Statin telah digunakan selama lebih dari 20 tahun sebagai obat kolesterol yang aman dan bisa ditoleransi dengan baik. Namun sama seperti obat-obatan lainnya, statin dapat menyebabkan efek samping — terutama pada orang-orang yang lebih sensitif. Statin kadang dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri tekanan pada otot. Ketika nyeri otot berlanjut sangat parah hingga melemahkan, kondisi ini disebut rhabdomyolysis. Rhabdomyolysis dapat berakibat fatal.

Obat kolesterol statin dapat menyebabkan nyeri otot

Efek samping statin yang relatif umum terjadi adalah nyeri otot ringan. Bagaimana cara obat kolesterol ini bisa menyebabkan nyeri otot belum sepenuhnya dipahami. Satu teorinya adalah bahwa statin memengaruhi produksi protein dalam sel otot, yang kemudian memperlambat pertumbuhan otot.

Teori lainnya berpendapat bahwa statin bekerja menurunkan kadar zat alami dalam tubuh yang disebut koenzim Q10. Koenzim Q10 membantu otot menghasilkan energi. Kadar koenzim yang menurun artinya otot akan menghasilkan sedikit energi. Dengan sedikit energi, sel otot tidak bisa bekerja dengan baik. Hal  ini kemudian dapat menyebabkan nyeri otot, keletihan otot, dan kelemahan otot sehingga tugas yang dulunya sederhana, seperti naik tangga atau berjalan kaki bisa membuat Anda tidak nyaman dan kelelahan selama sedang menggunakan statin.

Namun jika nyeri otot ini berlanjut sangat parah hingga melemahkan seiring waktu penggunaan statin, ini mungkin tanda dari rhabdomyolysis. Rhabdomyolysis adalah efek samping obat kolesterol statin yang jarang terjadi dan perlu diwaspadai.

Apa itu rhabdomyolysis?

Rhabdomyolysis adalah sindrom langka yang ditandai dengan kerusakan otot parah akibat matinya serat-serat otot, sehingga isi serat bocor ke dalam aliran darah. Rusaknya otot kemudian juga melepaskan zat mioglobin ke aliran darah. Mioglobin adalah protein yang berfungsi menyimpan oksigen dalam otot. Terlalu banyak mioglobin dalam darah dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit hingga gagal ginjal akut.

Apa saja tanda dan gejala umum dari rhabdomyolysis?

Gejala umum rhabdomyolysis bisa digambarkan dalam tiga serangkai gejala berikut: nyeri otot, bengkak, lemah, dan urin berwarna gelap (biasanya kemerahan atau keunguan). Gejala nyeri otot khas rhabdomyolysis dapat meliputi kekakuan dan kram.

Nyeri otot yang terjadi biasanya paling terasa pada bagian otot dekat dengan pangkal tubuh seperti paha dan bahu, punggung bawah, dan betis. Seberapa parah kelemahan otot yang Anda alami tergantung pada tingkat keparahan kerusakan otot.

Gejala dan keluhan lainnya yang mungkin terjadi termasuk kelelahan, kelesuan, kehausan ekstrem (hipovolemia; sindrom kekurangan cairan dan elektrolit), serta detak jantung yang terlampau cepat dan tidak teratur. Pada beberapa orang, otot yang membengkak dan lemah kadang bisa menyebabkan keluarnya cairan.

Irama jantung yang tidak teratur akibat rhabdomyolysis dapat meningkatkan risiko serangan jantung akibat hiperkalemia berat (kelebihan kalium dalam jumlah tinggi).

Mengapa saya perlu peduli tentang efek obat kolesterol ini?

Rhabdyomyolysis yang tidak tertangani dapat menyebabkan gagal ginjal.

Statin itu sendiri pun juga merupakan obat kolesterol yang paling banyak digunakan. Statin adalah golongan obat kolesterol yang mudah dikenali karena semuanya berakhiran -statin yaitu:

Tidak semua statin tersebut di atas tersedia di Indonesia, namun atorvastatin, pravastatin, simvastatin adalah contoh obat yang ditanggung oleh BPJS.

Faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko rhabdomyolysis dari obat kolesterol ini bisa berasal dari zat aktif obat atau kondisi pasien itu sendiri. Yaitu:

  • Jenis obat statin-nya. Pravastatin dan fluvastatin adalah jenis yang tidak begitu menyebabkan kerusakan otot karena efeknya memang lebih rendah. Sementara itu, untuk penggunaan simvastatin sebaiknya dibatasi 40 mg per hari dan menjadi 20 mg per hari jika obat diberikan bersamaan dengan obat jantung amlodipin.
  • Adanya gangguan saraf dan otot (neuromuskular) yang telah ada sebelumnya
  • Adanya penyakit hipotiroidisme, gagal ginjal akut atau kronis, dan penyakit hati obstruktif
  • Faktor genetik pasien pada protein yang bertugas mengambil statin ke dalam sel
  • Penggunaan obat bersamaan dengan obat-obat berikut: obat jantung jenis calcium channel blocker (diltiazem, verapamil), penghambat protease untuk HIV dan hepatitis C, amiodaron, jus atau jeruk bali, siklosporin, fibrat, kolkisin, niasin.

Hindari penggunaan statin bersama obat-obat yang disebutkan di atas untuk mencegah risiko interaksi obat. Diskusikan dengan dokter seputar jenis, aturan dosis, dan cara penggunaan obat kolesterol statin yang terbaik untuk Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca