home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

IDAI Tidak Merekomendasikan Transisi Pembelajaran Tatap Muka

IDAI Tidak Merekomendasikan Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan dimulainya pembukaan sekolah pada pertengahan 2021 ini. Menurutnya, kondisi pandemi saat ini belum cukup terkendali untuk memulai transisi pembelajaran tatap muka. Namun Kemendikbud tetap memutuskan untuk mulai sekolah tatap muka pada Juli 2021 setelah vaksinasi guru dan tenaga pendidikan selesai. Apa saja pertimbangan yang mesti diwaspadai??

IDAI tidak merekomendasikan transisi pembelajaran tatap muka

pembukaan sekolah pandemi

Ikatan Dokter Anak Indonesia tidak merekomendasikan transisi pembelajaran tatap muka dimulai pada Juli 2021 mendatang mengingat kondisi pandemi COVID-19 belum terkendali. Selain itu, ditemukannya beberapa jenis varian COVID-19 baru dan cakupan vaksinasi yang belum mencapai target menjadi pertimbangan IDAI untuk meminta agar rencana pembukaan sekolah ditunda.

“Mengingat prediksi jangka waktu pandemi COVID-19 yang masih belum dapat ditentukan, maka guru dan sekolah hendaknya mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar misalnya memanfaatkan belajar di ruang terbuka seperti taman, lapangan, atau sekolah di alam terbuka,” tulis ketua IDAI, Prof. Aman Pulungan Sp.A (K) dalam surat keterangan resmi IDAI.

Menurut Prof. Aman, salah satu persyaratan utama dibukanya sekolah adalah terkendalinya penularan lokal yang ditandai dengan positivity rate di bawah 5% dan menurunnya angka kematian. Sedangkan angka positivity rate di Indonesia (26/3/2021) masih berada di 11,46%.

Pertimbangan untuk membuka sekolah sebaiknya meminta masukan dari dinas kesehatan dan organisasi profesi kesehatan setempat terlebih dulu. Para ahli akan memberikan rekomendasi dengan memperhatikan angka kejadian dan angka kematian akibat COVID-19 di daerah tersebut.

Sekolah juga harus memenuhi standar protokol kesehatan, yakni memiliki fasilitas pendukung yang memadai sesuai petunjuk teknis. Pihak sekolah juga harus memiliki standar prosedur operasional untuk mengantisipasi apabila ada murid, guru, atau staf yang sakit atau positif COVID-19.

IDAI menuliskan 14 poin rekomendasi sebelum memulai pembukaan sekolah. Beberapa rekomendasi tersebut di antaranya membuat kelompok belajar kecil, disiplin menjaga jarak, memiliki fasilitas cuci tangan, dan membuat pemetaan anak yang memiliki komorbid, dan memasang HEPA Filter untuk ruang kelas yang tidak memiliki ventilasi yang cukup memadai.

Keparahan gejala COVID-19 pada anak

IDAI Tidak Merekomendasikan Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Berdasarkan data global, gejala berat saat terinfeksi virus SARS-CoV-2 disebut lebih berisiko terjadi pada orang dengan penyakit penyerta dan usia lanjut dibandingkan pada anak-anak. Namun IDAI mencatat, kondisi kasus COVID-19 pada anak di Indonesia cukup mengkhawatirkan di mana 1 dari 9 kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun.

“Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala COVID-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi COVID-19 ringan yang dialami sebelumnya,” terang Aman.

Akhir tahun lalu, pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) juga telah memperingatkan adanya risiko sindrom peradangan multisistem atau disebut dengan Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C) pada anak setelah terinfeksi COVID-19. Sindrom ini disebut sebagai kondisi komplikasi tertunda dari infeksi COVID-19 pada anak.

Data IDAI pada 29 November 2020 menunjukkan proporsi angka kematian anak akibat COVID-19 mencapai 3,2% dari seluruh kasus kematian COVID-19 di Indonesia. Angka tersebut menjadi angka kematian anak akibat COVID-19 tertinggi di Asia Pasifik saat ini.

Selain risiko COVID-19 gejala berat, anak yang positif COVID-19 tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya.

Dalam rekomendasi sebelumnya (1/12/2021), IDAI mengingatkan juga terkait peningkatan kasus COVID-19 pasca pembukaan sekolah tatap muka yang telah dilaporkan di sejumlah negara, termasuk negara maju seperti Korea Selatan, Prancis, dan Israel.

“Menimbang dan memperhatikan panduan dari WHO, publikasi ilmiah, publikasi media massa, dan publikasi data COVID-19 di Indonesia maka saat ini IDAI memandang bahwa pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) lebih aman,” tulis IDAI.

Kemendikbud tetap akan melakukan pembelajaran tatap muka terbatas

IDAI Tidak Merekomendasikan Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka secara terbatas sudah mulai dilakukan oleh sejumlah sekolah sejak Januari 2021. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim juga sudah menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka terbatas sudah bisa dilakukan terhitung sejak dikeluarkannya surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 yang diumumkan pada 30 Maret 2021.

Jika guru dan tenaga pendidikan telah divaksinasi maka opsi pembelajaran tatap muka sudah bisa ditawarkan oleh sekolah. Pembelajaran tatap muka di sekolah bisa berjalan dengan kapasitas 50% dengan kapasitas maksimal 18 orang untuk SD, SMP, dan SMA. Sedangkan untuk PAUD dan SLB, maksimal 5 siswa dalam satu kelas.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Pendapat IKatan Dokter Anak Indonesia Mengenai Rencana Transisi Pembelajaran Tatap Muka, 27 April 2021.
  • WHO. Coronavirus disease (COVID-19): Schools. Retrieved (4/12) from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/coronavirus-disease-covid-19-schools
  • Surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 no 2021. Senin 30 Maret 2021.
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 04/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x