home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

COVID-19 Bisa Menginfeksi Sel Otak dan Picu Kerusakan Jangka Panjang

COVID-19 Bisa Menginfeksi Sel Otak dan Picu Kerusakan Jangka Panjang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pasien COVID-19 dengan gejala ringan dapat mengalami kerusakan otak serius yang mungkin berdampak jangka panjang. Peringatan ini dinyatakan setelah studi terbaru menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk peradangan otak, psikosis, dan delirium.

Bahkan temuan terbaru memperlihatkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini dapat langsung masuk dan menginfeksi jaringan otak.

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa menginfeksi otak dan merusak

virus penyebab covid-19 bisa menginfeksi otak

Gejala dan dampak yang ditimbulkan infeksi virus corona penyebab COVID-19 masih terus diteliti. Selama beberapa bulan terakhir para ilmuwan menemukan serangkaian dampak sementara maupun jangka panjang yang berpotensi menyerang pasien COVID-19.

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat membajak sel-sel otak, menggunakan kemampuan dirinya dalam membelah diri. Virus ini secara langsung menginfeksi sel-sel otak yang disebut neuron.

Fakta tersebut dilaporkan dalam sebuah yang diposting di bioRxiv, jurnal yang yang belum melalui tinjauan rekan sejawat (peer-review).

Peneliti melakukan penelitian pada tiga pasien COVID-19 yang meninggal. Mereka membedah dan memeriksa jaringan otak jenazah tersebut. Untuk memastikan hasil dari pemeriksaan jaringan, para peneliti melakukan eksperimen pada sel (organoid) dan pada tikus.

Dalam eksperimen pada organoid, tim menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini dapat memasuki neuron otak melalui reseptor ACE2. Reseptor ACE2 adalah protein yang digunakan virus untuk memasuki sel dan memicu infeksi.

Mereka kemudian menggunakan mikroskop khusus dan melihat partikel virus penyebab COVID-19 dapat menguasai jaringan neuron dan memperbanyak diri.

Dalam eksperimen ini, peneliti juga menemukan adanya perubahan metabolisme pada sel-sel otak sehat yang berada di dekat sel yang telah terinfeksi. Akibatnya sel-sel yang berada di dekat sel yang terinfeksi ini mati. Menurut peneliti, hal ini menunjukkan kalau sel yang terinfeksi itu mencuri kadar oksigen dalam sel sehat di sebelahnya untuk membantu si virus membelah diri.

COVID-19 bisa menyebabkan kerusakan otak

pasien covid-19 efek kerusakan otak jangka panjang

Sebelum lebih dulu diketahui bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada otak. Peneliti dari University College London (UCL) menerbitkan hasil studi pada 43 pasien COVID-19 yang menunjukkan komplikasi kerusakan otak dan saraf serius. Dalam rincian laporan tersebut peneliti mengetahui setidaknya ada 4 efek virus pada saraf otak.

Pertama, beberapa pasien COVID-19 mengalami keadaan bingung yang dikenal sebagai delirium atau ensefalopati. Kondisi delirium biasanya dikaitkan dengan penurunan kognitif, gangguan memori, hingga merasa linglung dan mengalami disorientasi.

Pada mayoritas kasus COVID-19, gangguan saraf otak ini terjadi hanya sementara. Meski begitu, para ahli saraf mempertanyakan mengapa kondisi ini terjadi pada pasien COVID-19.

Dalam satu studi kasus, delirium terjadi pada seorang pasien COVID-19 berusia 55 tahun yang tidak memiliki riwayat kejiwaan sebelumnya. Pasien ini dikeluarkan dari rumah sakit setelah tiga hari menunjukkan gejala COVID-19 termasuk demam, batuk, dan nyeri otot.

Setelah pulang ke rumah, pasien kebingungan dan mengalami disorientasi, halusinasi visual, dan pendengaran.

Kedua, salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah temuan beberapa kasus pasien dengan peradangan pada sistem saraf pusat dalam bentuk ADEM (acute disseminated encephalomyelitis).

ADEM merupakan kondisi cukup langka. Namun sejak wabah COVID-19 meluas, semakin banyak kasus peradangan sistem saraf pusat yang bermunculan. Dalam studi ini saja sudah terdapat 9 kasus pasien yang mengalami ADEM.

Ketiga, kondisi stroke menjadi salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien COVID-19 dalam penelitian ini. Separuh pasien dalam penelitian ini memiliki faktor risiko stroke, separuh lainnya tidak. Mereka hanya memiliki infeksi COVID-19 sebagai faktor risiko timbulnya komplikasi sistem saraf ini. Terakhir adalah potensi kerusakan otak lainnya.

Apakah kerusakan otak ini berdampak jangka panjang?

pasien covid-19 mengalami kerusakan saraf otak

Hingga saat ini setidaknya ada 300 penelitian di seluruh dunia yang menemukan kaitan COVID-19 dengan kelainan otak dan saraf. Termasuk gejala ringan seperti sakit kepala, kehilangan penciuman, dan kesemutan.

Semua komplikasi dampak COVID-19 pada otak yang telah disebutkan di atas memiliki potensi kerusakan jangka panjang.

“Yang jelas, jika seorang pasien mengalami stroke, mereka mungkin memiliki sisa kelemahan dari stroke tersebut. Pasien dengan peradangan mungkin mengalami kekurangan residu,” kata Hadi Manji, salah satu penulis dalam studi tersebut.

Para peneliti mengatakan diperlukan penelitian lebih lanjut dengan skala yang lebih besar untuk mengetahui lebih jelas dan lebih akurat keterkaitan COVID-19 dan saraf otak.

Para peneliti mengatakan dampak jangka panjang dari infeksi virus pada otak manusia pernah terjadi setelah pandemi influenza 1918.

Kerusakan otak terkait dengan pandemi mungkin mirip dengan wabah ensefalitis lethargicapenyakit tidur’ pada 1920-an dan 1930-an setelah pandemi Flu Spanyol 1918,” Michael Zandi, seperti dikutip Reuters, Rabu (8/7). Ensefalitis dan penyakit tidur telah lama dikaitkan dengan wabah influenza walaupun hingga kini hubungan langsung antara keduanya masih sulit dibuktikan.

Selain hubungannya dengan otak dan saraf, hingga saat ini para ilmuwan menemukan kaitan antara COVID-19 dengan penyakit lain seperti, ginjal, hati, jantung, dan hampir semua organ.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Paterson, R., Brown, R., Benjamin, L., Nortley, R., Wiethoff, S., & Bharucha, T. et al. (2020). The emerging spectrum of COVID-19 neurology: clinical, radiological and laboratory findings. Brain. doi: 10.1093/brain/awaa240
  • Helms, J., Kremer, S., Merdji, H., Clere-Jehl, R., Schenck, M., & Kummerlen, C. et al. (2020). Neurologic Features in Severe SARS-CoV-2 Infection. New England Journal Of Medicine, 382(23), 2268-2270. doi: 10.1056/nejmc2008597
  • Song, E., Zhang, C., Israelow, B., Lu-Culligan, A., Prado, A., & Skriabine, S. et al. (2020). Neuroinvasion of SARS-CoV-2 in human and mouse brain. doi: 10.1101/2020.06.25.169946
Foto Penulis
Ditulis oleh Ulfa Rahayu pada 11/08/2020
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x