4 Kesalahan Berolahraga yang Sering Menyebabkan Tulang Retak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Fraktur stres adalah kondisi saat tulang retak, biasanya retakan yang terjadi cukup ringan. Dinamakan fraktur stres (alias ‘retakan karena tekanan’) karena kondisi ini disebabkan oleh tekanan pada tulang yang dilakukan berulang kali, bahkan berlebihan, seperti melompat terus menerus atau berlari jarak jauh. Rasa sakit yang terkait dengan tulang retak terkadang tidak disadari oleh Anda, tapi cenderung memburuk seiring dengan waktu. Nyeri biasanya berasal dari lokasi tertentu dan akan berkurang ketika istirahat. Anda mungkin mengalami pembengkakan di sekitar daerah yang mengalami fraktur stres.

Tulang Anda membutuhkan keseimbangan yang memadai antara tenaga dan istirahat, serta gizi yang baik dan bentuk latihan yang tepat agar tetap sehat. Dalam berolahraga, Anda harus melakukan latihan yang tepat untuk menghindari cedera, termasuk faktur stres. Berikut beberapa kesalahan dalam berolahraga yang dapat menyebabkan fraktur stres.

Penyebab fraktur stres (tulang retak) akibat olahraga

Fraktur stres sering kali merupakan hasil dari peningkatan jumlah atau intensitas kegiatan yang terlalu cepat. Tulang kita akan menyesuaikan peningkatan beban secara bertahap melalui pembentukan ulang. Itu adalah proses normal ketika tulang memikul beban yang terus meningkat. Jika tulang dipaksakan untuk menyesuaikan diri terhadap penambahan beban dalam waktu yang singkat, maka itu akan meningkatkan risiko kondisi retakan tulang ini. Jika Anda sering berolahraga, inilah beberapa kesalahan yang sering dilakukan.

1. Peningkatan frekuensi latihan

Atlet yang meningkatkan jumlah sesi latihan tanpa memberikan tubuh mereka waktu yang cukup untuk menyesuaikan dapat berisiko mengalami fraktur stres. Misalnya, pelari santai yang terbiasa menjalani latihan dua hingga tiga kali seminggu dapat mengalami retakan pada tulang kaki, pergelangan kaki, atau tulang kering, jika mereka secara tiba-tiba mengubah latihan menjadi enam kali seminggu.

2. Peningkatan durasi latihan

Meningkatkan lamanya sesi latihan terlalu cepat dapat menyebabkan retakan tulang. Misalnya, seorang penari balet yang terbiasa melakukan sesi latihan selama 30 menit sehari dapat terkena fraktur stres jika meningkatkan sesi latihan menjadi 90 menit atau lebih.

3. Peningkatan intensitas latihan

Bahkan jika Anda tidak mengubah frekuensi latihan rutin, perubahan tingkat tenaga pada latihan Anda masih dapat menyebabkan retakan tulang, jika tubuh tidak diberi waktu untuk menyesuaikan diri dengan tingkat intensitas baru. Misalnya, seorang atlet lari yang terbiasa dengan 30 menit level sedang pada mesin elliptical trainer setiap minggunya, mungkin akan mengalami fraktur stres jika ia beralih ke tiga sesi latihan dengan mencampur sprint dan plyometrics. Fenomena yang sama dapat terjadi ketika atlet secara dramatis meningkatkan kecepatan.

4. Perubahan permukaan olahraga

Atlet yang sudah terbiasa dengan satu jenis permukaan olahraga dapat mengalami tulang retak jika mereka beralih ke jenis permukaan yang baru. Contohnya beralih dari lapangan tenis rumput ke lapangan tenis tanah liat, beralih dari rumput alami ke rumput sintetis, atau beralih dari berlari di treadmil ke berlari di luar ruangan.

Setelah mengetahui keempat kondisi di atas, seorang atlet atau orang lain yang terlibat dalam olahraga sangat disarankan untuk meningkatkan latihan secara bertahap untuk mengurangi risiko fraktur stres.

Gejala yang muncul jika Anda mengalami fraktur stres (tulang retak)

Gejala utama dari fraktur stres adalah rasa sakit dan nyeri pada lokasi yang retak, meskipun beberapa fraktur hanya mengakibatkan sedikit atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Gejala lainnya adalah:

  • Rasa pegal dan nyeri yang dirasakan jauh di dalam kaki, jari kaki, pergelangan kaki, tulang kering, pinggul, atau lengan. Titik pusat yang menjadi sumber rasa nyeri tersebut sulit untuk ditentukan, karena nyeri terasa di seluruh kaki bagian bawah.
  • Nyeri yang dapat hilang saat Anda beristirahat, namun berlanjut jika kembali beraktivitas. Misalnya, rasa sakit di kaki atau di pergelangan kaki yang muncul saat kaki menapak ke tanah saat berjalan atau menari, tapi menghilang setelah akhir sesi latihan. Atau nyeri di siku atau bahu yang hanya terjadi ketika melempar atau menangkap bola. Rasa sakit mungkin tidak mulai dari awal latihan, tetapi dapat berkembang pada titik yang sama selama kegiatan tersebut.
  • Perasaan lemas pada kaki, pergelangan kaki, atau anggota tubuh, dengan atau tanpa rasa sakit. Seorang pelari mungkin tiba-tiba tidak dapat berlari dengan kecepatan atau jarak yang sama seperti sebelumnya tanpa merasakan lelah atau kaki lemas, meskipun ini terjadi tanpa rasa sakit.
  • Pembengkakan. Jaringan lunak di sekitar fraktur dapat menjadi bengkak dan sedikit empuk ketika disentuh. Memar juga dapat hadir, meskipun hal ini jarang terjadi bagi kebanyakan kasus.
  • Nyeri yang terpusat di area tubuh tertentu di malam hari. Nyeri di daerah tertentu, seperti kaki, pergelangan kaki, atau pinggul yang muncul di malam hari sering dikaitkan dengan fraktur stres, bahkan jika rasa sakit tidak mengganggu kegiatan olahraga.
  • Nyeri di punggung atau di sisi tubuh. Nyeri yang mengganggu di punggung terkadang bisa menjadi indikator tulang retak di rusuk dan/atau di sternum, yang dapat terjadi pada atlet olahraga seperti dayung, tenis, atau baseball.

Normal Kah Detak Jantung Anda?

Kalkulator detak jantung kami bisa memperkirakan berapa target detak jantung saat olahraga yang perlu Anda capai.

Coba Hitung!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Olahraga Kardio vs Angkat Beban: Mana yang Lebih Cepat Turunkan Berat Badan?

Olahraga adalah cara mendapatkan berat badan ideal yang paling efektif. Namun dari semua jenis, mana yang lebih manjur: olahraga kardio atau angkat beban?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Olahraga Kardio, Kebugaran 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Patah Tulang Selangka

Patah tulang selangka disebabkan oleh trauma langsung pada tulang selangka saat terjadi tabrakan mobil atau kecelakaan lainnya. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Muskuloskeletal, Patah Tulang 2 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Sit Up Tidak Bisa Menghilangkan Lemak Perut?

Sudah rajin sit up tapi perut masih buncit? Wajar saja, karena kita tidak bisa hanya menghilangkan lemak di bagian tertentu saja. Jadi harus bagaimana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Latihan Kekuatan Otot, Kebugaran 24 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Ini Bahayanya Jika Anda Berolahraga di Siang Hari Saat Panas Terik

Katanya, olahraga di siang hari bisa membakar kalori lebih banyak sehingga efektif untuk menurunkan berat badan. Padahal, justru bisa berbahaya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Olahraga Lainnya, Kebugaran 23 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

7 Olahraga untuk Membantu Menambah Tinggi Badan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
senam jantung sehat

Yuk, Ketahui Manfaat dan Gerakan Senam Jantung Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
tips olahraga hiv

Olahraga Pagi atau Olahraga Malam, Mana yang Lebih Baik?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Satria Perdana
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit