Obat Sesak Napas yang Mudah Ditemukan di Apotek

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30/04/2020
Bagikan sekarang

Sesak napas adalah keluhan yang dapat didasari oleh bermacam-macam penyebab, termasuk salah satunya asma. Tanda paling khas dari kondisi ini adalah napas pendek dan mengeluaran suara karena mengi. Untungnya, ada obat yang bisa dibeli di apotek. Namun, jangan asal beli. Pahami dulu jenis obat untuk sesak napas dan aturan pakainya dalam ulasan berikut.

Obat sesak napas berdasarkan cara pakainya

Ketika sesak napas datang, hal yang dirasakan adalah ketidaknyamanan. Dalam buku Clinical Methods yang dikutip dari National Center for Biotechnology Information, sesak napas sering digambarkan ketika tidak mampu mengambil napas dalam-dalam atau dada terasa sesak. Maka dari itu, Anda pun membutuhkan pertolongan dengan obat tertentu.

Ada tiga jenis cara pemberian obat untuk sesak napas yang umum, yaitu obat hirup, obat minum, dan obat suntik.

Berbeda kondisi penyebab sesak napas dan tingkat keparahannya mungkin butuh jenis obat yang berbeda. Berikut ulasannya:

1. Obat hirup

obat untuk sesak napas

Obat untuk sesak napas jenis hirup paling sering diresepkan dokter untuk ditebus di apotek. Obat hirup dapat bekerja cepat mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan gangguan pernapasan, termasuk napas terasa sesak.

Ketimbang yang diminum, pemberian obat lewat jalur hirup dinilai bekerja lebih efektif karena langsung menargetkan saluran napas.

Inhaler adalah alat yang digunakan untuk mengantarkan obat hirup. Perlu diketahui, ada dua jenis inhaler yang bisa dipilih, yaitu inhaler dosis dosis terukur (metered dose inhaler) dan inhaler serbuk kering (dry powder inhaler). 

Dalam satu inhaler, dapat terdiri satu atau beberapa macam obat. Banyaknya obat ini disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Selain inhaler, obat hirup juga bisa disalurkan menggunakan nebulizer. Nebulizer adalah mesin yang mengubah obat dari yang semula cair menjadi uap untuk dihirup.

Namun, nebulizer biasanya digunakan oleh bayi, anak-anak, atau orang yang kesulitan menghirup dengan inhaler.

2. Obat minum

obat untuk sesak napas

Anda mungkin sudah tak asing lagi dengan obat oral (minum), mulai dari sirup, tablet, atau pil. Apalagi, obat jenis ini mudah ditemukan di apotek.

Dibandingkan dengan obat hirup dan suntik, obat untuk sesak napas jenis ini bisa dibilang bekerja lebih lama. Sebab, obat minum harus dicerna dulu di dalam usus untuk kemudian disalurkan ke seluruh tubuh lewat aliran darah.

Meski begitu, bukan berarti obat minum tidak efektif dan manjur untuk mengobati suatu penyakit. Pada prinsipnya semua jenis obat memiliki manfaat yang beragam sesuai dengan fungsi dan kebutuhan sendiri.

3. Obat suntik

suntik tetanus untuk orang dewasa

Obat untuk masalah sesak juga bisa diberikan lewat suntikan atau infus. Obat jenis ini umumnya dibutuhkan dalam kasus sesak karena asma alergi.

Obat suntik akan bekerja cepat meredakan gejala sesak yang dipicu gejala alergi. Dengan begitu rasa sesak yang dialami pasien akan segera mereda dan mereka dapat kembali bernapas lebih lega.

Imunomodulator adalah salah satu jenis obat suntik yang bekerja dengan cara menekan antibodi.

Obat sesak napas di apotek berdasarkan fungsinya

Sesak napas dapat muncul tiba-tiba atau bersifat kambuhan dalam jangka panjang. Kondisi ini pun bisa disebabkan oleh sejumlah masalah kesehatan. Salah satu yang paling umum adalah asma.

Ketika serangan asma kambuh, napas bisa jadi lebih cepat, dangkal, dan kadang berbunyi “ngik-ngik”. Bukan hanya itu saja. Dada pun terasa nyeri seperti terlilit tali erat-erat. Berbagai kondisi ini membuat orang dengan asma sering mengalami sesak napas atau ngos-ngosan, serta sulit bernapas lega.

Nah kabar baiknya, ada banyak pilihan obat untuk sesak napas yang bisa didapat di apotek. Baik yang sebelumnya sudah diberikan resep oleh dokter, atau pun dibeli secara langsung.

Berikut sejumlah obat yang mungkin dapat membantu meredakan napas terasa sesak  pada Anda; berdasarkan fungsinya masing-masing.

1. Obat kortikosteroid

perbedaan asma dan ppok

Obat kortikosteroid digunakan untuk mencegah dan mengatasi peradangan yang terjadi di saluran pernapasan.

Obat ini bekerja dengan cara menekan jumlah lendir supaya tak diproduksi berlebihan dan mengurangi pembengkakan. Hal ini akan memudahkan udara untuk keluar-masuk sehingga pada akhirnya gejala sesak napas yang dialami penderita asma dapat segera mereda.

Obat untuk sesak napas ini tersedia dalam beragam bentuk, seperti oral, hirup, dan suntik. Namun, obat jenis ini hanya dapat boleh digunakan dalam jangka pendek. Pasalnya obat ini menyimpan potensi efek samping yang serius bila digunakan dalam jangka panjang.

