Minum jamu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging untuk masyarakat Indonesia.

Namun, dr. Peter Canter dan Prof. Edzard Ernst dari Peninsula Medical, dilansir dari The Telegraph, mengungkapkan bahwa sampai sejauh ini bukti klinis kuat yang dapat membuktikan efektivitas jamu dan obat herbal untuk menyembuhkan penyakit sangat terbatas. Dan karena potensi efek samping dicurigai lebih besar dari manfaatnya, kurangnya bukti medis ini dapat diartikan bahwa penggunaan obat herbal tidak direkomendasikan.

Para pakar mewanti-wanti bahwa terlalu sering minum dapat mengakibatkan perut terasa sakit, dengan gejala mirip seperti maag. Jika kebiasaan sembrono minum jamu diteruskan, ini bisa memicu perdarahan lambung, sebuah kondisi yang disebut sebagai NSAID-induced gastritis. NSAID-induced gastritis adalah kerusakan lapisan mukosa lambung akibat konsumsi obat-obatan anti inflamasi non-steroid.

Kenapa sering minum jamu bisa bikin sakit perut?

Kebanyakan jamu yang beredar di pasaran diketahui telah dicampur dengan obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) untuk mengurangi rasa pegal tubuh. OAINS-lah yang membuat tubuh kita terasa lebih enakan setelah minum jamu. OAINS sendiri sering diresepkan sebagai obat untuk penyakit radang sendi, peradangan, dan penyakit jantung.

Pada lapisan dinding lambung terdapat prostaglandin, zat pelindung fungsi dan keutuhan lapisan-lapisan tersebut. OAINS bekerja menekan produksi prostaglandin. Sedangkan pada lambung, prostaglandin memiliki fungsi untuk menghambat produksi asam lambung dan mempertahankan fungsi perbaikan lapisan lambung yang rusak. Dengan demikian, konsumsi OAINS secara tidak langsung jadi meningkatkan produksi asam lambung. Asam lambung berlebih akan merusak lapisan pelindung lambung, menjadikan lambung lebih rentan terhadap infeksi Helicobacter pylori.

Jika kebiasaan konsumsi OAINS ini tidak dihentikan, maka dapat berakibat buruk terhadap lambung. Komplikasi yang paling sering adalah perdarahan lambung. Dan ini paling sering terjadi pada golongan usia di atas 60 tahun. Perdarahan lambung ini baru akan disadari oleh pasien ketika muntah dengan isi lambung berwarna coklat kopi atau feses yang berwarna hitam lembek, mirip dengan aspal. Komplikasi lain yang juga sering muncul akibat terlalu sering minum jamu adalah terbentuknya lubang (perforasi) pada lambung.

Terkadang, pada produk jamu tertentu tidak dituliskan secara lengkap kandungan yang ada di dalam jamu tersebut. Bahkan dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan kandungan OAINS pada jamu tersebut. Seperti pada tahun 2002 ketika sebuah produk jamu ditemukan mengandung phenylbutazone, salah satu OAINs yang poten.

Bijaksanalah dalam mengonsumsi jamu

OAINS memiliki efek samping jangka panjang yang cukup berbahaya. Bahkan pada dosis rendah sekalipun, OAINS dapat menimbulkan gastritis. Karena Anda tidak dapat mengetahui kandungan jamu yang Anda minum, ada baiknya jika Anda membatasi minum jamu dan tidak menjadikannya sebagai suatu kebiasaan demi mencegah terjadinya gastritis yang disebabkan oleh OAINS.

Selain itu, meski terbuat dari bahan alami, semua rempah jamu juga mengandung senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Sebagai contoh, jamu daun singkong. Daun singkong diklaim sebagai tumbuhan yang kaya akan antioksidan alami penangkal kanker, namun di sisi lain daun singkong mengandung sianida dalam jumlah besar yang bisa berpotensi mematikan jika tidak diolah dengan baik.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca