Penelitian: Banyak Pilot yang Ternyata Menderita Depresi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Sebuah survei pada tahun 2015 dilakukan akibat adanya kecelakaan pesawat maskapai Germanwings yang menewaskan 150 orang di dalamnya. Menurut hasil survei tersebut, pilot Germanwings mengalami depresi saat menerbangkan pesawat.

Survei ini menggunakan sampel sebanyak 1.850 orang pilot pesawat komersial dari 50 negara. Hasilnya, 13% dari pilot tersebut menderita depresi dan lebih dari 4% pernah berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir. Lalu, kenapa banyak pilot depresi ?

Mengapa banyak pilot depresi?

Menurut peneliti Joseph Allen, beberapa pilot mencoba untuk mengatur sendiri gejala depresi dan takut untuk berobat karena bisa berdampak negatif terhadap karir mereka. Studi yang baru pertama kali dilakukan ini, meneliti status mental pilot depresi dan ditemukan bahwa pilot pria lebih banyak mengalami rasa stress, putus asa dan ingin bunuh diri bila dibandingkan dengan pilot wanita.

Profesi pilot rentan stres bisa disebabkan karena banyak faktor, antara lain mengalami kelelahan, kurang tidur karena jadwal terbang yang padat, hingga masalah di luar pekerjaan. Gejala pilot depresi ini juga lebih banyak terjadi diantara pilot yang mengonsumsi obat tidur dan yang mengalami pelecehan seksual.

Depresi merupakan masalah mental yang jumlah penderitanya semakin meningkat seiring dengan makin beratnya beban kehidupan yang dialami tiap orang. Bunuh diri adalah efek paling buruk serta berbahaya dari orang yang depresi.

Beberapa penyebab depresi akibat pekerjaan

  • Profesi yang tidak sesuai minat dan bakat akan menghantarkan Anda pada perasaan tertekan, bersalah dan lama kelamaan akan berubah menjadi depresi.
  • Tidak sesuainya nilai dan prinsip antara perusahaan dan diri Anda sendiri. Hal ini akan menjadikan rasa tidak nyaman muncul dan berujung stress.
  • Suasana kerja tidak sesuai dengan kepribadian Anda (introvert/ekstrovert) ¬†Pada saat bekerja, Anda diharuskan berinteraksi dengan orang-orang yang tidak menyenangkan atau hanya memiliki preferensi, kepribadian, bahkan gaya kerja yang berbeda.
  • Tidak adanya keseimbangan kerja dengan kehidupan kerja Anda. Kondisi ini biasa terjadi pada workaholic , dimana biasanya mereka suka kehilangan hubungan sosial di luar pekerjaan, juga hobi, kesempatan untuk rileks, dan mungkin jarang berolahraga.
  • Masalah finansial yang kurang baik, memungkinkan Anda untuk terkena depresi.
  • Anda merasa terjebak dan dilema ketika harus memutuskan apakah harus keluar atau tetap berada di pekerjaan yang Anda punya. Hal ini biasanya didasari antara kondisi penilaian yang realistis dengan rasa takut pada kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.

Cara mencegah stress di tempat kerja

  • Buat rencana aktivitas pekerjaan Anda mengenai apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, kapan dan siapa yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas Anda. Penting sekali untuk membuat perencanaan bukan hanya jangka panjang tapi juga jangka pendek (rencana bulanan, rencana harian).
  • Pastinya Anda di masa lalu pernah mengalami masalah-masalah di tempat kerja. Coba ingat-ingat kembali adakah cara-cara yang dapat Anda gunakan untuk mengatasi masalah yang Anda hadapi saat ini.
  • Ikutlah membangun iklim kerja yang menyenangkan, yaitu dengan bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan sesama rekan kerja.
  • Pastikan Anda mengerti terhadap tugas dan tanggung jawab Anda, serta jangan ragu untuk bertanya.
  • Lakukan beberapa kali break atau istirahat beberapa menit selama Anda bekerja. Jangan paksakan diri untuk bekerja terlalu keras, karena kesehatan mental dan tubuh Anda lebih penting daripada pekerjaan Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Juni 27, 2017 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca