COVID-19 Bisa Menginfeksi Sel Otak dan Picu Kerusakan Jangka Panjang

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pasien COVID-19 dengan gejala ringan dapat mengalami kerusakan otak serius yang mungkin berdampak jangka panjang. Peringatan ini dinyatakan setelah  studi terbaru menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk peradangan otak, psikosis, dan delirium.

Bahkan temuan terbaru memperlihatkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini dapat langsung masuk dan menginfeksi jaringan otak.

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa menginfeksi otak dan merusak

virus penyebab covid-19 bisa menginfeksi otak

Gejala dan dampak yang ditimbulkan infeksi virus corona penyebab COVID-19 masih terus diteliti. Selama beberapa bulan terakhir para ilmuwan menemukan serangkaian dampak sementara maupun jangka panjang yang berpotensi menyerang pasien COVID-19. 

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat membajak sel-sel otak, menggunakan kemampuan dirinya dalam membelah diri. Virus ini secara langsung menginfeksi sel-sel otak yang disebut neuron. 

Fakta tersebut dilaporkan dalam sebuah yang diposting di bioRxiv, jurnal yang yang belum melalui tinjauan rekan sejawat (peer-review). 

Peneliti melakukan penelitian pada tiga pasien COVID-19 yang meninggal. Mereka membedah dan memeriksa jaringan otak jenazah tersebut. Untuk memastikan hasil dari pemeriksaan jaringan, para peneliti melakukan eksperimen pada sel (organoid) dan pada tikus.

Dalam eksperimen pada organoid, tim menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini dapat memasuki neuron otak melalui reseptor ACE2. Reseptor ACE2 adalah protein yang digunakan virus untuk memasuki sel dan memicu infeksi.

Mereka kemudian menggunakan mikroskop khusus dan melihat partikel virus penyebab  COVID-19 dapat menguasai jaringan neuron dan memperbanyak diri. 

Dalam eksperimen ini, peneliti juga menemukan adanya perubahan metabolisme pada sel-sel otak sehat yang berada di dekat sel yang telah terinfeksi. Akibatnya sel-sel yang berada di dekat sel yang terinfeksi ini mati. Menurut peneliti, hal ini menunjukkan kalau sel yang terinfeksi itu mencuri kadar oksigen dalam sel sehat di sebelahnya untuk membantu si virus membelah diri.

COVID-19 bisa menyebabkan kerusakan otak

pasien covid-19 efek kerusakan otak jangka panjang

Sebelum lebih dulu diketahui bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada otak. Peneliti dari University College London (UCL) menerbitkan hasil studi pada 43 pasien COVID-19 yang menunjukkan komplikasi kerusakan otak dan saraf serius. Dalam rincian laporan tersebut peneliti mengetahui setidaknya ada 4 efek virus pada saraf otak.

Pertama, beberapa pasien COVID-19 mengalami keadaan bingung yang dikenal sebagai delirium atau ensefalopati. Kondisi delirium biasanya dikaitkan dengan penurunan kognitif, gangguan memori, hingga merasa linglung dan mengalami disorientasi. 

Pada mayoritas kasus COVID-19, gangguan saraf otak ini terjadi hanya sementara. Meski begitu, para ahli saraf mempertanyakan mengapa kondisi ini terjadi pada pasien COVID-19. 

Dalam satu studi kasus, delirium terjadi pada seorang pasien COVID-19 berusia 55 tahun yang tidak memiliki riwayat kejiwaan sebelumnya. Pasien ini dikeluarkan dari rumah sakit setelah tiga hari menunjukkan gejala COVID-19 termasuk demam, batuk, dan nyeri otot. 

Setelah pulang ke rumah, pasien kebingungan dan mengalami disorientasi, halusinasi visual, dan pendengaran.

Kedua, salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah temuan beberapa kasus pasien dengan peradangan pada sistem saraf pusat dalam bentuk ADEM (acute disseminated encephalomyelitis)

ADEM merupakan kondisi cukup langka. Namun sejak wabah COVID-19 meluas, semakin banyak kasus peradangan sistem saraf pusat yang bermunculan. Dalam studi ini saja sudah terdapat 9 kasus pasien yang mengalami ADEM.

Ketiga, kondisi stroke menjadi salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien COVID-19 dalam penelitian ini. Separuh pasien dalam penelitian ini memiliki faktor risiko stroke, separuh lainnya tidak. Mereka hanya memiliki infeksi COVID-19 sebagai faktor risiko timbulnya komplikasi sistem saraf ini. Terakhir adalah potensi kerusakan otak lainnya. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Apakah kerusakan otak ini berdampak jangka panjang?

pasien covid-19 mengalami kerusakan saraf otak

Hingga saat ini setidaknya ada 300 penelitian di seluruh dunia yang menemukan kaitan COVID-19 dengan kelainan otak dan saraf. Termasuk gejala ringan seperti sakit kepala, kehilangan penciuman, dan kesemutan. 

Semua komplikasi dampak COVID-19 pada otak yang telah disebutkan di atas memiliki potensi kerusakan jangka panjang.

“Yang jelas, jika seorang pasien mengalami stroke, mereka mungkin memiliki sisa kelemahan dari stroke tersebut. Pasien dengan peradangan mungkin mengalami kekurangan residu,” kata Hadi Manji, salah satu penulis dalam studi tersebut.

Para peneliti mengatakan diperlukan penelitian lebih lanjut dengan skala yang lebih besar untuk mengetahui lebih jelas dan lebih akurat keterkaitan COVID-19 dan saraf otak.

Bagaimana COVID-19 Memicu Risiko Stroke pada Orang yang Lebih Muda?

Para peneliti mengatakan dampak jangka panjang dari infeksi virus pada otak manusia pernah terjadi setelah pandemi influenza 1918. 

Kerusakan otak terkait dengan pandemi mungkin mirip dengan wabah ensefalitis lethargicapenyakit tidur’ pada 1920-an dan 1930-an setelah pandemi Flu Spanyol 1918,” Michael Zandi,  seperti dikutip Reuters, Rabu (8/7). Ensefalitis dan penyakit tidur telah lama dikaitkan dengan wabah influenza walaupun hingga kini hubungan langsung antara keduanya masih sulit dibuktikan.

Selain hubungannya dengan otak dan saraf, hingga saat ini para ilmuwan menemukan kaitan antara COVID-19 dengan penyakit lain seperti, ginjal, hati, jantung, dan hampir semua organ.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit