Workaholic: Normal Atau Tidak dan Seperti Apa Ciri-cirinya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal tayang September 8, 2017
Bagikan sekarang

Apa bedanya pekerja keras dan pecandu kerja (workaholic)? Membedakan keduanya memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dibedakan. Bekerja memang jadi salah satu cara untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri. Apalagi buat orang yang baru masuk usia produktif. Akan tetapi, dalam situasi tertentu, banyak orang jadi terobsesi dengan pekerjaannya sehingga rela kerja lembur setiap malam, bahkan di hari libur sekalipun. Seperti apa ciri-ciri seorang workaholic? Dan apakah Anda termasuk workaholic? Cari tahu di artikel ini.

Apakah workaholic termasuk gangguan jiwa?

Penelitian menemukan bahwa 7,8% orang di dunia ini tergolong dalam kategori pecandu kerja atau workaholic. Orang-orang yang memiliki sebutan ini lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja atau bisa dikatakan melebihi jam normal.

Para pecandu kerja mungkin ‘memanfaatkan’ pekerjaan mereka untuk mengurangi rasa bersalah dan cemas karena masalah tertentu. Gila bekerja juga bisa membuat seseorang meninggalkan hobi, olahraga, atau hubungannya dengan orang-orang terdekat.

Kecanduan kerja, atau gila kerja, atau yang lebih dikenal dengan workaholism pertama kali digunakan untuk menggambarkan kebutuhan yang tidak terkendali untuk terus bekerja. Orang yang disebut dengan workaholic adalah seseorang yang memiliki kondisi ini.

Meskipun istilah pecandu kerja telah dikenal secara luas dalam masyarakat, namun gila kerja atau workaholism bukanlah kondisi medis atau gangguan jiwa karena tidak termasuk dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yaitu standar gangguan kejiwaan yang digunakan oleh tenaga kesehatan jiwa di berbagai belahan dunia.

Mengapa tidak diakui? Karena kecanduan kerja masih bisa dilihat sisi positifnya, tidak selalu dianggap jadi masalah. Kerja yang berlebihan terkadang bisa dihargai secara finansial maupun budaya. Kecanduan kerja bisa menjadi masalah jika sudah menimbulkan masalah dengan cara yang sama dengan kecanduan lainnya.

Lalu mengapa ada istilah workaholic? Sebenarnya istilah ini muncul dari kalangan awam, bukan medis. Workaholic dianggap sama seperti alcoholic, yaitu orang yang kecanduan alkohol. Selain itu, kecanduan kerja juga tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang normal karena bisa menimbulkan beberapa masalah pada diri workaholic.

Dampak menjadi seorang workaholic

Meski kerja secara berlebihan sering dianggap baik dan bahkan dihargai, namun kecanduan kerja di luar batas normal akan menimbulkan masalah. Seperti kecanduan lainnya, kecanduan kerja didorong oleh paksaan, dan bukan karena rasa dedikasi pada pekerjaan secara wajar.

Pada kenyataannya, orang-orang yang menjadi korban kecanduan kerja mungkin sangat tidak senang dan menderita karena bekerja, mereka mungkin terlalu memikirkan pekerjaan dan merasa tidak dapat mengendalikan keinginan mereka untuk bekerja. Para pecandu kerja ini mungkin menghabiskan begitu banyak waktu dan energi pada pekerjaan dan hal ini kemungkinan besar akan menganggu aktivitas di luar pekerjaan.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tekanan berlebihan di lingkungan kerja bisa meningkatkan risiko gangguan jiwa serius seperti depresi. Orang yang kecanduan kerja juga mungkin kurang memerhatikan kesehatannya karena kurang tidur, kurang makan, dan mengonsumsi kafein secara berlebihan.

Seperti apa ciri-ciri workaholic?

  • Meningkatnya kesibukan tanpa peningkatan produktivitas.
  • Terobsesi untuk bekerja lebih banyak, lebih lama, dan lebih sibuk.
  • Menghabiskan lebih banyak waktu bekerja daripada yang Anda diinginkan.
  • Bekerja secara berlebihan untuk mempertahankan harga diri.
  • Bekerja untuk mengurangi perasaan bersalah, depresi, cemas, atau putus asa.
  • Mengabaikan saran atau permintaan dari orang lain untuk mengurangi pekerjaan.
  • Memiliki masalah pribadi dengan keluarga, kekasih, atau teman dekat karena kesibukan pekerjaan.
  • Memiliki masalah kesehatan yang muncul akibat stres karena pekerjaan atau karena telah bekerja berlebihan.
  • Menggunakan pekerjaan sebagai cara ‘pelarian diri’ karena suatu masalah.
  • Merasa tertekan kalau tidak bekerja.
  • Anda akan ‘kambuh’ bekerja secara berlebihan setelah Anda mencoba mengurangi atau menghentikan aktivitas pekerjaan.

Bagaimana jika Anda merasa kecanduan kerja?

Jika Anda merasa bahwa Anda telah menjadi seorang pecandu kerja, cobalah beristirahat dan pahami perasaan Anda. Perhatikan kalau Anda merasakan gejala-gejala stres dan depresi. Anda bisa konseling dengan psikolog atau terapis agar Anda bisa mengendalikan hasrat bekerja. Konseling dengan ahli bisa membantu Anda memahami apa yang membuat Anda kecanduan bekerja dan bagaimana caranya untuk mengendalikan diri. 

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

10 Tips Mencegah Ibu Hamil Stres Selama Pandemi COVID-19

Virus COVID-19 memang mengkhawatirkan dan terkadang membuat ibu hamil stres. Berikut tips mencegah stres pada ibu hamil selama COVID-19.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Coronavirus, COVID-19 Mei 2, 2020

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengatasi Patah Hati?

Mengatasi patah hati adalah hal yang kompleks. Ada harapan yang pupus dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Begini cara mengatasinya.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara April 26, 2020

Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

PHK secara tiba-tiba karena COVID-19 berpotensi menimbulkan masalah bagi para karyawan, terutama pada kesehatan mental mereka.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 April 15, 2020

Benarkah Ibu Rumah Tangga Rentan Stres? Apa Alasannya?

Banyak orang berpikir menjadi ibu rumah tangga itu enak dan mudah. Namun, ibu rumah tangga pun disebut rentan mengalami stres. Benarkah?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Hidup Sehat, Psikologi April 14, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 13, 2020
5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Tanggal tayang Mei 7, 2020
Manfaat Rutin Melakukan Yoga Bridge Pose pada Fisik dan Mental

Manfaat Rutin Melakukan Yoga Bridge Pose pada Fisik dan Mental

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal tayang Mei 6, 2020
Begini Cara Mengatasi Stres Karena PHK Akibat dari Pandemi COVID-19

Begini Cara Mengatasi Stres Karena PHK Akibat dari Pandemi COVID-19

Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 4, 2020