Tanda dan Gejala Borderline Personality Disorder

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang ditandai dengan perasaan, mood dan perilaku yang tidak menentu. Pasien biasanya memiliki masalah dengan emosi dan pikiran; kadang, mereka memiliki perilaku ceroboh yang menyebabkan hubungan yang tidak stabil. Borderline personality disorder umumnya terjadi pada masa remaja atau masa awal dewasa.

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari borderline personality disorder?

Tidak mudah untuk membedakan gejala borderline personality disorder dari kelainan mental lainnya. Namun umumnya, borderline personality disorder dapat didiagnosis dengan tanda-tanda dan gejala berikut:

  • Orang-orang dengan borderline personality disorder biasanya memiliki ketakutan serius terhadap pengabaian atau ditinggal. Mereka kadang memiliki reaksi ekstrem, seperti panik, depresi, marah atau tindakan heboh jika merasa atau benar-benar ditinggalkan.
  • Mereka tidak dapat menjaga hubungan dengan stabil, bahkan dengan keluarga, teman atau orang-orang terdekat. Mereka sering menyebabkan masalah di hubungan tersebut dengan mengidealisasikan seseorang dan kemudian membenci atau marah terhadap orang tersebut secara tiba-tiba.
  • Mereka cepat berubah terhadap emosi, nilai-nilai, perasaan, tujuan yang terkait dengan identitas diri dan gambar diri. Pasien tidak menghargai diri mereka atau merasa mereka tidak ada.
  • Perilaku yang impulsif dan kadang berbahaya, seperti berjudi, menghamburkan uang, hubungan seksual yang tidak aman, penyalahgunaan obat-obatan, berkendara dengan sembarangan, binge eating atau menghentikan kesuksesan secara tiba-tiba, seperti menghentikan pekerjaan atau hubungan yang positif.
  • Perilaku ingin bunuh diri yang berulang atau merusak diri sendiri, seperti menyayat urat nadi, sebagai respon terhadap ketakutan akan perpisahan atau penolakan.
  • Mood yang intens dan mudah berubah, dengan masing-masing episode berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari yang dapat mencakup kebahagiaan yang intens, kekesalan, malu atau gelisah.
  • Sering merasa hampa atau bosan.
  • Kemarahan yang tidak pantas, intens, sinis, memiliki pertengkaran fisik
  • Memiliki pikiran paranoid yang terkait stress atau gejala disosiatif yang serius, seperti merasa terpisah dari diri sendiri, mengamati diri sendiri dari luar tubuh, atau kehilangan hubungan dengan realita.

Namun, tanda yang paling berbahaya adalah bunuh diri dan menyakiti diri sendiri. Sekitar 4-9% orang dengan borderline personality disorder cenderung memiliki perilaku ingin bunuh diri atau mencoba untuk bunuh diri. Dengan masalah mental, bunuh diri adalah akibat yang paling tragis. Dokter sedang mempelajari untuk mendapatkan penanganan yang dapat mengurangi perilaku bunuh diri dari orang-orang yang menderita borderline personality disorder.

Perilaku melukai diri sendiri tidaklah seserius percobaan bunuh diri, namun juga memiliki pengaruh pada kesehatan fisik dan tubuh pasien. Pada kasus tertentu, perilaku menyakiti diri sendiri dapat membahayakan hidup, seperti menyilet, membakar, memukul, menjedotkan kepala, menjambak rambut dan tindakan berbahaya lainnya. Parahnya, orang-orang tersebut tidak melihat perilaku ini sebagai kegiatan yang membahayakan, namun sebagai salah satu cara mengekspresikan rasa sakit dan menghukum diri sendiri.

Kapan saya perlu memeriksakan diri ke dokter?

Segera kunjungi dokter begitu Anda menyadari adanya tanda-tanda dan gejala yang mengganggu kehidupan dan hubungan sosial Anda. Anda perlu berbicara dengan keluarga atau teman Anda mengenai mendapatkan bantuan medis saat Anda menyadari tanda-tanda dari BPD pada mereka. Jika hubungan Anda menyebabkan stress yang signifikan, Anda mungkin dapat mengunjungi terapis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    apa itu depresi

    Penyakit Mental

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
    melatih otak agar percaya diri

    3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 20 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
    pria tangguh bunuh diri

    Para ‘Pria Tangguh’ Lebih Berisiko Bunuh Diri, Mengapa Begitu?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 4 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit