home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Mitos Kuno Seputar Olahraga yang Tidak Perlu Anda Percayai Lagi

7 Mitos Kuno Seputar Olahraga yang Tidak Perlu Anda Percayai Lagi

Selain dari asupan makanan dan istirahat yang cukup, berolahraga memang memiliki beragam manfaat kesehatan yang tak perlu Anda ragukan lagi. Tak hanya membuat tubuh Anda sehat dan bugar, rajin berolahraga juga membantu membuat suasana hati terus-menerus membaik. Sayangnya, masih banyak mitos olahraga menyesatkan yang beredar di masyarakat, lho.

Berbagai mitos tentang olahraga yang perlu Anda ketahui

Ada berbagai manfaat olahraga yang bisa Anda rasakan, mulai dari menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung dan paru, membentuk otot, hingga memperbaiki suasana hati.

Namun, mitos yang beredar di masyarakat mengenai aktivitas ini mungkin saja menghambat Anda memperoleh manfaatnya. Misalnya, berolahraga hanya akan meningkatkan risiko cedera atau malah menjadi hal yang sia-sia untuk Anda lakukan.

Nah, untuk menghindarinya Anda perlu mengetahui beberapa fakta dan mitos tentang olahraga yang keliru seperti berikut ini.

1. Olahraga harus banyak berkeringat

hidung berkeringat

Salah satu mitos yang masih banyak kalangan percayai adalah semakin banyak keringat saat berolahraga, artinya makin efektif dan berat badan yang turun makin banyak. Itulah sebabnya banyak orang yang akhirnya “mati-matian” berolahraga sampai bermandikan keringat.

Faktanya, hal ini hanya mitos belaka. Ada banyak faktor yang memengaruhi seberapa banyak Anda berkeringat saat olahraga. Mulai dari metabolisme tubuh, jenis olahraga, hingga di mana dan kapan Anda melakukan olahraga.

Tubuh setiap orang berbeda, sehingga Anda bisa saja mendapatkan manfaat olahraga seperti penurunan berat badan tanpa banyak keringat. Selain itu, berolahraga terlalu berat dan berkeringat terlalu banyak berkeringat malah bisa berbahaya, lho.

Bagi sejumlah orang dengan kondisi tertentu, seperti ibu hamil dan lansia, keringat yang keluar terlalu banyak dapat memicu dehidrasi, pusing, dan tekanan darah rendah.

2. Semakin lama berolahraga, semakin baik

Debbie Mandel, pakar fitness dan penulis buku Turn On Your Inner Light: Fitness for Body, Mind, and Soul mengatakan bahwa olahraga dengan durasi lebih lama dari umumnya tidak menjamin Anda bisa merasakan manfaatnya lebih baik.

Seperti dikutip dari American College of Sport Medicine, seseorang harus melakukan olahraga aerobik dengan intensitas ringan minimal 30 menit selama lima hari per minggu. Aktivitas fisik ini sudah efektif untuk meningkatkan kebugaran dan membantu menurunkan berat badan.

Sebaliknya, olahraga lebih dari 90 menit malah dapat merusak tubuh hingga menyebabkan cedera otot dan persendian. Pada dasarnya tidak penting seberapa lama durasi olahraga yang Anda lakukan. Konsistensi adalah kunci utama agar Anda bisa merasakan manfaatnya.

3. Bersakit-sakit dahulu, senang-senang kemudian

Setelah kemarin berolahraga, keesokan harinya Anda mungkin bangun dengan rasa nyeri dan pegal pada sekujur tubuh. Bahkan, untuk menggerakkan tangan saja terasa sakit. Katanya, rasa sakit ini pertanda baik karena itu artinya olahraga yang Anda lakukan berhasil.

Tetapi faktanya, olahraga yang ideal dan berkualitas justru tidak membuat Anda menderita setelah melakukannya. Walaupun rasa sakit setelah olahraga umum terjadi, kondisi ini umumnya tidak menetap dan akan berangsur pulih dengan cepat.

Jennifer Solomon, MD, dokter spesialis tulang belakang dan olahraga dari Hospital for Special Surgery, New York City seperti dikutip dari Everyday Health mengatakan, sering kali rasa sakit yang Anda rasakan ini adalah peringatan cedera karena melakukan olahraga berlebihan.

Itulah sebabnya, Anda tak perlu melakukan olahraga ekstrem sampai tubuh terasa nyeri untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Anda sudah bisa mendapatkan banyak manfaat meski hanya olahraga jalan cepat selama 30 menit.

4. Rajin sit up agar perut rata

Banyak kalangan percaya kalau gerakan sit up efektif untuk mengecilkan perut buncit. Padahal kenyataannya, efek pembakaran lemak perut melalui gerakan olahraga ini tidaklah terlalu besar. Sit up sebetulnya termasuk olahraga yang khusus bertujuan untuk membentuk dan meningkatkan massa otot agar lebih kuat.

Sit up bukanlah satu-satunya olahraga untuk memperkuat otot inti tubuh dan bisa mengecilkan perut. Meski begitu Anda tak perlu khawatir, masih ada banyak pilihan olahraga lain yang membantu Anda mendapatkan perut rata nan sixpack.

Olahraga kardio, seperti jogging, lompat tali, dan latihan HIIT cardio efektif untuk membakar lemak, termasuk juga tumpukan lemak perut. Anda juga bisa memadukan dengan berbagai gerakan senam perut, seperti side plank, swing kettle pose, atau cross crunch.

5. Olahraga lari tidak baik untuk lutut

sakit lutut

Mitos tentang olahraga lainnya yang keliru dan tidak terbukti adalah berlari bisa menyebabkan masalah lutut. Hal ini didasari karena aktivitas lari memberikan memberikan tekanan berlebih pada kaki sehingga bisa menyebabkan cedera lutut.

Padahal, penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Jurnal Human Movement Science meneliti sejumlah studi dan menemukan bahwa olahraga lari justru bisa meningkatkan massa otot kaki dan kepadatan tulang semakin kuat. Selama Anda memiliki kondisi lutut normal dan berat badan ideal, maka berlari tidak akan memberikan dampak buruk pada lutut.

Tetapi, lain halnya jika Anda mengalami masalah tulang, seperti osteoarthritis dan berat badan berlebih (obesitas), Anda sebaiknya jangan berlari secara terus-menerus. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai olahraga lari.

6. Pagi hari adalah waktu ideal berolahraga

Anda mungkin sering mendengar bahwa waktu terbaik untuk berolahraga adalah pagi hari. Mungkin benar, karena olahraga di pagi hari bisa membantu meningkatkan metabolisme tubuh setelah tidur. Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan lebih banyak udara segar sekaligus menghindari berbagai gangguan pada siang atau sore hari.

Namun faktanya, tidak ada waktu yang tepat bagi tubuh Anda untuk berolahraga. American Heart Association bahkan menjelaskan bahwa kunci untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik adalah melakukannya secara konsisten.

Anda yang tidak terbiasa bangun pagi, bisa memilih berolahraga pada siang atau sore hari. Tetapi, apabila olahraga malam malah membuat Anda kesulitan tidur, maka cobalah alihkan sesi ini lebih awal dari jadwal sebelumnya.

7. Satu program olahraga cocok untuk semua orang

Untuk mendapatkan kebugaran tubuh, tidak jarang Anda mengikuti panduan program olahraga dan nutrisi yang tersedia di majalah atau internet. Sayangnya, tidak semua orang berhasil saat mengikutinya. Hal ini karena karakteristik dan kebutuhan fisik setiap orang yang berbeda.

Pertama kali, Anda perlu menilai tingkat kebugaran tubuh yang berfungsi sebagai tolak ukur kemajuan setelah latihan. Selanjutnya, Anda bisa memilih program latihan yang sesuai dan lakukan secara perlahan dan kemudian tingkatkan.

Jangan terlalu cepat berganti program olahraga jika tidak berhasil. Sebaiknya coba satu program latihan selama 4 hingga 6 minggu untuk mengetahui apakah latihan yang Anda lakukan berhasil atau tidak. Jika iya Anda bisa melanjutkan atau meningkatkan latihan, sementara jika tidak Anda bisa berganti ke program lainnya.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Iliades, C., & Marcellin, L. (2011). 10 Fitness Facts and Myths. Everyday Health. Retrieved 27 May 2019, from https://www.everydayhealth.com/fitness-pictures/separating-fitness-fact-from-fiction.aspx#stretch-before-you-exercise

Tucker, A. (2016). 12 Workout Myths That Just Need To Die. Self. Retrieved 27 May 2019, from https://www.self.com/story/12-workout-myths-that-just-need-to-die

Rotstein, N. 6 Exercise Myths for Women. Active. Retrieved 27 May 2019, from https://www.active.com/fitness/articles/6-exercise-myths-for-women

5 steps to start a fitness program. Mayo Clinic. (2019). Retrieved 17 May 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/fitness/in-depth/fitness/art-20048269

When is the best time of day to work out?. American Heart Association. (2016). Retrieved 17 May 2021, from https://www.heart.org/en/healthy-living/fitness/fitness-basics/when-is-the-best-time-of-day-to-work-out

Physical Activity Guidelines Resources. American College of Sports Medicine. Retrieved 17 May 2021, from https://www.acsm.org/read-research/trending-topics-resource-pages/physical-activity-guidelines

Garofolini, A., & Taylor, S. (2019). The effect of running on foot muscles and bones: A systematic review. Human Movement Science, 64, 75-88. https://doi.org/10.1016/j.humov.2019.01.006

Foto Penulis
Ditulis oleh Risky Candra Swari pada 11/06/2019
x