Autisme

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu autisme (gangguan spektrum autis)?

Autisme adalah gangguan fungsi otak dan saraf serius dan kompleks yang memengaruhi perilaku dan proses berpikir manusia.

Autisme mencakup segala gangguan dalam interaksi sosial, perkembangan bahasa, dan keterampilan komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Gangguan perkembangan ini umumnya dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup. 

Anak autis (sebutan lama bagi anak pengidap autisme, -red) cenderung kesulitan untuk menuangkan pikiran dan mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Mereka juga cenderung kesulitan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Mereka sangat sensitif sehingga lebih mudah terganggu, bahkan tersakiti oleh suara, sentuhan, bau, atau pemandangan yang tampak normal bagi orang lain. 

Selain itu, anak dengan kelainan ini juga cenderung melakukan hal yang diulang-ulang dan memiliki ketertarikan yang sempit dan obsesif.

Seberapa umumkah autisme?

Sekarang ini, autisme lebih umum dikenal dengan sebutan gangguan spektrum autis (GSA). Istilah GSA juga memayungi gangguan perkembangan lain dengan karakteristik serupa, seperti sindrom Heller, gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS), dan sindrom Asperger.

Secara peluang, anak laki-laki umumnya 5 kali lebih mungkin memiliki autisme daripada anak perempuan. 

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC), 1% anak di dunia ini tergolong autis (sebutan lama bagi anak pengidap autisme, -red). Itu artinya 1 dari 100 anak di dunia sudah diketahui memiliki gangguan pekembangan ini. 

Bagaimana dengan di Indonesia? Dikutip dari laman CNN, Melly Budhiman, seorang pakar dan ketua Yayasan Autisme Indonesia mengatakan bahwa sampai saat ini di Indonesia belum pernah ada survei resmi terkait total angka kasus anak dengan autism spectrum disorder.

Meski begitu, pada tahun 2013 lalu Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pernah menduga jumlah anak dengan autisme di Indonesia sekitar 112 orang dengan rentang usia 5 sampai 19 tahun.

Para pakar percaya jika kasus tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari angka kunjungan di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa pada klinik tumbuh kembang anak dari tahun ke tahun.

 Tanda-tanda dan Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala autisme?

Gejala autisme cukup beragam antar satu anak dengan yang lain.

Kelainan neurologis dan perkembangan ini menimbulkan gejala beragam. Setiap anak mungkin memiliki gejala yang berbeda-beda, dengan tingkat keparahan yang ringan hingga berat.

Akan tetapi, umumnya pada penderita menunjukkan beberapa gejala autis seperti dikutip dari National Health Service, yakni:

Gejala autisme pada bayi dan anak yang lebih muda

  • Tidak memberi respons ketika namanya dipanggil
  • Menghindari kontak mata dengan orang lain
  • Tidak tersenyum, meskipun Anda memberikan senyum pada mereka
  • Melakukan gerakan berulang, seperti mengepakkan tangan, menjentikkan jari, atau mengayunkan tubuh
  • Cenderung pendiam, tidak banyak berceloteh seperti bayi kebanyakan
  • Sering mengulang kata atau frasa yang sama 

Gejala autisme pada anak yang lebih besar

  • Sulit mengungkapkan perasaan dan mengekspresikan emosi
  • Sulit mengerti apa yang diucapkan, dipikirkan, dan dirasakan orang lain
  • Memiliki minat tinggi pada suatu kegiatan sehingga terkesan obsesif dan melakukan suatu perilaku secara berulang (stimming)
  • Menyukai rutinitas yang terstruktur dan sama. Jika rutinitas terganggu, ia akan sangat marah.
  • Sulit untuk menjalin pertemanan dan lebih suka menyendiri
  • Sering kali menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Alih-alih menjawab, mereka lebih sering mengulang apa yang dikatakan orang lain

Gejala autis pada anak laki-laki dan perempuan, terkadang sedikit berbeda. Anak perempuan cenderung lebih tenang dan pendiam, sementara anak laki-laki cenderung lebih hiperaktif. Gejala pada anak perempuan yang “samar-samar” ini menyebabkan diagnosis jadi lebih sulit.

Gejala autisme pada orang dewasa

  • Sulit memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain
  • Sangat cemas dengan berbagai situasi sosial atau kegiatan di luar rutinitas
  • Sulit berteman atau lebih suka menyendiri
  • Sering kali berbicara blak-blakan dan kasar dan menghindari kontak mata dengan orang lain
  • Sulit menunjukkan perasaan pada orang lain
  • Saat berbicara dengan orang lain, posisi tubuhnya akan sangat dekat dengan Anda. Bisa juga sebaliknya, tidak suka orang lain berada terlalu dekat atau melakukan kontak fisik, seperti menyentuh atau memeluk
  • Sangat teliti pada suatu hal yang kecil, berpola, dan mudah terganggu oleh bau atau suara yang dianggap normal oleh orang lain.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda merasa anak Anda lambat berkembang. Beberapa gejala dapat dilihat dalam 2 tahun pertama. Tanda dan gejala yang menjadi pertimbangan Anda untuk membawa si kecil ke dokter, antara lain:

  • Tidak merespon saat dipanggil
  • Perkembangan komunikasi lambat
  • Sulit bersikap dan berperilaku atau mengalami beberapa gejala seperti yang sudah disebutkan di atas

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab autisme?

Hingga kini penyebab pasti kelainan neurologi dan perkembangan ini tidak diketahui secara pasti. Namun, periset menyebutkan bahwa kelainan ini berkaitan erat dengan faktor genetik dan lingkungan.

Periset menemukan sejumlah gen yang kemungkinan berperan dalam kelainan ini. Pada tes pencitraan ditemukan bahwa orang yang autis memiliki perkembangan beberapa area otak yang berbeda.

Gangguan pada perkembangan otak ini yang menyebabkan adanya masalah pada kinerja sel otak satu sama lain.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk autisme?

Beberapa hal yang bisa meningkatkan faktor risiko seseorang mengalami autisme adalah:

  • Jenis kelamin. Autisme terjadi 4 kali lebih sering pada laki-laki dibanding wanita.
  • Riwayat keluarga. Keluarga yang memiliki anak autis mungkin akan memiliki anak autis lain.
  • Penyakit lain. Autis cenderung terjadi lebih sering pada anak dengan genetik atau kondisi kromosom tertentu, seperti sindrom fragile X atau sklerosis tuberous.
  • Bayi prematur. Autisme lebih sering terjadi pada bayi prematur dengan berat badan yang rendah. Biasanya bayi lebih berisiko jika lahir sebelum 26 minggu.
  • Paparan bahan kimia dan obat tertentu. Paparan logam berat, obat valproic acid (Depakene) atau thalidomide (Thalomid) pada janin dapat meningkatkan risiko terjadinya autis.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis autisme?

Tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosis autis pada anak. Akan tetapi, dokter akan melakukan berbagai tes pendekatan yang bisa membantu menegakkan diagnosis. Berbagai cara yang umumnya dilakukan dokter, antara lain:

  • Langkah pertama melibatkan skrining perkembangan umum selama anak diperiksa dengan dokter anak saat masa kanak-kanak. Anak yang menunjukan beberapa masalah perkembangan dirujuk untuk evaluasi tambahan.
  • Langkah kedua melibatkan evaluasi dari tim dokter dan dokter spesialis lain. Pada tahap ini, anak dapat didiagnosis menderita autisme atau gangguan perkembangan lain.

Selama proses ini dokter akan mengamati perilaku dan gejala yang dirasakan anak dengan mengajukan pertanyaan pada orang tua. Sejalan dengan ini, dokter akan mengamati bagaimana anak berinteraksi dan berkomunikasi.

Dokter akan menguji kemampuan anak dan mendengar, berbicara, dan mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Selanjutnya, tes pencitraan akan dilakukan untuk menyingkirkan beberapa kondisi atau penyakit.

Apa saja pilihan pengobatan autisme?

Tidak ada pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan autisme. Meski begitu, beberapa perawatan tertentu dapat mengurangi keparahan gejala dan membuat kualitas hidup orang dengan kelainan ini jadi lebih baik.

Ini sangat perlu dilakukan secepat mungkin, mengingat kelainan ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, pendidikan, dan kesejahteraan diri.

Anak yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat, akan kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, menerima pelajaran di sekolah, dan menjalin pertemanan. Bila terus dibiarkan, hal ini memengaruhi prestasi anak di sekolah, masa depannya, dan hubungannya dengan orang yang disayangi.

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat (CDC), pilihan pengobatan dan perawatan yang bisa dijalani oleh orang dengan autisme, antara lain:

Perawatan untuk meningkatkan perilaku dan komunikasi

Orang dengan autisme biasanya memiliki kemampuan berkomunikasi yang rendah dan kerap kali berperilaku tidak seperti orang-orang pada umumnya. Untuk mengatasi hal ini, dokter dapat merekomendasikan berbagai jenis terapi, seperti:

  • Terapi okupasi, yakni terapi yang mengajarkan berbagai keterampilan berpakaian, makan, mandi, dan menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Terapi integrasi sensoris, yakni membantu mengolah informasi dari pemandangan, suara, sentuhan, dan bau sehingga kurang tingkat sensitivitasnya pada hal tersebut.
  • Terapi wicara, yakni meningkatkan keterampilan berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal (bahasa dan gerak tubuh).

Penggunaan obat-obatan

Tidak ada obat-obatan yang dapat menyembuhkan autisme. Akan tetapi, beberapa obat bisa digunakan untuk meringankan gejala tertentu. Misalnya, obat untuk antidepresan untuk mengurangi kecemasan, obat anti kejang, atau obat untuk membantu meningkatkan konsentrasi.

Obat-obatan ini tidak boleh digunakan secara sembarangan. Pasalnya, kelebihan dosis maupun efek samping dapat terjadi, apalagi jika diberikan untuk anak-anak. Untuk itu, selalu gunakan obat di bawah pengawasan dokter.

Perawatan tambahan

Untuk meringankan gejala autisme, beberapa perawatan tambahan mungkin direkomendasikan. Sebelum dilakukan, dokter dan ahli kesehatan lain akan mempertimbangkan manfaat yang didapat pasien. Beberapa perawatan tambahan yang biasanya dilakukan, meliputi:

  • Terapi nutrisi, yakni pemenuhan nutrisi tertentu yang dibutuhkan sekaligus membantu pasien dari kebiasaan makan yang tidak sehat.
  • Chelation, yaitu perawatan khusus untuk menghilangkan logam berat di dalam tubuh. Sayangnya, pengobatan ini sangat berisiko sehingga perlu pertimbangan yang matang jika ingin dilakukan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi autisme?

Beberapa gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda menangani anak autisme adalah:

Buat rutinitas yang teratur di rumah

Orang yang autis mudah sekali terganggu dengan kegiatan di luar rutinitasnya. Hal ini bisa memicu munculnya gejala, sehingga membuat Anda memutar otak untuk mengatasinya.

Jadi, selalu buat jadwal kegiatan yang rutin dan sebisa mungkin menghindari berbagai kegiatan mendadak. Manfaatnya tidak hanya itu saja, ini bisa membantu mengurangi perilaku berulang pada pasien.

Mengikuti pengobatan sesuai arahan dokter

Perawatan untuk orang dengan autisme sangat beragam. Untuk mendapatkan jenis perawatan yang tepat, konsultasikan lebih dahulu pada dokter. Dokter akan membantu memilih perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat keparahan gejala.

Pada tingkat gejala yang ringan, pasien mungkin direkomendasikan perawatan tunggal. Namun, pada beberapa kasus, pasien perlu menjalani perawatan kombinasi. Selalu konsultasi pada dokter dengan rutin untuk memantau hasil perawatan.

Selalu buat catatan mengenai berbagai perilaku dan gejala yang terjadi pada pasien selama masa perawatan untuk dilaporkan ke dokter.

Buat kegiatan di rumah yang bermanfaat

Meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, tidak hanya tugas dokter atau terapis saja. Sebagai orangtua, Anda juga menjadi sosok penting yang bisa mendukung perawatan anak, yakni membuat kegiatan yang bermanfaat di rumah.

Kegiatan ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti membaca buku bersama untuk membantunya mengolah bahasa dan kata.

Mengenalkannya pada berbagai bunyi-bunyian dari benda yang ada di sekitar dapat mengurangi  tingkat kepekaan pasien pada suatu bunyi-bunyian normal. Selain itu, hal ini juga membantu Anda untuk menghindari bunyi-bunyian tertentu yang bisa memicu gejalanya.

Membuat kegiatan seperti memang tidak mudah. Jadi, rencanakan hal ini dengan dokter maupun terapis yang menangani kondisi anak. Tidak hanya mendukung perawatan, kegiatan tersebut juga bisa memperkuat ikatan antara pasien dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.

Penuhi kebutuhan pasien sesuai dengan kondisinya

Kebutuhan pasien tidak hanya mendapat pengobatan dan pemenuhan nutrisi saja. Pasien tetap membutuhkan pendidikan dan meningkatkan wawasannya. Untuk itu, cari sekolah khusus dan pengajar terlatih yang bisa membantu pasien untuk belajar.

Anda bisa meminta rekomendasi sekolah maupun pengajar dari dokter atau terapis yang menangani pasien. Selain itu, referensi tambahan juga bisa Anda dapatkan dari internet.

Mengikuti komunitas autis

Menjadi pengasuh dan perawat untuk orang dengan autisme bukan tugas yang mudah. Anda perlu memperbanyak pengetahuan seputar kelainan neurologis ini, mulai dari kondisi itu sendiri, gejala, pengobatan, dan berbagai cara menghadapi masalah dalam merawat pasien.

Ini semua bisa Anda dapatkan dengan konsultasi dokter, membaca buku, atau terjun langsung dalam suatu komunitas bagi orang autis. Dari sini, Anda bisa bertukar pikiran, berbagi, sekaligus memperluas jaringan dengan orang-orang yang menghadapi kesulitan yang sama.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

    Pernahkah Anda terbayang seperti apa rasanya koma? Anda juga mungkin penasaran, sebenarnya pasien koma masih sadar tidak? Yuk, cari tahu lebih jauh di sini.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 14 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

    Rutin Makan Buah Bermanfaat Menurunkan Risiko Penyakit Alzheimer

    Studi menunjukkan manfaat makan buah rutin bisa untuk menurunkan risiko penyakit Alzheimer. Namun, benarkah demikian? Yuk, ulas lebih dalam di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Gangguan Saraf, Health Centers 27 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hari Raya, Ramadan 10 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

    Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hari Raya, Ramadan 27 April 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    gerakan senam otak

    3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    anemia sel sabit sickle cell anemia adalah

    Anemia Sel Sabit (Sickle Cell Anemia)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
    ensefalopati uremikum

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    diabetes insipidus adalah

    Diabetes Insipidus

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 6 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit