3 Tips Memilih Tipe Bronkodilator yang Tepat untuk Orang dengan PPOK

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada saluran paru sehingga menghambat aliran udara. Orang dengan penyakit ini, akan sering batuk berdahak, mengi, dan sulit untuk bernapas. Untuk meredakan gejala, pasien PPOK memerlukan obat, salah satunya bronkodilator. Namun, seperti apa jenis bronkodilator yang cocok untuk pasien PPOK?

Bronkodilator adalah obat untuk PPOK

Bronkondilator adalah obat PPOK yang paling sering digunakan, baik untuk emfisema maupun bronkitis. Obat ini bekerja dengan mengendurkan saluran udara untuk membantu pernapasan jadi lebih baik.

Bronkodilator tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet, inhaler, dan obat yang disemprotkan langsung ke mulut. Namun, yang paling umum digunakan adalah bronkodilator dalam bentuk semprot.

Tips memilih jenis bronkodilator yang tepat untuk pasien PPOK

PPOK berisiko tinggi terjadi pada perokok, kemudian diikuti dengan paparan polusi dan asap pabrik. Pasalnya, paparan kimia dari asap rokok dan polusi bersifat iritan sehingga membuat paru meradang.

Menurut Mayo Clinic, pengobatan yang paling utama dilakukan oleh pasien PPOK adalah terapi untuk berhenti merokok. Ini merupakan cara paling tepat agar kesehatan paru tidak semakin memburuk.

Selain penyuluhan kembali mengenai bahaya rokok, pasien yang kesulitan untuk berhenti merokok kemungkinan akan diberi obat-obatan untuk mengurangi efek penarikan nikotin. Kemudian, untuk meredakan gejalanya pasien akan diberikan obat kelas bronkodilator.

Terdapat beberapa jenis bronkodilator. Supaya Anda tidak salah pilih, simak langkah-langkah memilih jenis bronkodilator yang tepat untuk meredakan gejala PPOK berikut ini.

1. Konsultasi dengan dokter

dokter kandungan yang bagus

Tidak hanya bronkodilator, ada banyak obat yang direkomendasikan untuk mengobati PPOK, seperti obat steroid minum atau hirup dan antibiotik. Jadi, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan bronkodilator.

Tujuannya, untuk menilai efektivitas obat dalam meredakan gejala serta mengawasi kemungkinan adanya efek samping mengganggu atau membahayakan.

2. Pilih jenis bronkodilator sesuai kebutuhan

bronkodilator adalah

Untuk mengobati PPOK, ada beberapa jenis bronkodilator yang biasanya digunakan, yakni agonis beta-adrenergik, antikolinergik, dan methylxanthines. Mari bahas satu per satu jenis bronkodilator untuk PPOK.

Agonis beta-adrenergik (agonis beta)

Jenis obat ini mengikat reseptor spesifik di paru, yakni beta-adrenoreceptor. Obat ini bereaksi dapat bertahan lebih cepat sekitar 4 hingga 6 jam. Bisa juga bertahan lebih lama, yaitu lebih dari 12 jam. Obat ini lebih digunakan dengan metode inhalasi karena dapat meredakan gejala lebih cepat.

Jenis agonis-beta yang disetujui penggunaannya antara lain:

  • Beta-agonis short acting: albuterol, xopenex, metaproterenol, dan terbutaline
  • Beta-agonis long acting: salmeterol, performomist, bambuterol, dan indacaterol

Efek samping obat lebih sering terjadi pada obat oral karena dosisnya yang mungkin saja tidak tepat. Efek samping yang muncul umumnya detak jantung lebih cepat, jantung berdebar, tremor, dan gangguan tidur.

Antikolinergik

Jenis bronkodilator untuk PPOK ini bekerja dengan memblokir neurotransmitter yang disebut asetilkolin sehingga kejang dan kontraksi pada saluran udara dapat terhenti. Obat ini biasanya tersedia dalam bentuk inhalasi karena efek sampingnya yang lebih ringan.

Antikolinergik menjadi pilihan terbaik bila pasien PPOK tidak bisa menggunakan agonis-beta karena memiliki masalah pada jantung. Jenis antikolinergik yang disetujui penggunaannya, antara lain atrovent (ipratropium), spiriva (tiotropium), dan aclidinium.

Efek samping yang umum terjadi adalah mulut kering dan terasa ada logam di mulut. Pada beberapa kasus, obat ini dapat menyebabkan glukoma.

Methylxanthines

Jenis bronkodilator untuk PPOK ini bekerja meringankan penyumbatan aliran udara, mengurangi peradangan, dan meredakan kontraksi bronkial. Obat ini dijadikan pilihan terakhir saat agonis-beta maupun antikolinergik tidak memberikan efek maksimal. Sayangnya, obat ini menimbulkan efek samping yang lebih besar dibanding obat lain.

Obat ini tidak dapat dihirup, melainkan diminum dalam bentuk pil secara oral, supositoria, atau disuntikkan pada pembuluh darah vena. Obat methylxanthine yang disetujui penggunaannya, antara lain teofilin dan aminofilin.

Efek samping lebih umum terjadi ketika methylxanthines diberikan lewat suntikan. Efek sampingnya yang biasanya terjadi adalah sakit kepala, susah tidur, mual, diare, dan mulas.

3. Perhatikan hal ini

penyakit asma

Setelah memilih jenis bronkodilator yang tepat untuk pasien PPOK. Langkah selanjutnya adalah mengecek tanggal kedaluwarsa yang tercantum di tabung atau kemasan obat.

Anda juga harus menyimpannya dengan benar. Jangan meletakkan obat ini di tempat yang terkena sinar matahari atau menggunakannya di dekat api.

Hindari memakai tabung bronkodilator milik orang lain atau meminjamkan tabung milik Anda pada orang lain. Bila merasakan efek samping yang mengganggu setelah menggunakan obat, jangan ragu konsultasi pada dokter. Dokter akan mengganti atau menambahkan obat lain untuk mengurangi efek samping tertentu.

Baca Juga:

Sumber