejala. 

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda atau anak Anda telah melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki difteri. Apabila Anda tidak tahu apakah Anda atau anak Anda telah diberi vaksin difteri atau belum, segera atur jadwal pertemuan dengan dokter.

Anda juga perlu segera menghubungi dokter jika: 

  • Anda berada di daerah yang terinfeksi secara luas
  • Anda baru kembali dari daerah yang terinfeksi secara luas
  • Anda melakukan interaksi jarak dekat dengan orang yang terinfeksi

Penyakit ini membutuhkan pertolongan segera untuk mencegah komplikasi, seperti kesulitan bernapas dan masalah jantung. 

Penyebab

Apa penyebab difteri?

Penyebab difteri disebabkan oleh bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini dapat menyebarkan penyakit melalui partikel di udara, benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai bakteri penyebab difteri menyebar atau menular.

Partikel udara

Jika Anda menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, Anda dapat terkena difteri. Cara ini sangat efektif untuk menyebarkan penyakit, terutama pada tempat yang ramai.

Barang pribadi yang terkontaminasi

Penyebab lainnya adalah kontak dengan benda-benda pribadi yang terkontaminasi. Anda dapat terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda-benda yang membawa bakteri. 

Pada kasus yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan bersama, seperti handuk atau mainan.

Luka terinfeksi

Menyentuh luka yang terinfeksi juga dapat membuat Anda terpapar bakteri yang menyebabkan difteri.

Apa yang membuat saya berisiko kena penyakit ini?

Ada banyak faktor risiko untuk penyakit ini, antara lain:

  • Lokasi yang Anda tinggali
  • Tidak mendapat vaksinasi terbaru
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS
  • Tinggal di kondisi yang tidak bersih atau ramai.

Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang yang kesadaran untuk imunisasinya masih rendah. Penyakit ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang tidak divaksinasi atau melakukan perjalanan internasional ke negara berkembang yang tidak menyediakan imunisasi.  

Komplikasi

Komplikasi apa yang mungkin terjadi akibat difteri?

Jika tidak ditangani, penyakit difteri dapat menyebabkan kompilkasi:

Masalah pernapasan

Bakteri penyebab penyakit ini mungkin menciptakan toksin atau racun. Toksin ini menghancurkan jaringan pada daerah terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan. 

Dalam kondisi ini, infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lain. Membran ini bisa menghambat pernapasan. 

Kerusakan jantung

Toksin difteri mungkin menyebar melalui aliran darah dan menghancurkan jaringan lain dalam tubuh Anda, seperti otot jantung. Kalau sudah begini, Anda bisa mengalami komplikasi peradangan pada otot jantung (miokarditis). 

Kerusakan jantung akibat miokarditis mungkin jarang terjadi dan muncul sebagai kelainan minor pada elektrokardiogram yang menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak. 

Kerusakan jantung biasanya muncul 10-14 hari setelah terkena infeksi. Kerusakan  jantung yang berhubungan dengan difteri adalah:

  • Perubahan yang terlihat pada monitor elektrokardiograf (EKG).
  • Disosiasi atrioventrikular, di mana bilik jantung berhenti berdetak bersamaan. 
  • Blok jantung lengkap, di mana tidak ada denyut listrik yang melintasi jantung. 
  • Aritmia ventrikel, yang merupakan detak abnormal pada bilik bawah jantung. 

Kerusakan saraf

Toksin ini juga bisa menyebabkan kerusakan saraf. Biasanya, kerusakan saraf terjadi pada tenggorokan sehingga membuat Anda sulit menelan. 

Saraf di lengan dan kaki juga bisa meradang dan menyebabkan lemah otot. Jika Corynebacterium diphtheriae merusak saraf yang mengatur otot pernapasan, otot tersebut akan lumpuh. Pernapasan jadi tidak akan bisa dilakukan tanpa alat bantu. 

Biasanya, perjalanan penyakit akan berkembang sebagai berikut:

  • Pada minggu ketiga, akan ada kelumpuhan pada tekak (faring). 
  • Setelah minggu kelima, terjadi kelumpuhan pada otot mata, anggota badan, dan diafragma. 
  • Pneumonia dan kegagalan pernapasan dapat terjadi karena kelumpuhan diafragma. 

Dengan perawatan tepat, sebagian besar orang dengan penyakit difteri mampu bertahan menghadapi komplikasi di atas, tapi pemulihannya berlangsung lambat. Difteri berakibat fatal pada 3 persen dari mereka yang menderita penyakit ini. 

Penyakit yang lebih ringan akibat infeksi di lokasi lain

Jika infeksi bakteri menyerang jaringan selain tenggorokan dan sistem pernapasan, seperti kulit, rasa sakit biasanya lebih ringan. Ini karena tubuh menyerap jumlah toksin yang lebih sedikit. 

Infeksi bisa muncul dengan infeksi lain dan kondisi kulit. Kondisi tersebut mungkin punya tampilan yang mirip dengan eksim, psoriasis, atau impetigo. 

Namun, difteri di kulit dapat menghasilkan bisul di mana tidak ada kulit di tengah, tetapi tampak jernih dan terkadang keabu-abuan. Selaput lendir lainnya dapat terinfeksi oleh difteri, seperti konjungtiva mata, jaringan genital wanita, dan saluran telinga bagian luar. 

Diagnosis

Bagaimana difteri didiagnosis?

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya pembengkakan pada kelenjar limfa. 

Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel Anda, dokter dapat menduga Anda memiliki difteri. Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang Anda alami.

Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan biopsi. Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, dan diuji toksisitasnya:

  • Spesimen klinis yang diambil dari hidung dan tenggorokan.
  • Semua kasus yang dicurigai dan melakukan kontak dengan mereka diuji.

Pemeriksaan tersebut mungkin tidak tersedia, jadi dokter mungkin membutuhkan laboratorium spesialis untuk membantunya. 

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana mengobati difteri?

Dokter akan segera menangani penyakit Anda, karena difteri adalah kondisi yang sangat serius. Berikut langkah-langkah yang mungkin akan dilakukan tenaga medis:

Antitoksin

Pertama, dokter akan memberi suntikan antitoksin, untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Jika Anda alergi terhadap antitoksin, Anda perlu memberi tahu dokter agar dokter dapat menyesuaikan pengobatan. 

Sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin akan melakukan tes alergi pada kulit Anda untuk memastikan bahwa Anda bebas dari alergi antitoksin. 

Antibiotik

Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik, seperti erythromycin dan penicillin, untuk membantu mengatasi infeksi. Setelah diberikan obat-obatan tersebut, dokter dapat merekomendasi dosis tambahan vaksin difteri setelah Anda sehat untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri.

Jangan khawatir jika dokter meminta Anda untuk tinggal di rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit. Ini adalah hal yang normal.

Jika Anda menyadari bahwa Anda telah melakukan kontak dengan seseorang dengan penyakit difteri, Anda harus segera mengunjungi dokter untuk melakukan tes dan kemungkinan perawatan.

Anak-anak dan orang dewasa yang terinfeksi difteri harus menerima perawatan rumah sakit untuk pengobatan. Mereka mungkin akan diisolasi di Intensive Care Unit (ICU) karena penyakit ini menyebar dengan mudah dan cepat. 

Langkah pengobatan tersebut akan dilakukan terus-menerus hingga hasil pemeriksaan berubah menjadi negatif setelah pemberian antibiotik.

Perawatan pencegahan

Jika Anda telah terpapar dengan orang yang terinfeksi difteri, tanyakan dokter soal pemeriksaan dan perawatan apa yang Anda butuhkan. Dokter mungkin akan memberikan Anda antibiotik untuk mencegah perkembangan penyakit. 

Anda mungkin juga membutuhkan dosis pendorong vaksin difteri. Dokter juga merawat orang yang ditemukan sebagai pembawa difteri dengan antibiotik untuk membersihkan tubuh mereka dari bakteri.

Bagaimana pengobatan rumahan untuk penyakit ini?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit ini:

  • Banyak bed rest alias istirahat di tempat tidur. Batasi aktivitas fisik apabila jantung Anda terpengaruh. Anda mungkin memerlukan istirahat di tempat tidur selama beberapa minggu atau sampai Anda telah pulih total.
  • Isolasi ketat. Anda sebaiknya menghindari penyebaran penyakit pada orang lain apabila Anda terinfeksi.

Saat pulih dari penyakit ini, Anda mungkin membutuhkan vaksin difteri yang lengkap untuk mencegah terulangnya kembali. Pernah mengalami kondisi tersebut tidak menjamin Anda akan kebal seumur hidup. 

Anda bisa mengalami penyakit ini lebih dari sekali jika Anda tidak melakukan imunisasi lengkap. 

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit difteri?

Berikut upaya pencegahan untuk penyakit tersebut:

Vaksin

Sebelum antibiotik tercipta, difteri merupakan penyakit yang umum pada anak-anak. Namun kini, penyakit tersebut tak hanya bisa diobati, tapi juga dicegah dengan vaksin. 

Menurut WHO, vaksinasi telah mengurangi angka kematian dan morbiditas akibat difteri secara dramatis. Namun, penyakit itu masih menjadi masalah besar kesehatan anak di negara-negara dengan angka Environmental Performance Index (EPI) yang rendah. 

Vaksin ini merupakan toksoid bakteri, yaitu toksin yang toksisitasnya telah dinonaktifkan. Vaksin tersebut biasanya diberikan dalam bentuk perpaduan dengan vaksin lain, seperti untuk tetanus dan pertusis. 

Untuk anak-anak, ketiga vaksin tersebut dinamakan DPT (diphtheria, tetanus, dan pertussis). Sementara itu, untuk orang dewasa, vaksin yang diberikan biasanya dicampur dengan toksoid tetanus dengan konsentrasi yang lebih rendah. 

Vaksinasi terdiri dari lima suntikan, biasanya diberikan di lengan atau paha, dan diberikan kepada anak-anak pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 4 sampai 6 tahun. 

Ada beberapa efek samping dari vaksinasi ini. Anak-anak mungkin akan merasakan demam ringan, rewel, kantuk, hingga kebas di lokasi suntikan. Tanyakan dokter Anda tentang cara menurunkan atau menghilangkan efek tersebut. 

Pada kasus yang jarang terjadi, vaksin DPT menyebabkan komplikasi serius pada anak, seperti reaksi alergi (gatal atau ruam yang timbul beberapa menit setelah injeksi), kejang, atau syok. Namun, kondisi ini bisa diobati. 

Beberapa anak, khususnya yang mengalami epilepsi atau kondisi sistem saraf lainnya, mungkin tidak direkomendasikan mendapatkan vaksinasi DPT. 

Suntikan pendorong

Setelah rangkaian imunisasi saat masa anak-anak, Anda membutuhkan suntikan pendorong vaksin difteri untuk mempertahankan imunitas Anda. Hal itu karena kekebalan tubuh pada penyakit tersebut menghilang seiring dengan berjalannya waktu. 

Anak-anak yang telah melewati rekomendasi vaksin sebelum umur 7 harus mendapatkan suntikan pendorong pada usia 11 hingga 12 tahun. Suntikan pendorong selanjutnya direkomendasikan dilakukan pada 10 tahun berikutnya, dan diulang setiap 10 tahun sekali. 

Suntikan pendorong penting bagi Anda yang bepergian ke daerah yang umum akan penyakit difteri. 

Suntikan pendorong difteri dikombinasikan dengan pendorong tetanus, yaitu vaksin tetanus-difteri (Td). Kombinasi vaksin ini diinjeksi pada bagian lengan atau kaki. 

Tdap adalah gabungan antara vaksin tetanus, difteri, dan acellular pertussis (batuk rejan). Ini adalah vaksin alternatif satu kali untuk remaja usia 11 hingga 18 dan orang dewasa yang sebelumnya tidak mendapatkan suntikan pendorong. 

Vaksin tersebut juga direkomendasikan untuk wanita hamil, terlepas dari status vaksinasi sebelumnya. 

Seseorang yang mengalami reaksi alergi parah setelah divaksin dengan dosis difteri apa pun, atau yang mengandung vaksin tetanus atau pertusis tidak disarankan melakukan vaksin Tdap. Orang dengan alergi parah terhadap vaksin ini juga tidak diperbolehkan melakukan vaksin Tdap. 

Seseorang yang pernah mengalami koma atau kejang yang berulang-ulang dalam waktu tujuh hari setelah divaksin DPT dosis anak atau dosis Tdap sebelumnya, tidak boleh divaksin Tdap. Jika ditemukan penyebab lain selain vaksin, mereka boleh mendapatkan vaksin Td.

Segera hubungi dokter jika mengalami kejang atau masalah sistem saraf lainnya, mengalami sakit parah atau bengkak setelah mendapat vaksin untuk difteri, tetanus, atau pertussis, pernah mengalami kondisi bernama Guillain Barre Syndrome (GBS), dan tidak enak badan saat hari pemberian vaksin. 

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyakit Musiman yang Mengganggu Tenggorokan

Meskipun memiliki kemiripan, ada beberapa penyakit musiman yang mengganggu tenggorokan. Ketahui juga cara meredakan gejalanya agar kondisi cepat pulih.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
penyakit tenggorokan musiman
Telinga, Hidung & Tenggorokan, Health Centers 1 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Ada Benjolan di Ketiak Anda? Ini Beberapa Penyebabnya

Pernah meraba ketiak Anda? Apakah menemukan benjolan di sana? Benjolan di ketiak dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit yang mungkin serius.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin HiB: Manfaat, Efek Samping, dan Jadwalnya

Vaksin HiB mulai diberikan saat bayi berusia dua bulan. Apa manfaat dari imunisasi Haemophilus influenza tipe B (HiB) dan efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 25 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris berhasil memicu terbentuknya antibodi dan sel-T pada peserta uji klinis.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

imunisasi yang harus diulang

Daftar Imunisasi Anak yang Harus Diulang

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
saat minum antibiotik

Yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Minum Antibiotik

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Imunisasi untuk Remaja

Daftar Imunisasi Penting untuk Anak Usia 9-16 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
antibiotik untuk radang tenggorokan

Ciri-ciri Radang Tenggorokan yang Butuh Antibiotik dan yang Bisa Pakai Obat Biasa

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 4 menit