home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Peradangan (Inflamasi)

Peradangan (Inflamasi)

Tubuh Anda dapat berfungsi dengan normal jika dalam kondisi sehat. Sebaliknya, bisa saja menimbulkan gejala mengganggu ketika mengalami masalah, salah satunya karena peradangan. Kondisi ini sebenarnya, tidak selalu berkonotasi buruk karena menjadi bagian dari respons alami tubuh. Untuk mengenal kondisi ini lebih jauh, mari simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.

Definisi peradangan

Apa itu peradangan?

Peradangan atau dikenal juga dengan istilah inflamasi (inflammation) adalah respons alami dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu cedera atau penyakit. Dapat juga diartikan sebagai mekanisme pertahan tubuh yang berperan dalam proses penyembuhan.

Ketika inflamasi terjadi pada tubuh, akan ada banyak sel sistem kekebalan tubuh yang terlibat. Sel-sel tersebut melepaskan berbagai zat, yang dikenal sebagai mediator inflamasi, seperti hormon bradikinin dan histamin. Hormon ini menyebabkan pembuluh darah kecil di jaringan menjadi lebih lebar, memungkinkan lebih banyak darah untuk mencapai jaringan yang terluka. Karena alasan ini, area yang meradang menjadi merah dan terasa hangat.

Aliran darah yang meningkat juga memungkinkan lebih banyak sel sistem kekebalan untuk berpindah ke jaringan yang terluka, dan membantu proses penyembuhan. Namun, pelepasan hormon tersebut bisa mengiritasi saraf dan menyebabkan sinyal berupa rasa sakit dan dikirim ke otak. Hal ini berguna bagi Anda karena, area yang sakit cenderung akan Anda lindungi.

Mediator inflamasi juga bisa menyebabkan pembengkakan karena memungkinkan lebih banyak cairan masuk ke jaringan yang meradang. Pembengkakan akan menghilang setelah beberapa saat, ketika cairan ini diangkut keluar dari jaringan.

Namun, terkadang tubuh keliru menganggap sel atau jaringan tubuh yang sehat sebagai suatu ancaman seperti halnya bibit patogen. Alhasil, zat kimia yang dilepaskan dapat mengiritasi sel tubub tersebut. Reaksi inilah yang dalam jangka waktu tertentu bisa menyebabkan penyakit autoimun.

Ahli kesehatan percaya bahwa inflamation bisa memicu berbagai penyakit kronis lainnya, seperti penyakit jantung, obesitas, radang sendi, dan psoriasis.

Peradangan terbagi menjadi 2, yakni akut dan kronis.

  • Acute inflammation. Kondisi ini biasanya terjadi akibat cedera dan infeksi bakteri atau virus. Prosesnya terjadi dengan cepat dan bisa parah.
  • Chronic inflammation. Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Terjadi karena adanya keterkaitan dengan berbagai macam kondisi serius yang menyebabkan perubahan besar pada jaringan, organ, maupun sel tubuh.

Seberapa umumkah kondisi peradangan itu?

Peradangan adalah penyebab dari beragam jenis masalah kesehatan. Penyakit yang dimunculkan bisa menyerang segala usia, baik wanita maupun pria.

Tak hanya angka kasusnya saja yang besar, angka kematiannya pun cukup tinggi. Menurut data Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian RI tahun 2018, diabetes melitus dan penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Tanda dan gejala peradangan

nyeri sendi

Ciri-ciri yang dirasakan pada setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung dengan penyebab maupun penyakit yang dihasilkan dari inflamasi.

Setelah cedera, gejala yang umum terjadi adalah kemerahan, nyeri dan lebih sensitif, ada pembengkakan, area yang terkena hangat bila disentuh, kaku, memar, dan kehilangan mobilitas. Gejalanya dapat bertahan dalam beberapa hari bahkan beberapa bulan.

Bila penyebabnya adalah virus atau bakteri, sel darah putih akan merangsang pelepasan zat kimia untuk melawan bibit penyakit tersebut. Proses ini membuat tubuh mengerahkan seluruh energinya sehingga kerap kali menyebabkan tubuh kelelahan dan nyeri.

Di samping itu, gejala lain yang juga menyertai adalah demam, mual, mengantuk, pilek, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, sakit kepala, dan mudah marah. Gejala ini dapat bertahan selama beberap minggu, atau lebih lama jika bertambah parah.

Kapan saya harus ke dokter?

Melansir situs National Library of Medicine, inflamasi parah membuat tubuh kelelahan yang disertai dengan demam menggigil. Kondisinya juga ditandai dengan meningkatkanya jumlah sel darah putih di dalam tubuh dari pada seharusnya.

Meski bisa bersifat ringan, pada kondisi tertentu juga bisa berujung dengan komplikasi, yaitu septikemia (keracunan darah). Oleh karena itu, bila gejala muncul sebaiknya segera periksa ke dokter.

Penyebab peradangan

Merokok setelah makan

Ada banyak penyebab dari masalah kesehatan ini, di antaranya:

  • Kegagalan tubuh dalam menghilangkan agen yang menyebabkan inflamasi, seperti Mycobacterium tuberculosis, protozoa, jamur, dan parasit lain yang dapat melawan pertahanan inang dan tetap berada di jaringan untuk waktu yang lama.
  • Paparan tingkat rendah dari iritan tertentu atau bahan asing yang tidak dapat dihilangkan oleh tubuh termasuk zat atau bahan kimia industri seperti debu silika yang dapat terhirup dalam waktu lama.
  • Gangguan autoimun, yakni sistem kekebalan tubuh mengenali komponen normal tubuh sebagai antigen asing, dan menyerang jaringan sehat sehingga menimbulkan penyakit seperti rheumatoid arthritis (RA), lupus eritematosus sistemik (SLE).
  • Cacat pada sel yang bertanggung jawab untuk memediasi peradangan yang menyebabkan kerusakan persisten atau berulang, seperti gangguan auto-inflamasi (Demam Mediterania Familial).
  • Episode inflamasi akut yang berulang, atau sering kali kambuhan sehingga dapat memicu masalah kesehatan ini.

Faktor-faktor risiko peradangan

aktivitas sehat untuk otak lansia

Siapa pun bisa mengalami masalah kesehatan ini. Namun orang dengan faktor tertentu memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit ini, seperti.

  • Tidak aktif secara fisik. Senyawa anti-inflamasi akan mengalir ke dalam ketika otot-otot Anda bergerak. Orang yang malas bergerak, kemungkinan besar akan mengalami peningkatan risiko terkait peradangan di usia tua.
  • Obesitas. Berat badan yang berlebihan memungkinkan adanya lemak ekstra di perut, yang bisa memicu senyawa yang sifatnya merusak tubuh.
  • Pola makan tertentu. Diet tinggi lemak jenuh, lemak trans, dan gula rafinasi dikaitkan dengan peningkatan inflammation pada tubuh, terutama pada orang yang kelebihan berat badan.
  • Punya kebiasaan merokok. Kebiasaan buruk ini bisa meningkatkan menurunkan produksi senyawa anti-inflamasi sehingga kerusakan tubuh mudah terjadi.
  • Usia. Bertambahnya usia menjadi lebih tua, bisa meningkatkan terjadinya kerusakan pada tubuh.
  • Stres dan kurang tidur. Kerusakan pada sel tubuh berkaitan erat dengan stres dan insomnia yang terjadi secara terus-menerus.
  • Hormon seks yang rendah. Kadar hormon estrogen dan testosteron di bawah angka normal bisa memicu terjadinya proses inflamasi.

Diagnosis dan pengobatan peradangan

neosanmag

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Untuk menegakkan diagnosis peradangan pada tubuh, biasanya dokter akan meminta Anda untuk menjalani tes kesehatan berikut ini.

  • Tes darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kadar protein CRP yang diproduksi hati ketika inflamasi terjadi dan melihat tingkat sedimentasi erittrosit (keping darah).
  • Tes pencitraan.Pemeriksaan radiologi, seperti MRI, CT scan, atau USG untuk melihat area yang meradang dan menentukan masalah kesehatan apa yang terjadi.

Apa saja pilihan pengobatan untuk peradangan?

Umumnya peradangan diringankan gejalanya dengan obat pereda nyeri, seperti obat NSAID atau kortikosteroid dalam bentuk oral, topikal, atau suntikan. Bisa juga berupa antibiotik jika penyebabnya adalah infeksi bakteri.

Namun pada kasus kronis, pengobatan disesuaikan dengan masalah kesehatan terkait, contohnya pengidap diabetes akan diresepkan obat antidiabetes dan pengidap penyakit kardiovaksuler akan diresepkan obat untuk penyakit jantung.

Pengobatan peradangan di rumah

kompres hangat dan dingin saat cedera

Gejala inflamasi berupa nyeri dan pembengkakan di kulit tidak hanya diredakan dengan obat dokter saja. Anda juga bisa meringankannya dengan perawatan alami di rumah, misalnya dengan menggunakan kompres air dingin atau air hangat.

Beberapa pasien dengan infeksi tertentu mungkin dianjurkan untuk mengikuti diet makanan tertentu yang punya potensi melawan inflamasi agar gejalanya tidak bertambah parah. Perubahan gaya hidup juga perlu dilakukan, terutama pada pengidap inflamasi kronis.

Pencegahan peradangan

Mencegah terjadinya infeksi atau kerusakan pada jaringan, sel, maupun organ tubuh akibat inflamasi bisa Anda lakukan dengan cara berikut ini.

  • Berhenti merokok dan menjauhi asap rokok di sekitar.
  • Rutin olahraga dan menjaga pola makan agar berat badan tetap terkendali.
  • Cukup tidur dan belajar untuk mengatasi stres.
  • Melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. What is an inflammation? 2010 Nov 23 [Updated 2018 Feb 22]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279298/

RISKESDAS 2018. Kemenkes RI. Retrieved November 09, 2021, from https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

Pahwa R, Goyal A, Bansal P, et al. Chronic Inflammation. [Updated 2021 Sep 28]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493173/

Furman, D., Campisi, J., Verdin, E. et al. Chronic inflammation in the etiology of disease across the life span. Nat Med 25, 1822–1832 (2019). https://doi.org/10.1038/s41591-019-0675-0

Andrew W. Campbell, “Autoimmunity and the Gut“, Autoimmune Diseases, vol. 2014, Article ID 152428, 12 pages, 2014. https://doi.org/10.1155/2014/152428

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri