Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Semua Hal tentang Rapid Test & Tes Swab yang Perlu Kamu Tahu

Semua Hal tentang Rapid Test & Tes Swab yang Perlu Kamu Tahu

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pengecekan COVID-19 bisa dilakukan dengan berbagai tes pemeriksaan, namun setiap tes memiliki akurasi yang berbeda-beda. Masih banyak pertanyaan mengenai keabsahan pemeriksaan COVID-19, dari swab PCR dan rapid test serta hasil positif atau reaktifnya.

Berbagai pertanyaan tersebut muncul karena beberapa kondisi yang terjadi dan menimbulkan kebingungan. Sebagai contoh, hasil rapid test masih reaktif padahal telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 karena hasil swab PCR yang negatif. Berikut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan terkait berbagai jenis tes COVID-19 dan akurasi hasilnya.

Hal-hal terkait tes swab, rapid test, dan akurasi hasilnya

pemeriksaan swab-pcr

Di masa new normal ini pemeriksaan COVID-19 dibutuhkan masyarakat bukan hanya bagi suspek, tapi juga bagi mereka yang ingin bepergian. Perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan kembali kebijakan bekerja di kantor juga banyak yang melakukan tes pemeriksaan rutin bagi karyawannya.

Terkadang macam-macam tes ini masih membingungkan. Contohnya terjadi pada Maya, salah satu karyawan swasta di Jakarta yang terinfeksi COVID-19. Ia telah menjalani isolasi mandiri selama 2 minggu tanpa gejala yang berarti lalu dinyatakan negatif melalui pemeriksaan swab PCR. Di kantornya semua karyawan wajib melakukan rapid test secara rutin dan hasil rapid test Maya selalu reaktif. Hasil ini membingungkannya.

Mari kita kenali terlebih dulu perbedaan kedua jenis tes ini.

Apa itu tes swab RT-PCR?

Real-time Polymerase Chain Reaction (PCR) yakni tes yang dilakukan dengan mengambil sampel dari swab atau usapan selaput lendir hidung atau tenggorokan (mukosa). Sampel usapan ini akan dibawa ke laboratorium menggunakan metode RT-PCR untuk mengecek keberadaan genetika virus SARS-CoV-2 di dalam sampel tersebut.

Makanya tes ini lebih dikenal dengan sebutan swab PCR.

Test swab PCR adalah tes molekuler dengan tingkat kepercayaan tertinggi atau gold standard untuk mendiagnosis apakah seseorang positif COVID-19 atau tidak.

Apa itu rapid test dan kenapa hasilnya masih reaktif pada pasien COVID-19 yang sudah sembuh?

rapid test covid-19

Rapid test digunakan hanya untuk penapisan atau screening, bukan untuk mendiagnosis atau memastikan COVID-19 karena kemungkinan hasil false positive dan false negative yang tinggi.

Rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk mengecek keberadaan antibodi sebagai respons tubuh terhadap infeksi COVID-19.

Antibodi terbentuk sebagai hasil respons sistem imun atau sistem kekebalan tubuh saat terinfeksi suatu virus. Bila terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 maka tubuh akan membentuk antibodi yang spesifik untuk melawan infeksi virus tersebut.

Tapi, tubuh membutuhkan waktu beberapa hari untuk membentuk antibodi setelah virus menginfeksi tubuh. Kondisi ini bisa membuat orang yang sebenarnya sudah terinfeksi COVID-19, namun hasil rapid test masih non-reaktif karena tubuh mungkin saja belum membentuk antibodi.

Setelah seseorang sembuh dan virusnya benar-benar hilang, antibodi ini masih akan bertahan dalam beberapa waktu untuk mencegah terjadinya infeksi kedua. Pada COVID-19, studi terbaru menunjukkan bahwa antibodi bisa bertahan kira-kira 6 bulan setelah sembuh.

Keberadaan antibodi ini yang membuat rapid test pasien COVID-19 yang telah sembuh menunjukkan hasil reaktif.

Mengapa OTG sekarang bisa dinyatakan sembuh meski tanpa tes PCR ulang?

pasien covid-19

Awalnya, seseorang yang terinfeksi COVID-19 harus melakukan swab PCR ulang dengan hasil negatif dua kali berturut-turut untuk dinyatakan sembuh. Tapi belakangan kriteria sembuh ini berubah.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 413 Tahun 2020 revisi kelima menetapkan kriteria pasien sembuh COVID-19 tanpa harus melakukan dua kali swab ulang dengan hasil negatif.

“Pasien konfirmasi tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, dan gejala berat/kritis, dinyatakan sembuh apabila telah memenuhi kriteria selesai isolasi dan dikeluarkan surat pernyataan selesai pemantauan, berdasarkan penilaian dokter di fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) tempat dilakukan pemantauan atau oleh DPJP,” tulis aturan tersebut.

Pasien bisa dinyatakan sembuh setelah tidak merasakan gejala apapun dan telah menjalani masa isolasi.

Jadi pasien COVID-19 yang di rawat di rumah sakit bisa dipulangkan apabila sudah tidak bergejala dan menjalani masa isolasi selama 10 hari. Pasien harus dipastikan setidaknya selama tiga hari berturut-turut tidak mengalami gejala apapun.

Bagi pasien tanpa gejala (OTG), tidak perlu dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan syarat menambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis (swab). Swab evaluasi dan isolasi lanjutan tetap disarankan pada pasien dengan derajat gejala berat, kritis, dan imunitas rendah serta mereka yang dirawat dengan kondisi pemantauan, khususnya di ICU.

Menurut Jaka Pradipta, dokter spesialis paru yang menangani pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran menjelaskan, pasien OTG yang telah menjalani masa isolasi sudah tidak berpotensi menularkan meskipun hasil swab PCR masih positif.

“Ternyata pemeriksaan ulang swab 2 kali sebagai evaluasi itu agak sulit dilakukan. Karena selama 3 bulan itu virus bisa jadi masih ada di saluran pernapasan kita. Alat masih bisa mendeteksi virus yang sudah mati dan tidak menular,” kata Jaka Pradipta pada Minggu (4/10)

“Penelitian menunjukkan penularan antar manusia tertinggi pada 5 hari pertama saat pasien memiliki gejala. Jadi setelah hari ke-7, virus yang dideteksi sudah tidak aktif. Ini sudah dibuktikan di penelitian-penelitian yang ada,” jelasnya.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19)
  • Katz MH. Challenges in Testing for SARS-CoV-2 Among Patients Who Recovered From COVID-19. JAMA Intern Med. Published online November 12, 2020. doi:10.1001/jamainternmed.2020.7575
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x