Jenis obat untuk napas terasa sesak yang dapat dibeli di apotek tanpa harus menebus resep dokter adalah hidrokortison dosis rendah.

Sementara untuk obat kortikosteroid lain dosis tinggi seperti dexamethasoneprednison, betametason, dan metilprednisolon penggunaanya harus dengan resep dokter.

2. Bronkodilator

bronkodilator

Bronkodilator berfungsi untuk melebarkan saluran napas dan membuat otot-otot paru serta saluran pernapasan rileks. Setelah minum obat untuk sesak napas jenis ini, Anda dapat bernapas lebih lega dan nyaman.

Berdasarkan waktu kerjanya, bronkodilator dibagi menjadi dua, yiatu:

  • Reaksi cepat. Bronkodilator reaksi cepat biasanya diberikan untuk seseorang yang mengalami sesak napas akut (tiba-tiba) akibat peradangan dan penyempitan saluran napas, seperti pada serangan asma akut.
  • Reaksi lambat.Bronkodilator reaksi lambat lebih ditujukan untuk mengontrol gejala sesak napas pada penyakit paru-paru kronis (PPOK) atau asma kronis.

3. Obat alergi

obat untuk sesak napas

Jika sesak napas Anda disebabkan oleh alergi, obat yang diperlukan adalah obat alergi dengan kandungan antihistamin dan dekongestan.

Sebaiknya selalu siap sedia obat alergi ke mana pun Anda pergi supaya alergi muncul, gejala asma dapat dicegah. Obat untuk sesak napas karena alergi banyak yang dijual bebas di apotek tanpa perlu menebus resep. Akan tetapi pastikan Anda menggunakannya dengan bijak.

Obat sesak napas berdasarkan jangka waktunya

asma dan TBC

Asma adalah penyakit kronis yang membutuhkan kombinasi pengobatan supaya gejalanya tak sering kambuh. Maka itu, sebagian besar pengidap asma membutuhkan kombinasi dari obat-obatan di bawah ini.

1. Obat jangka panjang

Obat untuk sesak napas yang diberikan dalam jangka panjang biasanya berfungsi untuk mengendalikan gejala supaya tak kambuh lagi.

Karena diberikan sebagai upaya pencegahan, obat-obatan ini harus diminum atau diberikan setiap hari meskipun tidak ada gejala apa pun yang kambuh.

Contoh obat-obatan yang diberikan dalam jangka panjang adalah:

  • Kortikosteroid dalam bentuk inhaler
  • Teofilin
  • Long acting beta agonists (LABA)
  • Leukotriene modifiers

Sayangnya, beberapa obat untuk napas yang terasa sesak di atas mungkin tidak bisa dibeli sembarangan di apotek. Anda membutuhkan rujukan dokter untuk mengonsumsi satu atau beberapa jenis obat tersebut.

2. Obat pereda instan

Bila rutin mengonsumsi obat jangka panjang yang diberikan dokter dan gejala asma jarang muncul, Anda mungkin tidak butuh obat pereda instan.

Obat pereda instan akan sangat menolong ketika gejala asma tiba-tiba kambuh. Obat untuk masalah pernapasan ini dapat melonggarkan saluran napas yang mengejang supaya Anda bisa bernapas lebih baik. Maka sebaiknya Anda bawa obat ini ke mana pun.

Obat  untuk sesak napas di apotek yang termasuk pereda instan di antaranya:

  • Short acting beta agonists
  • Anikolinergik (ipratropium)
  • Suntikan kortikosteroid yang hanya diberikan ketika gejala asma cukup parah

Bacalah aturan pakai obat yang tertera di bungkus kemasan dengan cermat dan teliti. Jangan ragu untuk bertanya langsung ke dokter atau apoteker bila Anda tidak paham cara pakainya.

Segera periksa ke dokter bila gejala tidak juga membaik, makin memburuk, atau Anda mengalami gejala tambahan yang tidak biasa. Semakin cepat Anda mendapatkan penanganan dokter, akan semakin baik.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Teknik Latihan Pernapasan untuk Mengurangi Gejala Asma

Oang dengan asma memiliki saluran pernapasan yang menyempit dan meradang, latihan pernapasan yang benar bisa mengurangi gejala sesak yang sering timbul.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Asma, Health Centers 11/05/2020

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Saat terpapar cuaca atau udara dingin ternyata memang dapat memicu asma untuk kambuh. Apa hubungannyas dan bagaimana hal ini dapat terjadi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Asma, Health Centers 13/04/2020

Resistensi Antibiotik: Apa Penyebab dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

Antibiotik digunakan untuk mencegah bakteri berkembang sekaligus mengatasi infeksi. Namun, apa yang terjadi jika seseorang mengalami resistensi antibiotik?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

5 Cara Preventif untuk Mencegah Asma Kambuh Akibat Polusi Udara

Pengidap asma perlu memerhatikan polusi udara apabila banyak beraktivitas di area perkotaan. Lakukan cara ini untuk mencegah asma agar tidak kambuh.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Asma, Health Centers 26/03/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Komplikasi pneumonia

Beragam Komplikasi Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
Penyebab pneumonia bisa berasal dari kuman dalam berbagai keadaan tertentu. Hal itu penting diketahui agar Anda mendapat perawatan tepat.

Berbagai Penyebab Pneumonia, Ketika Paru-Paru Mengalami Peradangan

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
Pencegahan penyakit pneumonia

Berbagai Macam Upaya Pencegahan agar Terhindar dari Pneumonia

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020