Nyeri Dada pada Anak Bikin Khawatir? Mungkin Ini Penyebabnya

    Nyeri Dada pada Anak Bikin Khawatir? Mungkin Ini Penyebabnya

    Tidak semua nyeri dada pada anak menandakan adanya masalah kesehatan serius. Namun, bukan berarti Anda boleh membiarkan kondisi ini tanpa mencari tahu penyebabnya.

    Simak apa saja kemungkinan penyebab anak merasa sakit di bagian dada dalam penjelasan berikut ini.

    Penyebab nyeri dada pada anak

    Nyeri di dada tak hanya bisa dirasakan oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak.

    Menurut studi dalam jurnal Frontiers In Cardiovascular Medicine (2021), nyeri dada pada anak terbilang cukup umum, yaitu sekitar 1 dari 40 kunjungan pasien di berbagai klinik anak di Eropa.

    Meski hal ini sering terjadi, orang tua tetap perlu mengetahui penyebabnya agar dapat membantu anak mengatasi rasa sakit yang dialami.

    1. Masalah pernapasan

    penyebab sesak napas nafas pada anak

    Sakit dada pada anak bisa menjadi ciri-ciri adanya masalah pernapasan atau paru-paru.

    Pada balita, biasanya hal ini ditandai dengan laju napas yang tidak seperti biasanya.

    Sementara itu, anak-anak yang sudah bisa berkomunikasi dengan baik mungkin akan membantu Anda mendeskripsikan rasa sakit di dadanya dengan lebih detail, misalnya saat sulit bernapas.

    Salah satu masalah pernapasan yang paling umum dapat menyebabkan nyeri dada pada anak adalah asma.

    Asma pada anak merupakan penyakit yang diakibatkan oleh peradangan pada saluran napas, sehingga menyebabkan sesak, batuk-batuk, dan mengi (wheezing).

    Selain asma, masalah pernapasan lain yang dapat membuat dada anak terasa sakit yaitu:

    • pneumonia,
    • bronkitis,
    • emboli paru, dan
    • batuk kronis.

    Kondisi tersebut tak hanya membuat anak merasakan nyeri dan berat di dada, tapi juga batuk dengan lendir kuning atau hijau hingga demam tinggi.

    2. Masalah pada otot atau tulang di dada

    Anak yang mengeluhkan nyeri di dadanya juga mungkin bisa diakibatkan oleh masalah otot atau tulang di area dada.

    Biasanya sakit yang dirasakan terjadi secara berulang dan anak dapat menunjukkan area mana yang dirasa tak nyaman.

    Ada beberapa kondisi pada otot dan tulang di sekitar dada yang memicu nyeri yang cukup tajam.

    • Lebam atau memar: disebabkan benturan atau hantaman keras. Hal ini dapat menyebabkan trauma pada otot dada hingga membuat sulit bernapas.
    • Otot menegang: pada anak-anak, otot yang menegang dapat terjadi saat anak terlalu aktif bergerak, membawa barang berat, atau saat berolahraga.
    • Costochondritis: peradangan pada sendi kostokondral yang terasa nyeri saat anak menarik napas dalam-dalam atau saat bagian tersebut disentuh.
    • Sindrom tietze: peradangan pada tulang rusuk bagian atas yang membuat persendian membengkak dan dada terasa nyeri terutama ketika batuk parah.
    • Chest wall pain: nyeri tajam pada dinding dada ini cukup umum dialami anak dalam waktu singkat, tetapi dapat memburuk jika bagian tengah dada tertekan.
    • Precordial catch: anak mungkin akan mengalami nyeri di sisi kiri dekat bagian bawah tulang dada karena saraf terjepit atau otot tegang. Biasanya terjadi saat berdiri tegak dari posisi bungkuk.

    Sekilas nyeri otot pada anak mungkin terlihat menyeramkan, tetapi jangan khawatir bila anak tidak menunjukkan tanda nyeri berkepanjangan.

    3. Kondisi yang memengaruhi kinerja jantung

    Selain karena masalah pernapasan dan otot, nyeri dada pada anak dapat dipicu oleh kondisi yang memengaruhi masalah jantung si kecil.

    Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi perlu tetap menjadi perhatian orang tua.

    Sakit di bagian dada anak Anda kemungkinan berhubungan dengan jantung jika disertai dengan nyeri yang menjalar ke leher, bahu, lengan, atau punggung.

    Menurut situs National Health Service Eropa, berikut ini masalah jantung paling umum yang menyebabkan nyeri dada.

    • Perikarditis: kondisi ini biasanya menyebabkan rasa sakit yang tiba-tiba, tajam, dan menusuk yang memburuk saat anak bernapas dalam-dalam atau berbaring.
    • Angina: nyeri jantung yang menjadi gejala penyakit arteri koroner, mirip perikarditis tapi bisa mengancam jiwa.

    Nyeri di dada si kecil mungkin berkaitan dengan masalah jantung jika sebelumnya memang pernah didiagnosis memiliki riwayat penyakit jantung.

    Hindari melakukan self-diagnosed dan konsultasikan dengan dokter spesialis anak bila Anda memiliki kekhawatiran ini.

    4. Gangguan pencernaan

    sakit dada pada anak

    Nyeri dada yang dialami anak Anda juga mungkin disebabkan oleh gangguan pencernaan, seperti gastroesophageal reflux (GERD).

    GERD dapat menyebabkan sensasi terbakar di dada dan dapat memburuk setelah si kecil makan terlalu banyak dan langsung berbaring.

    Si kecil mungkin perlu mengubah pola makannya atau minum obat untuk mengurangi gejala GERD seperti nyeri dada.

    Selain GERD pada anak, beberapa masalah pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkan sakit di dada meliputi:

    • tukak lambung,
    • pembengkakan di kerongkongan, dan
    • peradangan atau batu di kantong/saluran empedu.

    Selain itu, anak mungkin merasakan nyeri di ulu hati (heartburn) yang terkadang disalahpahami sebagai nyeri dada.

    Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter akan membantu Anda memberikan diagnosis yang tepat.

    5. Masalah kesehatan mental

    Anda mungkin tidak menduga bahwa nyeri di dada yang dirasakan merupakan tanda anak mengalami gangguan kesehatan mental.

    Kecemasan yang dialami dapat menyebabkan terjadinya hiperventilasi, yaitu kondisi medis di mana si kecil bernapas dengan sangat cepat.

    Selain nyeri dada, biasanya si kecil juga akan menunjukkan gejala lainnya, seperti:

    • perubahan perilaku,
    • penurunan nafsu makan,
    • masalah akademis,
    • sering terlihat lesu,
    • pusing, dan
    • tidak bersemangat.

    Sekilas kondisi mental ini mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi sebenarnya anak mengalami stres yang dapat berdampak pada kesehatan fisiknya.

    Cara mengatasi nyeri dada pada anak

    cara mengatasi dada anak sakit

    Ada beberapa kondisi nyeri dada pada anak yang dikategorikan sebagai nyeri dada ringan dan parah (darurat).

    Nyeri dada ringan mungkin dapat ditangani di rumah, sedangkan kondisi nyeri yang parah akan memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

    Mengutip dari situs Johns Hopkins Medicine, berikut ini cara mengatasi sakit dada pada anak.

    1. Nyeri dada parah

    Segera datangi fasilitas layanan kesehatan terdekat bila si kecil mengalami gejala seperti:

    • nyeri dada memburuk selama beberapa jam,
    • terjadi selama beraktivitas fisik atau olahraga,
    • disertai sesak napas, dan
    • mengalami pingsan.

    Anda juga perlu mengetahui riwayat kesehatan keluarga.

    Sebaiknya Anda lebih waspada jika ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit jantung bawaan dan masalah kesehatan jantung lainnya.

    2. Nyeri dada ringan

    Sakit di dada anak yang hanya muncul sesekali mungkin tak perlu Anda risaukan. Berikut ini langkah penanganan di rumah yang bisa Anda lakukan.

    • Mengajak anak untuk istirahat dengan duduk atau berbaring.
    • Beri anak minum air hangat.
    • Amati kondisi nyeri dada anak apakah membaik atau justru memburuk.

    Namun, tak ada salahnya juga berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah risiko masalah kesehatan yang lebih serius.

    Dokter mungkin akan merujuk si kecil untuk melakukan pemeriksaan jantung jika menemukan kondisi seperti berikut.

    • Murmur jantung atau suara aliran darah yang tidak normal di antara detak jantung.
    • Tanda-tanda vital yang tidak normal, termasuk detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan.
    • Aritmia atau detak jantung tidak normal.
    • Ditemukannya masalah saat tes elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur aktivitas listrik jantung.

    Nyeri dada pada anak memang tidak selalu berarti si kecil mengalami masalah kesehatan serius.

    Namun, tetap perhatikan tanda-tanda si kecil membutuhkan pertolongan darurat.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Patricia Lukas Goentoro

    General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


    Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan