Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Syarat Pembelajaran Tatap Muka saat COVID-19, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Syarat Pembelajaran Tatap Muka saat COVID-19, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Pandemi tidak hanya memengaruhi sektor perekonomian, tapi juga pendidikan. Sudah setahun lebih sekolah ditutup dan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Banyak hambatan terjadi selama pembelajaran daring, mulai dari jaringan internet yang tidak merata dan tidak stabil hingga psikologis anak selama sekolah online. Kemendikbud berulang kali mewacanakan pembukaan sekolah, namun kerap mendapat penolakan dari IDAI karena lonjakan kasus yang masih terjadi. Kini IDAI telah memberi lampu hijau pembelajaran tatap muka dengan memerhatikan sejumlah pertimbangan, apa saja?

Kemendikbud mengumumkan pembelajaran tatap muka terbatas saat COVID-19

IDAI Tidak Merekomendasikan Transisi Pembelajaran Tatap Muka

Sudah setahun lebih pandemi COVID-19 telah berlangsung dan hingga kini belum terlihat jelas kapan akan berakhir. Hal ini lebih mengkhawatirkan terlebih setelah ditemukannya varian baru virus Corona, seperti varian Delta dan varian Delta plus yang lebih mudah menular dan menimbulkan gejala COVID-19 lebih parah dari varian sebelumnya.

Guna mengurangi penyebaran virus Corona di klaster pendidikan, kegiatan belajar siswa berubah menjadi pembelajaran jarak jauh atau daring. Namun kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memberikan lampu hijau untuk sekolah tatap muka secara terbatas yang bisa dilakukan mulai tahun ajaran baru di bulan Juni 2021.

Beliau mengungkapkan hal ini per tanggal 30 Maret 2021, saat Pengumuman Keputusan Bersama tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 secara virtual melalui kanal Youtube Kemendikbud RI.

Keputusan pembelajaran tatap muka di masa pandemi COVID-19 ini, mempertimbangkan banyak hal, di antaranya telah dilakukannya program vaksinasi COVID-19 pada guru, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya.

Beliau juga mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah bisa dilakukan secara tatap muka di bulan Juli, sejak diputuskannya SKB 4 Menteri pada 30 Maret 2021 lalu.

Akan tetapi, pelaksanannya harus benar-benar disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan yang telah pemerintah tetapkan. Di samping itu, sekolah yang ingin mengadakan belajar tatap muka juga harus memenuhi daftar periksa.

Pandangan IDAI terhadap pembelajaran tatap muka saat COVID-19

pembukaan sekolah pandemi

Per tanggal 27 Agustus 2021, IDAI, memberikan pandangannya terhadap kebijakan Mendikbud mengenai sekolah tatap muka yang sudah boleh berjalan secara terbatas pada bulan Juli lalu.

Dalam surat edarannya, IDAI menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah boleh dilakukan secara bertahap karena beberapa alasan mendukung, di antaranya:

  • Telah dilakukannya imunisasi anak usia > 12 tahun dan usia dewasa.
  • Kasus positivitas COVID-19 yang mengalami penurunan di beberapa wilayah di Indonesia.
  • Penutupan sekolah yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun.

Meski begitu, IDAI tetap menekankan beberapa aturan agar pembelajaran tatap muka saat pandemi Covid-19 bisa dilakukan dengan aman dan lancar. Aturan ini perlu dipatuhi oleh pihak pemerintah, sekolah, dan orangtua siswa maupun siswi.

Fokus


Pertimbangan IDAI terhadap pemerintah untuk memulai sekolah tatap muka

IDAI meminta pemerintah untuk memberikan keputusan pembukaan sekolah secara berkala melalui evaluasi mingguan. Pemerintah daerah, sekolah, dan dinas kesehatan perlu bekerja sama dalam memutuskan membuka atau menutup sekolah dengan memperhatikan kasus harian.

Sebagai contoh, jika ada satu kasus di sekolah, maka sekolah dengan bantuan dinas kesehatan harus segera melakukan tracing (pelacakan). Kemudian, kelas atau sekolah yang terpapar harus ditutup sementara, memberitahu pihak-pihak terkait dan melakukan mitigasi kasus.

Pertimbangan untuk menghentikan kegiatan tatap muka dan mengganti dengan kegiatan yang sesuai, akan berdasar pada hasil keputusan oleh berbagai pihak termasuk orangtua, guru, sekolah, pemerintah daerah, dinas kesehatan dan dinas pendidikan. Kelas atau sekolah dapat dibuka kembali jika sudah dinyatakan aman.

Pertimbangan IDAI terhadap pihak sekolah yang ingin memulai sekolah tatap muka

Pertama, siswa yang sudah memasuki usia vaksinasi COVID-19, yakni usia 12-17 tahun diwajibkan sudah menerima vaksin. Kemudian, guru dan perangkat sekolah lainnya juga sudah menjalaninya.

Kedua, keputusan pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka di masa COVID-19 yang ditetapkan tiap daerah masing-masing perlu merujuk pada:

  • kasus aktif COVID-19 kurang dari 8%,
  • angka kematian,
  • cakupan vaksin COVID-19 pada anak telah mencapai lebih dari 80%,
  • ketersediaan tes PCR SARS dan tempat tidur RS baik layanan rawat inap maupun intensif untuk anak,
  • penilaian kemampuan murid, sekolah, dan keluarga untuk mencegah penularan COVID-19.

Ketiga, orangtua diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan anak untuk mengikuti belajar tatap muka atau daring. Sekaligus sekolah mampu memfasilitasi kebutuhan anak dalam mengikuti belajar tatap muka maupun daring sesuai dengan pilihan orangtuanya.

Ini meliputi kapasitas kelas yang mencukupi, sirkulasi udara yang baik, durasi belajar yang sesuai, kepatuhan dalam mengikuti protokol kesehatan di lingkungan sekolah, serta ketersediaan alat pemeriksaan tubuh dan ruang untuk memisahkan kasus suspek atau lainnya.

Terakhir, IDAI juga menekankan kejujuran bagi guru, perangkat sekolah, orangtua siswa mengenai kondisi kesehatan masing-masing, dan tidak menutupi apabila terinfeksi COVID-19.

Pertimbangan IDAI untuk orangtua dalam mengambil keputusan terkait pembelajaran tatap muka

Pilihan anak untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka atau daring diserahkan sepenuhnya oleh orangtua. Jika masih ragu, orangtua dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut ini jika ingin anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di masa pandemi COVID-19.

  • Anak sudah berusia 12 tahun dan sudah mendapatkan vaksin COVID-19.
  • Anak tidak memiliki penyakit komorbid, termasuk obesitas. Jika ada, harap konsultasikan lebih dahulu kepada dokter yang menangani kondisinya. Ini karena penyakit komorbid dan penyakit Covid-19 menimbulkan gejala yang lebih parah dan bisa berakibat fatal.
  • Anak dapat memahami protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dengan benar, menjaga jarak, mengetahui apa yang boleh dilakukan untuk mencegah transmisi COVID-19, dan hal yang tidak boleh dilakukan karena berisiko tertular atau menularkan virus.
  • Guru dan petugas di sekolah telah mendapatkan vaksinasi COVID-19.
  • Anggota keluarga di rumah sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat Anda simpulkan bahwa kegiatan pembelajaran tatap muka di masa Covid bisa dilakukan jika kondisinya sudah dipastikan aman. Perlu kerja sama antara pemerintah, pihak sekolah, dan tentunya orangtua agar suasana belajar yang nyaman dan aman dapat tercapai.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coronavirus disease (COVID-19): Schools. (n.d.). Retrieved August 31, 2021, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/coronavirus-disease-covid-19-schools

Sekolah Tatap muka Terbatas mulai Juli 2021. (n.d.). Retrieved August 31, 2021, from https://pmpk.kemdikbud.go.id/read-news/sekolah-tatap-muka-terbatas-mulai-juli-2021

Pandangan Ikatan DOKTER Anak INDONESIA TERKAIT Pembukaan Sekolah. (n.d.). Retrieved August 31, 2021, from https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/pandangan-ikatan-dokter-anak-indonesia-terkait-pembukaan-sekolah

Tracking sars-cov-2 variants. (n.d.). Retrieved August 31, 2021, from https://www.who.int/en/activities/tracking-SARS-CoV-2-variants/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 08/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri